Menjaga Identitas Nasional di Tengah Perkembangan Kecerdasan Buatan

Mahasiswi Universitas Slamet Riyadi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zahrah Nurul Akmaliya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sekarang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan mahasiswa. AI hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari aplikasi pencari informasi, asisten virtual, penerjemah, sampai alat yang dapat membantu mengerjakan tugas. Teknologi ini memang memberi banyak kemudahan. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada hal lain yang menurut saya juga penting untuk dipikirkan, yaitu bagaimana perkembangan AI bisa memengaruhi identitas nasional kita sebagai bangsa Indonesia.

Identitas nasional bisa dipahami sebagai jati diri yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Identitas tersebut terlihat dari nilai-nilai Pancasila, bahasa Indonesia, keberagaman suku dan budaya, adat istiadat, semangat gotong royong, sampai rasa bangga sebagai bagian dari Indonesia. Jadi, identitas nasional bukan hanya soal simbol negara, tetapi juga tentang cara kita berpikir, bersikap, dan membawa nilai-nilai bangsa dalam kehidupan sehari-hari.
Di era AI, masyarakat menjadi semakin mudah terhubung dengan informasi dari berbagai negara. Dalam hitungan detik kita bisa membaca berita dari luar negeri, melihat tren budaya lain, mengikuti gaya hidup masyarakat negara lain, atau bahkan membuat konten dengan bantuan teknologi yang dikembangkan secara global. Hal tersebut sebenarnya tidak selalu buruk. Kita bisa belajar banyak hal dari perkembangan dunia. Tetapi, masalahnya muncul ketika kita hanya mengikuti budaya luar tanpa lagi mengenal atau menghargai budaya sendiri.
AI juga dapat memengaruhi cara kita menerima informasi. Sistem AI banyak belajar dari data yang berasal dari berbagai tempat dan latar belakang budaya. Karena itu, jawaban yang diberikan AI tidak selalu mewakili sudut pandang Indonesia. Jika kita menerima semua informasi dari AI tanpa berpikir kritis, bisa saja kita ikut menerima nilai, pandangan, atau cara berpikir yang belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Di sinilah mahasiswa dan generasi muda perlu tetap memiliki kemampuan untuk menilai informasi, bukan hanya menerimanya karena terdengar meyakinkan.
Menurut saya, perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat kita meninggalkan nilai-nilai Pancasila. Justru di tengah perubahan yang semakin cepat, Pancasila bisa menjadi pegangan agar kita tetap tahu batas dan arah dalam menggunakan teknologi. Nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, keadilan, dan penghargaan terhadap perbedaan tetap relevan ketika kita berinteraksi di dunia digital maupun ketika menggunakan AI.
Contohnya, AI seharusnya tidak digunakan untuk menyebarkan fitnah, membuat informasi palsu, merendahkan kelompok tertentu, atau memecah persatuan. Kemampuan teknologi memang semakin besar, tetapi tanggung jawab penggunanya juga harus semakin besar. Menjadi masyarakat yang melek teknologi bukan berarti bebas menggunakan teknologi untuk apa saja. Kita tetap harus mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain dan terhadap kehidupan bersama sebagai bangsa.
Di sisi lain, saya melihat AI justru bisa menjadi peluang besar untuk memperkuat identitas nasional. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas. Misalnya, AI bisa membantu membuat materi edukasi tentang sejarah Indonesia, menerjemahkan informasi mengenai budaya daerah, mendokumentasikan cerita rakyat, atau membuat konten kreatif mengenai tempat wisata dan produk lokal.
Menurut saya, perguruan tinggi juga punya peran dalam hal ini. Mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga perlu dibiasakan untuk berpikir kritis, memahami etika digital, serta menghargai budaya dan keberagaman Indonesia. Pendidikan seharusnya membuat generasi muda mampu menghadapi perubahan zaman tanpa mudah kehilangan arah.
Sebagai generasi muda, kita tidak perlu memilih antara menjadi modern atau tetap mencintai budaya bangsa. Keduanya bisa berjalan bersama. Kita bisa menjadi generasi yang memahami AI, mengikuti perkembangan dunia, dan tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia, mengenal budaya daerah, menghargai keberagaman, serta memegang nilai-nilai Pancasila. Menurut saya, inilah tantangan penting generasi sekarang: maju bersama teknologi tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Referensi singkat:
• UNESCO. Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence.
• Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Materi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
• Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
