Konten dari Pengguna

Musibahnya, atau Cara Kita Merespons Musibah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Arwiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang bisa memprediksi datangnya suatu musibah dalam kehidupan kita?

Adakah seseorang yang ingin hidupnya ditimpa musibah?

Lantas, hal apa yang bisa kita lakukan ketika mendapati musibah yang tidak kita sukai?

Apakah kita harus terus tunduk pada musibah, dan larut dalam kesedihan, serta meratapi nasib akibat musibah?

Apa yang lebih penting?

Yang perlu digaris bawahi disini adalah bagaimana cara kita merespons suatu musibah itu. Tidak ada manusia yang hidupnya ingin ditimpa musibah. Setiap manusia pasti mendambakan kesuksesan, kebahagian, serta ketenangan dalam hidup. Musibah bisa dikatakan sebagai ujian hidup yang menguji keimanan seseorang. Selain itu, musibah datang sebagai bentuk peringatan dan hukuman dari Allah.

Terkadang dengan adanya musibah akan memberikan pelajaran dan hikmah yang menghantarkan kita pada gerbang keikhlasan dan sujud syukur kepada Sang Pemilik Takdir. Hal tersebut tergantung bagaimana kita melihat dan menyikapi suatu musibah yang menimpa kita.

Dikutip dari perkataan Muhammad Ibnu Sirrin Al Bashri dalam buku Menikmati Hidup karya Ahmad Rifa'i Rifan dijelaskan, "Jika musibah yang terjadi menjadi pelajaran bagimu, sungguh musibah itu sejatinya adalah kenikmatan. Namun, jika engkau tidak mampu mengambil pelajaran dari musibah yang terjadi, maka sejatinya sikapmu itulah yang menjadi musibah yang paling besar atasmu."

Sumber : Dokumen Pribadi

Dari sini kita belajar bahwa bagian yang paling penting adalah sikap kita dalam menghadapi musibah tersebut. Bukan musibah apa yang datang kepada kita. Perasaan sedih ketika ditimpa suatu musibah adalah hal yang manusiawi. Namun, selepas itu ada waktu bangkit yang harus dipupuk.

Hal yang tak kalah penting ialah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari musibah yang telah terjadi. Mustahil Allah membawa manusia sampai dititik sejauh ini, tanpa ada hikmah yang bisa dipetik.

Pengalaman adalah guru terbaik. Dengan mengambil ibrah dari musibah, sejatinya kita sedang belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama hingga musibah itu terjadi dua kali dalam hidup kita.