Kita Menjadi Apa yang Kita Percayai: Penjelasan Psikologi dan Neurosains

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zahra Nur'aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia sering menganggap dirinya mengambil keputusan secara rasional. Namun, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa perilaku kita lebih sering digerakkan oleh keyakinan, tentang diri sendiri, orang lain, dan dunia. Keyakinan ini mungkin terasa subjektif, tetapi sains membuktikan bahwa ia memiliki dampak nyata terhadap cara otak bekerja dan bagaimana kita bertindak.
Ungkapan “kita menjadi apa yang kita percayai” sering dianggap motivasi kosong. Padahal, dalam sains perilaku, gagasan ini punya penjelasan yang cukup konkret. Bukan karena keyakinan bisa mengubah realitas secara ajaib, melainkan karena keyakinan memengaruhi cara otak bekerja, lalu membentuk tindakan yang kita ambil.
Keyakinan dan Self-Fulfilling Prophecy
Dalam psikologi sosial, ada konsep bernama self-fulfilling prophecy. Istilah ini dikenalkan oleh Robert K. Merton pada 1948 untuk menjelaskan bagaimana keyakinan awal dapat memicu perilaku yang akhirnya membuat keyakinan tersebut terasa benar (Merton, 1948).
Contohnya sederhana. Seseorang yang percaya dirinya tidak pandai berbicara di depan umum cenderung menghindari kesempatan tampil. Saat terpaksa berbicara, ia tampil dengan cemas dan kurang percaya diri. Hasilnya tidak maksimal, lalu ia menyimpulkan bahwa keyakinan awalnya memang benar. Padahal, yang terjadi adalah lingkaran antara keyakinan, perilaku, dan hasil.
Otak Merespons Cara Kita Memaknai Sesuatu
Neurosains membantu menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi. Otak manusia tidak bekerja dengan menilai fakta secara netral. Ia merespons makna yang kita berikan pada suatu situasi. Bagian otak yang mengatur emosi bekerja lebih cepat daripada bagian yang mengatur logika.
Artinya, sebelum kita sempat berpikir rasional, otak sudah lebih dulu memutuskan apakah sesuatu terasa mengancam, menantang, atau aman. Keyakinan yang kita miliki berperan sebagai kacamata yang memengaruhi penilaian tersebut. Situasi yang sama bisa terasa sangat berbeda, tergantung apa yang kita percayai tentang diri sendiri.
Mengapa Keyakinan Sulit Diubah
Salah satu alasan keyakinan sulit digeser adalah adanya confirmation bias. Ini adalah kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan informasi yang sesuai dengan kepercayaan yang sudah dimiliki, dan mengabaikan yang bertentangan (Nickerson, 1998).
Jika seseorang percaya dirinya “selalu gagal”, ia akan lebih mudah mengingat kegagalan daripada keberhasilan kecil yang sebenarnya pernah ia capai. Otak melakukan ini bukan karena ingin menyakiti diri sendiri, melainkan karena ia menyukai konsistensi. Cerita yang sudah dikenal terasa lebih aman dibandingkan cerita baru yang belum pasti.
Keyakinan dan Kebiasaan Otak
Keyakinan juga berkaitan dengan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk berubah berdasarkan pengalaman yang berulang. Pikiran yang sering muncul akan memperkuat jalur saraf tertentu di otak. Semakin sering suatu keyakinan diulang, semakin otomatis respons yang menyertainya (Doidge, 2007).
Inilah sebabnya mengubah cara pandang tentang diri sendiri tidak cukup dengan niat baik. Otak perlu waktu untuk membangun pola baru. Bukan karena kita lemah, tetapi karena otak sudah terlalu terbiasa dengan jalur lama.
Keyakinan dan Respons Tubuh
Pengaruh keyakinan tidak berhenti di pikiran. Penelitian tentang placebo menunjukkan bahwa kepercayaan seseorang dapat memengaruhi respons fisik, seperti persepsi nyeri dan stres (Benedetti, 2008). Tubuh, dalam banyak hal, mengikuti sinyal yang dipercaya otak.
Sebaliknya, keyakinan negatif yang terus-menerus dapat membuat tubuh berada dalam kondisi siaga berkepanjangan. Hal ini berdampak pada emosi, fokus, dan cara mengambil keputusan.
Tidak Semua Hal Bisa Dikendalikan oleh Keyakinan
Meski berpengaruh, keyakinan bukan satu-satunya faktor penentu hidup. Kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan tetap berperan besar. Psikologi tidak mengatakan bahwa percaya saja sudah cukup untuk mengubah segalanya.
Yang bisa dilakukan keyakinan adalah memengaruhi arah langkah kita, bukan menjamin hasil akhirnya.
Sains tidak mengajarkan bahwa pikiran bisa mengendalikan dunia. Namun, ia menunjukkan bahwa pikiran mengarahkan cara kita bergerak di dalam dunia. Dari sanalah banyak konsekuensi hidup terbentuk.
Kita menjadi apa yang kita percayai bukan karena keyakinan itu selalu benar, tetapi karena ia memengaruhi cara kita memilih, bertindak, dan bertahan.
