Konten dari Pengguna

Kesenjangan Akses dan Kualitas Pendidikan di Kota dan Perdesaan di Indonesia

Zahra Najwa Sarahah

Zahra Najwa Sarahah

Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Najwa Sarahah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesenjangan akses dan kualitas pendidikan. Sumber gambar: Ron Lach/Pexels dan Fatima Yusuf/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Kesenjangan akses dan kualitas pendidikan. Sumber gambar: Ron Lach/Pexels dan Fatima Yusuf/Pexels

Salah satu permasalahan utama adalah kesenjangan akses dan kualitas pendidikan di kota dan perdesaan di Indonesia. Data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2024 menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah pada jenjang SMA/SMK di perkotaan mencapai sekitar 90,16 persen, sedangkan di perdesaan hanya sekitar 83,10 persen. Selain itu, distribusi guru yang masih belum merata, karena jumlah guru lebih banyak terdapat di kota-kota besar dibandingkan dengan perdesaan. Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa masih terdapat kesenjangan pendidikan antara perkotaan dan perdesaan yang masih menjadi tantangan besar dalam upaya pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.

Akses dan Kualitas Pendidikan

Kesenjangan akses dan kualitas pendidikan di kota dan Perdesaan di Indonesia masih terlihat dengan jelas. Di perkotaan, siswa lebih mudah bersekolah karena tersedianya sarana transportasi serta teknologi yang memadai, sedangkan di perdesaan jarak sekolah yang jauh dan keterbatasan fasilitas membuat pelajar sering kali mengalami hambatan. Adanya distribusi guru yang tidak merata, disebabkan karena jumlah guru di kota jauh lebih banyak jika dibandingankan dengan di wilayah perdesaan. Keterbatasan ini yang menyebabkan banyak guru di daerah perdesaan harus merangkap mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus. Selain itu, kesenjangan dalam hal kesejahteraan dan gaji juga membuat profesi guru kurang diminati. Kondisi seperti ini nyata dan terdapat di wilayah seperti Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Kalimantan.

Dampak dari Ketimpangan Pendidikan

Adanya kesenjangan ini menimbulkan berbagai dampak ketidakadilan sosial. Sebagian anak memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik, sementara yang lain kurang beruntung. Kondisi ini juga memperbesar kesenjangan ekonomi, karena anak yang lahir dari keluarga mampu memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil di sekolah, sedangkan anak dari keluarga miskin sering kali terhambat sejak awal. Padahal, negara membutuhkan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Dengan adanya kesenjangan akses dan rendahnya kualitas pendidikan, upaya dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul menjadi terhambat.

Upaya dan Solusi yang Dapat Dilakukan

Pemerataan distribusi guru harus dilakukan secara adil, tidak hanya terfokus pada kota-kota besar, tetapi mampu dalam menjangkau wilayah pedalaman. Digitalisasi pendidikan juga perlu ditingkatkan, baik dari segi kualitas internet maupun ketersediaan perangkat belajar, agar tidak hanya pelajar di perkotaan yang mampu menguasai teknologi, tetapi juga pelajar di perdesaan sehingga mengurangi adanya kesenjangan. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) melalui program SM-3T yang menempatkan sarjana-sarjana berkualitas sebagai tenaga pengajar di wilayah yang paling membutuhkan, perlu terus diperkuat agar dapat meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan.

Pemerataan pendidikan sangat penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan bukan hanya hak bagi anak-anak di kota atau mereka yang berasal dari keluarga mampu, melainkan juga hak setiap anak di perdesaan untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak. Dengan adanya berbagai program pemerintah yang telah dibuat serta meningkatnya kesadaran para sarjana akan pentingnya pendidikan, maka semakin banyak tenaga pendidik yang tertarik untuk mengabdi di perdesaan. Dengan begitu, anak-anak di perdesaan pun dapat mengakses pendidikan dan mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Badan Pustaka Statistik. (2024, November 22). Statistik Pendidikan 2024. BPS RI.

Fitri, S. F. N. (2020). Problematika kualitas pendidikan di Indonesia. Jurnal Pendidikan Indonesia, 9 (1), 1-12.

Satria, D., Kusasih, I. H., & Gusmaneli, G. (2025). Analisis rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia saat ini: Suatu kajian literatur. Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia, 3(2), 292-309.