Kisah yang Melintasi Batas

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zahra Nur Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita membayangkan bagaimana sebuah cerita dari satu bangsa bisa hadir dalam bentuk berbeda di bangsa lain? Inilah yang menjadi inti dari sastra bandingan, sebuah kajian yang menelusuri hubungan timbal balik antar karya sastra lintas budaya dan bangsa.
Menurut Nada yang dikutip oleh Damono (2005), sastra bandingan merupakan studi tentang bagaimana karya sastra suatu bangsa terjalin kaitannya dengan bangsa lain, baik melalui proses saling memengaruhi maupun sumbangan ide yang terjadi di dalamnya. Damono menambahkan bahwa sastra bandingan bukanlah teori yang berdiri sendiri, melainkan pendekatan yang bisa memanfaatkan beragam teori sastra sesuai dengan objek kajiannya. Dengan kata lain, sastra bandingan adalah ruang dialog antar kebudayaan yang tercermin lewat teks sastra.
Dalam praktiknya, kajian sastra bandingan hadir dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah penelitian yang berhubungan dengan filologi, yang berfokus pada naskah lama Nusantara. Para peneliti biasanya membandingkan berbagai versi naskah, misalnya berbahasa Melayu, Jawa, Arab, atau Parsi, untuk menemukan induk naskah sekaligus menyingkap latar budaya di baliknya. Salah satu penelitian yang terkenal dilakukan oleh Ph.S. van Ronkel dalam disertasinya De Roman van Amir Hamza (1895). Ia membuktikan bahwa Hikayat Amir Hamzah dari sastra Melayu sebenarnya berasal dari sastra Parsi, bukan dari sastra Arab. Bahkan, versi Jawa yang dikenal sebagai Serat Menak ternyata hanyalah saduran dari versi Melayu dengan tambahan yang membuat jalan ceritanya semakin rumit.
Selain melalui naskah kuno, sastra bandingan juga tampak dalam tradisi lisan. Cerita rakyat, dongeng, hingga puisi yang hidup di berbagai daerah ternyata sering kali memiliki kemiripan satu sama lain. Adriani, misalnya, pernah membandingkan dongeng Indo-Jerman di Eropa dengan dongeng Toraja di Sulawesi Tengah serta dongeng Minahasa di Sulawesi Utara. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya benang merah yang menarik: dalam dongeng Toraja, tokoh manusia bisa berubah menjadi burung, kera, kerbau, bahkan benda-benda seperti telur atau bubur sagu. Fenomena ini membuktikan bahwa tradisi lisan Nusantara memiliki hubungan tak terduga dengan kisah-kisah dari Eropa.
Pada era sastra Indonesia modern, kajian sastra bandingan lebih sering muncul dalam bentuk kritik atau perdebatan mengenai plagiasi antar pengarang. Kasus terkenal terjadi pada tahun 1910 ketika H.F.R. Kommer menerbitkan cerita berjudul Rossinna. Karya ini kemudian dianggap meniru Tjerita Rosina yang ditulis oleh F.D.J. Pangemannan pada tahun 1903. Persamaan kalimat demi kalimat antara keduanya menimbulkan perdebatan panjang yang masih sering dikenang dalam sejarah sastra Indonesia.
Namun, sastra bandingan bukanlah bidang yang tanpa masalah. Remak berpendapat bahwa sastra bandingan hanya sah apabila melampaui batas negara. Pandangan ini menimbulkan persoalan, sebab dalam satu negara saja sering kali terdapat banyak bahasa dan budaya berbeda yang sebenarnya juga layak diperbandingkan. Di sisi lain, Steven Tötösy de Zepetnek menyoroti aspek metodologi yang masih kurang diperhatikan. Ia menekankan bahwa penelitian sastra bandingan sebaiknya lebih berfokus pada pertanyaan “bagaimana” proses pertemuan budaya itu terjadi, bukan sekadar “apa” yang dibandingkan.
Melalui berbagai perdebatan dan perkembangan tersebut, sastra bandingan pada akhirnya membuka mata kita bahwa karya sastra bukan sekadar produk tunggal dari satu bangsa, melainkan hasil dialog panjang antarbudaya. Dari naskah kuno hingga modern, dari tradisi lisan hingga tulisan, kita bisa melihat bagaimana dunia saling berkelindan lewat kisah. Dengan mempelajari sastra bandingan, kita belajar bukan hanya tentang teks, tetapi juga tentang sejarah, identitas, dan interaksi antarperadaban.
