Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Gaji: Ini yang Dicari Gen-Z dari Perusahaan!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Amalia Sakinah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto : Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto : Pexels.com

“Yang penting gajinya besar.”

Kalimat itu masih sering kita dengar ketika berbicara tentang pekerjaan. Namun, bagi sebagian Generasi Z (Gen-Z), mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak bukan lagi satu-satunya tujuan.

Ada pertanyaan lain yang mulai muncul: Apakah bisa berkembang di sini? Apakah value yang di dapat dari pekerjaan ini? Apakah lingkungan kerjanya sehat? Dan, apakah antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi berjalan seimbang?.

Pertanyaan-pertanyaan ini jadi gambaran bahwa ekspektasi Gen-Z terhadap dunia kerja ikut berubah seiring zaman.

Buat Gen-Z, perusahaan yang ideal bukan yang perfect, tapi yang bisa sejalan dengan kebutuhan, value, dan tujuan hidup mereka.

Jadi, Gen-Z Sebenarnya Cari Apa?

Kalau selama ini Gen-Z sering disebut sebagai generasi yang “gampang resign” atau “terlalu banyak maunya”, mungkin kita perlu melihat persoalannya dari sisi yang berbeda.

Bisa jadi, mereka bukan sekadar tidak loyal. Mereka sedang mencari sesuatu yang lebih sesuai dengan ekspektasi mereka terhadap pekerjaan.

Lebih dari 23 ribu Gen-Z dan milenial di 44 negara menemukan bahwa generasi ini mempertimbangkan tiga hal besar dalam kehidupan kerja: money, meaning, dan well-being atau uang, makna, dan kesejahteraan.

Jadi, gaji tetap penting. Tetapi ternyata ada “paket lengkap” yang juga dicari.

1. Gaji Layak, Bukan Sekadar Angka di Slip Gaji

Mari mulai dari hal yang paling realistis: uang.

Tidak adil jika mengatakan Gen-Z tidak memikirkan gaji. Justru keamanan finansial merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kenyamanan seseorang dalam bekerja.

Dalam survei global mereka merasa belum memiliki keamanan finansial. Data ini menunjukkan bahwa persoalan finansial masih menjadi perhatian serius bagi generasi muda.

Artinya, perusahaan tetap perlu memberikan kompensasi dan benefit yang kompetitif.

Namun, ketika kebutuhan finansial sudah menjadi pertimbangan dasar, muncul pertanyaan berikutnya: “Setelah mendapatkan gaji, apa lagi yang saya dapatkan dari pekerjaan ini?”

Di sinilah faktor lain mulai berbicara.

2. Bukan Cuma Kerja, tapi Juga Berkembang

Bayangkan sudah bekerja selama bertahun-tahun, tetapi pekerjaan yang dilakukan setiap hari selalu sama. Tidak ada pelatihan, tidak ada feedback, tidak ada kesempatan mencoba hal baru.

Lama-lama, bukan hanya bosan. Motivasi pun bisa ikut turun.

Kesempatan learning and development termasuk tiga alasan utama Gen-Z memilih perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka mengembangkan keterampilan untuk mendukung karier setidaknya sekali dalam seminggu.

Jadi, perusahaan yang ingin mempertahankan karyawan muda tidak cukup hanya berkata, “Di sini ada jenjang karier.”

Yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana karyawan bisa sampai ke sana.

Pelatihan, mentoring, rotasi pekerjaan, kesempatan mengikuti proyek baru, sampai feedback dari atasan bisa menjadi bentuk dukungan yang sederhana tetapi berarti.

3. Bos yang Bisa Jadi Mentor, Bukan Sekadar Pemberi Instruksi

Atasan memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman seseorang di tempat kerja.

Gen-Z tidak selalu membutuhkan atasan yang selalu membenarkan mereka. Mereka justru membutuhkan pemimpin yang mau memberikan arahan, menjelaskan kesalahan, memberikan feedback, dan membantu mereka berkembang.

Mentoring dan bimbingan penting untuk pengembangan keterampilan mereka.

Masalahnya, kebutuhan dan kenyataan belum selalu berjalan beriringan.

Adanya kesenjangan antara apa yang Gen-Z harapkan dari manajer dengan apa yang mereka rasakan dalam pekerjaan sehari-hari.

Maka, mungkin sudah waktunya bagi perusahaan untuk melihat atasan bukan hanya sebagai pihak yang mengawasi pekerjaan, tetapi juga sebagai orang yang membantu karyawan menemukan potensinya.

4. Work-Life Balance Bukan Berarti Malas

“Anak sekarang sedikit-sedikit ngomong work-life balance.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar familiar.

Padahal, menginginkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi tidak otomatis berarti seseorang tidak mau bekerja keras.

Bagi sebagian Gen-Z, bekerja keras tetap penting. Tetapi mereka juga ingin memiliki waktu untuk keluarga, teman, kesehatan, hobi, maupun pengembangan diri.

Hanya sedikit Gen-Z yang menyebut mencapai posisi senior leadership sebagai tujuan utama karier mereka. Ini bukan berarti Gen-Z tidak ambisius. Mereka tetap ingin berkembang, tetapi definisi “berhasil” tidak selalu berarti menduduki jabatan paling tinggi.

Bagi sebagian orang, sukses mungkin berarti menjadi manajer.

Bagi yang lain, sukses bisa berarti memiliki pekerjaan yang stabil, terus belajar, mendapatkan penghasilan yang cukup, dan masih punya waktu untuk kehidupan di luar pekerjaan.

5. “Saya Kerja di Sini Buat Apa?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar filosofis, tetapi ternyata cukup relevan.

Gen-Z juga ingin mengetahui apakah pekerjaan mereka memiliki makna.

Sense of purpose atau rasa memiliki tujuan sebagai hal yang penting bagi kepuasan dan kesejahteraan mereka dalam bekerja. Bahkan, Gen-Z pernah meninggalkan pekerjaan yang mereka anggap tidak memiliki tujuan.

Namun, “pekerjaan bermakna” tidak harus selalu berarti bekerja untuk perusahaan yang bergerak di bidang sosial atau lingkungan.

Makna bisa berbeda bagi setiap orang.

Bagi seseorang, makna pekerjaan mungkin berasal dari kesempatan membantu pelanggan. Bagi orang lain, mungkin dari kesempatan mengembangkan kreativitas, belajar sesuatu yang baru, mendapatkan penghasilan untuk keluarga, atau membangun masa depan.

Jadi, perusahaan tidak harus memaksakan satu definisi “purpose” kepada seluruh karyawannya.

6. Jangan Lupa: Gen-Z Juga Ingin Didengar

Satu hal yang sering kali sederhana tetapi berdampak besar adalah komunikasi.

Karyawan ingin merasa bahwa pendapat mereka didengar. Bukan berarti setiap masukan harus langsung diterima perusahaan, tetapi setidaknya ada ruang untuk menyampaikan pendapat dan mendapatkan penjelasan.

Apalagi ketika perusahaan membuat kebijakan baru.

Misalnya, perubahan jam kerja, sistem kerja, target, aturan cuti, atau kebijakan penggunaan teknologi. Bagi karyawan, kebijakan tersebut bukan sekadar tulisan di atas kertas karena dapat langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Karena itu, komunikasi yang transparan dapat menjadi bagian penting dari kebijakan perusahaan.

Karyawan mungkin tidak selalu setuju dengan keputusan perusahaan. Tetapi ketika alasan dan prosesnya dijelaskan dengan baik, mereka akan lebih mudah memahami keputusan tersebut.

Perusahaan Juga Tidak Harus Menuruti Semua Keinginan Gen-Z

Di sisi lain, memahami Gen-Z bukan berarti perusahaan harus mengabulkan semua permintaan karyawan.

Perusahaan tetap memiliki target, aturan, pelanggan, dan kepentingan bisnis yang harus dijaga.

Justru, tantangannya adalah menemukan titik tengah.

Perusahaan dapat memberikan gaji yang layak sekaligus menciptakan kesempatan belajar. Memberikan target tetapi tetap memperhatikan beban kerja. Menuntut profesionalitas tetapi tetap membangun komunikasi yang manusiawi.

Dengan kata lain, kebijakan perusahaan sebaiknya tidak hanya dibuat dari sudut pandang, “Apa yang menguntungkan perusahaan?” tetapi juga, “Bagaimana kebijakan ini memengaruhi orang yang menjalankannya?”

Pada Akhirnya, Bukan Soal Gen-Z yang “Terlalu Banyak Maunya”

Mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat Gen-Z hanya sebagai generasi yang mudah bosan, terlalu kritis, atau tidak tahan tekanan.

Setiap generasi memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan. Gen-Z hanya tumbuh dalam situasi yang berbeda, sehingga ekspektasinya terhadap dunia kerja pun ikut berubah.

Gen-Z sedang mencari keseimbangan antara uang, makna, dan kesejahteraan. Mereka ingin mendapatkan penghasilan yang layak, tetapi juga ingin berkembang, memiliki kehidupan di luar pekerjaan, mendapatkan dukungan dari atasan, dan merasa pekerjaan mereka memiliki arti.

Bagi perusahaan, ini bukan semata-mata tantangan.

Ini justru bisa menjadi kesempatan.

Sebab ketika karyawan merasa dihargai, diberi ruang untuk berkembang, dan memiliki hubungan yang sehat dengan pekerjaannya, perusahaan juga berpotensi mendapatkan karyawan yang lebih terlibat dan termotivasi.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Apa yang Gen-Z inginkan dari perusahaan?”

Tetapi:

“Apa yang bisa perusahaan lakukan agar karyawan, termasuk Gen-Z, merasa bahwa bekerja di sini memang layak untuk dipertahankan?”