Ekranisasi vs. Dekranisasi: Dua Wajah Adaptasi dalam Industri Cerita

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Zahra Salbiyah Aniqah Syach tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

1. Ekranisasi: Dari Dunia Kata ke Dunia Layar
Dalam dunia sastra dan perfilman, istilah ekranisasi bukanlah hal yang asing. Istilah ini sering muncul ketika sebuah karya tulis, biasanya novel diadaptasi menjadi sebuah film. Namun, proses ini sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar mengubah cerita menjadi film. Ada dinamika, interpretasi, dan transformasi yang membuat ekranisasi menjadi sebuah kajian menarik dalam sastra bandingan.
Apa Itu Ekranisasi?
Secara etimologis, ekranisasi berasal dari kata écran dalam bahasa Prancis yang berarti layar. Dari sinilah muncul pengertian dasar bahwa ekranisasi berkaitan dengan proses “melayarkan” sebuah karya. Pamusuk Eneste (1991) menjelaskan bahwa ekranisasi adalah proses pengangkatan atau pemindahan sebuah novel ke dalam bentuk film, atau yang ia sebut sebagai pelayar putihan. Dengan kata lain, karya yang semula hadir dalam bentuk teks dan imajinasi kemudian dihadirkan dalam medium visual dan audio.
Tujuan utama ekranisasi adalah mengubah dunia kata-kata menjadi dunia gambar bergerak. Novel bekerja melalui deskripsi, narasi panjang, dan ruang imajinasi pembaca, sementara film berbicara dengan visual, suara, akting, dan durasi yang terbatas. Oleh karena itu, ekranisasi hampir selalu mengandung perubahan. Proses ini juga termasuk dalam kategori alih wahana, yaitu perpindahan cerita dari satu medium ke medium lain. Namun ekranisasi lebih spesifik, yaitu perpindahan dari teks sastra menjadi sebuah layar film.
Mengapa Perubahan dalam Ekranisasi Tak Terhindarkan?
Setiap medium memiliki karakteristiknya sendiri. Novel bisa memakan ratusan halaman, menghadirkan monolog batin tokoh, atau memutar alur sesuka penulis. Namun, dalam film sebaliknya, dibatasi durasi 90–120 menit, memiliki tuntutan estetika visual, dan membutuhkan ritme yang lebih cepat agar dapat dinikmati penonton. Melalui perbedaan inilah, ekranisasi tidak akan pernah menghasilkan film yang sama persis dengan novel aslinya, dan justru di situlah keunikan prosesnya.
Proses dan Bentuk Perubahan dalam Ekranisasi
Pamusuk Eneste mengemukakan bahwa dalam ekranisasi, ada tiga bentuk perubahan utama yang sering terjadi: penciutan, penambahan, dan perubahan bervariasi. Ketiga hal ini menjadi ciri khas adaptasi novel ke film.
a. Penciutan (Pengurangan)
Penciutan terjadi karena film memiliki durasi yang terbatas. Dari ratusan halaman novel, hanya sebagian yang dapat dipilih untuk divisualisasikan. Pengurangan biasanya dilakukan pada tokoh-tokoh minor, subplot, latar yang kurang penting, deskripsi panjang, serta adegan yang tidak berkaitan langsung dengan alur utama. Hal ini membuat film harus lebih selektif dalam menentukan bagian mana yang benar-benar perlu ditampilkan agar cerita tetap efektif dan mudah diikuti penonton.
Contoh yang jelas dapat dilihat pada ekranisasi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel aslinya menampilkan banyak tokoh, detail kehidupan sosial masyarakat Belitung, serta rangkaian peristiwa yang beragam. Namun saat diadaptasi ke layar lebar, beberapa tokoh minor hanya muncul sekilas, sejumlah kisah masa kecil diringkas, dan beberapa subplot dihilangkan. Penyederhanaan ini bukan sekadar pengurangan, tetapi juga strategi untuk menjaga fokus cerita sekaligus menyesuaikan dengan keterbatasan durasi dan kebutuhan visual dalam film.
b. Penambahan
Penambahan merupakan salah satu bentuk perubahan yang sering muncul dalam proses ekranisasi. Film kerap menghadirkan elemen baru agar cerita lebih dramatis, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan visual. Penambahan ini dapat berupa tokoh tambahan, dialog yang tidak ada dalam novel, pengembangan latar, hingga adegan baru yang dirancang untuk memperkuat suasana atau menegaskan konflik. Kehadiran elemen-elemen tersebut membantu film membangun ritme yang lebih hidup dan menjaga keterlibatan penonton.
Contoh penambahan dapat ditemukan dalam adaptasi film Hati Suhita. Beberapa adegan yang tidak terdapat dalam novel ditambahkan untuk memperjelas dinamika hubungan para tokohnya, seperti momen-momen emosional antara Alina dan Gus Birru yang dibuat lebih eksplisit demi kebutuhan visual. Selain itu, beberapa dialog pun diperkaya agar konflik batin tokoh lebih terasa ketika divisualisasikan. Penambahan seperti ini membantu film menonjolkan ketegangan dan kedekatan antar tokoh secara lebih kuat dibandingkan versi novelnya.
c. Perubahan Bervariasi
Perubahan bervariasi merupakan bentuk transformasi yang terjadi ketika pembuat film melakukan interpretasi ulang terhadap karya asalnya. Dalam proses ekranisasi, perubahan ini dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari perubahan sudut pandang, pergeseran urutan cerita melalui penggunaan alur maju-mundur, hingga penyesuaian karakter tokoh agar lebih sesuai dengan kebutuhan dramatik film. Tidak jarang, ide-ide tertentu dalam novel juga disesuaikan agar lebih relevan dengan konteks zaman atau lebih mudah diterima oleh penonton masa kini. Perubahan jenis ini wajar terjadi karena novel dan film memiliki cara berbeda dalam menyampaikan cerita, sehingga adaptasi membutuhkan kreativitas untuk tetap mempertahankan esensi tanpa harus menyalin bentuk aslinya secara utuh.
Contoh perubahan bervariasi dapat ditemukan pada adaptasi Home Sweet Loan yang diangkat dari novel karya Almira Bastari. Dalam versi film, beberapa dinamika karakter digarap lebih ringkas dan dramatis dibanding versi novel. Ada penyesuaian alur agar konflik utama terasa lebih padat, serta penekanan tertentu pada hubungan antartokoh yang dibuat lebih “cinematic”. Beberapa detail yang dalam novel dijelaskan melalui narasi batin, dalam film diterjemahkan melalui dialog tambahan dan ekspresi visual, sehingga pengalaman cerita menjadi berbeda. Penyesuaian-penyesuaian ini dilakukan agar film mampu menyuguhkan emosi, ritme, dan keterikatan yang kuat meski durasinya terbatas, sekaligus tetap membawa inti cerita yang dikenal pembaca novel.
2. Dekranisasi: Ketika Cerita dari Layar Kembali Menjadi Kata
Jika ekranisasi mengubah karya sastra ke dalam bentuk film, maka proses kebalikannya disebut dekranisasi. Istilah ini berasal dari kata dasar écran (layar) yang diberi awalan de- sebagai penanda pembalikan arah proses. Rahmah, Setiadi, dan Firdaus menjelaskan bahwa dekranisasi merupakan bentuk alih wahana dari film ke novel, dan sering disebut sebagai novelisasi. Pada tahap ini, cerita yang semula hadir melalui rangkaian gambar, suara, dialog, dan sinematografi kemudian diubah menjadi imaji linguistik yang dibangun melalui kata-kata.
Dekranisasi tidak sekadar memindahkan cerita dari layar ke halaman buku. Ia menuntut interpretasi ulang untuk memindahkan kekuatan visual ke dalam narasi tertulis yang dapat menggugah imajinasi pembaca. Salah satu contoh populer adalah Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidarma yang berasal dari film karya Sekar Ayu Asmara. Melalui novelisasi, cerita film tersebut tidak hanya dideskripsikan ulang, tetapi diperdalam melalui sudut pandang dan narasi yang lebih khas, sesuatu yang sulit dicapai melalui medium layar.
Proses Kreatif dalam Dekranisasi
Proses dekranisasi melibatkan dua medium dengan karakter yang sangat berbeda, yaitu film dan novel. Film memiliki sifat kolektif karena melibatkan banyak pihak seperti sutradara, produser, penata kamera, penulis skenario, hingga para aktor. Sementara itu, novel biasanya lahir dari proses kreatif individual seorang penulis. Perbedaan ini menjadikan dekranisasi sebagai proses adaptasi yang unik, karena penulis novelisasi harus mampu menangkap esensi film sambil tetap mempertahankan gaya kepengarangannya.
Selain itu, film dan novel menyampaikan cerita dengan cara yang berbeda. Film mengandalkan visual, suara, musik, ekspresi pemain, dan ritme gambar untuk membangun suasana. Sebaliknya, novel menyampaikan dunia cerita melalui bahasa, narasi, monolog batin, serta deskripsi yang menuntut imajinasi pembaca. Oleh karena itu, penulis novelisasi sering menambahkan detail baru, memperluas latar, memperdalam emosi tokoh, atau memberi penjelasan yang tidak eksplisit terlihat di film.
Tujuan dekranisasi atau novelisasi dapat beragam. Ada yang dibuat untuk memperluas jangkauan karya agar dapat dinikmati oleh pembaca yang mungkin belum menonton filmnya. Ada pula yang bertujuan sebagai media promosi, memperpanjang umur sebuah film, atau memberi pengalaman berbeda bagi penonton yang ingin mengetahui versi cerita yang lebih lengkap. Di sisi lain, proses pembuatan film sendiri jauh lebih kompleks dan mahal, melibatkan pra-produksi, produksi, hingga pascaproduksi, sehingga novelisasi terkadang menjadi cara efektif untuk menjaga relevansi cerita tanpa biaya produksi besar. Melalui proses dekranisasi, sebuah karya dapat hadir kembali dengan bentuk baru, membuka kemungkinan penafsiran ulang, serta memberi ruang yang lebih luas bagi kreativitas penulis dalam menggali cerita yang sebelumnya hanya hadir dalam visual bergerak.
Simpulan
Secara keseluruhan, ekranisasi dan dekranisasi menunjukkan bahwa sebuah cerita dapat hidup dalam berbagai bentuk dan terus berkembang melalui perpindahan medium. Ekranisasi mengubah kata-kata menjadi visual yang dinamis, sementara dekranisasi membawa kembali pengalaman sinematik ke dalam narasi yang lebih mendalam. Keduanya bukan sekadar proses memindahkan cerita, tetapi juga bentuk kreativitas yang melibatkan interpretasi, penyesuaian, dan perluasan makna. Perubahan yang terjadi, baik penciutan, penambahan, maupun variasi bentuk. Hal ini menjadi bukti bahwa setiap medium memiliki kekuatan dan keterbatasannya sendiri. Melalui dua proses ini, sebuah karya dapat menjangkau lebih banyak audiens, sekaligus memperkaya dunia sastra dan perfilman dengan perspektif baru yang selalu berkembang dan relevan.
Daftar Pustaka
Anggraini, Eva Fitri, dkk. 2024. Transformasi Unsur Instrinsik Novel Hati Suhita Karya Khilma Anis ke Film Hati Suhita (Kajian Ekranisasi). Lingua Skolastika: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Pembelajarannya, 3(2), 189–206.
Damono, Sapardi Djoko. (2018). Alih Wahana. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ingratubun, Adrian, dkk. 2023. Perspektif Komunikasi, Media Digital, dan Dinamika Budaya. Jakarta: Kencana.
Rahmah, Nadila Siti, David Setiadi, dan Asep Firdaus. 2021. “Transformasi Film ke Novel Susah Sinyal Karya Ika Natassa dan Ernest Prakasa.” Jurnal Literasi, 5(2), 230–242.
Saputra, Nanda. 2020. Ekranisasi Karya Sastra dan Pembelajarannya. Surabaya: CV. Jakad Media Publishing.
