Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Student Hidjo: Cerminan Sosial Budaya Kolonial dan Relevansinya di Era Modern
3 April 2025 12:43 WIB
·
waktu baca 11 menitTulisan dari Zahra Salbiyah Aniqah Syach tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Student Hidjo merupakan salah satu novel karya Mas Marco Kartodikromo yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1919. Pada tahun 1918, novel ini telah dimuat sebagai bentuk cerita bersambung di harian Sinar Hindia. Novel Student Hidjo menjadi representasi kehidupan pada masa pergerakan nasional, khususnya pada aspek pendidikan bagi masyarakat pribumi yang masih sangat terbatas. Novel ini berorientasi pada tokoh utama, yaitu Hidjo sebagai seorang pemuda Jawa lulusan Hogere Burger School (HBS) yang melanjutkan pendidikannya ke Belanda untuk meraih gelar “ingenieur" (insinyur). Melalui narasinya dikatakan bahwa tokoh utama menghadapi berbagai tantangan, seperti adanya perbedaan budaya antara nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa dengan budaya Barat. Narasi dalam novel ini juga memberikan gambaran terkait kisah percintaan antara Hidjo dan tunangannya, bernama Raden Ajeng Biroe. Selain itu, pada novel ini pula menyampaikan kritik sosial dan penindasan yang dialami masyarakat pribumi di bawah kekuasaan kolonialisme Belanda. Melalui novel Student Hidjo mengungkapkan realitas kehidupan masyarakat pribumi dan Belanda pada masa itu. Tokoh utama merepresentasikan terkait budaya Belanda yang mulai diadopsi oleh dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencerminkan dinamika perubahan sosial dan pengaruh budaya Barat yang dapat membentuk identitas sosial, sehingga dengan begitu dapat menimbulkan ambiguitas identitas sosial pada tokoh utama.
ADVERTISEMENT
Menurut buku Teori Pengkajian fiksi karya Burhan Nurgiyantoro, latar dalam karya fiksi dibagi menjadi tiga unsur utama, yaitu: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial budaya. Ketiga unsur latar ini memiliki keterkaitan satu sama lain dalam membangun keutuhan cerita. Dalam analisis ini akan mengkaji novel Student Hidjo berdasarkan latar sosial budayanya. Latar sosial budaya merefleksikan kehidupan sosial masyarakat yang meliputi: kebiasaan, adat istiadat, tradisi, keyakinan, cara berpikir, serta status sosial tokoh dalam cerita. Faktor yang dapat memperkuat latar sosial budaya, seperti penggunaan bahasa daerah, penamaan tokoh yang mencerminkan budaya dan status sosial, serta kesenjangan status sosial yang sering kali menjadi sumber utama konflik dalam cerita.
Melalui artikel ini akan membahas peran latar sosial budaya dalam novel Student Hidjo yang tidak hanya menggambarkan kondisi masyarakat pada masa kolonial, tetapi juga memiliki relevansi dengan kehidupan masa kini. Nilai-nilai sosial, kesenjangan status, serta perubahan budaya yang dialami tokoh-tokohnya mencerminkan dinamika yang masih dapat ditemukan dalam masyarakat modern. Dengan menganalisis latar sosial budaya dalam novel ini, pembaca diharapkan dapat memahami lebih dalam perkembangan aspek sosial dan budaya dari waktu ke waktu, serta dampak warisan budaya masa lalu terhadap kehidupan saat ini.
ADVERTISEMENT
Latar Sosial Budaya
(1) Status Sosial dalam Novel Student Hidjo
Kutipan dalam novel Student Hidjo mengungkapkan latar sosial masyarakat pribumi yang menyadari bahwa pendidikan menjadi faktor penting bagi masyarakat pada masa kolonial Belanda. Pada awal narasi dikatakan bahwa orang tua dari tokoh utama memahami bahwa pendidikan menjadi aspek utama untuk bisa memperoleh pekerjaan dan meningkatkan status sosial keluarganya.
Pada kutipan tersebut merefleksikan bahwa masyarakat pada zaman kolonial Belanda menilai seseorang berdasarkan status sosialnya. Meskipun orang tua Hidjo sebagai seorang saudagar, namun statusnya tetap dianggap lebih rendah daripada pegawai pemerintah kolonial. Melalui hal ini, status sosial seseorang tidak hanya ditentukan berdasarkan kekayaannya, tetapi dilihat berdasarkan jabatan dan status keturunannya. Melalui ketimpangan sosial ini dapat mempersulit masyarakat pribumi untuk meningkatkan kesejahteraan dalam hidupnya.
ADVERTISEMENT
Kutipan ini menunjukkan dengan jelas bahwa status sosial seseorang memang dinilai berdasarkan keturunan, jabatan, dan pekerjaannya. Kutipan ini disampaikan oleh Raden Potronojo sebagai orang tua Hidjo yang ingin menyekolahkan anaknya ke Belanda sebagai bentuk perjuangan melawan kesenjangan sosial yang terjadi pada masa itu. Raden Potronojo merasa statusnya masih sangat rendah, sehingga membulatkan tekadnya untuk menyekolahkan Hidjo dengan harapan bahwa anaknya mampu meningkatkan status sosial keluarga melalui upaya di bidang pendidikan. Melalui hal ini, dapat terlihat adanya perubahan cara pandang masyarakat pribumi yang menjadikan pendidikan sebagai alat untuk meningkatkan kedudukan sosialnya di masyarakat.
ADVERTISEMENT
Pada kutipan ini mencerminkan realitas sosial yang masih dipengaruhi oleh kesenjangan sosial antara masyarakat pribumi dengan bangsa eropa. Dalam kutipan teks ini dikatakan bahwa Raden Tumenggung menunjukkan kesulitan dalam menjalin associate atau persaudaraan antara kedua bangsa tersebut. Hal ini disebabkan adanya perbedaan status sosial, kekuatan, dan kepercayaannya. Pada masa itu bangsa Eropa memiliki kekuasaan penuh terhadap pribumi, sehingga menganggap masyarakat pribumi sebagai golongan bawah dan cenderung menindasnya. Melalui hal ini, ketimpangan sosial terlihat dengan jelas bahwa masyarakat pribumi sangat sulit mendapatkan kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Kutipan ini pula memperlihatkan kesadaran tokoh terhadap ketimpangan yang terjadi pada masa itu. Dengan demikian, persoalan seperti ini menjadi salah satu pokok bahasan penting dalam upaya pribumi melawan penjajahan demi mewujudkan kehidupan yang sejahtera.
ADVERTISEMENT
(2) Budaya dalam Novel Student Hidjo
Kutipan tersebut menunjukkan adanya pengaruh budaya Eropa terhadap masyarakat pribumi. Dalam budaya Eropa, terdapat etika sosial yang mengatur cara berjalan seorang laki-laki ketika bersama dengan dua perempuan. Hal ini dianggap sebagai bentuk tata krama bagi bangsa Eropa. Dalam teksnya diceritakan bahwa Hidjo mengikuti budaya Eropa ini sebagai bentuk kesopanannya menghargai budaya lain. Adanya perbedaan budaya tersebut dapat memengaruhi etika dan adat istiadat masyarakat pribumi ketika berinteraksi langsung dengan bangsa Eropa. Melalui hal ini pula dapat mencerminkan terjadinya percampuran dua budaya yang memperlihatkan seorang pribumi berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan etika masyarakat Eropa.
ADVERTISEMENT
Pada kutipan ini mengilustrasikan adanya perbedaan adat dan nilai masyarakat pribumi Hindia dengan bangsa Eropa. Dalam budaya Jawa yang diceritakan dalam teks, dikatakan bahwa masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi adat dan nilai kesopanan sedangkan bangsa Eropa lebih mengarah pada kebebasan dan tidak memedulikan norma kesopanan. Melalui interaksi yang intensif antara Hidjo dengan gadis-gadis Eropa, hal ini mendorong Hidjo untuk mulai menghilangkan nilai-nilai kesopanan yang sebelumnya sangat dipegang teguh olehnya. Kondisi tersebut mencerminkan terjadinya benturan budaya dalam diri Hidjo sebagai tokoh utama. Kutipan ini merefleksikan bahwa adanya interaksi yang berlangsung secara terus-menerus dengan budaya asing dapat memengaruhi identitas seseorang, khususnya ketika pada masa kolonial yang berkuasa penuh terhadap kehidupan pribumi.
ADVERTISEMENT
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa Hidjo mengalami benturan budaya antara tradisi Jawa dengan pengaruh budaya Eropa dalam kehidupan sehari-harinya. Adanya pengaruh cerita Faust dan pergaulannya dengan gadis Eropa membuatnya semakin menerima terhadap kebebasan modernitas masyarakat Eropa. Perkembangan modernisasi memiliki pengaruh dalam membentuk pola pikir yang lebih terbuka dan berkembang, akan tetapi juga dapat menyebabkan seseorang kehilangan budaya aslinya. Hidjo kian terhanyut dalam gaya hidup budaya Eropa, sehingga akhirnya ia meninggalkan adat dan nilai kesopanannya. Ia semakin melupakan tujuan awalnya ke Belanda, yaitu untuk sekolah dan belajar agar mampu mendapat gelar “Ingenieur”. Sebaliknya, ia justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat daripada fokus pada studinya. Melalui hal ini dapat menjadi refleksi terkait perubahan sosial dan budaya yang mampu mengubah identitas seseorang, baik dalam cara berpikir, berperilaku, maupun dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan yang baru.
ADVERTISEMENT
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan kebudayaan Jawa, khususnya di Kota Solo. Tradisi Jawa ini diceritakan sebagai perayaan ulang tahun Regent Djarak yang diadakan dengan meriah. Dalam perayaan tradisi Jawa ini menyajikan pertunjukan seni, seperti tandak (tarian), gendhing (musik gamelan), dan klonengan (musik tradisional Jawa). Hal ini mengilustrasikan kesenian dan kebudayaan Jawa yang masih terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakatnya. Dalam narasi tersebut, dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai adat istiadat yang berlaku. Pesta perayaan ulang tahun Regent Djarak tidak hanya sekadar hiburan semata, akan tetapi menjadi bagian dari representasi status sosial masyarakat. Lagu-lagu yang dimainkan, seperti Srikaton dan Gendhing kuwung-kuwung juga menggambarkan identitas dan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan demikian, melalui kutipan tersebut menegaskan bahwa tradisi dan kesenian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Jawa pada masa itu.
ADVERTISEMENT
Relevansi Novel Student Hidjo dalam Kehidupan Masa Kini
1. Pendidikan sebagai Kunci Mobilitas Sosial
Relevansi novel Student Hidjo dalam konteks pendidikan sebagai mobilitas sosial masih sangat terasa hingga saat ini. Dalam novel, tokoh utama yang bernama Hidjo disekolahkan dengan harapan dapat meningkatkan status sosial keluarganya melalui pendidikan. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membuka akses terhadap peluang yang lebih baik, seperti pekerjaan yang lebih layak dan peningkatan status sosial. Orang tua Hidjo berusaha memberikan pendidikan terbaik sebagai bentuk perjuangan untuk mengatasi kesenjangan sosial yang ada di masyarakat kolonial pada masa itu. Hal ini menjadi sebuah gambaran yang tetap relevan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Di era modern, meskipun perkembangan sistem pendidikan telah membawa banyak perubahan, ketimpangan sosial tetap menjadi hambatan besar dalam meraih mobilitas sosial, terutama bagi individu yang berasal dari latar belakang ekonomi rendah. Meskipun pendidikan menjadi harapan utama untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, tidak semua individu memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan berkualitas. Terdapat perbedaan dalam hal fasilitas pendidikan, kualitas pengajaran, dan dukungan sosial yang sangat memengaruhi keberhasilan individu. Oleh karena itu, meskipun pendidikan tetap menjadi alat untuk mencapai perubahan sosial, masalah akses dan kualitas pendidikan yang tidak merata mengingatkan pada realitas yang digambarkan dalam novel Student Hidjo
ADVERTISEMENT
Ketidaksetaraan dalam pendidikan yang terjadi saat ini mengindikasikan bahwa walaupun terdapat kemajuan dalam penyediaan layanan pendidikan, faktor sosial, ekonomi, dan budaya tetap memengaruhi keberhasilan individu pada bidang pendidikan. Di berbagai wilayah, anak-anak dari keluarga kurang mampu masih menghadapi hambatan signifikan dalam mengakses pendidikan berkualitas. Dengan begitu dapat menghambat potensinya untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi. Meskipun harapan untuk mencapai mobilitas sosial melalui pendidikan masih ada, tantangan untuk mencapainya terus berlanjut, sebagaimana yang digambarkan dalam novel Student Hidjo.
2. Ketimpangan Sosial dan Status Sosial di Masyarakat Modern
Relevansi novel Student Hidjo dalam konteks ketimpangan sosial dan status sosial masih sangat terasa hingga saat ini. Kutipan dalam novel yang menggambarkan ketimpangan antara saudagar pribumi dan pegawai pemerintah kolonial mencerminkan isu kelas sosial yang tetap relevan dengan kehidupan sekarang, terutama terkait dengan aspek ketimpangan dan status sosial. Pada masa kolonial, status seseorang sangat dipengaruhi oleh pekerjaan dan keturunan yang menyebabkan masyarakat pribumi sulit untuk meningkatkan kedudukan sosialnya. Hal ini dapat dihubungkan dengan realitas kehidupan masa kini, meskipun status sosial tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh faktor keturunan atau pekerjaan seperti pada masa kolonial, namun ketimpangan sosial antara kelas atas dan kelas bawah tetap berlangsung. Pendidikan, pekerjaan, dan akses terhadap peluang ekonomi kini menjadi faktor dominan yang memengaruhi status seseorang di masyarakat.
ADVERTISEMENT
Sebagai contoh pada kehidupan masa kini, meskipun seseorang memiliki kekayaan yang melimpah, jika ia tidak memiliki pendidikan formal atau pekerjaan yang dihormati, status sosialnya sering kali dipandang lebih rendah. Ketimpangan ini terlihat jelas dalam berbagai aspek kehidupan, seperti akses terhadap pekerjaan yang lebih baik atau kesempatan untuk mengakses pendidikan berkualitas. Fenomena ini mencerminkan ketimpangan sosial yang digambarkan dalam novel Student Hidjo, meskipun saudagar pribumi kaya, status sosialnya tetap rendah dibandingkan dengan pegawai pemerintah kolonial. Pendidikan dan pekerjaan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan status sosial seseorang, meskipun kekayaan juga memiliki peran dalam memengaruhinya.
3. Pengaruh Budaya Barat dan Globalisasi
Pengaruh budaya Eropa dalam novel Student Hidjo mencerminkan realitas yang masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Dalam novel, Hidjo mengalami perubahan cara berpikir dan perilaku setelah berinteraksi dengan budaya Eropa. Ia mulai menerima gaya hidup yang lebih bebas dan perlahan meninggalkan nilai-nilai kesopanan, serta adat istiadat yang sebelumnya ia pegang teguh. Fenomena ini serupa dengan yang terjadi pada generasi muda masa kini. Banyak generasi muda yang semakin terpapar oleh budaya Barat melalui berbagai media, pendidikan, dan lingkungan sosial. Nilai-nilai individualisme, kebebasan berekspresi, dan modernitas lebih sering dijunjung tinggi dibandingkan norma-norma tradisional yang mengutamakan kebersamaan dan sopan santun. Akibatnya, tidak sedikit individu yang mengalami perubahan dalam cara berpakaian, berinteraksi, serta memandang kehidupan, sebagaimana yang dialami Hidjo dalam novel tersebut.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, meskipun budaya Barat memberikan pengaruh yang kuat, terdapat upaya untuk mempertahankan dan mengapresiasi budaya lokal. Dalam novel, unsur-unsur budaya Jawa tetap ditampilkan melalui perayaan adat, musik tradisional, dan norma kesopanan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Fenomena ini juga tampak dalam kehidupan saat ini, ketika masyarakat semakin menyadari pentingnya melestarikan identitas budayanya. Berbagai bentuk kesenian, bahasa daerah, dan tradisi mulai mendapat perhatian lebih di tengah derasnya arus globalisasi. Banyak individu yang kembali melestarikan budaya lokal sebagai bentuk kebanggaan terhadap warisan leluhur, seperti tokoh-tokoh dalam novel yang tetap berpegang teguh pada adat meskipun pengaruh budaya Eropa semakin kuat. Hal ini menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu menghilangkan budaya lokal, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkannya ke tingkat yang lebih luas.
ADVERTISEMENT
4. Perubahan Identitas dan Konflik Budaya
Dalam novel Student Hidjo, konflik budaya antara tradisi Jawa dan pengaruh Eropa mencerminkan dilema yang masih relevan dengan generasi muda saat ini. Hidjo, awalnya tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi adat dan norma kesopanan Jawa, mulai mengalami perubahan setelah terpapar budaya Barat. Ia menghadapi kebingungan dalam menentukan identitasnya. Hidjo dihadapkan pada pilihan antara tetap mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan keluarganya atau mengadopsi cara hidup yang lebih modern dan bebas. Pergolakan batin seperti ini juga banyak dialami oleh anak muda masa kini yang hidup di tengah arus globalisasi. Dalam hal ini, generasi muda kerap merasa terombang-ambing antara mempertahankan tradisi leluhur atau menyesuaikan diri dengan budaya global yang lebih dinamis dan individualistis.
ADVERTISEMENT
Dilema ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti cara berpakaian, penggunaan bahasa, hingga pandangan terhadap pernikahan dan keluarga. Banyak anak muda yang mulai mengadopsi gaya hidup modern dengan meniru tren luar negeri. Di sisi lain, terdapat dorongan untuk tetap menjaga identitas budayanya. Misalnya, dalam hal pernikahan, konsep perjodohan yang dahulu lazim dalam budaya tradisional mulai ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan nilai kebebasan individu yang lebih diutamakan dalam budaya Barat. Hal ini mencerminkan bahwa globalisasi tidak hanya membuka akses terhadap perkembangan dunia, tetapi juga menimbulkan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara modernitas dan tradisi. Seperti Hidjo yang berusaha menemukan posisinya di tengah dua budaya yang berbeda, generasi muda masa kini pun menghadapi pencarian identitas di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.
ADVERTISEMENT
5. Pentingnya Tradisi dalam Membentuk Identitas Masyarakat
Tradisi dan kesenian Jawa yang digambarkan dalam novel Student Hidjo tetap relevan dalam kehidupan modern, terutama ketika banyak masyarakat mulai menyadari pentingnya melestarikan kebudayaan lokal di tengah derasnya arus globalisasi. Kesadaran ini terlihat dalam berbagai inisiatif, baik dari kelompok masyarakat maupun pemerintah, untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda. Berbagai festival budaya, pelatihan seni tradisional, serta pengajaran bahasa daerah semakin digalakkan sebagai bentuk upaya mempertahankan identitas budaya yang khas. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pengaruh budaya luar semakin kuat, terdapat usaha nyata untuk menjaga keberagaman budaya yang menjadi bagian dari jati diri bangsa. Namun, tantangan dalam mempertahankan budaya lokal juga tidak bisa diabaikan. Perkembangan teknologi dan budaya global yang begitu pesat sering kali membuat generasi muda lebih tertarik pada budaya populer internasional dibandingkan dengan tradisinya sendiri. Akses mudah terhadap hiburan digital, tren model, serta gaya hidup modern yang lebih praktis dan cepat menjadikan budaya lokal kurang diminati. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang kreatif dan inovatif agar kebudayaan tradisional tetap relevan dan dapat bersanding dengan perubahan zaman. Dengan cara ini, tradisi bukan hanya sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat yang terus berkembang.
ADVERTISEMENT
Salah satu cara efektif untuk menjaga keberlangsungan budaya lokal adalah dengan mengintegrasikannya ke dalam berbagai aspek kehidupan modern, seperti pendidikan, industri kreatif, dan media digital. Misalnya, pengenalan seni tradisional melalui kurikulum sekolah, kolaborasi antara desainer lokal dengan motif budaya dalam industri fashion, serta promosi budaya melalui platform digital dapat menjadi strategi yang menarik bagi generasi muda. Selain itu, pemanfaatan media sosial dan teknologi interaktif, seperti film animasi berbasis budaya atau aplikasi edukatif tentang kebudayaan daerah juga dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan warisan budaya dengan cara yang lebih menarik dan sesuai dengan tren masa kini. Dengan pendekatan yang adaptif dan inovatif, budaya tradisional dapat terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan esensi dan maknanya
ADVERTISEMENT
Daftar Pustaka
Kartodikromo, Mas Marco. (2023). Student Hidjo. Yogyakarta: Penerbit Narasi.
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.