Konten dari Pengguna

Lebih dari Sekadar Hamil: Mengupas Perasaan Lena dalam "Menanti Kelahiran"

Zahra Nur Rahma

Zahra Nur Rahma

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Nur Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kepingan hati, kepingan jiwa. Kisah Lena dalam 'Menanti Kelahiran'. (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/).
zoom-in-whitePerbesar
Kepingan hati, kepingan jiwa. Kisah Lena dalam 'Menanti Kelahiran'. (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/).

Cerita pendek "Menanti Kelahiran" karya A.A. Navis menawarkan lebih dari sekadar kisah kehamilan. Cerita ini mengajak pembaca untuk memahami perasaan rumit yang dialami Lena, seorang ibu yang sedang menantikan kelahiran anaknya. Kehamilan, dalam cerita ini, tidak hanya tentang perubahan fisik, tetapi juga tentang perubahan emosi yang besar dan tak terduga. Lena mengalami berbagai perasaan, dari rasa senang hingga rasa takut dan marah. Dengan menggunakan teori psikologi Sigmund Freud, akan dijelaskan apa yang terjadi dalam pikiran dan hati Lena. Freud membagi kepribadian menjadi tiga bagian: id, ego, dan superego. Akan dilihat bagaimana ketiga bagian ini membentuk perasaan dan perilaku Lena. Analisis ini akan membantu untuk lebih memahami pengalaman kehamilan dan memberikan dukungan yang dibutuhkan para ibu hamil.

Teori Psikoanalisis Sigmund Freud

1. Id, yang awalnya disebut Freud sebagai "ketidaksadaran," merupakan bagian paling primitif dari kepribadian. Id mengandung refleks dan dorongan biologis dasar. Freud membayangkan id sebagai lubang yang "penuh kesenangan menggelegak," di mana semua dorongan mendesak untuk keluar. Jika ditelusuri motivasinya, id didominasi oleh prinsip kesenangan. Dengan kata lain, id bersifat tidak sadar dan selalu berupaya memuaskan kebutuhan naluriah sesuai asas kesenangan.

2. Ego adalah aspek psikologis kepribadian yang muncul dari kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia luar secara realistis. Dalam fungsinya, ego berpegang pada prinsip "realitas." Ego berusaha menahan tindakan sampai memiliki kesempatan untuk memahami realitas secara akurat, memahami situasi serupa di masa lalu, dan membuat rencana realistis untuk masa depan. Secara sederhana, ego ditafsirkan sebagai upaya pemenuhan hasrat sesuai realitas.

3. Superego adalah aspek sosiologis kepribadian yang mewakili nilai-nilai tradisional dan cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya. Superego lebih menekankan pada hal ideal daripada riil, pada kesempurnaan daripada kesenangan. Karena itu, superego dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya terutama menentukan apakah sesuatu susila atau tidak susila, pantas atau tidak pantas, benar atau salah. Sederhananya, superego adalah hati nurani.

  1. Id

Lena sangat dipengaruhi oleh id-nya, bagian kepribadian yang berfungsi berdasarkan prinsip kesenangan. Ketika ia mengungkapkan,

"Sudah bosan kau padaku. Katakanlah begitu." (Halaman 100)

Kutipan ini mencerminkan kemarahan dan frustrasinya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa id mendorongnya untuk mengungkapkan perasaan terpendam secara langsung. Kemarahan Lena bukan sekadar emosi, tetapi juga pelampiasan ketidakpuasan yang menggerogotinya. Ia merasa terjebak dalam hubungan yang tidak memenuhi kebutuhannya akan pengakuan dan kasih sayang.

Selanjutnya, ketika Lena berkata

"Kalau suamiku ini main gila pula nanti, aku bersedia juga masuk penjara." kata hatinya. (Halaman 98)

Terlihat dalam kutipan, perasaan impulsif dan kemarahan yang sangat kuat. Ungkapan ini mencerminkan kebutuhan untuk melampiaskan emosi tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Id mendorongnya untuk mengambil tindakan ekstrem sebagai respons terhadap frustrasi mendalam. Ini menunjukkan bagaimana tekanan emosional dapat mendorong perilaku tanpa berpikir panjang.

Pernyataan berikutnya

"Ke mana? Ke mana, katamu? Kalau dulu, kaulah yang selalu mengajak aku." (Halaman 99)

mengekspresikan kerinduan dan kebutuhan akan pengakuan dari suaminya. Dalam kutipan ini, Lena merindukan perhatian dan kasih sayang yang dulu sering diberikan suaminya, terutama saat ia diajak keluar untuk bersenang-senang. Kemarahannya mencerminkan kekecewaan karena merasa diabaikan oleh suaminya.

Kemarahan Lena semakin terlihat ketika ia berkata,

"Alaah kau. Kau selamanya memakai alasan itu-itu saja." (Halaman 100)

Ungkapan ini mencerminkan kemarahan dan kekecewaan terhadap suaminya, yang dianggap tidak peduli dengan perasaannya. Lena merasa frustrasi karena suaminya terus menggunakan alasan yang sama, menghindari pembicaraan tentang masalah yang mereka hadapi. Id dalam diri Lena mendorongnya untuk melampiaskan emosi kepada suaminya sebagai cara untuk mendapatkan perhatian yang ia butuhkan. Dengan meluapkan kemarahan, Lena berharap suaminya dapat lebih memahami ketidakpuasan yang dirasakannya.

Dalam ketakutan lain Lena mengungkapkan

"Tidak. Aku tidak mampu melihat bayi itu lama-lama. Nanti tercetak dalam pikiranku. Itu akan mempengaruhi anakku. Kalau anakku seperti itu pula nanti, tidak berayah pula, oh, biar aku tak punya anak, biar aku mati saja. Tidak. Aku tak sanggup hidup kalau anakku seperti itu." (Halaman 104)

Ketakutan dan kesedihan ini menunjukkan reaksi emosional yang tidak terfilter, di mana id mendominasi pikirannya. Ungkapan ini mencerminkan ketakutan Lena yang sangat kuat terhadap masa depan anaknya, terutama jika anak tersebut tumbuh tanpa sosok ayah.

Ketakutan yang Lena rasakan semakin besar, seperti terlihat dalam pernyataannya

"Anakku tidak boleh bisu. Kalau aku berbuat baik pada anak bisu ini tentu anakku tidak akan kena bisu kelak. Tentu saja aku harus menunjukkan hati baikku. Akan ku pelihara anak bisu ini, supaya anakku tidak bisa pula nantinya." (Halaman 105)

Dalam kutipan ini, Lena berusaha meyakinkan dirinya bahwa dengan berbuat baik dan menunjukkan kasih sayang, ia dapat mempengaruhi masa depan anaknya agar tidak mengalami nasib yang sama dengan anak tertua dari keluarga yang meminta pekerjaan, yang bisu. Ketakutan ini semakin diperkuat oleh nasihat ibunya yang mengatakan bahwa selama hamil, seorang ibu tidak boleh membenci siapapun dan harus bersikap santun.

  1. Ego

Ego Lena mencoba menyeimbangkan keinginan id-nya dengan kenyataan. Suaminya menasihati

"Tak baik marah-marah, Len. Ingatlah akan anak kita yang dalam kandunganmu itu." (Halaman 100)

Dalam situasi ini, nasihat suaminya berfungsi sebagai pengingat bahwa kemarahan dan ketidakpuasan yang ia rasakan dapat berdampak negatif pada kesehatan dan perkembangan bayinya. Dengan demikian, Lena berusaha untuk lebih tenang dan fokus pada kesehatan anaknya, meskipun emosinya sering kali menguasai dirinya.

Lena juga mencoba berkomunikasi dengan suaminya, seperti terlihat dalam pertanyaannya

"Ris, bila aku kau ajak lagi?" (Halaman 99)

Dalam pertanyaan ini, Lena secara spontan mengekspresikan keinginannya untuk kembali menikmati waktu bersama seperti dulu. Pertanyaan ini mencerminkan kerinduan akan perhatian dan kehangatan yang mungkin mulai pudar dalam hubungan mereka. Di balik pertanyaannya, terbesit rasa cemas bahwa suaminya mungkin merasa bosan atau tidak tertarik lagi padanya. Usahanya untuk berkomunikasi ini mencerminkan upaya ego-nya dalam mencari keseimbangan antara memenuhi kebutuhan emosionalnya dan menjaga keharmonisan dalam keluarga.

  1. Super Ego

Superego Lena, sebagai suara hati nuraninya, mengingatkannya akan nilai-nilai moral dan norma sosial. Ia berusaha untuk berperilaku santun dan menghindari kebencian. Pernyataan

"Orang hamil, Nak, haruslah santun. Tidak boleh merasa benci kepada siapa pun" (Halaman 104)

Kutipan ini menunjukkan betapa pentingnya bagi Lena untuk menjaga sikap positif selama masa kehamilannya. Superego berfungsi sebagai pengingat untuk tidak terjerumus dalam emosi negatif yang memberikan panduan moral yang diharapkan dapat melindungi anaknya sejak dalam kandungan.

Lena juga berupaya untuk tidak membiarkan perasaannya yang negatif memengaruhi bayinya. Hal ini terlihat dalam pernyataannya

"Ah, aku tidak boleh jijik pada bayi kecil ini" (Halaman 104)

Kesadaran ini mencerminkan tanggung jawab yang ia rasakan sebagai seorang ibu, di mana ia menyadari bahwa sikap dan emosinya dapat berdampak langsung pada perkembangan anaknya. Dengan berusaha menjaga perasaan positif, Lena ingin memastikan bahwa bayinya dapat tumbuh dalam lingkungan yang baik, sekaligus mengatasi tekanan emosional yang ia alami.

Nasihat ibunya

"Len, dalam hamil jangan suka ingat pada yang jelek-jelek. Nanti anakmu jadi jelek pula" (Halaman 102)

Ini semakin memperkuat pengaruh superego dalam hidupnya. Nasihat ini menekankan pentingnya berpikir positif dan menjaga emosi yang baik selama kehamilan. Dengan kata-kata ini, ibunya mendorong Lena untuk mengambil langkah proaktif dalam menjaga kesehatan mentalnya, sehingga dapat memberikan pengaruh positif pada perkembangan anaknya. Superego, dalam hal ini, berperan penting dalam membentuk perilaku dan pikiran Lena, mendorongnya untuk selalu berusaha menjadi ibu yang baik dan bertanggung jawab.

Kesimpulan

"Menanti Kelahiran" menunjukkan betapa kompleksnya perasaan seorang ibu hamil. Lena, tokoh utama, mengalami berbagai perasaan yang kuat dan kadang-kadang bertentangan. Ia merasa bahagia karena akan menjadi seorang ibu, tetapi juga takut, cemas, dan marah karena berbagai tekanan dalam hidupnya. Dengan memahami teori psikologi Freud, seseorang dapat melihat bagaimana ketiga bagian kepribadian seperti id, ego, dan superego dapat mempengaruhi perasaan dan perilaku Lena. Pemahaman ini membantu untuk lebih berempati dan mendukung para ibu hamil. Cerita ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki masalahnya sendiri, dan penting untuk saling mendukung, terutama saat menghadapi perubahan besar dalam hidup. Lena, dengan semua perasaannya yang rumit, menunjukkan kekuatan dan ketahanan seorang wanita dalam menghadapi tantangan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

  • Arnianti. (2021). Teori Perkembangan Psikoanalisis. TSAQOFAH : Jurnal Penelitian Guru Indonesia, 3-10.

  • Navis, A. A. (1986). Robohnya Surau Kami. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.