Memahami Konsep Teori Behavioristik dan Teori Humanistik dalam Proses Belajar

Mahasiswi aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zahwatunissa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam proses mengajar, seorang pendidik harus mengetahui kesiapan siswanya. Sangat sulit bagi pendidik untuk mengetahui apakah siswa sudah siap secara fisik dan mental untuk belajar. Selain mengetahui kesiapan, pendidik juga harus mengetahui kematangan siswanya. Dalam hal ini, kematangan mengacu pada pertumbuhan fisik, kognitif, emosional, dan sosial yang dapat membantu seseorang menjalani kehidupan yang lebih baik. Kematangan ini tidak hanya terkait dengan usia itu juga terkait dengan cara seseorang mengambil keputusan, memikul tanggung jawab, dan berinteraksi dengan orang lain. Teori belajar behavioristik dan humanisme adalah teori yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
A. Teori Behavioristik
Perilaku atau behavior dari peserta didik dan pendidik adalah masalah penting dalam psikologi pendidikan. Sebagai proses pendewasaan dari tidak dewasa menjadi dewasa. Kelompok behavioris menyelidiki perilaku sebelum menguasai dan perlu yang sudah menguasai. Para ahli psikologi behavioristik—sering disebut sebagai "contemporary behaviorist" atau "S-R pyshchologist"—mengembangkan teori belajar psikologi behavioristik. Para ahli ini berpendapat bahwa ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcment) dari lingkungan mengontrol perilaku atau tingkah laku manusia. JB Waston, ER Guthrie, Thorndike, dan Pavlov adalah para ahli yang membangun teori belajar behavioristik. Terdapat beberapa prinsip teori behavioristik yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
Teori ini beranggapan bahwa yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang yang dikatakan sudah belajar jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu.
Teori ini beranggapan bahwa yang terpenting dalam belajar adalah adanya stimulus dan respon, sebab inilah yang dapat diamati.
Reinforocment, yaitu apa saja yang dapat menguatkan timbulnya respon, merupakan faktor penting dalam belajar.
B. Teori Humanistik
Pendekatan humanistik berfokus pada kebutuhan dan peran siswa. Metode ini berpendapat bahwa bahan ajar atau materi pendidikan harus dianggap sebagai suatu kesatuan yang melibatkan setiap siswa secara keseluruhan, bukan hanya sebagai sesuatu yang bersifat intelektual semata-mata. Berikut beberapa prinsip belajar humanistik menurut roger:
Manusia memiliki keinginan alami untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu, dan keinginan mendalam untuk mengeksplor pengalaman baru.
Belajar akan lebih cepat dan bermakna jika materi yang dipelajari sesuai dengan kebutuhan siswa.
Belajar dapat ditingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar.
Belajar partisifatif jauh lebih efisien daripada belajar pasif.
Belajar sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran dan perasaan, akan lebih baik dan bertahan lama.
Menilai diri sendiri tidak begitu penting untuk meningkatkan kebebasan, kreativitas, dan kepercayaan diri dalam belajar.
Perbandingan antara Teori Behavioristik dan Teori Humanistik
Fokus dan tujuan pembelajaran dalam teori humanistik dan behavioristik berbeda. Teori behavioristik berfokus pada perubahan perilaku yang dapat diamati dan diukur. Tujuannya adalah untuk memberi siswa kesempatan untuk mengembangkan perilaku tertentu dengan memberikan reward dan hukuman. Sebaliknya, fokus teori humanistik adalah pencapaian potensi setiap individu, yang mencakup aspek kognitif, emosional, dan sosial. Siswa diharapkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang apa yang mereka pelajari di kelas dan bagaimana pelajaran tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
