Hubungan Tanpa Status: Pelarian dari Kesepian atau Cinta yang Belum Matang?

Psikologi, Universitas Al Azhar Indonesia
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Zahra Chairunisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita mengobrol setiap malam, saling curhat, sleepcall, bahkan kita saling cemburu satu sama lain. Namun, saat muncul pertanyaan 'Kita ini apa sih?', suasana tiba-tiba menjadi hening, dan perlahan-lahan hubungan kita terasa asing. Fenomena ini dikenal sebagai Hubungan Tanpa Status (HTS) atau Situationship. Dalam beberapa tahun terakhir, perilaku ini semakin diterima dan dianggap wajar oleh kalangan remaja dan dewasa muda masa kini.
Bagi sebagian orang, hubungan tanpa status dianggap sebagai bentuk kebebasan yang menyenangkan, tanpa tekanan dan tuntutan. Namun, bagi yang lain, jenis hubungan ini bisa terasa seperti wilayah abu-abu yang menyimpan ketidakpastian, menimbulkan rasa cemas, atau bahkan menyimpan luka emosional yang mendalam. Apakah hubungan tanpa status adalah bentuk cinta di era modern, atau justru sebuah cara untuk menghindari ketakutan akan kesepian?
Untuk menggali lebih dalam tentang dinamika ini, mari kita lihat pemikiran Erich Fromm. Ia percaya bahwa kebutuhan paling mendasar manusia adalah keinginan untuk terhubung (relatedness) dengan orang lain. Lantas, bagaimana jika apa yang kita cari sebenarnya bukan cinta itu sendiri? Mungkin yang kita inginkan hanyalah cara untuk menutupi rasa kesepian yang sering kita rasakan.
Hubungan tanpa status (HTS) kini semakin populer di kalangan remaja dan dewasa muda. HTS merujuk pada suatu hubungan yang tidak memiliki pengakuan resmi, seperti pacaran atau menikah, tetapi tetap melibatkan kedekatan emosional dan fisik, bahkan hingga aspek seksual. (George, 2024). Meskipun dianggap praktis dan fleksibel, hubungan ini juga membawa berbagai dampak negatif. Banyak yang mengalami kebingungan emosional, merasa tidak aman, bahkan harga diri mereka bisa menurun, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental (Froyonion, 2024).
Hubungan tanpa status kerap kali berjalan tanpa batasan waktu dan tanpa adanya diskusi tentang komitmen yang jelas. Dalam interaksi sehari-hari, mereka mungkin berperilaku layaknya pasangan pada umumnya, namun kehidupan mereka di luar itu bisa sangat berbeda dan tidak terhubung secara nyata. Mereka berusaha menjaga jarak yang aman, tetapi ketika ditanya untuk “mendefinisikan hubungan” mereka, banyak yang merasa tidak nyaman dan cenderung menghindar dari topik ini. Akhirnya, hubungan sering berakhir secara tiba-tiba, yang sering kali memicu fenomena “ghosting”, di mana salah satu pihak memutuskan komunikasi tanpa penjelasan.
Erich Fromm, meyakini bahwa salah satu kebutuhan paling dasar manusia adalah relatedness, keinginan untuk terhubung secara bermakna dengan orang lain. Fromm menjelaskan bahwa relatedness bisa muncul dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah hubungan simbiotik, di mana satu pihak meleburkan diri atau justru mendominasi pihak lain demi merasa “terhubung.” Hubungan seperti ini sebenarnya bukan cinta, melainkan didorong oleh ketakutan seperti takut ditinggalkan, takut sendiri, atau takut menghadapi kekosongan batin.
Sebaliknya, cinta sejati menurut Fromm adalah relatedness yang matang. Cinta ini melibatkan rasa hormat, kepedulian, tanggung jawab, dan pengetahuan mendalam tentang pasangan. Cinta bukan sekadar perasaan yang muncul tiba-tiba, tapi sebuah usaha aktif untuk menyatukan diri tanpa kehilangan keutuhan diri.
Dengan cara pandang ini, kita bisa memahami bahwa hubungan tanpa status sering kali bukan tanda cinta yang sedang tumbuh, melainkan keinginan untuk merasa “dekat” tanpa berani membangun kedekatan yang sebenarnya. Hubungan ini mungkin memuaskan kebutuhan sementara, tapi belum tentu memenuhi makna cinta yang sesungguhnya.
Menurut Erich Fromm, kesepian bukan sekadar kondisi sosial, melainkan sebuah luka mendalam dalam diri manusia. Di tengah dunia yang semakin mengedepankan individualisme, banyak orang merasakan kekosongan yang menyakitkan di dalam hati mereka. Dari dalam kesunyian itu, muncul dorongan yang kuat untuk membangun koneksi, dengan siapa pun dan dalam bentuk apa pun.
Hubungan tanpa status kerap menjadi pelarian dari rasa kesepian. Hubungan semacam ini menawarkan kehangatan dan perhatian, serta menciptakan ilusi kedekatan tanpa perlu memiliki tujuan yang jelas. Meskipun memberikan kenyamanan sementara, hubungan ini ibarat plester yang menutupi luka dalam; ia memang mengalihkan perhatian, namun tidak mampu menyembuhkan rasa sepi yang mendalam.
Fromm mengungkapkan bahwa jika seseorang menjalin hubungan hanya untuk menghindari kesepian, itu sebenarnya adalah bentuk pelarian. Mereka masuk ke hubungan bukan karena siap mencintai, tapi karena takut sendiri. Akibatnya, hubungan tersebut tidak terbangun dari kedewasaan emosional, melainkan dari kebutuhan untuk "bergabung" agar bisa meredakan rasa cemas.
Tentu saja, memiliki “seseorang” yang bisa diajak ngobrol setiap malam atau mengirim pesan sepanjang hari bisa membuat kita merasa lebih baik. Namun, jika hubungan itu tidak dibangun atas kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk benar-benar hadir, maka yang tercipta bukanlah cinta sejati. Sebaliknya, itu hanya sebuah kelekatan yang semu.
Erich Fromm berpendapat bahwa cinta bukan hanya sekadar perasaan yang datang dan pergi, melainkan sebuah seni yang membutuhkan kedewasaan. Menurutnya, cinta sejati terdiri dari empat elemen utama: pengetahuan, tanggung jawab, kepedulian, dan rasa hormat. Untuk mampu mencintai dengan baik, kita perlu mengenali diri kita sendiri, memahami orang lain, dan berani hadir sepenuhnya dalam setiap hubungan yang kita jalani.
Sayangnya, dalam hubungan tanpa status, unsur-unsur ini sering kali belum ada. Banyak hubungan seperti ini terjebak dalam emosi yang impulsif, penuh gairah dan kedekatan fisik, tapi minim komitmen. Di balik alasan seperti “kita jalanin aja dulu” sering tersembunyi ketakutan: takut kehilangan kebebasan, takut terluka, atau takut menghadapi luka batin yang belum sembuh.
Tanpa disadari, hubungan semacam ini bisa membuat kita terperangkap dalam siklus emosional yang berulang. Kita berharap akan sesuatu yang tidak kunjung jelas, terikat pada seseorang tanpa ada rasa aman, dan merasakan kedekatan tanpa adanya kepastian. Meski perasaan ini tampak terasa kuat, Fromm mengatakan ini belum cinta sejati karena cinta sejati selalu membutuhkan keberanian untuk membuat pilihan yang tepat, membangun hubungan yang kokoh, dan bertanggung jawab terhadap perasaan satu sama lain.
Hubungan tanpa status sebenarnya tidak selalu memiliki konotasi negatif. Ada kalanya dua orang berada dalam tahap saling mengenal satu sama lain. Hal yang membedakan adalah seberapa sadar dan jelas arah dari hubungan itu. Apakah hubungan ini dijalani dengan ketulusan dan pertimbangan yang matang, ataukah sekadar menjadi pelarian dari rasa takut dan kesepian?
Erich Fromm mengungkapkan bahwa cinta sejati hanya dapat berkembang pada individu yang telah matang secara emosional. Artinya seseorang harus dapat mandiri dan merasa utuh terlebih dahulu sebelum menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain. Hal ini berbeda dengan hubungan yang dibangun atas dasar ketakutan, di mana kedekatan justru berfungsi sebagai pelindung dari rasa hampa, bukan sebagai jembatan untuk pertumbuhan.
Penting bagi kita untuk merenungkan beberapa pertanyaan mendalam tentang hubungan yang kita jalani. Apakah kita benar-benar mencintai pasangan kita, atau hanya merasa takut akan kesendirian? Apakah kita merasa dihargai, ataukah kita bertahan hanya karena takut kehilangan? Dan yang tak kalah penting, apakah hubungan ini membantu kita tumbuh sebagai pribadi, atau justru menghambat perkembangan kita?
Hubungan yang sehat tidak perlu terburu-buru diberi label, tetapi juga tidak boleh dibiarkan tanpa kejelasan terlalu lama. Seperti yang diuangkapkan oleh Fromm, kita seharusnya berusaha untuk membangun relatedness sejati, yaitu hubungan yang didasari oleh kesadaran, keberanian, dan komitmen untuk saling mencintai, bukan sekadar mengisi kekosongan hidup masing-masing. Cinta sejati tidak lahir dari pelarian, melainkan dari tekad untuk saling membangun. Ini bukan hanya soal merasa dekat, tetapi juga berani hadir dan menyatu, tanpa kehilangan jati diri kita.
Daftar Pustaka
Adhivira, R. (n.d.). Erich Fromm : Tentang Cinta. https://www.academia.edu/39095799/Erich_Fromm_Tentang_Cinta
Funk, R. (2011). Erich Fromm and the intersubjective tradition. 1-8. https://fromm-online.org/wp-content/uploads/secondary-titles/Funk_R_2011d.pdf
George, D. A. (2024). Escaping the Situationship: Understanding and Addressing Modern Relationship Ambiguity Among Young Adults. Partners Universal International Innovation Journal, 35-56. https://www.researchgate.net/publication/380856418_Escaping_the_Situationship_Understanding_and_Addressing_Modern_Relationship_Ambiguity_Among_Young_Adults?enrichId=rgreq-8b36ab916c96775b942f73d1f5c68a15-XXX&enrichSource=Y292ZXJQYWdlOzM4MDg1NjQxODtBUzoxMTQzMTI4MTI0NzEyODA0N0AxNzE2NjM0MTUzODg3&el=1_x_2&_esc=publicationCoverPdf
Here, S. V. (2021). HAKEKAT CINTA DAN PERANNYA BAGI ETIKA HUMANISTIK ERICH FROMM. Syntax Idea, 1194-1204. https://doi.org/10.46799/syntax-idea.v3i5.1212
Lilis Handayani, D. A. (2025). Persepsi Sosial pada Hubungan Tanpa Status di Kalangan Remaja. Journal of Multidisciplinary Inquiry in Science Technology and Educational Research , 2228-2234. https://jurnal.serambimekkah.ac.id/index.php/mister/index
UGM, L. P. (2024, May 31). Exploring Modern Romance in Adolescence: The Psychology of Situationships. https://lm.psikologi.ugm.ac.id/2024/05/exploring-modern-romance-in-adolescence-the-psychology-of-situationships-2/
