Konten dari Pengguna

Flores Tak Hanya Labuan Bajo: Menyusuri Pesona Pesisir Tonggo

Zaid Asidik Pua Jiwa
Mahasiswa Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada
1 Desember 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Flores Tak Hanya Labuan Bajo: Menyusuri Pesona Pesisir Tonggo
Tonggo, pesisir Flores yang damai, menghadirkan pantai berbatu, laut jernih, serta kehidupan nelayan yang autentik, menawarkan wisata alternatif yang hangat jauh dari hiruk-pikuk Labuan Bajo.
Zaid Asidik Pua Jiwa
Tulisan dari Zaid Asidik Pua Jiwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pemandangan Laut di Ma'u Embo, Pombo, dan Ma'u Bare dari Ngazu Uta Pusu. Gambar ini diambil oleh @zaidazidiq, penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan Laut di Ma'u Embo, Pombo, dan Ma'u Bare dari Ngazu Uta Pusu. Gambar ini diambil oleh @zaidazidiq, penulis.
ADVERTISEMENT
Flores bukan hanya sekadar Labuan Bajo. Ketika menyebut “Flores”, Labuan Bajo mungkin menjadi hal pertama yang terlintas di pikiran banyak orang. Bayangan tentang laut biru, kapal pinisi, dan perbukitan yang menawan, yang tersebar luas di media sosial, pasti menarik perhatian. Destinasi ini telah menjadi ikon utama pariwisata di Nusa Tenggara Timur, terutama setelah ditetapkan sebagai salah satu dari sepuluh destinasi prioritas nasional pada tahun 2019 oleh Presiden Jokowi. Labuan Bajo terus menarik wisatawan, baik dari lokal maupun internasional.
ADVERTISEMENT
Hamparan pantai berpasir putih, keindahan alam bawah laut, dan pemandangan matahari terbit dan terbenam yang memukau membuat Labuan Bajo seolah menjadi gerbang menuju keindahan Flores. Namun, Flores menyimpan lebih banyak hal menarik lainnya. Di bagian tengah pulau ini, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Tonggo di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, yang diam-diam menyimpan pesona alam yang tak kalah menakjubkan.
Meskipun pantai-pantai di Tonggo mungkin tak selalu menjadi destinasi wisata terpopuler, justru hal itu yang membuatnya begitu unik. Selain hamparan lautan yang jernih, garis pantai-pantai di Tonggo juga memiliki formasi batu alami dalam berbagai ukuran, menciptakan lanskap yang khas. Di kampung-kampung seperti Ma’u Embo, Pombo, Ma’u Bare, Ma’u Tonggo, dan kampung-kampung pesisir lainnya, pengunjung dapat merasakan perpaduan harmonis antara laut biru, perbukitan hijau, dan bebatuan berwarna, sebuah pemandangan eksotis sekaligus menenangkan.
Pemandangan sunrise di Ma'u Bare. Gambar ini diambil oleh @zaidazidiq, penulis.
Pagi hari adalah waktu yang ideal untuk menikmati matahari terbit di Tonggo. Langit perlahan-lahan berubah warna menjadi keemasan saat sinar matahari pertama memantul di lautan yang tenang. Ketika air pasang, pengunjung dapat berenang dan melihat ikan-ikan kecil berenang di antara terumbu karang yang masih terjaga. Airnya sangat jernih, sampai-sampai ada candaan di kalangan warga setempat bahwa ikan-ikan di sana bisa merasa malu karena terus-menerus terlihat oleh manusia dari atas permukaan.
ADVERTISEMENT
Ketika air surut, pantai berganti wajah, memperlihatkan bebatuan dan terumbu karang yang sebelumnya tersembunyi, membuka ruang baru bagi aktivitas warga dan pengunjung. Masyarakat setempat sering memanfaatkan waktu ini untuk mencari kima (bahasa Ende) dan biota laut lainnya. Bagi yang hobi memancing, Tonggo adalah surga kecil, cukup dengan melempar pancing dari bebatuan di tepi pantai, menunggu sebentar, dan hasil tangkapan dapat langsung dibakar serta dinikmati bersama semilir angin laut yang sejuk. Pengalaman sederhana seperti ini sering kali lebih mengesankan dibandingkan dengan paket wisata yang mahal.
Perjalanan menuju Tonggo dari kota Ende memerlukan waktu sekitar satu setengah jam menggunakan sepeda motor atau mobil. Meskipun perjalanannya mungkin terasa panjang, pemandangan yang disuguhkan sangat memanjakan mata: hamparan lautan biru yang luas membentang di sepanjang jalan, dikelilingi oleh tebing-tebing menjulang, desa-desa kecil, dan perbukitan hijau. Perjalanan itu sendiri menjadi pengalaman yang tak terlupakan, bukan sekadar rute menuju tujuan.
Pantai berbatu di Pu'u Luto. Gambar ini diambil oleh @zaidazidiq, penulis.
Di balik keindahan alamnya, Tonggo menyimpan sisi lain yang jarang dilihat: kehidupan sederhana masyarakat pesisirnya. Sebagian besar adalah nelayan kecil, yang hanya bermodalkan perahu dan peralatan seadanya. Setiap malam hingga pagi, mereka melaut, menghadapi gelombang dan cuaca yang tak menentu, berharap bisa pulang membawa hasil tangkapan ikan yang cukup untuk menghidupi keluarga mereka. Pendapatan mereka sangat bergantung oleh musim dan pembeli.
ADVERTISEMENT
Rumah-rumah di Tonggo umumnya sederhana; beberapa dibangun dari papan kayu atau anyaman bambu dan beratap seng yang menjadi panas di siang hari. Akses terhadap layanan dasar seperti layanan kesehatan dan pendidikan masih menjadi tantangan. Anak-anak harus menempuh jarak yang jauh menuju sekolah, dan pusat kesehatan terdekat berjarak beberapa kilometer dan sulit dijangkau karena terbatasnya sumber daya keuangan dan transportasi jika ada anggota keluarga yang memerlukan perawatan serius.
Namun, kehidupan sosial di Tonggo dipenuhi oleh rasa kebersamaan yang kuat. Masyarakat saling membantu dalam proses pembangunan rumah, menggelar hajatan, dan kegiatan lainnya. Para nelayan saling berbagi informasi tentang waktu memancing, kondisi cuaca, dan lokasi memancing terbaik. Di sore hari, anak-anak bermain di tepi pantai sementara orang dewasa duduk di teras atau di atas batu besar, membicarakan hasil tangkapan dan rencana mereka untuk keesokan harinya.
ADVERTISEMENT
Di tengah suasana yang hangat dan ramah ini, desa ini sedang menghadapi tantangan besar: peningkatan permukaan laut menyebabkan abrasi, serta penurunan demografi, terutama di kalangan generasi muda. Banyak yang pindah ke kota-kota lain di Flores, atau bahkan keluar dari Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mencari kesempatan pekerjaan yang lebih baik. Kurangnya kesempatan dan kesulitan dalam mencari nafkah yang bergantung dari laut membuat keputusan ini dapat dimaklumi. Namun, penurunan ini justru berdampak pada berkurangnya jumlah anak muda yang seharusnya menjadi agen perubahan serta melestarikan dan menjaga tradisi lokal.
Dengan pengelolaan yang baik dan partisipasi aktif masyarakat desa, potensi pariwisata Tonggo bisa menjadi solusi untuk mengangkat desa ini keluar dari lingkaran kemiskinan. Garis pantainya yang unik dan berbatu, air laut yang jernih, dan budaya nelayan yang autentik dapat menarik wisatawan yang mencari alternatif dari hiruk pikuk Labuan Bajo. “Tonggo tidak perlu meniru destinasi wisata lainnya, ia hanya perlu menjadi desa pesisir Flores yang indah, ramah, dan hangat dalam menyambut siapa pun yang datang”.
ADVERTISEMENT