Luka yang Tak Pernah Sembuh: Trauma Perang dan Identitas yang Hancur

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zahra Nur Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trauma perang, jauh melampaui cedera fisik, seringkali menghancurkan identitas seseorang, merenggut kepercayaan diri, tujuan hidup, dan makna keberadaannya. Dalam cerpen "Angin dari Gunung" karya A.A. Navis, dampak ini terlihat jelas pada tokoh Nun, yang kehilangan kedua tangannya dalam peperangan. Kehilangan sebagian fisik Nun hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang menuju kehancuran identitas dan pencarian makna hidup yang penuh keputusasaan. Sebelum perang, Nun memiliki identitas yang kuat, dibangun di atas kecantikan, daya tarik, dan peran sosial tertentu. Namun, trauma perang telah merampas semua itu, menciptakan jurang pemisah antara masa lalu dan masa depan. Tulisan ini akan membahas bagaimana trauma perang dalam cerpen "Angin dari Gunung" tidak hanya meruntuhkan identitas Nun yang telah ada, tetapi juga menghambat pembentukan identitas baru.
Nun mengungkapkan keputusasaan yang amat dalam melalui kata-katanya:
"Mulanya aku suka menangis. Menangisi segala yang sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis lagi. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Buat apa?" (Halaman 88)
Ini bukan sekadar penerimaan, ini adalah penolakan untuk memproses kesedihan yang terlalu besar. Menangis adalah pelepasan emosi, tetapi Nun telah menyerah pada kesedihannya yang tak berujung. Baginya, mengingat masa lalu hanya akan memperparah keputusasaannya. Kehilangan tangannya telah merampas kemampuannya untuk berbuat dan untuk berinteraksi dengan dunia seperti sediakala. Lebih dari sekadar kehilangan fisik, ini adalah kehilangan harapan dan kemampuan untuk membangun masa depan yang ia inginkan.
Bayang-bayang masa lalu di medan perang terus menghantui Nun, menghancurkan kepingan-kepingan identitasnya. Ia mengenang masa-masa di mana kecantikannya menjadi sumber kekuatan dan pengaruh sosial,
"Dulu aku cantik juga, bukan?" katanya pula (Halaman 89)
"Bahkan tercantik di front Barat itu. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku. Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku." (Halaman 89-90)
Namun, identitas ini kini telah runtuh. Kehilangan fisik telah mengubah identitas Nun secara drastis, peran sosial dan nilai dirinya yang sebelumnya dibangun di atas kecantikan dan daya tarik kini sirna. Pernyataan selanjutnya,
"... Tapi setelah itu, setelah itu apa lagi?" (Halaman 93)
Melalui kutipan tersebut, terlihat jelas bahwa Nun mengalami kekosongan eksistensial, kehilangan arah, tujuan, dan makna hidupnya.
Trauma perang tidak hanya meruntuhkan identitas yang telah ada, tetapi juga menghambat pembentukan identitas baru. Pertanyaan Nun selanjutnya,
"Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?" (Halaman 91)
Kutipan ini mengungkapkan keraguan dan ketidakpercayaan diri yang ada pada diri Nun. Kehilangan fisiknya telah menciptakan sebuah hambatan yang signifikan dalam kemampuannya untuk berpartisipasi dalam kehidupan. Ia meragukan kemampuannya untuk berkontribusi, untuk memiliki nilai, dan untuk menemukan kembali makna keberadaannya. Ini menunjukkan bagaimana trauma perang dapat menciptakan sebuah siklus negatif yang memperkuat perasaan tidak berdaya dan tidak berharga.
Lebih jauh lagi, perubahan fisik Nun berdampak besar pada hubungannya dengan lingkungan, merubah identitasnya secara signifikan. Dahulu ia menerima sambutan yang positif, namun kini, seperti yang terlihat dalam interaksi singkatnya dengan seorang gadis kecil yang berkata,
"... Melalar saja. Tidak tahu dibuntung awak," (Halaman 94)
Ia mendapatkan reaksi negatif, persepsi orang lain terhadap Nun telah berubah.
Akhirnya, pernyataan,
"... Antara kami berdua ada perpaduan nasib..." (Halaman 94)
"Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi, aku juga tidak memerlukan apa-apa pula." (Halaman 94)
Kutipan tersebut menunjukkan ketergantungan emosional Nun pada orang lain dan hilangnya rasa percaya diri untuk hidup mandiri. Identitasnya, sebelum dan setelah trauma, tampaknya sangat bergantung pada hubungan interpersonal. Kehilangan fisik dan sosial telah membuatnya merasa tidak memiliki tempat di dunia, sehingga ia kehilangan kemauan untuk hidup.
Simpulan
Secara keseluruhan, "Angin dari Gunung" memberikan gambaran yang kuat tentang bagaimana trauma perang dapat merusak tidak hanya tubuh, tetapi juga jiwa dan identitas seseorang. Cerita ini mengingatkan kita akan pentingnya dukungan dan pemahaman bagi mereka yang mengalami trauma, serta perlunya pendekatan yang sensitif dalam membantu mereka menemukan kembali jati diri mereka. Dengan menggambarkan perjalanan Nun, Navis menyampaikan pesan bahwa meskipun luka fisik dapat sembuh, luka batin yang diakibatkan oleh pengalaman traumatis dapat bertahan seumur hidup, dan untuk itu dibutuhkan empati serta perhatian dari orang-orang di sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
Navis, A. A. (1986). Robohnya Surau Kami. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
