Konten dari Pengguna

Mantan Gubernur DKI Jakarta Ahok: Bolehkah Pemimpin Marah di depan Publik?

Zahra Afina F P

Zahra Afina F P

I am a Public Administration Student at University of Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Afina F P tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (Instagram @basukibtp)
zoom-in-whitePerbesar
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (Instagram @basukibtp)

Kenali Basuki Tjahaja Purnama

Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disebut Ahok adalah Gubernur DKI Jakarta periode 2014-2017, sebelumnya karirnya dimulai saat ia menduduki sebagai ketua DPC dan lolos menjadi anggota legislatif DPRD Kabupaten Belitung Timur pada tahun 2004 yang membuat Namanya dia melonjak naik sejak saat itu. Ahok berhasil mengubah wajah DKI Jakarta menjadi provinsi yang bersih, nyaman, dan tertib hal ini terwujud dari kebijakan-kebijakan yang ia lakukan. Gaya kepemimpinan yang cenderung keras dan otoriter bisa dibilang jarang di Indonesia, bahkan pemimpin yang menggunakan gaya tersebut dapat dihitung jari. Ahok dengan gayanya yang seperti itu, sempat menimbulkan kontroversial yang sampai menjatuhkan karirnya. Saat Ahok memiliki otoritas kepemimpinannya ia berjuang untuk kepentingan rakyat dan ia berusaha untuk menerapkan bahwa menjadi seorang pemimpin yang berjuang untuk melayani masyarakat.

Terlepas dari segala pemberitaan yang kontroversial, pada masa kepemimpinannya selaku Gubernur DKI Jakarta ia telah berhasil mendapatkan penghargaan salah satunya pada tahun 2016 ia mendapatkan penghargaan the most inspiring pada Indonesia Green Award 2016 sebab ia membuka banyak Ruang Terbuka Hijau di DKI Jakarta.

Kritik Kepemimpinan Ahok

Kesusksesan Ahok dalam memimpin DKI Jakarta tidak terlepas dari kritik khususnya terkait dengan amarah Ahok yang kerap kali meledak di depan public. Beberapa diantaranya yang sempat viral di media sosial adalah Ketika Gubernur DKI Jakarta, Ahok marah dikarenakan Wali Kota Jakarta Barat, Anas Efendi yang dinilai salah dikarenakan melakukan penggusuran rumah warga. Amarahnya meluap melalu telefon yang disaksikan banyak wartawan dan koleganya. Selain itu Ahok juga mengancap untuk memeriksa dan pemberhentian kepada Wali Kota Jakarta Barat tersebut. Banyak pihak yang menyayangkan adanya kesalahan tersebut karena dapat terlihat kurangnya komunikasi dan koordinasi. Dalam hal ini Ahok segera mengurus permasalahan tersebut dan menegaskan bahwa lahan yang digusur oleh Anas ialah lahan sengketa dan tidak boleh asal menggusur saja sebab lahan itu sudah bermasalah sejak puluhan tahun. Melihat hal tersebut gaya komunikasi Ahok merupakan pemimpin yang tegas dalam melakukan kebijakan serta taat norma dan dibutuhkan masyarakat DKI Jakarta saat ini. Namun melihat hal tersebut, Ahok dinilai berkomunikasi terlalu kasar bahkan cenderung menjatuhkan.

Yukl (2013) dalam bukunya Leadership in Organizations menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui tentang apa yang perlu dilakukan dan bagaimana melakukannya untuk mencapai tujuan Bersama.

Melihat contoh kasus tersebut Ketika Ahok sebagai pemimpin melihat bawahannya yang berkinerja tidak baik atau situasi yang dapat meluapkan amarahnya, Ahok mengedepankan kekuasaan yang ia miliki yaitu legitimate power dan coercive power dalam proses mempengaruhi bawahannya.

Menurut Robbins & Judge (2018), Legitimate Power merupakan kekuasaan yang bersumber pada posisi sebagai pejabat yang diberikan oleh suatu organisasi. Dimana kebijaksanaan pimpinan tidak pernah dipersoalkan kebenarannya karena orang ini memiliki kekuasaan untuk mengendalikan dan menggunakan sumber daya yang ada dalam organisasi. Elektabilitasnya yang masih cukup tinggi saat itu yang juga didasari dengan gaya kepemimpinan yang efektif membuat dirinya diamanahkan kembali untuk yang kedua kalinya. Sedangkan coercive power adalah kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang memiliki posisi yang sangat kuat. Kekuasaan yang timbul karena adanya hak untuk mengontrol, menilai, mengendalikan terhadap tingkah laku bawahan dengan sanksi berupa ancaman, hukum pemecatan.

Jika dilihat maka terlihat jelas bahwa Ahok menggunakan kekuasaannya untuk menunjukkan jati dirinya. Sebagian masyarakat setuju dengan gaya komunikasi yang dilakukannya meski cenderung kasar, memaksa, dan mengendalikan. Namun dengan cara penyampaian yang blak-blakan dan dengan nada tinggi justru harus dirubah olehnya sebab seharusnya pendekatan Ahok harus lebih humanis ke warga DKI Jakarta. Pada akhirnya Ahok memberikan pengaruh positif kepada masyarakat dengan menggunakan media sebagai alat penyampaian informasi seperti video yang ia unggah melalui akun Youtube Pemprov DKI Jakarta dimana beliau mengunggah hasil rapat kepada masyarakat untuk membuktikan adanya transparansi dalam pemerintahan.

Robbins dan Judge (2018) menyatakan bahwa referent power adalah kekuasaan ini berasal dari hubungan interpersonal orang dalam organisasi. Kekuasaan ini timbul karena seseorang memiiki kepribadian yang baik dan dipandang orang yang berkarisma. Sehingga kekuasaan ini didasari oleh karisma dan kepribadian pemimpin yang menarik. Hal tersebut mempengaruhi orang lain untuk menumbuhkan rasa kagum, hormat, dan akan memberikan kepercayaan kepadanya.

Melihat hal tersebut amarah yang diluapkan Ahok kepada bawahannya merupakan cara untuk mempengaruhi orang lain untuk dapat bekerja lebih baik lagi dan dapat menyelesaikan masalah dengan cepat.

Apakah Boleh Pemimpin Marah di depan Publik?

Brown (2005) mengatakan Kepemimpinan Etis didefinisikan sebagai perilaku yang tepat atas tindakan dan hubungan interpersonal kepada bawahan melalui komunikasi dua arah dan pengambilan keputusan. Pemimpin yang etis memiliki integritas yang tinggi dan memiliki standar etika dalam menghadapi bawahannya. Selain itu, Robbins dan Judge (2018) menilai kepemimpinan etis merupakan bagian penting dalam efektivitas kepemimpinan.

Oleh sebab itu, Ahok sebagai pemimpin DKI Jakarta harus mempertimbangkan Tindakan yang dilakukannya didepan public dimana harus mengikuti standar etika bermasyarakat. Ketika menjadi pemimpin memang ada baiknya untuk memperhatikan bawahanya. Terlebih lagi saat bawahan yang melakukan kesalahan lebih baik menegur atau memarahi secara pribadi bukan mempermalukannya di depan umum. Sehingga tentu saja ada Batasan dalam memarahinya didepan umum demi mempertahankan nama baik instansi dan individu. Selain itu apabila pemimpin yang marah di depan public atau dipertontonkan tentu tidak dapat menjadi contoh sebab secara psikologis dapat menjatuhkan mental bahwahan dan bahkan dapat mengurangi kinerjanya.

Menelisik kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Terlepas dari karakter Ahok yang keras, sejatinya beliau merupakan pemimpin yang sangat melayani masyarakat.

Geralf (1977) menyebutkan bahwa servant leadership adalah pemimpin yang dapat membantu orang lain untuk mencapai tujuan bersama dengan memfasilitasi pengembangan individu, pemberdayaan, dan kerja kolektif yang konsisten dengan memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang para pengikut.

Ahok merupakan seorang pemimpin yang giat bekerja. Beliau aktif turun ke lapangan dan mencoba untuk memahami detail mengenai persoalan yang terjadi di masyarakat. Beliau juga seorang pemimpin yang tanggap terhadap penderitaan warganya dan mampu memberikan solusi pemecahan masalah yang hasilnya dapat dirasakan oleh warganya.

Dapat dilihat dengan kepribadian Ahok yang jujur dengan orang yang dipimpinnya dimana ia sangat memegang prinsip kejujuran dalam membela rakyat kecil.

Dapat dibuktikan sejak masa kepemimpinan beliau dimana terdapat pelayanan pengaduan warga di Balai Kota dan dengan adanya kebijakan tersebut dapat mendekatkan warga Jakarta dengan gubernurnya serta permasalahan yang sedang dihadapi dapat didengan dan ditangani secara langsung.

Referensi:

Brown, M. E., Treviño, L. K., & Harrison, D. A. (2005). Ethical leadership: A social learning perspective for construct development and testing. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 97(2), 117–134. https://doi.org/10.1016/j.obhdp.2005.03.002

Hutabarat, D. (2016, September 22). Lagi-Lagi Wali Kota Jakarta Barat Kena Marah Ahok. Liputan6.Com, 5. https://www.liputan6.com/news/read/2607945/lagi-lagi-wali-kota-jakarta-barat-kena-marah-ahok

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2018). Essential of Organizational Behaviour. In Pearson.

Yukl, G. (2013). Leadership in Organizations (8th ed.). Pearson Education.