Konten dari Pengguna

Dalam Diam Ayah Tersimpan Kasih Tak Terhingga

Zahra Alyaa

Zahra Alyaa

Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Alyaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku menulis ini dengan penuh perasaan rendah hati, mengingat segala perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan ayahku. Sejak kecil, aku sangat dekat dengan ayahku. Ayah adalah sosok yang penuh cinta meskipun ia tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Saat ia libur bekerja, aku selalu menghabiskan waktu bersamanya. Kami bermain, bercanda, dan menikmati kebersamaan yang hangat. Ayahku memang tipe yang cuek, tidak pandai mengungkapkan apa yang ia rasakan, namun sebagai anak, aku seringkali bisa merasakan apa yang ia simpan di dalam hatinya.

Dulu, kehidupan keluargaku bisa dibilang cukup. Kami tidak kekurangan, dan segala kebutuhan terpenuhi dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu, situasi ekonomi keluarga kami berubah drastis. Kehidupan kami yang dulu cukup, kini berubah menjadi serba kekurangan. Ayahku harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari biaya sekolahku dan adikku, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.

Ayahku menerima banyak tekanan dari berbagai pihak. Beban finansial yang berat membuatnya harus bekerja lebih keras. Namun, ayahku adalah sosok yang luar biasa. Ia tidak pernah mengeluh atau menunjukkan rasa lelahnya. Ayah selalu berusaha sekuat tenaga tanpa pernah mengucapkan kata “capek.” Ia menyembunyikan segala perasaan yang dirasakannya, mungkin agar kami, anak-anaknya, tidak perlu khawatir.

Salah satu kenangan yang selalu membekas di hatiku adalah saat ulang tahun ayahku di tahun 2020. Aku memutuskan untuk memberikan hadiah sebuah dompet baru. Aku memperhatikan bahwa dompet lamanya sudah mulai usang dan aku ingin memberikan sesuatu yang berguna untuknya. Ketika aku memberikan hadiah itu, ayah berkata, “Terima kasih ya kak, semoga dompet ayah ini bisa diisi tebal sampai ga bisa ditutup.” Aku hanya bisa tertawa dan mengucapkan “aamiin.”

Namun, setelah itu aku melihat dompet yang aku berikan hanya diletakkan di laci dan tidak dipakai. Hal itu lumayan membuatku bersedih. Aku berpikir bahwa ayahku mungkin tidak menyukai dompet tersebut atau tidak ingin memakainya. Dua bulan kemudian, ayah menghampiriku dan berkata, “Kak, lihat dompetnya ayah pakai ya. Sempat ayah taro karena sayang, ayah takut cepat rusak. Tapi ternyata ayah udah benar-benar harus ganti jadi ayah pakai sekarang. Semoga awet terus ya kak.” Mendengar perkataan itu, aku merasa terharu dan memeluk ayahku erat-erat.

Aku sadar, aku sama seperti ayahku, tidak pandai dalam mengungkapkan perasaan sayang. Aku lebih memilih mengungkapkan rasa sayangku melalui tindakan atau memberikan hadiah. Aku berharap ayah bisa mengerti bahwa setiap kado yang aku berikan adalah bentuk dari rasa sayangku yang mendalam. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk meringankan beban yang ada di pundak ayah dan memberikan kesehatan serta umur panjang. Aku ingin ayah bisa melihat perkembangan dan kesuksesanku di masa depan.

Rasa sayangku kepada ayahku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku sangat bersyukur memiliki ayah sepertinya. Ia adalah sosok pahlawan dalam hidupku, yang selalu memberikan yang terbaik meskipun dalam keadaan sulit. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak akan menyesal bila diberi kesempatan lagi untuk menjadi anaknya. Aku ingin terus berusaha menjadi anak yang baik, yang bisa membanggakan dan meringankan beban ayahku.

Sehat terus ya ayah, aku sayang ayah selalu dan selama-lamanya. Aku tahu aku masih banyak kekurangannya, namun aku akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku ingin membanggakan ayah dan meringankan beban yang ada di pundak ayah. Ayah adalah inspirasi dan semangat hidupku. Setiap langkah yang aku ambil, aku selalu mengingat perjuangan dan pengorbanan yang telah ayah lakukan

Di tengah segala kesulitan yang dihadapi, ayah tetap berdiri kokoh sebagai pilar keluarga. Keteguhan hati dan kerja kerasnya menjadi teladan bagi kami, anak-anaknya. Meski seringkali ayah tidak mengungkapkan perasaannya, namun melalui tindakannya, aku bisa merasakan betapa besar cinta dan tanggung jawabnya terhadap keluarga.

Mengenang masa kecil bersama ayah selalu membawa kehangatan di hati. Setiap momen kebersamaan yang kami lalui adalah harta yang tak ternilai. Ayah, meski terkadang terlihat keras dan tegas, sesungguhnya memiliki hati yang lembut dan penuh kasih. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik meskipun harus berkorban banyak hal.

Dalam setiap doaku, aku selalu memohon kepada Tuhan agar ayah diberikan kekuatan dan kesehatan. Aku ingin ayah bisa menyaksikan setiap pencapaian dan kebahagiaan yang aku raih di masa depan. Aku ingin ayah tahu bahwa segala perjuangannya tidak pernah sia-sia. Aku akan terus berusaha keras, belajar dengan giat, dan bekerja dengan tekun agar bisa menjadi kebanggaan ayah.

Aku tahu, ungkapan rasa sayangku mungkin tidak sempurna. Namun, aku berharap ayah bisa merasakan betapa besar cintaku padanya. Aku berjanji akan selalu mendukung dan mencintai ayah, apa pun yang terjadi. Ayah adalah sumber inspirasi dan kekuatanku. Setiap kali aku merasa lelah atau putus asa, aku selalu mengingat perjuangan ayah dan itu memberikan semangat baru bagiku.

Ayah dan harapannya [Pexels.com/Dominika Roseclay]

Ayah, terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah ayah berikan. Terima kasih telah menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Aku bangga bisa menjadi anak ayah. Aku akan terus berusaha menjadi anak yang baik, yang bisa membanggakan dan membahagiakan ayah.

Sehat terus ya, ayah. Aku sayang ayah selalu dan selama-lamanya. Aku akan terus berusaha menjadi yang terbaik, agar bisa melihat senyum bahagia di wajah ayah. Terima kasih atas segala cinta dan pengorbanan yang telah ayah berikan. Aku akan selalu menghargai dan menyayangi ayah, apa pun yang terjadi.