Mental Health Anak Zaman Sekarang Masih Sering Disepelekan, Ini Dampaknya

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari zahwa noer ariefah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tentang: kondisi psikologis anak, pentingnya empati orang dewasa, dukungan mental, tumbuh kembang emosional
Di tengah maraknya isu kesehatan jiwa, kondisi psikologis anak masih sering dianggap remeh. Banyak orang dewasa salah satunya orang tua, guru maupun masyarakat umum beranggapan kalau anak itu hanya perlu senang, bermain, dan belajar tanpa adanya beban. Padahal kenyataannya tidak semudah itu. Kadang anak-anak penuh tekanan dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya, saat anak menunjukkan rasa cemas ataupun keadaan banyak pikiran, banyak orang dewasa yang justru mengabaikannya bahkan menganggap anak lemah. Saat anak mengeluh dan beranggapan bahwa dengan menceritakan apa yang ia rasakan pikiran akan lebih ringan. Namun, saat anak berbagi perasaan, tanggapan orang dewasa justru seperti, “Ah, begitu saja lelah, seperti orang bekerja berat saja.” Kalimat itulah yang membuat anak merasa sendiri dan berfikir bahwa dirinya tidak pantas untuk didengarkan.
Mental health bukan hanya urusan orang dewasa. Tetapi anak juga dapat mengalami depresi, trauma bahkan hingga kehilangan arah. Perbedaannya, mereka belum mampu untuk mengungkapkan perasaannya dengan bahasa tepat. Oleh karena itu, sebagai orang dewasa kepekaan sangat penting. Orang tua dan guru berperan penting sebagai pendengar pertama bagi anak. Bukan untuk langsung memberikan solusi, atau menilai, melainkan untuk mendengarkan dan memahami. Memberikan ruang bagi anak bercerita tanpa takut disalahkan merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti bagi mereka. Jika kesehatan mental anak terus dianggap sepele, dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. Anak dapat merasa tidak layak atau tidak berharga, kesulitan untuk berbaur di lingkungan masyarakat, bahkan bisa membawa kondisi batin yang terluka hingga dewasa. Tindakan seperti itu menunjukkan bahwa sudah saatnya kita berhenti menganggap kesehatan mental dan perasaan anak sebagai hal yang tidak penting. Anak-anak juga memiliki perasaan dan rasa lelah sama seperti orang dewasa. Mereka memiliki harapan untuk didukung, bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik saja, tetapi juga melalui perhatian dan pelukan tulus dari orang-orang di sekitarnya.
