Konten dari Pengguna

Anak Pertama: Kuat di Luar, Capek di Dalam

zahrotul

zahrotul

saya adalah mahasiswa dari kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin dengan mengambil prodi Ilmu Hadis.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari zahrotul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Anak Pertama yang menjadi Tulang Punggung Keluarga. Foto: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Pertama yang menjadi Tulang Punggung Keluarga. Foto: freepik.com

Kamu anak pertama?

Pasti pernah dengar kalimat legendaris ini:

“Kamu harus ngalah, adikmu masih kecil.”

“Kamu kan kakak, harus jadi contoh.”

Dari kecil, anak pertama sudah diajari untuk dewasa lebih cepat. Disuruh mandiri, diminta bantu jaga adik, bahkan kadang jadi "asisten" orang tua. Tapi pernah nggak sih kita ditanya, "Kamu capek nggak?". Apakah semua ini adil? atau justru jadi beban yang tak terlihat?

Jadi Anak Pertama Itu Kayak Latihan Jadi Orang Tua

“Dari kecil disuruh ngalah. Waktu minta mainan dibilang, ‘buat adik dulu ya’. Waktu dimarahin, alasannya selalu karena harus kasih contoh. Waktu pengin nangis, disuruh tahan. Karena kamu kakak.”

Cerita ini bukan satu-dua. Di Twitter, TikTok, sampai forum parenting, keluhan seperti ini sering muncul. Bahkan di TikTok, tagar #anakpertama sudah ditonton lebih dari 400 juta kali (per 2024), dengan ribuan video curhat soal lelahnya jadi ‘kakak selamanya’.

Tuntutan Jadi ‘Anak Sempurna’

Seiring bertambah usia, beban itu ikut tumbuh.

Anak pertama sering jadi tempat curhat orang tua, penengah konflik keluarga, bahkan diminta mikirin masa depan keluarga.

Sebuah penelitian dari University of Essex (2023) menunjukkan bahwa anak pertama cenderung memiliki tingkat stres akademik dan tanggung jawab keluarga lebih tinggi dibanding adik-adiknya.

Tapi sayangnya, karena terlihat “kuat”, banyak emosi mereka yang terabaikan.

Suka Menekan Diri Sendiri

Karena terbiasa dianggap "harus bisa", anak pertama sering punya standar tinggi terhadap diri sendiri. Kalau gagal, rasa bersalahnya dua kali lipat.

Bukan cuma mikirin diri, tapi juga mikirin “nanti orang tua kecewa nggak ya?”

Psikolog keluarga, Dr. Kevin Leman, penulis buku The Birth Order Book, bilang:

“Anak pertama punya kecenderungan menjadi perfeksionis dan sulit menerima kegagalan, karena mereka merasa harus jadi panutan.”

Susah Cerita, Takut Dibilang Drama

Lucunya, anak pertama juga jarang curhat. Kenapa?

Takut dikira lemah. Takut bikin orang tua tambah stres. Takut dibilang lebay.

Padahal, mereka juga manusia biasa yang bisa capek, bingung, dan ingin dimengerti.

Kalau Kamu Anak Pertama, Ini Pesanku:

1. Kamu nggak harus kuat terus. Istirahat itu bukan dosa.

2. Kamu berhak punya hidup sendiri. Menyenangkan orang tua penting, tapi jangan lupakan dirimu sendiri.

3. Kamu boleh minta tolong. Jadi panutan bukan berarti harus jadi superman.

Penutup:

Anak pertama sering dipuji karena “dewasa” dan “bisa diandalkan.” Tapi jarang disadari bahwa kedewasaan itu kadang datang dari terpaksa, bukan tumbuh alami.

Kalau kamu anak pertama dan sedang merasa lelah... tenang, kamu tidak sendirian.

Dan kamu nggak harus kuat setiap hari. Menangis pun nggak bikin kamu jadi kakak yang gagal.