Bisnis AS Dibalik Perang Iran Israel

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Zahra Suci Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Serangan udara Amerika Serikat ke Iran beberapa waktu lalu langsung mengguncang pasar global. Aset berisiko seperti kripto, forex, dan saham di berbagai negara anjlok, sementara harga emas melonjak.
Di saat yang sama, minyak mentah meroket setelah Iran memblokir Selat Hormuz jalur vital yang memasok hampir seperlima kebutuhan energi dunia.
Lonjakan harga minyak ini mengancam memicu inflasi global, membebani harga BBM, dan memperburuk biaya hidup masyarakat.
Situasi ini menegaskan bagaimana konflik militer bisa mengganggu stabilitas ekonomi dunia, sesuatu yang kerap dijelaskan teori realism, di mana perebutan kekuasaan dan sumber daya energi menjadi faktor utama interaksi antarnegara.
Israel menyerang Iran bukan tanpa alasan. Sejak lama, kebijakan pertahanan Israel mengikuti Begin Doctrine, sebuah prinsip bahwa mereka tidak akan membiarkan negara musuh di kawasan memiliki senjata pemusnah massal.
Intelijen yang menunjukkan potensi pengembangan nuklir di Iran cukup bagi Israel untuk melancarkan serangan pencegahan.
Israel melihat Iran sebagai ancaman eksistensial, dan dalam logika realisme, menjaga keberlangsungan hidup negara lebih penting daripada menunggu serangan datang lebih dulu.
Lalu mengapa AS ikut campur?
Ada beberapa faktor: kuatnya lobi pro-Israel di Washington DC, kedekatan politik Donald Trump dengan Netanyahu dan elit Saudi, serta rivalitas Arab Saudi Iran yang mendorong AS semakin agresif.
Selain itu, Abraham Accords atau perjanjian damai 2020 yang membuka jalan bagi normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab menciptakan blok politik baru yang membuat isolasi Iran semakin nyata.
Di titik ini, teori liberalism menunjukkan bahwa perjanjian internasional bisa berfungsi bukan hanya untuk perdamaian, tetapi juga untuk memperkuat aliansi menghadapi musuh bersama.
Namun konflik ini juga dipicu oleh faktor identitas. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran dan Israel hidup dalam narasi permusuhan. Israel dianggap “setan kecil”, AS “setan besar”.
Narasi itu terus diwariskan, membentuk kebijakan luar negeri yang keras kepala di kedua pihak. Perspektif ini selaras dengan constructivism, yang menekankan bagaimana identitas dan sejarah membentuk perilaku politik.
Pada akhirnya, perang Israel Iran yang menyeret AS bukan hanya soal militer. Ini adalah cerminan nyata bagaimana teori hubungan internasional bekerja di lapangan bahwa realisme yang menekankan survival, liberalisme yang memperlihatkan kekuatan institusi, hingga konstruktivisme yang menegaskan peran identitas.
