Bukan cinta, Tapi Tekanan: Mengapa Pernikahan Dini Masih Terjadi?

saya adalah mahasiswa dari kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin dengan mengambil prodi Ilmu Hadis.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari zahrotul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isu nikah muda kembali ramai dibahas. Dari influencer, ustaz viral, bahkan anak-anak di bawah umur, semuanya ramai-ramai menyuarakan pentingnya menikah di usia muda. Alasannya pun macam-macam: biar terhindar dari zina, biar lebih cepat dewasa, bahkan ada yang bilang biar “nggak keduluan generasi micin”.
Tapi, seiring romantisasi pernikahan muda di media sosial, banyak yang lupa: pernikahan bukan akhir cerita cinta, justru itu adalah awal kehidupan nyata yang penuh tantangan, dari urusan ekonomi, mental, hingga soal kesetaraan peran.
Dilansir dari JAKARTA,KOMPAS.com- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin dengan pernikahan anak di bawah umur di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan menyoroti ada faktor pemahaman di masyarakat dalam menyikapi perkembangan anak. KPAI merekomendasikan agar Kementrian Dalam Negeri meninjau kondisi regulasi itu, serta pemangku kepentingan di NTB perlu mengadvokasi revisi perda terkait penanganan pernikahan dini semacam itu.
Realita Nggak Seindah Quotes Instagram
Di awal pernikahan, semua terasa manis. Foto prewedding estetik, undangan digital lucu, caption di Instagram penuh pujian. Tapi begitu masuk kehidupan sehari-hari, realita pelan-pelan menampakkan wajah aslinya.
Ada yang harus berhenti kuliah karena fokus ngurus anak. Ada yang tiba-tiba jadi tulang punggung rumah tangga tanpa pernah belajar mengelola keuangan. Ada juga yang perlahan kehilangan mimpi, karena semua waktu tersita untuk bertahan.
Menikah muda memang bisa berhasil. Tapi tanpa persiapan mental dan finansial yang matang, itu ibarat naik gunung tanpa logistik—nekat, dan berisiko tersesat.
---
Tekanan Sosial, Bukan Keinginan Pribadi
Banyak remaja akhirnya memutuskan menikah bukan karena siap, tapi karena merasa harus. Entah karena lingkungan yang menganggap pernikahan adalah tanda kedewasaan, atau karena takut “keburu tua” dan “kehabisan jodoh”.
Padahal, usia bukan satu-satunya ukuran kedewasaan. Ada yang menikah di usia 19 tapi emosinya masih meledak-ledak, ada juga yang baru menikah di usia 30 tapi tahu cara mengelola konflik dengan dewasa.
Masyarakat seringkali melabeli pernikahan sebagai jalan keluar dari “masalah remaja”. Tapi nyatanya, pernikahan yang dipaksakan justru bisa menambah masalah baru. Termasuk perceraian dini, kekerasan dalam rumah tangga, hingga gangguan psikologis. Dilansir dari beritajaktim.com, Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur mencatat bahwa terdapat 3.778 Kepala Keluarga (KK) perempuan di Jawa Timur yang berusia di bawah 20 tahun. Dalam laporannya Berdasarkan data Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2023, dari jumlah tersebut, 856 KK di antaranya dipimpin oleh perempuan yang berusia di bawah 15 tahun, sementara 2.922 KK lainnya dipimpin oleh perempuan berusia 15-19 tahun. “Fenomena ini menunjukkan bahwa pernikahan dini sering kali berakhir pada perceraian,” sebutnya yang dimuat dalam Kompas.com.
---
Menikah Itu Pilihan, Bukan Kewajiban Usia
Yang perlu kita pahami bersama: menikah muda bukan hal yang salah. Tapi juga bukan solusi untuk semua orang. Setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri, dan siap tidaknya menikah tak bisa diukur hanya dari umur.
Daripada sibuk menargetkan “harus menikah sebelum 25”, lebih baik kita fokus pada kesiapan mental, komunikasi, nilai hidup, dan kemampuan membangun relasi yang sehat. Karena pernikahan sejatinya bukan tentang cepat-cepat punya status, tapi tentang komitmen jangka panjang yang perlu dijaga.
---
Kesimpulan: Menikah Bukan Lomba Siapa Cepat, Tapi Siapa Siap
Menikah di usia muda bisa jadi indah, kalau siap mental dan finansial. Tapi bisa juga jadi rumit, kalau hanya ikut-ikutan tren atau tekanan.
Pilihlah pernikahan karena sadar, bukan karena takut. Karena cinta yang matang tidak lahir dari terburu-buru, tapi dari kesiapan untuk tumbuh bersama.
