Konten dari Pengguna

Toxic Positivity: Ketika 'Semangat Terus' Justru Bikin Nyesek

zahrotul

zahrotul

saya adalah mahasiswa dari kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin dengan mengambil prodi Ilmu Hadis.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari zahrotul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi toxic positivity Foto: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi toxic positivity Foto: freepik.com

Pernah curhat soal masalah hidup, terus dibalas,

“Yakin deh kamu bisa!”

“Positive vibes only yaaa!”

“Bersyukur dong, masih banyak yang lebih susah dari kamu.”

Awalnya mungkin terasa memotivasi. Tapi lama-lama, kata-kata itu kayak ngebungkam perasaan. Seakan-akan, nggak boleh sedih, nggak boleh marah, dan nggak boleh capek. Padahal... ya manusia, kan?

Inilah yang disebut toxic positivity, kondisi ketika hal-hal positif dipaksakan secara berlebihan, sampai akhirnya malah menyakiti.

Niatnya Baik, Tapi...

Toxic positivity biasanya datang dari orang-orang terdekat: teman, keluarga, bahkan dari diri sendiri.

Bukan karena jahat, tapi karena nggak tahu harus bereaksi seperti apa.

Menurut psikolog Whitney Goodman, LMFT, dalam bukunya Toxic Positivity (2021),

“Saat seseorang memaksakan sikap positif tanpa memberi ruang untuk rasa sakit, mereka bukan membantu tapi mengabaikan.”

Data: Kita Sering Dipaksa “Bahagia”

Sebuah survei dari American Psychological Association (APA) tahun 2020 menyebut bahwa 63% orang merasa ditekan untuk terlihat baik-baik saja, meskipun sedang tidak baik.

Dan di media sosial, tekanan ini makin kuat. Feeds penuh dengan senyum, liburan, dan kata-kata motivasi, sementara kita sendiri mungkin lagi struggle buat bangun pagi aja.

Emosi Itu Valid, Nggak Usah Dibanding-bandingin

Kita sering diajari buat bersyukur — dan itu bagus. Tapi jangan sampai bersyukur dijadikan alat untuk membungkam perasaan orang.

“Jangan sedih, kamu kan masih punya kerja.”

> Tapi gimana kalau dia tetap stres meski punya kerja?

“Jangan marah dong, sabar aja.”

> Tapi gimana kalau marahnya valid karena terus disalahkan?

Gimana Harusnya?

Nggak semua harus dijawab dengan kalimat motivasi. Kadang cukup bilang:

“Aku dengerin kok.”

“Wajar kamu ngerasa gitu.”

“Aku di sini kalau kamu butuh cerita.”

Karena didengar itu lebih healing daripada dikasih semangat palsu.

Menurut Psikolog UAD Dr. Riana Mashar, S.Psi., M.Si., toxic positivity bisa merusak kualitas komunikasi dan memperburuk kondisi emosional seseorang. “Sering kali, yang dibutuhkan bukan solusi atau nasihat, tapi kehadiran dan pengakuan bahwa emosi mereka valid,” ujarnya kepada Kompas.com.

Penutup: Positif itu perlu, tapi nggak usah maksa terus bahagia.

Sama kayak langit, hidup juga punya hujan, mendung, dan badai. Dan itu normal.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa sedih, marah, atau kecewa, peluk aja dulu rasanya. Karena itu juga bagian dari sehat.