Konten dari Pengguna
Religiusitas vs. Formalisme dalam Cerpen Robohnya Surau Kami: Refleksi Moral
18 Mei 2025 11:19 WIB
·
waktu baca 30 menit
Kiriman Pengguna
Religiusitas vs. Formalisme dalam Cerpen Robohnya Surau Kami: Refleksi Moral
Artikel ini membahas kritik A.A. Navis dalam cerpen Robohnya Surau Kami terhadap keberagamaan yang mengabaikan tanggung jawab sosial, melalui teori pesan moral Burhan Nurgiyantoro.Zahra Salbiyah Aniqah Syach
Tulisan dari Zahra Salbiyah Aniqah Syach tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sastra tidak hanya hadir sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai media refleksi yang mampu menyuarakan kegelisahan, kritik, dan nilai-nilai kehidupan. Dalam banyak cerita Indonesia modern, persoalan agama sering diangkat sebagai tema utama yang bersinggungan langsung dengan realitas sosial. A.A. Navis, salah satu sastrawan penting Indonesia, dikenal melalui karya-karyanya yang tajam dalam mengkritik praktik keagamaan yang lebih menekankan pada aspek-aspek lahiriah dan kepatuhan terhadap aturan formal semata. Salah satu karyanya yang paling terkenal, yaitu Robohnya Surau Kami, di dalamnya menyuarakan kegelisahan terhadap kecenderungan masyarakat yang memisahkan antara ibadah dan kenyataan kehidupan sosial, seolah-olah agama hanya terbatas pada hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Namun sejatinya, keberagamaan yang hakiki juga harus tercermin dalam sikap peduli terhadap sesama, serta tanggung jawab terhadap kehidupan dunia.
ADVERTISEMENT
Cerpen Robohnya Surau Kami merupakan salah satu contoh karya sastra yang memuat pesan moral secara kuat, khususnya dalam bingkai keagamaan. Dalam karya sastra, nilai moral menjadi unsur penting yang tidak hanya memperkaya makna cerita, tetapi juga menyampaikan kritik dan refleksi terhadap realitas sosial di masyarakat. Cerpen ini mengajak pembaca untuk kembali mempertimbangkan makna agama yang semestinya tidak hanya berhenti pada ibadah formal, tetapi juga tercermin dalam kepedulian terhadap sesama. Untuk mengupas nilai-nilai tersebut, tulisan ini menggunakan pendekatan teori pesan moral dari Burhan Nurgiyantoro (2018), dengan menyoroti dua fokus utama, yaitu: (1) Agama sebagai keyakinan penuh tokoh, dan (2) Tarik-menarik antara religiositas dan formalisme hukum agama. Analisis ini mencakup dua bagian penting dalam cerpen, yaitu kisah tokoh Kakek sebagai representasi langsung dalam cerita, serta dongeng yang disampaikan Ajo Sidi mengenai Haji Saleh, berfungsi sebagai cerminan kritis terhadap praktik keagamaan yang dangkal. Keduanya menjadi dasar untuk memahami cara cerpen ini mengkritik praktik keagamaan yang hanya bersifat lahiriah dan menekankan pentingnya keseimbangan antara ibadah dan kepedulian terhadap kehidupan sosial, serta hubungan antar sesama manusia.
ADVERTISEMENT
1. Agama sebagai Keyakinan Penuh Tokoh
Dalam teori Burhan Nurgiyantoro (2018), aspek moral dalam karya sastra mencakup nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi pembaca, termasuk nilai-nilai religius atau keagamaan. Salah satu wujud nilai religius terlihat ketika agama menjadi landasan keyakinan yang mendalam bagi tokoh, sehingga keberadaannya tidak hanya berperan sebagai simbol keagamaan atau sekadar rutinitas ibadah semata, melainkan menjadi fondasi utama dalam cara berpikir, bersikap, dan menentukan arah hidup tokoh tersebut. Tokoh yang meyakini agamanya sepenuh hati akan menjadikan ajaran agama sebagai pedoman utama dalam tindakan, ucapan, dan pengambilan keputusan. Ia meyakini bahwa kebenaran sejati bersumber dari ajaran Tuhan, dan makna hidup terletak pada ketaatan, serta keikhlasan dalam menjalankan perintah agama.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan pemahaman tersebut, cerpen Robohnya Surau Kami menghadirkan sosok tokoh Kakek yang mencerminkan wujud nyata dari agama sebagai keyakinan yang dipegang sepenuh hati. Keyakinan itu tertanam begitu dalam pada dirinya, sehingga menjadi dasar utama dalam setiap langkah hidupnya dan memengaruhi semua keputusan yang diambil. Ia menjalani hidup dengan penuh ketaatan spiritual sesuai dengan pandangannya, serta meyakini bahwa pengabdian sepenuhnya kepada Tuhan adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Melalui narasi tokoh Kakek, kepercayaan religius dapat membentuk cara pandangnya terhadap dunia dan memengaruhi sikapnya terhadap kehidupan sosial. Hal ini tergambar secara jelas dalam kutipan-kutipan berikut yang menunjukkan bentuk keyakinan penuh tokoh terhadap agama yang dianutnya.
ADVERTISEMENT
Pernyataan tokoh Kakek dalam kutipan itu menggambarkan bentuk praktik agama yang berlandaskan pada keyakinan pribadi terhadap Tuhan. Kakek menunjukkan bahwa ia telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah. Ia menyatakan ketakutannya apabila imannya rusak akibat godaan dunia yang menunjukkan bahwa tokoh kakek benar-benar memegang teguh prinsip hidup religius menurut pemahamannya. Menurutnya, keselamatan di akhirat hanya dapat dicapai melalui kesetiaan penuh dalam menjalankan ibadah yang ia lakukan secara konsisten sepanjang hidupnya. Ia merasa telah memenuhi segala kewajiban spiritual, sehingga tidak lagi merasa perlu terlibat dalam urusan duniawi, seperti bekerja, membangun keluarga, atau berkontribusi dalam masyarakat. Pandangan ini merefleksikan pemahaman bahwa agama semata-mata adalah hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, dengan penilaian terhadap kehidupan spiritual seseorang dilihat dari ibadahnya kepada Tuhan dan kepasrahannya dalam hidup. Kepasrahan Kakek kepada Tuhan terlihat mencerminkan keimanan yang kuat, namun jika dikaji lebih dalam, terdapat kekurangan dalam aspek sosial dari kehidupan beragama, yaitu dalam menjalin hubungan dengan sesama. Melalui hal ini, pemahaman Kakek cenderung memisahkan secara tegas antara kehidupan spiritual dan kehidupan sosial.
ADVERTISEMENT
Dalam perspektif ajaran Islam secara menyeluruh, agama tidak hanya mengajarkan ketaatan kepada Tuhan melalui ibadah, tetapi juga mewajibkan peran aktif dalam kehidupan sosial, seperti kerja keras, kepedulian terhadap sesama, dan pengelolaan tanggung jawab dalam kehidupan dunia. Kakek yang menghabiskan hidup di surau tanpa aktivitas produktif dan menutup diri dari dunia luar menggambarkan pemahaman agama yang terlepas dari aspek sosial. Ia tidak menyadari bahwa iman bukan hanya perihal menjaga hubungan spiritual dengan Tuhan, tetapi juga berkaitan pada nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, kutipan ini menunjukkan bahwa Kakek memandang agama sebagai keyakinan yang harus dijalani sepenuh hati dan menjadi pedoman hidup. Namun di sisi lain, terlihat bahwa pemahamannya tentang agama belum menyentuh semua aspek kehidupan. Keimanan yang tidak disertai dengan tindakan nyata di tengah masyarakat, justru menjadi bentuk religiusitas yang tertutup dan hanya bersifat pribadi. Dalam cerpen ini, pandangan seperti itu dikritik karena dianggap belum cukup untuk mengantarkan seseorang menuju keselamatan di akhirat.
ADVERTISEMENT
Pada kutipan lain ditemukan ekspresi yang lebih mendalam dari tokoh Kakek mengenai pilihannya untuk hidup terpisah dari urusan duniawi dan lebih fokus pada pengabdian spiritualnya. Dalam pandangannya, ia merasa bahwa menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan tidak menyusahkan orang lain sudah cukup untuk memenuhi kewajiban beragamanya. Namun, pandangannya yang lebih individualistis ini menunjukkan bahwa meskipun ia memiliki keyakinan penuh terhadap Tuhan, pemahamannya tentang agama masih terbatas pada dimensi spiritual yang pribadi, tanpa memperhitungkan aspek sosial yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam ajaran agama. Berikut ini kutipannya:
ADVERTISEMENT
Kutipan ini menunjukkan bahwa tokoh Kakek memilih menjalani hidup dengan menjauh dari urusan dunia, seperti menikah, memiliki keluarga, mengumpulkan harta, dan terlibat dalam aktivitas sosial. Ia memilih tinggal di surau sepanjang hidupnya dan memusatkan seluruh energi, serta perhatiannya hanya kepada urusan ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Ia merasa tidak perlu mencari penghidupan, membangun rumah tangga, atau berinteraksi secara aktif dengan masyarakat karena ia meyakini bahwa dengan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhannya, ia telah melakukan jalan hidup yang benar secara spiritual. Kakek secara sadar memilih untuk tidak menikah, tidak bekerja, dan tidak membina keluarga karena menganggapnya sebagai wujud keimanan yang murni dan ibadah yang tulus. Ia menganggap bahwa selama ia tidak menyusahkan orang lain, maka tanggung jawabnya sebagai seorang yang beriman sudah cukup terpenuhi. Dalam pemahaman ajaran agama secara menyeluruh, hidup beriman bukan berarti menjauh dari urusan dunia, melainkan mencakup kemampuan untuk hidup harmonis dengan orang lain, membangun hubungan sosial, dan berperan aktif dalam kehidupan bersama.
ADVERTISEMENT
Pandangan Kakek yang individualistis dan tertutup ini mencerminkan pemahaman keagamaan yang tidak utuh. Ia beranggapan bahwa selama dirinya tidak pernah menyusahkan orang lain, maka ia telah cukup berbuat baik. Islam menekankan pentingnya peran sosial dan kontribusi nyata dalam masyarakat. Dalam ajaran agama, seseorang tidak hanya dituntut untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, tetapi juga didorong untuk menjalin hubungan sosial yang sehat, menafkahi keluarga, membina rumah tangga, dan saling menolong antar sesama manusia. Kehidupan yang dijalani oleh Kakek tidak memperlihatkan nilai-nilai tanggung jawab sosial tersebut. Ia tidak mengambil bagian dalam dinamika masyarakat dan justru menempatkan dirinya sebagai orang luar yang hanya fokus pada praktik keagamaan secara pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa cara beragama yang terlalu tertutup dan tidak peduli pada kehidupan sosial dapat membuat seseorang kehilangan makna sebenarnya dari agama.
ADVERTISEMENT
Keselarasan pandangan ini tercermin dalam cerita yang disampaikan Ajo Sidi. Tokoh rekaan dalam kisahnya digambarkan memiliki keyakinan penuh terhadap agama. Ia begitu patuh dan takut kepada Tuhan, bahkan rela mengorbankan seluruh aktivitas duniawi karena meyakini bahwa segalanya akan sia-sia jika tidak ditujukan untuk akhirat. Sama seperti Kakek, tokoh tersebut menempatkan agama sebagai hal yang paling utama dalam hidup. Kesamaan ini memperkuat pesan bahwa agama dalam cerpen Robohnya Surau Kami dipandang bukan sekadar ajaran formal, melainkan inti dari eksistensi tokoh yang diyakini secara utuh, meskipun dapat membawa pada penafsiran yang kaku atau berakhir dengan tragis. Berikut ini kutipannya:
Dalam kutipan ini, tokoh Haji Saleh digambarkan sebagai pribadi yang menjadikan zikir dan penyebutan nama Tuhan sebagai pusat dari seluruh kehidupannya. Ia merasa telah mendedikasikan waktu dan energi sepenuhnya untuk menjalankan ibadah dan memperbanyak pujian kepada Tuhan. Kalimat "Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa..." menggambarkan intensitas ibadahnya yang terus-menerus dan tanpa jeda. Bagi Haji Saleh, menyebut nama Tuhan secara terus-menerus adalah bentuk tertinggi dari keimanan, dan menjadi bukti kesalehan yang ia yakini akan membawanya ke surga. Namun, jika ditelaah lebih dalam, bentuk keagamaan yang dipraktikkan oleh Haji Saleh cenderung hanya berfokus pada aspek ibadah lahiriah dan pengucapan doa semata. Ibadah yang ia lakukan memang menunjukkan ketekunan spiritual, tetapi tidak diiringi dengan sikap kritis terhadap realitas sosial di sekelilingnya. Ia tidak merefleksikan dampak dari penyebutan nama Tuhan yang dilakukannya terhadap cara menjalani kehidupan, kepedulian terhadap orang lain, serta sikap adil dalam bersosial. Dalam konteks ini, Haji Saleh terlihat terjebak pada praktik keagamaan yang bersifat verbal, yakni menjadikan ucapan-ucapan religius sebagai pusat aktivitasnya, namun tanpa disertai penerapan nilai-nilai Tuhan dalam tindakannya sehari-hari. Keimanan yang dijalankan oleh Haji Saleh merupakan bentuk keyakinan yang lebih menekankan pada aspek lahiriah dan bersifat individual. Ia meyakini bahwa selama ia mengingat nama Tuhan secara lisan, maka ia telah menjalankan tanggung jawab keagamaannya dengan baik. Dalam perspektif moral keagamaan, penyebutan nama Tuhan seharusnya menjadi pengingat akan kewajiban sosial dan nilai-nilai kehidupan yang adil, peduli, dan bertanggung jawab. Keimanan sejati bukan hanya berwujud dalam pujian, tetapi dalam tindakan yang mencerminkan kasih sayang, empati, dan kebermanfaatan bagi orang lain.
ADVERTISEMENT
Melalui cerita Ajo Sidi, A.A. Navis memberikan kritik bahwa agama tidak seharusnya disederhanakan hanya menjadi aktivitas verbal yang diulang-ulang, tetapi harus menjadi kekuatan moral yang nyata dan memberikan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Haji Saleh adalah representasi dari tokoh yang beragama dengan penuh keyakinan, namun tidak menyadari bahwa iman yang tidak tercermin dalam pengaruh sosial hanya merupakan keimanan yang tidak bermakna. Ia merasa telah menjadi hamba yang paling taat, tetapi justru dalam akhir kisahnya, ia dimasukkan ke dalam neraka karena tidak memedulikan kondisi masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian, kutipan ini memperkuat kritik terhadap keagamaan yang hanya menekankan bentuk lahiriah tanpa menyentuh batiniah sosialnya. Ia memperlihatkan bahwa keyakinan penuh terhadap Tuhan harus disertai dengan kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap kehidupan dunia. Cerpen ini secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa beragama dengan sungguh-sungguh bukan hanya tentang seberapa sering nama Tuhan disebut, tetapi seberapa dalam nilai-nilai Tuhan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Pada kutipan lain ditemukan ungkapan Haji Saleh yang kembali menegaskan bahwa seluruh hidupnya dipusatkan untuk beribadah dan menyebut nama Tuhan. Meski secara lahiriah, ia terlihat sebagai sosok yang sangat taat beragama, namun pada kenyataannya, keimanan tersebut lebih terfokus pada ritual dan aspek verbal semata. Dalam konteks ini, Haji Saleh seolah mengesampingkan dimensi penting lainnya dalam beragama, yaitu penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial. Ia menganggap bahwa dengan terus-menerus mengingat dan menyebut nama Tuhan, ia telah memenuhi tugas spiritualnya. Namun, pemahaman agama yang dianutnya hanya terfokus pada ibadah pribadi tanpa memperhatikan kontribusi terhadap masyarakat, meskipun seharusnya hal tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengamalan agama yang sejati. Kritik terhadap pemahaman agama yang sempit kembali ditekankan. Berikut ini kutipannya:
ADVERTISEMENT
Kutipan ini menggambarkan cara pandang tokoh Haji Saleh terhadap kehidupan beragama yang ia jalani. Ia menegaskan bahwa seluruh hidupnya hanya diisi oleh ibadah, penyembahan, dan penyebutan nama Tuhan secara terus-menerus. Ungkapan “tak ada pekerjaanku selain…” menunjukkan bahwa ia telah mengesampingkan seluruh aspek kehidupan duniawi demi sepenuhnya beribadah. Dalam pandangannya, itulah bentuk pengabdian yang paling benar dan paling mulia di hadapan Tuhan. Haji Saleh meyakini bahwa kesungguhan ibadah formal yang ia jalani merupakan satu-satunya syarat menuju keselamatan. Hal ini menandakan bahwa ia memiliki keyakinan penuh terhadap pentingnya hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tanpa mempertimbangkan pentingnya hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Ia memaknai agama secara sempit, hanya sebatas ritual dan pengabdian spiritual yang bersifat individual. Ia merasa tidak perlu bekerja, tidak perlu membantu orang lain, dan tidak perlu terlibat dalam urusan sosial karena ia yakin bahwa ibadah yang dilakukan secara terus-menerus sudah cukup membawanya kepada keselamatan di akhirat kelak.
ADVERTISEMENT
Cerpen ini melalui tokoh Haji Saleh mengkritik pandangan keagamaan yang memisahkan ibadah dan kehidupan duniawi. Haji Saleh tidak hanya berhenti bekerja secara fisik, tetapi juga berhenti peduli pada lingkungan sosialnya. Ia tidak merasa perlu menyejahterakan keluarganya, tidak peduli pada kemiskinan masyarakat, dan tidak merasa bahwa amal perbuatan di dunia adalah bagian dari penghambaan kepada Tuhan. Ia mengira bahwa Tuhan hanya menginginkan pujian, padahal Tuhan dalam cerpen ini justru menunjukkan kekecewaan atas sikapnya yang tidak peduli terhadap kehidupan dunia dan penderitaan orang lain. Dengan demikian, kutipan ini menggambarkan keyakinan religius yang sepenuhnya diterima, namun tidak seimbang antara urusan agama dan kehidupannya di dunia. Haji Saleh percaya bahwa penghambaan diri sepenuhnya pada Tuhan melalui ibadah sudah cukup. Namun, pemahaman ini justru mengabaikan pesan utama dalam ajaran agama bahwa nilai-nilai keagamaan harus menjadi kekuatan yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan saling tolong-menolong kepada sesama. Cerpen ini mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa beragama tidak cukup hanya menyembah Tuhan dengan kata dan ritual ibadah, tetapi juga dengan bekerja, tanggung jawab, dan kebermanfaatan sosial. Keyakinan kepada Tuhan seharusnya menjadi dasar untuk hidup lebih manusiawi dan membumi, bukan menjadi alasan untuk menjauh dari realitas kehidupan.
ADVERTISEMENT
2. Tarik-Menarik Religiositas dengan Formalisme Hukum Agama
Tarik-menarik antara religiositas dan formalisme hukum agama menjadi isu sentral dalam memahami praktik keagamaan tokoh dalam cerpen ini. Religiositas merujuk pada pengalaman batiniah dan spiritual yang mendorong seseorang untuk beriman secara mendalam, sedangkan formalisme hukum agama lebih menekankan pada kepatuhan terhadap aturan-aturan ibadah secara kaku dan lahiriah. Ketika agama dipraktikkan hanya sebatas pemenuhan kewajiban ritual tanpa diiringi pemahaman dan penghayatan makna spiritual yang sesungguhnya, maka akan terjadi penyempitan terhadap nilai-nilai luhur agama itu sendiri. Dalam konteks cerpen, tarik menarik ini tergambar melalui tokoh-tokoh yang merasa telah menjalankan seluruh syariat agama, namun justru digambarkan berakhir dengan tragis. Hal ini menunjukkan bahwa menjalankan agama tidak cukup hanya dengan mengikuti tata cara lahiriah, tetapi harus disertai dengan niat yang tulus, pemaknaan yang mendalam, serta kesadaran moral dan sosial. Melalui narasi tokoh Kakek, ketegangan antara dua bentuk keagamaan ini diungkapkan secara tajam. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan beribadah yang hanya diukur dari rutinitas ibadahnya semata dapat menjadi kehilangan makna bila tidak disertai kesadaran batin dan kepedulian sosial. Berikut ini kutipan yang ditemukan:
ADVERTISEMENT
Kutipan ini memperlihatkan curahan hati tokoh Kakek yang merasa tidak mendapatkan keadilan atas pengabdiannya kepada Tuhan selama hidupnya. Ia merasa telah menjalani seluruh kewajiban agama secara taat dan konsisten. Aktivitas hariannya yang diceritakan mencerminkan tingkat kepatuhan tinggi terhadap kewajiban ibadahnya secara formal, seperti bangun pagi untuk bersuci, memukul beduk demi membangunkan orang lain untuk beribadah, melaksanakan salat lima waktu, mengucapkan pujian kepada Tuhan, serta membaca kitab suci. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan dengan kesungguhan dan dianggap sebagai bentuk ketaatan tertinggi dalam menjalani kehidupan yang religius. Namun, pada akhir kalimatnya, terdapat penyesalan dan kebingungan, yaitu pada kalimat “Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.” Ucapan ini mencerminkan konflik batin yang dialami oleh tokoh Kakek. Ia tidak menyangka bahwa semua yang telah ia lakukan tidak membuatnya menjadi manusia yang dimuliakan, melainkan justru dinilai sebagai sosok yang bersalah dan berdosa. Dalam pemahamannya, kesalehan yang meliputi ibadah dan pujian kepada Tuhan dianggap sudah cukup sebagai tiket menuju surga. Ia merasa telah hidup taat dalam ibadah, bahkan membangunkan orang lain untuk beribadah yang secara tersirat menunjukkan peran aktifnya dalam kehidupan spiritual masyarakat.
ADVERTISEMENT
Pada kenyataannya, jika dilihat dari sudut pandang pesan moral religius, tindakan Kakek belum mencerminkan penghayatan spiritual yang menyeluruh. Keimanan yang baik tidak hanya tercermin dalam praktik ibadah secara formal, tetapi juga dalam tindakan nyata yang menunjukkan kepedulian sosial, kerja keras, serta tanggung jawab terhadap kehidupan dunia. Pemahaman iman yang bersifat pribadi tanpa diiringi dengan peran sosial akan menghasilkan bentuk keberagamaan yang tidak utuh. Dalam hal ini, Kakek gagal menyadari bahwa beragama tidak hanya berarti memenuhi kewajiban spiritual secara individual, tetapi juga melibatkan keterlibatan aktif dalam membangun kesejahteraan sosial. Kakek menganggap dirinya saleh karena tidak menyusahkan orang lain, namun ia lupa bahwa diam dan tidak bertindak juga bisa menjadi bentuk kelalaian, terutama ketika ia membiarkan penderitaan di sekitarnya tanpa berbuat apa-apa. Ia merasa telah menghidupkan agama, tetapi dalam kenyataannya ia justru menjadikan agama sebagai ruang pelarian dari tanggung jawab sosial. Reaksi yang ia rasakan saat disebut sebagai "manusia terkutuk" mencerminkan kritik moral dalam cerpen ini, bahwa agama tidak hanya diukur melalui intensitas ibadah, tetapi juga dari kebermanfaatan sosial dan kepedulian terhadap sesama manusia. Dengan demikian, kutipan ini memperjelas bahwa tokoh Kakek memang menjadikan agama sebagai keyakinan penuh dalam hidupnya, tetapi ia memaknai keberagamaan hanya dari satu sisi semata. Cerpen ini menyampaikan pesan penting bahwa keimanan yang sesungguhnya membutuhkan keseimbangan antara beribadah kepada Tuhannya dan peran aktif dalam aspek sosial, yaitu kepedulian terhadap sesama, serta kontribusi nyata dalam memperbaiki kehidupan bersama. Ketika seseorang hanya menekankan satu sisi dan mengabaikan sisi lain, maka keberagamaannya menjadi tidak seimbang dan berpotensi menyesatkan.
ADVERTISEMENT
Setelah menyoroti tokoh Kakek sebagai representasi dari kegagalan pemahaman keagamaan yang hanya bersandar pada dimensi ritual ibadah semata, cerpen ini kemudian memperkuat kritiknya melalui dongeng yang diceritakan oleh Ajo Sidi. Dongeng tersebut mencerminkan permasalahan yang lebih luas, yaitu kegagalan bersama sekelompok manusia dalam memahami makna agama secara menyeluruh. Apabila Kakek menggambarkan religiusitas individual yang terperangkap dalam rutinitas ibadah formal, maka kisah Ajo Sidi mengilustrasikan bahwa sekelompok manusia juga dapat mengalami hal yang sama, meskipun dari luar terlihat sangat taat menjalankan ajaran agama. Narasi dalam dongeng ini semakin menegaskan bahwa ketaatan ritual dalam beribadah tidak menjadi jaminan keselamatan, ketika ia tidak diiringi dengan pemurnian hati, niat yang benar, serta sikap sosial yang adil dan bertanggung jawab. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut:
ADVERTISEMENT
Kutipan tersebut menggambarkan momen paling bertentangan dalam cerita Ajo Sidi, ketika bentuk keberagamaan yang terlihat justru bertolak belakang dengan nilai-nilai agama yang sebenarnya. Haji Saleh dan orang-orang sekelompok dengannya merasa yakin termasuk golongan yang paling taat kepada Tuhan. Rajin menyebut nama-Nya dan mampu menghafal kitab suci dianggap sebagai pencapaian tinggi dalam pandangan keagamaan yang formal. Diri sendirinya pun diyakini sebagai orang saleh yang layak masuk surga. Namun, justru digambarkan berakhir di neraka. Di sinilah letak kontradiksi yang sengaja dihadirkan penulis untuk menunjukkan perbedaan mencolok antara kesalehan yang hanya tampak di permukaan dengan kekosongan makna secara batin dan sosial. Secara lahiriah, Haji Saleh dan kelompoknya telah memenuhi kriteria religius yang formal, seperti menjalankan ibadah dengan tekun, menghafal kitab, serta rajin memuji Tuhan. Namun, dalam perspektif agama yang ditampilkan dalam cerita ini, hal tersebut tidaklah cukup. Fokusnya hanya pada ritual ibadah semata, sementara nilai sosial dalam ajaran agama diabaikan. Tidak ada perhatian terhadap nasib orang yang membutuhkan, kewajiban bekerja diabaikan, dan tidak ada kontribusi positif untuk sesama. Keberagamaan yang sejati harus mencakup keseimbangan antara ibadah ritual dan tindakan nyata, sesuai dengan ajaran Islam maupun prinsip moral yang berlaku secara universal.
ADVERTISEMENT
Kutipan ini menyoroti secara tajam bentuk keagamaan secara formal yang dikritik dalam cerita. Haji Saleh merasa sudah menjadi pribadi suci hanya karena sering berzikir dan hafal kitab suci. Ia berpikir bahwa Tuhan hanya menilai dari kata-kata dan hafalan, tanpa menyadari bahwa kehidupan sosial, ekonomi, dan moral juga bagian dari pengabdian kepada Tuhan. Ketika dimensi ini diabaikan, ibadah yang dijalani pun kehilangan maknanya. Situasi ini menunjukkan tarik-menarik antara religiusitas sejati dan kepatuhan pada aturan keagamaan yang formal. Agama memang menekankan kepatuhan terhadap hukum dan ibadah, namun di sisi lain, agama juga melibatkan pengalaman batin yang erat kaitannya dengan kepedulian terhadap sesama. Jika seseorang hanya fokus pada aspek lahiriah agama tanpa disertai dengan empati dan tanggung jawab sosial, maka makna sejati dari keberagamaan itu sendiri akan hilang. Ibadah akan terasa hampa jika tidak mencerminkan realitas kehidupan dan aspek-aspek kemanusiaan yang ada di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
Melalui kutipan ini, A.A. Navis sebagai penulis cerpen ini berusaha mengajak pembaca untuk kembali mempertanyakan makna sesungguhnya dari keberagamaan. Ia memperlihatkan bahwa sikap keberagamaan yang hanya berdasarkan ritual tanpa disertai kepedulian sosial, justru dapat menjerumuskan seseorang dalam kesombongan spiritual. Orang-orang seperti Haji Saleh merasa telah menjalani hidup yang lurus, meskipun secara moral tidak menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sosial. Pesan moral yang disampaikan secara tersirat adalah bahwa Tuhan tidak hanya menilai kuantitas ibadah, tetapi juga seberapa besar kontribusi seseorang dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, kutipan ini menjadi simbol penting dari kritik cerpen terhadap praktik keagamaan yang dangkal, agama yang hanya dijadikan rutinitas, simbol, dan hafalan, tanpa terhubung dengan realitas hidup dan tanggung jawab sosial. Tokoh Haji Saleh mewakili sosok yang terlihat religius, namun sejatinya tidak memahami esensi agama. Cerita ini menegaskan bahwa beragama bukan sekadar menyebut nama Tuhan, melainkan menghidupkan nilai-nilai Tuhan dalam kehidupan nyata.
ADVERTISEMENT
Setelah mengungkapkan kontradiksi dalam praktik keagamaan Haji Saleh dan kelompoknya yang hanya mengandalkan ritual tanpa menyentuh aspek sosial, cerpen ini melanjutkan kritiknya dengan kutipan dari dongeng Ajo Sidi yang semakin mempertegas ketidakpahaman tokohnya terhadap makna agama yang lebih luas. Kutipan ini menggambarkan sikap Haji Saleh dan teman-temannya yang mengabaikan nilai-nilai kehidupan duniawi dan sosial, dengan berfokus semata-mata pada penyembahan dan pujian kepada Tuhan. Berikut ini kutipannya:
Kutipan ini mengungkap cara pandang tokoh Haji Saleh terhadap ajaran agama yang ia jalani selama hidupnya. Dalam kalimat tersebut, Haji Saleh menegaskan bahwa urusan dunia, seperti harta benda dan ekonomi bukanlah bagian penting dari keberagamaannya. Ia menganggap bahwa cukup dengan menyembah dan memuji Tuhan, maka kewajiban utamanya sebagai manusia beragama telah terpenuhi. Ucapan ini mencerminkan pemahaman yang sangat formalistis, yaitu menyempitkan makna agama hanya pada aspek ritual-ritual ibadah, tanpa melibatkan tanggung jawab sosial maupun pengelolaan kehidupan duniawi. Dalam konteks pesan religius yang dikemukakan oleh Burhan Nurgiyantoro (2018), pernyataan Haji Saleh memperlihatkan adanya tarik-menarik antara religiusitas yang sejati dan praktik formalisme hukum agama. Haji Saleh secara konsisten menjalankan ibadah, bahkan hingga taraf yang berlebihan dan mengesampingkan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Ia menolak untuk mengurus harta, mencari nafkah, atau memikirkan kesejahteraan keturunannya karena meyakini bahwa hal-hal duniawi tersebut akan mengganggu kemurnian pengabdiannya kepada Tuhan. Di sini terlihat bahwa ia menempatkan ibadah sebagai tujuan akhir, bukan sebagai jalan menuju kebaikan yang lebih menyeluruh.
ADVERTISEMENT
Melalui ajaran dalam agama, khususnya Islam, keberagamaan tidak hanya diukur dari intensitas menyembah dan memuji Tuhan, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu mengelola dunia secara amanah dan memberi manfaat bagi orang lain. Kerja keras, nafkah yang halal, perhatian terhadap keluarga, dan kontribusi sosial adalah bagian dari pengamalan agama yang utuh. Dengan menolak semua aspek duniawi, Haji Saleh justru mengabaikan dimensi sosial Islam yang menuntut keseimbangan antara dunia dan akhirat. Ia memilih jalan yang terlihat suci dan saleh, tetapi dalam kenyataannya melalaikan nilai-nilai ketuhanan yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial. Kutipan ini juga menyiratkan bahwa Haji Saleh dan kalangannya terjebak dalam keberagamaan lahiriah yang menilai kesalehan dari banyaknya pujian kepada Tuhan, namun mengabaikan perintah Tuhan yang berkaitan dengan kehidupan sesama manusia. Ia gagal memahami bahwa pujian kepada Tuhan bukanlah tujuan akhir, melainkan seharusnya menjadi kekuatan spiritual yang mendorong manusia untuk hidup secara produktif, jujur, adil, dan penuh kepedulian.
ADVERTISEMENT
Secara implisit, A.A. Navis melalui narasi ini sedang mengkritik masyarakat yang terlalu menekankan pada ibadah dan sisi lahiriah dari agama, namun mengabaikan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal kepedulian terhadap sesama. Agama menjadi sesuatu yang sakral di tempat ibadah, tetapi tidak menjelma dalam bentuk tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, dan keadilan sosial. Dalam cerpen ini, Tuhan bahkan menunjukkan kekecewaannya karena Haji Saleh mengira bahwa menyembah dan memuji saja sudah cukup, padahal ajaran agama juga menghendaki manusia untuk bekerja, berpikir, dan membangun kehidupan yang adil dan bermartabat. Dengan demikian, kutipan ini memperjelas bahwa beragama tidak boleh berhenti pada ritual semata, melainkan harus bertransformasi menjadi tindakan nyata. Tarik-menarik antara religiusitas dan formalisme hukum agama terlihat jelas dalam sosok Haji Saleh yang secara lahiriah tampak religius, namun secara esensial melalaikan misi sosial dari ajaran agama. Pesan moral yang disampaikan A.A. Navis melalui cerpen ini adalah bahwa agama yang hanya dipahami secara ritualistik akan menjauhkan manusia dari hakikat keberagamaan itu sendiri. Tuhan tidak sekadar menghendaki pujian, tetapi lebih dari itu, yaitu menuntut keberagamaan yang hidup dan membumi dalam tindakan sosial.
ADVERTISEMENT
Setelah menunjukkan bahwa Haji Saleh mengutamakan ibadah hingga melupakan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari, kutipan berikutnya semakin menegaskan bahwa keberagamaannya hanya bersifat permukaan semata dan kurang memiliki makna yang mendalam. Berikut kutipannya:
Kutipan ini menunjukkan cara pandang tokoh Haji Saleh terhadap kesejahteraan keturunannya. Ia merasa bahwa sekalipun anak cucunya hidup dalam kemiskinan atau penderitaan, hal tersebut tidak menjadi masalah selama keturunannya tetap memiliki kemampuan mengaji dan memahami ajaran agama secara formal. Pernyataan ini menyiratkan adanya pengabaian terhadap tanggung jawab sosial dan ekonomi yang semestinya menjadi bagian integral dari praktik keagamaan yang utuh. Haji Saleh justru merasa bangga bahwa keturunannya mahir dalam bacaan kitab suci, meskipun secara nyata hidup dalam keadaan terpuruk. Dalam perspektif teori Burhan Nurgiyantoro (2018), kutipan ini mencerminkan tarik-menarik antara religiositas dan formalisme hukum agama. Haji Saleh meletakkan seluruh ukuran keberhasilan hidup pada kemampuan menjalankan aspek formal agama, dalam hal ini kemampuan mengaji tanpa mempertimbangkan kualitas hidup, hak anak cucu atas kesejahteraan, pendidikan umum, atau kelayakan ekonomi. Ia lebih mementingkan simbol religius ketimbang nilai-nilai kesejahteraan dan keadilan yang juga merupakan bagian dari perintah agama. Ini menunjukkan bahwa pemahaman keberagamaannya sangat tidak seimbang dan terkesan mengesampingkan kebutuhan dasar yang menjadi tanggung jawab sebagai manusia.
ADVERTISEMENT
Pernyataan ini juga menunjukkan bentuk pembenaran terhadap kemiskinan, seolah-olah kemelaratan tidak masalah selama seseorang terlihat religius. Namun, dalam ajaran Islam maupun dalam pesan moral religius secara umum, kemiskinan bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja, apalagi dijadikan alasan untuk membanggakan ketahanan spiritual. Sebaliknya, agama mendorong umatnya untuk bekerja keras, menafkahi keluarga, dan memutus rantai kemiskinan agar kehidupan lebih bermartabat. Dengan kata lain, membiarkan anak cucu melarat atas nama kesalehan adalah bentuk tanggung jawab yang diabaikan. Dalam konteks cerpen Robohnya Surau Kami, hal ini dikritik secara tajam. Tuhan dalam cerita bahkan mempertanyakan mengapa membiarkan anak cucunya menderita, sementara orang-orang tersebut memilih jalan hidup yang tidak produktif. Ini menunjukkan bahwa ibadah dan hafalan semata tidak cukup, jika tidak diiringi dengan usaha nyata untuk memperbaiki kehidupan sosial, ekonomi, dan moral keturunannya. A.A. Navis melalui cerpen ini menyampaikan bahwa ketaatan pada Tuhan bukan hanya tentang kemampuan membaca kitab, tetapi juga tentang upaya manusia dalam mewujudkan kehidupan yang layak bagi generasi setelahnya. Dengan demikian, kutipan ini menggarisbawahi konflik yang sangat jelas antara kesalehan yang terlihat secara luar dan tanggung jawab dalam kehidupan beragama. Haji Saleh merasa bangga atas pencapaian spiritual keluarganya, tetapi tidak melihat bahwa kemiskinan dan penderitaannya adalah hasil dari kelalaiannya sebagai kepala keluarga dan anggota masyarakat. Cerpen ini mengajarkan bahwa agama tidak cukup dihafalkan, tetapi harus dihidupkan dalam bentuk tindakan nyata, terutama dalam menjaga dan memperjuangkan kehidupan yang bermartabat bagi sesama, termasuk keluarganya sendiri.
ADVERTISEMENT
Pada kutipan lain dipertegas mengenai kata Tuhan yang menunjukkan ketidakpuasan-Nya terhadap sikap Haji Saleh. Tuhan menegur Haji Saleh karena lebih memilih beribadah tanpa usaha nyata untuk memperbaiki keadaan hidupnya dan keluarganya. Tuhan menyatakan bahwa ibadah yang hanya dilakukan tanpa pengorbanan fisik atau usaha untuk memperbaiki kehidupan sosial dan ekonomi adalah ibadah yang tidak berharga. Berikut ini kutipannya:
Kutipan ini merupakan puncak dari kritik religius yang sangat tajam dalam cerpen Robohnya Surau Kami. Ucapan Tuhan di sini tidak hanya menolak hamba-Nya yang merasa paling saleh, tetapi juga mengungkapkan kesalahan mendasar dalam cara seseorang memahami dan menjalani agama. Haji Saleh dan tokoh-tokoh sejenisnya merasa bahwa dengan beribadah terus-menerus, menyembah, dan memuji Tuhan telah melakukan kewajiban agama secara utuh. Namun, dalam pandangan Tuhan, justru cara beragama seperti itulah yang keliru dan menyebabkan Haji Saleh dan orang-orang sepertinya pantas masuk neraka. Ungkapan “karena beribadat tidak mengeluarkan peluh” menjadi kunci penting dalam kutipan ini. Tuhan mengkritik keras sikap yang memilih jalan ibadah semata karena lebih mudah, lebih nyaman, dan tidak membutuhkan kerja keras fisik atau pengorbanan sosial. Menghindari tanggung jawab duniawi dengan berlindung di balik praktik ibadah. Sementara itu, menurut pesan moral dalam Islam dan nilai-nilai religius universal, agama bukan jalan untuk lari dari kehidupan, tetapi justru sarana untuk menata dan memperbaiki kehidupan, baik secara individu maupun sosial. Tuhan juga mengatakan, “Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja...” kalimat ini menunjukkan kritik terhadap bentuk keberagamaan yang hanya mengejar pujian kepada Tuhan secara lisan dan berdasarkan kebiasaan saja. Pemahaman semacam ini memandang Tuhan sebagai sosok yang puas hanya dengan disembah dan dipuji, padahal yang diinginkan Tuhan dalam cerpen ini adalah pengabdian nyata melalui bekerja, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Tuhan menolak keberagamaan yang hanya berhenti pada bentuk lahiriah dan tidak menghasilkan tindakan sosial yang bermanfaat.
ADVERTISEMENT
Dalam kerangka teori Burhan Nurgiyantoro (2018), kutipan ini dengan sangat kuat mencerminkan ketegangan antara religiositas sejati yang mencakup dimensi batin, sosial, dan moral, dengan formalisme hukum agama yang hanya menekankan ritual, hafalan, dan pujian secara verbal. Tokoh-tokoh dalam cerita, seperti Haji Saleh, terlalu terpaku pada bentuk dan melupakan isinya. Ini menjadi kritik tajam terhadap praktik keberagamaan yang hanya menonjolkan penghormatan kepada Tuhan secara lahiriah, tanpa menerapkan ajaran-Nya mengenai keadilan, usaha, dan kepedulian sosial. Dengan demikian, kutipan ini menjadi pengingat bahwa agama bukan untuk menghindari kehidupan, melainkan untuk menghadapinya secara bertanggung jawab. Beribadah tidak cukup jika dijalankan tanpa pengorbanan dan kontribusi terhadap sesama. Cerpen ini menyampaikan pesan bahwa Tuhan tidak mencari pujian semata, tetapi menghendaki manusia yang aktif bekerja, menciptakan keadilan, dan menjaga amanah kehidupan. Ibadah tanpa pengabdian hanyalah bentuk kesalehan yang hampa dan akan berakhir dengan kehancuran spiritual.
ADVERTISEMENT
Setelah kritik tajam dari Tuhan, kritik berikutnya datang dari malaikat yang lebih menyoroti kesalahan mendasar dalam sikap Haji Saleh, yaitu egoisme dan pengabaian terhadap kehidupan orang lain. Malaikat menegaskan bahwa Haji Saleh terlalu fokus pada dirinya sendiri dan merasa cukup dengan ibadahnya secara individu, tanpa mempedulikan nasib kaumnya atau keluarganya yang hidup dalam kemiskinan. Berikut ini kutipan yang ditemukan:
Pernyataan malaikat ini merupakan bentuk teguran langsung terhadap cara beragama yang sempit dan egois. Tokoh Haji Saleh dianggap gagal bukan karena kurang beribadah, melainkan karena ia terlalu fokus pada keselamatan dirinya sendiri dan mengabaikan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga dan masyarakatnya. Ia menjalani kehidupan religius dengan keyakinan bahwa asal ia taat beribadah, maka urusan dunia, termasuk kesejahteraan orang lain dapat diabaikan. Kutipan ini mencerminkan kritik mendalam terhadap keberagamaan yang individualistik dan tertutup, yaitu seseorang yang menjadikan agama sebagai jalan pribadi untuk mengejar keselamatan akhirat, tanpa memikirkan peran sosialnya. Dalam pandangan ini, agama dipahami semata sebagai hubungan antara manusia dan Tuhan, sementara hubungan dengan sesama manusia dianggap tidak terlalu penting atau bahkan diabaikan. Inilah yang disebut malaikat sebagai sikap "terlalu egoistis", menjadikan agama sebagai sarana untuk menyelamatkan diri sendiri tanpa peduli terhadap kehidupan orang lain.
ADVERTISEMENT
Kutipan ini menyoroti perbedaan antara keberagamaan yang sesungguhnya dan formalitas agama. Keberagamaan sejati tidak hanya menekankan hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Orang yang rajin menjalankan ibadah tetapi mengabaikan kesulitan hidup orang lain di sekelilingnya, sebenarnya belum menghayati makna sejati dari ajaran agama. Dalam konteks ini, Haji Saleh menjadi representasi dari orang yang terjebak dalam kepatuhan formal, tetapi kosong dari makna sosialnya. Kutipan tersebut dikatakan bahwa Haji Saleh telah “melupakan kehidupan kaummu sendiri”, hal ini bukan hanya perihal mengabaikan keluarga, tetapi juga tidak memedulikan masyarakat luas, termasuk nasib anak cucunya yang hidup melarat. Ia merasa tidak bertanggung jawab atas keluarganya karena ia telah memenuhi ibadah formal secara individu. Pada kenyataannya, dalam pandangan moral keagamaan, manusia hidup dalam tatanan sosial dan saling bergantung. Keberagamaan yang mengabaikan kehidupan bersama adalah keberagamaan yang cacat secara nilai.
ADVERTISEMENT
Penulis melalui kutipan ini ingin menunjukkan bahwa kesalehan yang tidak disertai dengan kepekaan sosial adalah kesalehan palsu. Seseorang tidak bisa dianggap saleh jika hanya fokus pada dirinya sendiri, sementara membiarkan ketidakadilan, kemiskinan, dan ketertindasan terjadi di sekitarnya. Kesalahan terbesar Haji Saleh bukanlah karena ia tidak salat atau tidak berzikir, melainkan karena ia tidak menjalankan fungsi sosial dan moral sebagai manusia beragama. Dengan demikian, kutipan ini memperkuat kritik cerpen terhadap formalisme keberagamaan yang egoistik dan tidak membumi. Pesan moral yang ditegaskan adalah bahwa agama bukan hanya untuk menyelamatkan diri, tetapi untuk membawa manfaat dan perubahan bagi kehidupan bersama. Keberagamaan yang sejati menuntut empati, kepedulian, dan tindakan sosial yang konkret. Bila tidak, maka ibadah yang dijalankan hanyalah menjadi bentuk pembenaran diri dan bukan jalan menuju keselamatan.
ADVERTISEMENT
Penutup
Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis menyuguhkan kritik tajam terhadap praktik keberagamaan yang hanya berfokus pada ibadah bersifat lahiriah dan aturan-aturan agama dengan bersandar pada tampilan fisik atau aspek permukaan semata. Tokoh-tokohnya, baik Kakek maupun Haji Saleh dalam dongeng Ajo Sidi digambarkan sebagai sosok yang sangat taat secara lahiriah. Sejumlah tokoh dalam cerita mengisi hidupnya dengan salat, zikir, dan membaca kitab suci, bahkan rela mengorbankan seluruh kehidupan duniawi dengan keyakinan bahwa semua itu akan mengantarkan menuju keselamatan akhirat. Namun, cerpen ini justru membalik anggapan tersebut. Dalam akhir cerita, Tuhan dan malaikat menyampaikan bahwa ketaatan ibadah yang tidak seimbang dengan kepedulian sosial merupakan bentuk keberagamaan yang egoistis, sempit, dan menyesatkan. Beragama tidak cukup hanya dengan menyembah Tuhan dalam hubungan vertikal semata, melainkan juga harus diwujudkan dalam bentuk hubungan horizontal antarsesama manusia. Kehidupan dunia bukanlah penghalang menuju akhirat, tetapi justru menjadi ruang pengabdian tempat manusia diuji melalui kerja keras, kepedulian, dan kontribusi sosial.
ADVERTISEMENT
Pesan moral utama dari cerpen ini adalah bahwa keberagamaan sejati tidak hanya terletak pada ketaatan menjalankan ibadah secara formal, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan sosial dalam kehidupan nyata. Agama seharusnya menjadi kekuatan yang membimbing manusia untuk membumikan nilai-nilai Tuhan dalam bentuk amal perbuatan, kerja nyata, dan kepedulian terhadap sesama. Keyakinan dan ibadah tanpa disertai aksi nyata hanyalah ketaatan yang hampa. Ketika agama hanya menjadi simbol dan topeng suci, tanpa makna dan kebermanfaatan, maka ia kehilangan esensinya di hadapan Tuhan. Keimanan yang sejati memerlukan keseimbangan antara ibadah dan tindakan sosial, antara beribadah kepada Tuhan dan kehidupan yang penuh perhatian terhadap kesejahteraan bersama. Ibadah yang hanya terfokus pada kepuasan pribadi tanpa ada upaya untuk memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, sebagaimana yang terlihat pada sikap Haji Saleh, justru akan membuat seseorang terjebak dalam kesalehan semu. Keimanan yang sejati tidak hanya diukur dari kuantitas ibadah atau kemampuan dalam menjalankan ritual agama, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam mewujudkan keadilan, kepedulian, dan perubahan yang lebih baik dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, ibadah yang dilaksanakan dengan tulus harus mampu menghasilkan dampak positif bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Di sanalah terletak esensi sesungguhnya dari kehidupan beragama.
ADVERTISEMENT
Daftar Pustaka
Navis, A.A. (1986). Robohnya Surau Kami. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

