Ketika Laut Memanggil, Kisah Kebersamaan di Balik Tradisi Annyorong Lopi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zahra Alfiah Arinda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah lihat kapal raksasa jalan ke laut cuma pakai tenaga manusia? Gila bukan ? tapi itulah yang terjadi di Bulukumba, tepatnya hari Minggu,(19/10/2025). Matahari baru malu-malu nongol, tapi suara teriakan warga udah pecah kemana-mana kayak nonton konser. Semua kumpul buat tradisi Annyorong Lopi.
Ini bukan sekadar mindahin kapal kayu gede. Ini momen langka buat liat budaya leluhur, semangat gotong royong yang masih kental, dan rasa kompak warga yang bikin bulu kuduk berdiri. Serius, liat mereka narik kapal bareng, dari anak muda, bapak-bapak, ibu-ibu, semuanya nyatu dan bikin kita ngerasa ikut nariknya juga.
Kalau kamu belum tau, Annyorong Lopi itu momen yang seru banget. Dimana kapal Pinisi yang baru di buat itu diturunin ke laut. Tapi bukan pakai mesin atau alat berat. Semua pakai tenaga tangan, tenaga warga, dan hati yang kompak banget.
Momen ini bukan sekadar acara menurunkan kapal ke laut. Di balik keriuhannya, ada nilai budaya yang sangat dalam. Bagi warga Bulukumba, Kapal Pinisi adalah harga diri yang sudah dijaga turun-temurun. Lewat tradisi ini, mereka ingin memastikan bahwa warisan nenek moyang tidak berhenti di buku sejarah, tapi tetap hidup di tangan anak-anak muda yang hari itu ikut berkeringat menarik tali bersama para orang tua.
Suasana gotong royong di lokasi benar-benar bikin siapa pun yang melihat akan merinding. Bayangkan, kapal raksasa yang beratnya berton-ton itu hanya digerakkan oleh tenaga manusia. Tidak ada mesin penarik, yang ada hanyalah ratusan tangan yang saling menguatkan. Semua orang seolah sudah tahu perannya masing-masing tanpa harus diperintah secara kaku.
Ada bapak-bapak yang urat lehernya menonjol karena sekuat tenaga menarik tali besar, ada pemuda yang teliti mengatur jalur kapal agar tidak miring, hingga ibu-ibu yang sibuk di dapur menyiapkan teh hangat dan makanan. "Kalau sudah waktunya Annyorong Lopi, semua orang langsung bergerak sendiri tanpa perlu diminta," ujar Hery, salah satu pemuda yang ikut mandi keringat hari itu.
Kekompakan ini jadi bukti nyata bahwa hidup di pesisir butuh solidaritas yang kuat. Pekerjaan yang kelihatannya mustahil jika dilakukan sendirian, jadi terasa mungkin karena dilakukan bersama-sama. Di sela-sela tarikan kapal, warga saling bercanda dan berbagi cerita, membuat suasana kerja keras itu jadi terasa seperti pesta keluarga besar.
"Ini warisan nenek moyang kita. Kita harus terus menjaganya karena di sinilah kita belajar artinya kebersamaan," ujar Sabaruddin, salah satu warga senior. Sabaruddin juga menambahkan bahwa dia sangat bangga melihat anak muda ikut terjun langsung dalam proses ini, dan itu adalah tanda bahwa identitas mereka tetap aman.
Begitu kapal akhirnya terapung gagah di lautan, sorak-sorai warga langsung pecah menutupi suara ombak. Ada rasa lega dan bangga yang luar biasa di wajah setiap orang. Annyorong Lopi sekali lagi membuktikan bahwa selama budaya tetap dijunjung dan gotong royong tetap dijaga, beban seberat apa pun akan selalu bisa diatasi bersama.
