Konten dari Pengguna

Blok M Berpeluang Jadi Kawasan Investasi Jepang melalui Pengembangan TOD

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Suci Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wilayah Kawasan Blok M Square, Ilustrasi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Wilayah Kawasan Blok M Square, Ilustrasi Foto: Shutterstock

Blok M, Jakarta Selatan, kembali masuk dalam daftar kawasan yang tengah disiapkan PT MRT Jakarta (Perseroda) untuk pengembangan Transit Oriented Development (TOD).

Rencana tersebut ikut ditawarkan kepada calon investor dan mitra Jepang dalam Indonesia–Japan Infrastructure and Transportation Business Forum and Business Matching 2026 yang berlangsung di Tokyo pada 27–28 Agustus 2026.

Forum yang digelar KBRI Tokyo bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian itu mempertemukan pemilik proyek Indonesia dengan perusahaan, investor, lembaga pembiayaan, dan mitra strategis dari Jepang.

Sebanyak 32 proyek investasi strategis dengan nilai indikatif Rp207,64 triliun dibawa dalam pertemuan tersebut. Proyek-proyek itu berasal dari sembilan BUMN dan BUMD serta mencakup sektor jalan, properti, perkeretaapian, TOD, pelabuhan, logistik, dan fasilitas fabrikasi baja.

PT MRT Jakarta menjadi salah satu pemilik proyek yang menawarkan rencana pengembangan kepada peserta forum. Ada tujuh proyek TOD di enam lokasi yang disiapkan, seperti Kali Besar Heritage, XGL Mixed-Use, Ultimate Development Blok M, Lebak Bulus Park and Ride, Thamrin Asset Development, Extended Concourse Bundaran HI, dan Dukuh Atas Pedestrian Deck.

Ultimate Development Blok M menjadi salah satu proyek yang menarik karena kawasan ini sudah berada di titik pertemuan sejumlah moda transportasi.

Blok M terhubung dengan MRT Jakarta, Transjakarta, dan Terminal Blok M. Rencana pengembangannya mencakup pengembangan properti dan interkoneksi untuk membentuk kawasan yang lebih terintegrasi.

Konsep tersebut membuat kebutuhan proyek Blok M tidak berhenti pada pembangunan gedung.

Pengembangan kawasan membutuhkan kemampuan di bidang properti, konstruksi, transportasi, teknologi, hingga pembiayaan.

Jenis kebutuhan itu sejalan dengan latar belakang perusahaan Jepang yang hadir dalam forum bisnis tersebut.

Sejumlah nama yang tercatat hadir antara lain Sumitomo Corporation, Toyota Tsusho, Tokyu, JR East, Tokyo Metro, Mitsubishi Electric, Mizuho Bank, dan SMBC. Forum tersebut juga dihadiri 50 perwakilan dari 36 perusahaan dan institusi Jepang.

Kehadiran perusahaan dari berbagai sektor membuka kemungkinan keterlibatan yang berbeda dalam proyek TOD.

Perusahaan properti dapat masuk melalui pengembangan kawasan, perusahaan konstruksi melalui pembangunan fasilitas, perusahaan transportasi melalui pengembangan konektivitas, sedangkan perusahaan teknologi dapat terlibat dalam sistem pendukung transportasi.

Lembaga keuangan juga memiliki posisi tersendiri dalam penyusunan skema pendanaan proyek.

Pertemuan itu merupakan bagian dari proses mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor dan mitra bisnis. Setelah tahap tersebut, kerja sama masih membutuhkan pembicaraan lebih lanjut mengenai bentuk proyek, kelayakan, pembiayaan, dan kesepakatan antarpihak.

Peluang kerja sama dengan perusahaan Jepang juga muncul pada proyek transportasi lain di Jakarta.

Pada awal Agustus 2026, PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) menandatangani Head of Agreement dengan Nippon Signal Co., Ltd. untuk pengembangan teknologi telekomunikasi dan persinyalan transportasi.

Kerja sama tersebut merupakan bagian dari rangkaian business matching proyek MRT Jakarta Fase 3.

Hubungan Indonesia dan Jepang di sektor transportasi memang telah berlangsung jauh sebelum forum tersebut.

Pemerintah Indonesia menyebut Jepang sebagai salah satu mitra yang telah mendukung pembangunan berbagai proyek strategis, termasuk MRT Jakarta, melalui kerja sama investasi, teknologi, dan pengembangan kapasitas.

Pola kerja sama pemerintah dan swasta atau Public-Private Partnership (PPP) seperti ini membuat pengembangan transportasi melibatkan lebih banyak pihak.

Pemerintah membuka kerja sama antarnegara, badan usaha membawa proyek, sementara perusahaan dan lembaga keuangan dapat masuk sesuai kemampuan dan kepentingan bisnis masing-masing.

Kali ini untuk Blok M, forum di Tokyo menjadi salah satu tahap awal untuk memperkenalkan proyek kepada calon mitra Jepang.

Apakah peluang tersebut akan berlanjut menjadi investasi atau kerja sama konkret masih bergantung pada proses penjajakan dan kesepakatan yang dilakukan setelah forum.