Maskulinitas: Ambisi atau Luka yang Tak Sembuh?

Psikologi, Universitas Al Azhar Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Zahra Chairunisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa laki-laki cenderung merasa untuk selalu kuat, tidak boleh menangis, harus tahan banting, dan harus selalu menunjukkan ‘keberhasilan’. Namun, apakah sebenarnya maskulinitas itu adalah identitas yang perlu dicapai, atau justru menjadi beban yang membuat mereka terus terpuruk dalam luka yang tak kunjung sembuh? Di dalam konsep masculine protest yang diperkenalkan oleh Alfred Adler dan dikembangkan oleh Karen Horney memberikan prespektik mendalam tentang fenomena ini.
Masculine protest adalah sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Alfred Adler untuk menjelaskan bagaimana seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, bereaksi terhadap tekanan sosial tentang seperti apa menjadi “laki-laki sejati” yang seharusnya. Sejak kecil, laki-laki dibentuk oleh harapan keluarga dan masyarakat bahwa laki-laki harus lebih kuat, dominan, dan berada di posisi atas. Akibatnya, tak sedikit orang yang merasa harus membuktikan dirinya sebagai “laki-laki sejati” dengan cara tampil lebih tangguh, lebih berkuasa, dan lebih unggul dari orang lain.
Di balik dorongan itu sering tersembunyi perasaan rendah diri, merasa tidak cukup kuat, tidak cukup penting, atau bahkan merasa tidak layak sebagai laki-laki. Ketika seseorang merasa tak sesuai dengan gambaran maskulin yang ideal, mereka mungkin akan merespons dengan berusaha keras atau bahkan secara berlebihan untuk menampilkan sisi maskulinnya sebagai kompensasi atas perasaan inferioritas.
Karen Horney mengungkapkan ide menarik tentang masculine protest yang berakar dari pengaruh budaya patriarki. Dalam pandangan Horney, perempuan sering kali terjebak dalam siklus di mana mereka merasa perlu untuk mengadopsi sifat-sifat maskulin demi mendapatkan pengakuan di dunia yang sangat patriarki. Mereka berusaha keras untuk memenuhi ekspektasi yang tidak hanya menekankan kekuatan dan ketidakberdayaan, tetapi juga menuntut mereka untuk menahan emosi dan menampilkan ketangguhan yang tidak selalu mencerminkan keaslian mereka.
Akibatnya, mereka berusaha untuk meniru perilaku laki-laki agar bisa mendapatkan pengakuan dan merasa lebih berharga. Namun, Horney menegaskan bahwa ini bukanlah akibat dari keterbatasan perempuan, melainkan dampak dari tekanan masyarakat yang meremehkan nilai feminitas.
Horney menunjukkan bahwa perjuangan ini tidak hanya berdampak pada hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga pada dinamika antar sesama laki-laki. Menurutnya, tekanan terhadap laki-laki untuk menampilkan citra kuat dan tidak emosional bukanlah sesuatu hal yang alami, melainkan merupakan hasil dari konstruksi patriarkal tersebut. Dalam budaya seperti ini, emosi dipandang sebagai tanda kelemahan, dan apa pun yang dianggap lemah seolah tidak sesuai dengan citra seorang pria sejati.
Horney menyebut bahwa banyak laki-laki yang tumbuh dengan kecemasan akan kurangnya sifat “jantan” dan berusaha menutupi rasa insecure ini dengan kesuksesan, kekuasaan, atau bahkan mengendalikan orang lain. Bagi Horney, bentuk maskulinitas ekstrem sebenarnya bukan cerminan tanda kekuatan, melainkan sebuah ketakutan; ketakutan untuk dianggap lemah, takut ditolak, dan takut tidak diakui.
Antara Ambisi dan Luka: Di Mana Maskulinitas Berdiri?
Untuk memahami peran maskulinitas dalam perjalanan antara ambisi dan luka, kita perlu melihat bagaimana norma sosial dan budaya membentuk makna kejantanan. Maskulinitas sering kali diidentikkan dengan kekuatan, keberanian, dan kemandirian, yang mendorong laki-laki untuk mengejar ambisi dan mencapai tujuan yang tinggi. Namun, tekanan untuk memenuhi standar tersebut dapat menjadi beban emosional yang berat. Banyak laki-laki merasa terjebak dalam peran yang diharapkan masyarakat, yang bisa menyebabkan perasaan tidak cukup baik dan mengalami luka emosional yang mendalam.
Di sinilah konflik muncul, antara hasrat untuk mengejar aspirasi yang ditetapkan dan realitas kerentanan yang sering kali tidak terlihat. Konsep masculine protest mengajak kita untuk merenungkan kembali apa arti sebenarnya dari maskulinitas. Apakah perilaku maskulin yang berlebihan memang merupakan bentuk ekspresi diri yang otentik, atau malah hanya sekadar topeng yang disembunyikan untuk menutupi luka dan perasaan tidak aman? Di tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi citra maskulinitas, kita perlu menyadari bahwa kekuatan sejati tidak berasal dari dominasi atau agresivitas, melainkan dari kemampuan untuk menerima serta mengatasi kelemahan dan luka batin yang ada dalam diri kita.
Saat Maskulinitas Butuh Dimaafkan, Bukan Dibuktikan
Maskulinitas sering kali dibayangkan sebagai mahkota yang harus dikenakan dengan bangga, tangguh, tegar, dan tidak pernah retak. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh Adler dan Horney, di balik semua upaya untuk tampil “kuat” itu sering tersembunyi sesuatu yang jauh lebih sunyi: luka yang tak terucap, rasa takut dianggap lemah, dan dorongan untuk membuktikan diri di dunia yang menetapkan standar terlalu tinggi.
Konsep masculine protest mengingatkan kita bahwa banyak perilaku maskulin yang tampak ekstrem sesungguhnya bukanlah wujud kekuatan, melainkan reaksi terhadap tekanan sosial dan rasa tidak cukup. Ketika seseorang terus-menerus merasa perlu tampil “lebih laki-laki” agar dihargai, maka maskulinitas tidak lagi menjadi identitas yang sehat, tapi beban yang menyakitkan.
Untuk itu, kita perlu membuka ruang baru bagi bentuk maskulinitas yang lebih manusiawi, yang memberi tempat bagi emosi, pengakuan atas rasa lemah, dan keberanian untuk bercerita. Karena mungkin, menjadi laki-laki sejati bukan berarti tak pernah goyah, tetapi justru berani mengakui bahwa dirinya juga bisa terluka, butuh didengar, dan ingin dimengerti.
Daftar Pustaka
Baraitser, L. (2023). Passivity and Gender: Psychical inertia and maternal stillness. The International Journal of Psychoanalysis. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00207578.2023.2255470
Hidayah, I. H. (2023). Toxic masculinity dan tantangan kaum lelaki dalam masyarakat Indonesia. Dimesia: Jurnal Kajian Sosiologi, 171-182. http://dx.doi.org/10.21831/dimensia.v12i2.60991
Moses, M. B. (2017). Masculine Protest. Encyclopedia of Personality and Individual Differences. https://link.springer.com/referenceworkentry/10.1007/978-3-319-28099-8_602-1
