Konten dari Pengguna

Mengapa Timur Tengah Jadi Episentrum Krisis Pangan Dunia pada 2025?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Suci Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Kawasan Timur Tengah kembali menjadi episentrum krisis pangan global setelah Laporan Global tentang Krisis Pangan atau Global Report on Food Crises (GRFC) 2025 mencatat lonjakan kerawanan pangan akut untuk tahun keenam berturut-turut.

Di tengah kombinasi mematikan seperti konflik berkepanjangan, guncangan ekonomi, kondisi geografis ekstrem, perubahan iklim, dan ketergantungan sangat tinggi terhadap impor pangan.

Secara global, lebih dari 295 juta orang di 53 negara mengalami kelaparan akut pada tahun 2024 angka tertinggi sejak laporan ini diterbitkan dan kawasan Timur Tengah menjadi salah satu wilayah yang paling terpukul.

Negara-negara seperti Gaza, Sudan, Yaman, Suriah, dan Mali mengalami kondisi kelaparan yang dikategorikan sebagai bencana (IPC Fase 5).

Sementara malnutrisi anak mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dengan hampir 38 juta balita mengalami kekurangan gizi akut.

Salah satu akar persoalan yang membuat negara-negara Timur Tengah sangat rentan adalah faktor geografisnya.

Sebagian besar wilayah berada di zona gurun dengan curah hujan rendah, minim lahan subur, dan keterbatasan sumber air.

Sehingga kemampuan produksi pangan lokal sangat terbatas bahkan pada kondisi normal sekalipun.

Ketergantungan struktural pada Sungai Nil, Tigris, dan Eufrat memunculkan persaingan politik atas akses air, dan ketika perubahan iklim memperburuk kekeringan, harga pangan lokal melonjak tajam.

Kondisi geografis ini diperparah dengan iklim ekstrem, gelombang panas berkepanjangan, musim kering yang semakin panjang, serta badai debu intens yang kerap merusak lahan pertanian dan memutus rantai distribusi.

Fenomena El Niño pada 2024 juga memicu banjir dan kekeringan di beberapa negara, yang berkontribusi pada meningkatnya kerawanan pangan di 18 negara dan memengaruhi lebih dari 96 juta orang.

Selain itu, ketergantungan impor pangan yang sangat tinggi menjadikan negara-negara Timur Tengah rentan terhadap fluktuasi harga global.

Mesir, Yaman, UEA, hingga Arab Saudi mengandalkan gandum, tepung, dan bahan pangan pokok lain dari pasar internasional.

Ketika guncangan ekonomi terjadi seperti inflasi tinggi, depresiasi mata uang, dan pemangkasan bantuan kemanusiaan negara-negara dengan ekonomi lemah seperti Suriah, Yaman, dan Sudan tidak mampu lagi mengimbangi kenaikan harga impor.

GRFC mencatat 59,4 juta orang terdorong masuk ke krisis pangan akibat guncangan ekonomi pada tahun 2024, sebuah angka yang hampir dua kali lipat dibandingkan tingkat pra-pandemi.

Bahkan di negara yang relatif stabil, kenaikan harga impor mendongkrak biaya hidup hingga memicu ketidakpuasan sosial.

Instabilitas politik dan konflik tetap menjadi penentu paling dominan dari krisis pangan di Timur Tengah. GRFC mencatat bahwa hampir 140 juta orang pada tahun 2024 terdampak langsung oleh konflik, dengan Sudan, Gaza, dan Yaman mengalami tingkat kelaparan yang dikonfirmasi sebagai bencana.

Perang tidak hanya menghancurkan lahan pertanian dan infrastruktur logistik, tetapi juga memutus jalur bantuan kemanusiaan.

Blokade terhadap Gaza membuat akses pangan semakin terbatas meski kebutuhan meningkat drastis

Sementara perang di Sudan memaksa jutaan orang mengungsi ke wilayah yang bahkan lebih miskin sumber daya.

Secara total, hampir 95 juta pengungsi paksa kini tinggal di negara-negara yang berada dalam kondisi krisis pangan, termasuk Suriah dan Sudan, sehingga menambah tekanan pada sistem pangan lokal yang sudah rapuh.

Laporan-laporan PBB menegaskan bahwa kondisi ini merupakan "kegagalan kemanusiaan" di mana kelaparan bukan sekadar akibat bencana alam, melainkan kombinasi buruk dari kondisi struktural yang dibiarkan memburuk selama bertahun-tahun.

Prospeknya pun disebut “suram,” karena negara-negara donor besar memangkas dana bantuan secara signifikan di tengah meningkatnya permintaan bantuan.

Tanpa investasi besar dalam ketahanan pangan, pertanian adaptif iklim, stabilitas politik, dan akses kemanusiaan yang aman, krisis pangan di Timur Tengah diproyeksikan akan terus memburuk dan menyeret jutaan orang ke jurang kelaparan yang lebih dalam.