Konten dari Pengguna

Transformasi Emosi sebagai Kritik Sosial dalam Puisi Indonesia

Zahra Salbiyah Aniqah Syach

Zahra Salbiyah Aniqah Syach

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 12 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Salbiyah Aniqah Syach tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar tumpukan tiga buku dengan setangkai bunga. (Sumber: https://www.istockphoto.com)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar tumpukan tiga buku dengan setangkai bunga. (Sumber: https://www.istockphoto.com)

Puisi tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi keindahan bahasa, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang merekam kegelisahan masyarakat terhadap ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan krisis moral. Dalam sastra Indonesia, puisi Peringatan karya Wiji Thukul (1986) dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail (1998) menjadi contoh penting puisi kritik sosial yang lahir dari fase sejarah berbeda. Peringatan muncul pada masa ketika kebebasan berpendapat berada di bawah tekanan kekuasaan, sehingga Wiji Thukul menghadirkan suara yang tegas dan emosional sebagai bentuk perlawanan terhadap pembungkaman. Sementara itu, puisi Taufiq Ismail terbit menjelang runtuhnya Orde Baru, ketika kemerosotan moral dan penyimpangan kekuasaan semakin terbuka ke ruang publik, sehingga kritik disampaikan melalui rasa malu dan keprihatinan moral.

Perbedaan konteks kesejarahan dan posisi sosial pengarang tersebut menjadikan perbandingan kedua puisi penting untuk melihat bagaimana kritik sosial dibangun melalui emosi. Emosi dalam kedua puisi tidak hadir sebagai luapan perasaan pribadi semata, melainkan sebagai strategi estetik untuk menyuarakan realitas sosial-politik zamannya. Pada puisi Peringatan, emosi tampil keras dan langsung sebagai respons atas pembungkaman suara rakyat, sedangkan pada puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, emosi hadir lebih reflektif melalui rasa malu dan kekecewaan terhadap kemerosotan nilai bangsa. Perbedaan corak emosional ini menunjukkan adanya transformasi fungsi emosi dalam puisi kritik sosial, dari emosi yang bersifat reflektif menuju emosi yang mendorong sikap dan tindakan.

Kajian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan merujuk pada pemikiran Alan Swingewood. Bersama Diana Laurenson, Swingewood memandang sastra sebagai cermin kondisi sosial sekaligus sebagai produk situasi sosial pengarang (Swingewood dalam Suyitno, 2022: 245–246). Pandangan ini sejalan dengan Wellek dan Warren yang menyatakan bahwa sastra merupakan ekspresi masyarakat tertentu melalui sudut pandang pengarang dengan latar sosial dan ideologis yang spesifik (Wellek & Warren dalam Suyitno, 2022: 246). Selain itu, konsep transformasi dipahami sebagai proses perubahan bertahap akibat dorongan internal dan tekanan eksternal (Ambarwati, Rejeki, & Tarigan, 2024: 78), sementara emosi dipandang sebagai aspek psikis yang memengaruhi sikap dan perilaku sosial (Gunarsa, 2004: 62; Susanto, 2018: 208). Dengan landasan ini, transformasi emosi dalam puisi dilihat sebagai bentuk kritik sosial yang merefleksikan dinamika kesadaran masyarakat sesuai konteks sejarahnya.

A. Puisi sebagai Cermin dan Produk Realitas Sosial

Jika diletakkan berdampingan dengan memperhatikan urutan kesejarahan, puisi Peringatan karya Wiji Thukul (1986) dan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail (1998) sama-sama lahir dari keprihatinan sosial, tetapi menyoroti aspek realitas yang berbeda sesuai dengan konteks zamannya. Puisi Peringatan hadir lebih awal, pada masa ketika ruang kebebasan berpendapat berada dalam tekanan kuat, sementara puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia lahir di penghujung Orde Baru, ketika berbagai persoalan bangsa mulai terbuka dan disadari secara lebih luas oleh masyarakat.

Puisi Peringatan karya Wiji Thukul menghadirkan kritik sosial yang terarah pada hubungan timpang antara pihak yang memegang kekuasaan dan masyarakat yang berada di bawah tekanan. Puisi ini tidak memaparkan peristiwa sosial secara rinci, melainkan menghadirkan suasana pengekangan melalui gambaran perasaan kolektif yang dialami oleh masyarakat. Ketakutan, keterasingan, dan pembungkaman menjadi latar utama, sebagaimana tergambar dalam larik “kalau rakyat bersembunyi dan berbisik-bisik” serta “suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan”. Kritik yang disampaikan Wiji Thukul tidak berfokus pada kondisi bangsa secara menyeluruh, melainkan menyoroti cara kekuasaan membatasi suara masyarakat dan melemahkan nilai kebenaran. Pada bagian akhir, puisi ini menampilkan sikap melawan sebagai luapan emosi sekaligus kesadaran atas situasi yang dihadapi, ditegaskan melalui ungkapan “maka hanya ada satu kata: lawan!”. Dengan demikian, Peringatan berfungsi sebagai cermin realitas sosial yang memperlihatkan tekanan kekuasaan yang dirasakan masyarakat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan itu, puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail menampilkan kritik sosial dalam cakupan yang lebih luas dan menyeluruh. Puisi ini menyoroti kerusakan dalam kehidupan berbangsa yang meliputi runtuhnya moral, hukum, serta pengelolaan negara. Gambaran tersebut tampak jelas melalui ungkapan “langit-langit akhlak rubuh” dan “hukum tak tegak, doyong berderak-derak”, yang menunjukkan rapuhnya nilai etika dan keadilan sebagai fondasi kehidupan bersama. Kritik tersebut diperkuat dengan pemaparan praktik korupsi, nepotisme, manipulasi politik, hingga kekerasan negara terhadap rakyat, seperti tercermin dalam baris “selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu” dan “penghitungan suara pemilihan umum… penipuan besar-besaran”. Realitas sosial yang dihadirkan Taufiq Ismail disampaikan melalui gambaran yang jelas dan rinci, sehingga puisi ini mampu memotret kondisi bangsa secara mendalam dan menyeluruh.

Puisi-puisi kritik sosial tersebut tidak dapat dilepaskan dari posisi sosial pengarang dan situasi zamannya. Puisi Peringatan ditulis oleh Wiji Thukul pada masa ketika kebebasan berekspresi berada dalam pengawasan ketat negara. Wiji Thukul menulis dari posisi sebagai bagian dari masyarakat yang secara langsung mengalami pembatasan suara dan tekanan kekuasaan. Kondisi tersebut membentuk arah kritik yang tajam, langsung, dan bersifat konfrontatif, serta emosi yang bergerak dari kewaspadaan menuju keberanian untuk bersikap. Emosi dalam puisi ini tidak lahir dari perenungan jarak jauh, melainkan dari situasi mendesak yang menuntut adanya sebuah respons, sehingga puisi berfungsi sebagai sarana perlawanan sekaligus penguatan kesadaran bersama.

Sementara itu, puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia ditulis oleh Taufiq Ismail pada masa akhir Orde Baru, ketika berbagai persoalan bangsa seperti korupsi, penyimpangan kekuasaan, dan ketidakadilan hukum semakin terbuka ke ruang publik. Taufiq Ismail menulis dari posisi penyair yang mengamati kondisi bangsanya dengan jarak tertentu, sehingga kritik yang disampaikan bersifat evaluatif dan reflektif. Emosi malu dan kekecewaan dalam puisi ini muncul sebagai bentuk kesadaran moral atas kemerosotan nilai-nilai bangsa. Puisi tersebut tidak hanya mencatat gejala sosial, tetapi juga merekam kegelisahan seorang warga negara yang menyaksikan kehancuran sistem dari dalam.

Jika dilihat melalui pandangan Swingewood, kedua puisi ini menunjukkan bahwa karya sastra tidak berdiri terpisah dari masyarakat, melainkan tumbuh dari kondisi sosial yang melingkupi pengarangnya. Perbedaan latar kesejarahan, posisi sosial, dan pengalaman hidup Wiji Thukul dan Taufiq Ismail menghasilkan arah kritik, serta muatan emosi yang berbeda. Dengan demikian, puisi-puisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai cermin realitas sosial, tetapi juga sebagai produk dari situasi sejarah dan sosial yang membentuk kesadaran pengarangnya.

B. Transformasi Emosi dalam Puisi Peringatan dan Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Puisi Peringatan karya Wiji Thukul menampilkan transformasi emosi yang bergerak cepat dari kewaspadaan menuju sikap perlawanan. Emosi dalam puisi ini lahir dari situasi ancaman nyata yang dialami masyarakat pada masa Orde Baru, ketika ruang kebebasan berpendapat sangat terbatas dan kritik terhadap kekuasaan berisiko tinggi. Sejak awal, pembaca dihadapkan pada suasana ketegangan sosial dan rasa takut bersama, sebagaimana tergambar dalam larik “Jika rakyat pergi”, “ketika penguasa pidato”, serta “kalau rakyat bersembunyi dan berbisik-bisik”. Ungkapan-ungkapan tersebut mencerminkan kondisi masyarakat yang hidup dalam tekanan, memilih diam dan bersembunyi sebagai strategi bertahan hidup. Pada tahap ini, emosi berfungsi sebagai penanda situasi sosial yang menindas dan membungkam suara rakyat.

Seiring berjalannya puisi, emosi kewaspadaan tersebut berkembang menjadi kemarahan ketika kebenaran tidak diberi ruang. Larik “apabila usul ditolak tanpa ditimbang” dan “suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan” menunjukkan bahwa kemarahan yang muncul bukan sekadar luapan perasaan spontan, melainkan reaksi sadar terhadap ketidakadilan yang terus-menerus terjadi. Emosi marah lahir karena hak dasar masyarakat untuk berbicara dan menyampaikan pendapat dikekang, sehingga kebenaran berada dalam posisi yang terancam. Dalam konteks ini, emosi tidak hanya berfungsi sebagai perasaan batin, tetapi sebagai kesadaran sosial akan situasi yang tidak lagi dapat ditoleransi.

Tahap akhir transformasi emosi dalam puisi Peringatan ditandai dengan peralihan yang tegas menuju sikap melawan. Hal ini ditegaskan melalui pernyataan “maka hanya ada satu kata: lawan!”. Seruan tersebut menjadi puncak perjalanan emosi dalam puisi, ketika rasa takut dan marah tidak berhenti pada kesadaran, tetapi diarahkan secara eksplisit pada sebuah tindakan. Dengan demikian, emosi dalam puisi Wiji Thukul berfungsi sebagai energi sosial yang menggerakkan, menjadikan puisi bukan sekadar ruang ekspresi perasaan, melainkan juga alat perlawanan terhadap sistem kekuasaan yang menindas.

Berbeda dengan emosi yang bergerak cepat dan berujung pada tindakan dalam puisi Wiji Thukul, puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail menampilkan transformasi emosi yang lebih bersifat reflektif dan perenungan moral. Emosi yang paling dominan dalam puisi ini adalah rasa malu yang bercampur dengan kesedihan dan kekecewaan atas kondisi bangsa. Emosi tersebut tidak hadir sebagai luapan kemarahan, melainkan sebagai perasaan yang hadir secara perlahan dan membebani batin. Hal ini tampak melalui ungkapan “Mengapa sering benar aku merunduk kini” serta pengakuan berulang “Malu aku jadi orang Indonesia”. Kata merunduk tidak hanya menunjuk pada sikap fisik, tetapi menggambarkan runtuhnya harga diri bersama sebagai bangsa. Rasa malu yang dihadirkan bukan perasaan personal semata, melainkan perasaan bersama yang lahir dari kesadaran sosial atas penyimpangan nilai-nilai kebangsaan.

Rasa malu tersebut tumbuh melalui perbandingan antara masa lalu yang membanggakan dan realitas masa kini yang mengecewakan. Ingatan tentang kebanggaan sebagai “anak revolusi Indonesia” dan pernyataan “Dulu dadaku tegap bila aku berdiri” disandingkan dengan pertanyaan reflektif “Mengapa sering benar aku merunduk kini”. Peralihan ini menunjukkan bahwa emosi dalam puisi tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui kesadaran historis. Kekecewaan muncul ketika cita-cita kemerdekaan berhadapan dengan kenyataan sosial yang ditandai oleh keruntuhan nilai moral dan hukum, sebagaimana tergambar dalam larik “Langit-langit akhlak rubuh” dan “Hukum tak tegak, doyong berderak-derak”. Emosi kekecewaan dalam puisi ini tidak diarahkan pada pihak tertentu dan tidak bermuara pada seruan tindakan langsung, melainkan mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenung dan menilai kembali kondisi bangsa.

Jika kedua puisi dibaca secara berdampingan dengan memperhatikan urutan kesejarahannya, tampak jelas adanya perbedaan arah transformasi emosi sebagai bentuk kritik sosial. Dalam puisi Peringatan, emosi bergerak dari rasa takut menuju kemarahan, lalu bermuara pada perlawanan yang bersifat terbuka. Emosi berfungsi sebagai pendorong tindakan karena lahir dari situasi penindasan yang mendesak dan dialami secara langsung oleh masyarakat, sebagaimana dialami Wiji Thukul sebagai penyair yang berada dekat dengan realitas represi negara. Sebaliknya, dalam puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, emosi mengalir dari kebanggaan masa lalu menuju rasa malu dan kekecewaan, lalu bermuara pada perenungan moral. Taufiq Ismail, yang menulis pada masa akhir Orde Baru, memosisikan diri sebagai pengamat kritis dengan jarak tertentu, sehingga emosi yang dihadirkan lebih bersifat evaluatif dan reflektif.

Melalui perbandingan ini, terlihat bahwa transformasi emosi dalam puisi kritik sosial tidak hanya menunjukkan perubahan jenis perasaan, tetapi juga perubahan fungsi kritik itu sendiri. Pada puisi Wiji Thukul, emosi menjadi alat penggerak yang mendorong sikap dan tindakan bersama. Sementara itu, pada puisi Taufiq Ismail, emosi berfungsi sebagai jalan menuju kesadaran dan evaluasi moral terhadap kemerosotan nilai bangsa. Dengan demikian, emosi menjadi unsur penting yang menentukan cara puisi berbicara, bersikap, dan berhadapan dengan realitas sosial yang dikritiknya.

Meskipun kedua puisi ini lahir dalam konteks sejarah yang berbeda, relevansi keduanya tetap terasa hingga hari ini. Puisi Peringatan menegaskan pentingnya keberanian untuk bersikap dalam situasi ketidakadilan yang masih dapat ditemui dalam bentuk pembungkaman suara, ketimpangan kekuasaan, dan pelanggaran hak masyarakat. Sementara itu, puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia tetap berfungsi sebagai cermin batin bersama, mengajak pembaca masa kini untuk merefleksikan kembali nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, transformasi emosi dalam kedua puisi ini menunjukkan bahwa puisi kritik sosial tidak hanya menjadi artefak sejarah, tetapi juga sarana peringatan dan penilaian moral yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat.

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa emosi memegang peranan penting sebagai sarana kritik sosial dalam puisi Peringatan karya Wiji Thukul dan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail, meskipun diarahkan melalui fungsi yang berbeda sesuai dengan konteks kesejarahan dan posisi sosial pengarangnya. Puisi Peringatan yang ditulis Wiji Thukul pada tahun 1986 memperlihatkan emosi yang berkembang secara progresif dari rasa terancam, kemarahan, hingga keberanian untuk melawan. Emosi dalam puisi ini tidak berhenti pada kesadaran batin, melainkan berfungsi sebagai pendorong sikap dan tindakan, sehingga kritik sosial disampaikan secara tegas dan berorientasi pada perlawanan terhadap ketidakadilan serta pembungkaman suara masyarakat.

Sementara itu, puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail yang terbit pada tahun 1998 menampilkan emosi malu, kesedihan, dan kekecewaan sebagai jalan menuju kesadaran moral dan sosial. Emosi dalam puisi ini bekerja secara reflektif, mengajak pembaca untuk merenungkan kemerosotan nilai, keruntuhan moral, serta tanggung jawab bersama dalam kehidupan berbangsa pada masa akhir Orde Baru. Kritik sosial tidak disampaikan melalui seruan tindakan langsung, melainkan melalui perenungan mendalam yang menumbuhkan kesadaran etis atas kondisi bangsa.

Perbandingan kedua puisi tersebut menunjukkan adanya transformasi emosi dalam puisi kritik sosial, yakni pergeseran dari emosi yang bersifat langsung, mendesak, dan mengarah pada perlawanan dalam puisi Peringatan, menuju emosi yang lebih reflektif dan evaluatif dalam puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Dengan demikian, temuan ini menegaskan bahwa emosi tidak hanya menjadi unsur estetis dalam puisi, tetapi juga menentukan arah, kekuatan, dan bentuk kritik sosial yang dihadirkan penyair terhadap realitas sosial-politik pada zamannya.

Daftar Pustaka

Al’Hayati, Zaytun, Amilatul Fauziah, dan Syarifudin Yunus. (2025). Menulis Kreatif sebagai Media Kritik Sosial dalam Puisi ‘Peringatan’ Karya Wiji Thukul. Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa. 8(1): 1–9.

Ambarwati, Naumi, Sri Rejeki dan Wiwik Riotin Tarigan. (2024). Transformasi Pendidikan Merdeka Belajar dan Perubahan Paradigma. Indramayu: CV. Adanu Abimata.

Gunarsa, Singgih D. (2008). Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Hadawiyah, Andina, Novriana A. S. Sitanggang, dan Yohan Tio Pantaria Sihite. (2025). Membedah Struktur Puisi ‘Peringatan’ Karya Wiji Thukul: Sebuah Pendekatan Struktural. Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora. 8(3): 15–19.

Hartono, Budi, dan Masnita Massaguni. (2025). Perlawanan dalam Puisi ‘Peringatan’ Karya Wiji Thukul: Telaah Semiotik Roland Barthes. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa. 4(2): 464–471.

Millatina, Zuyyina, dkk. (2025). Kritik Sosial dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka: Kajian Sosiologi Sastra. Deiksis. 17(2): 229–246.

Nugraha, Dipa, dan Suyitno. (2022). Kritik dan Penelitian Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Prastiyo, Ferdian Dwi. (2020). Wiji Thukul: Puisi dan Hermeneutika Kritis Puisi ‘Peringatan’ Karya Wiji Thukul dan Perjuangan Politiknya dalam Perspektif Hermeneutika Kritis Jürgen Habermas. Jurnal Filsafat Arete. 9(1): 28–42.

Rahma, Ade. (2018). Analisis Makna Simbolis dalam Kumpulan Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufiq Ismail. Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 1(2): 92–101.

Sukmawati, Esa Klara. (2019). Kritik Sosial dalam Dua Puisi di Kumpulan Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (Majoi) Karya Taufiq Ismail. Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia. 2(2): 160–170.

Susanto, Ahmad. (2018). Bimbingan dan Konseling di Sekolah: Konsep, Teori, dan Aplikasinya. Jakarta: Prenadamedia Group.

Susanto, Dwi. (2016). Pengantar Kajian Sastra. Jakarta: PT Buku Seru.

Susriani, Lusi, dan Inawati. (2020). Kemampuan Siswa SMA Menganalisis Nilai Karakter Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufik Ismail dan Relevansinya terhadap Penanaman Pendidikan Karakter Siswa. Jurnal Lentera Pedagogi. 4(1): 7–14.

Syavica, Cindy Gia, dan Sumartin. (2025). Ketidakadilan Sosial dalam Novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga Karya Erni Aladjai: Kajian Sosiologi Sastra Alan Swingewood. Semantik. 14(2): 273–288.

Yuliantini, Tenti. (2019). Kajian Stilistika terhadap Diksi dalam Kumpulan Puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufiq Ismail serta Pemanfaatannya sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia di SMK. Wistara. 2(1): 36–45.