Trauma, Eksploitasi, dan Kebuntuan dalam film Beasts of No Nation (2015)

Mahasiswa Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zaid Asidik Pua Jiwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum perang, Agu dan keluarganya menjalani kehidupan yang normal, penuh canda tawa, harapan, dan cinta. Namun, setelah perang dimulai, segalanya berantakan. Kedamaian berubah menjadi kehancuran, dan kehangatan keluarga berubah menjadi trauma mendalam.
Perang tidak hanya merenggut nyawa ayah, kakek, dan saudara Agu, tetapi juga merenggut masa kecilnya. Dengan hati yang penuh dendam, Agu memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pemberontak mencari ibu dan adiknya. Sebuah ironi yang menyedihkan: alih-alih bermain dan belajar bersama teman-temannya, Agu terpaksa mengangkat senjata dan menjalani hidup sebagai seorang prajurit.
Perang tidak sepenuhnya berakhir ketika Agu meletakkan senjatanya. Baginya, perang terus berlanjut, terwujud dalam kepedihan kehilangan ayah, kakek, dan saudaranya. Dalam penderitaan yang mendalam ini, dengan rasa takut yang selalu menghantui dan tekad yang kuat untuk bertahan hidup, Agu membuat pilihan yang tragis: bergabung dengan para pemberontak. Namun motivasinya bukanlah keberanian atau patriotisme; melainkan balas dendam, balas dendam yang seharusnya tidak ada dalam pikiran seorang anak pun. Agu seharusnya belajar dan bermain, bukan menutup hatinya terhadap kebencian dan mengangkat senjata.
Hati nurani Agu terus-menerus diganggu oleh pertanyaan yang menyiksa: “Tuhan, aku tahu ini adalah hal yang buruk, tetapi aku juga percaya, ini adalah hal yang harus dilakukan”. Film ini menggambarkan kerentanan seorang anak yang terjebak dalam sistem yang merampas masa depannya. Dalam kesepian dan kehilangannya, Agu mencari perlindungan dari sang Komandan dan berharap pada orang dewasa yang diyakininya memahami kehidupannya. Namun, kepercayaan ini menjadi dalih untuk pelecehan dan eksploitasi seksual oleh Komandan. Di sini, terungkap kebenaran yang menghancurkan: saat seorang anak kehilangan segalanya, bahkan keputusan untuk memercayai orang dewasa pun bisa menjadi kutukan. Agu bukan hanya korban perang, tetapi juga korban sistem yang mengeksploitasi kelemahan dan keputusasaannya.
Perang adalah kekerasan yang tiada batas: perempuan diperkosa, anak-anak dirampas masa depannya, dan laki-laki, tentara maupun warga sipil, terjebak dalam mesin pembunuh yang menuntut nyawa mereka sebagai harga balas dendam. Terjebak dalam dilema moral dan eksistensial, mereka diliputi rasa bersalah yang mendalam. Dalam sebuah momen yang mengharukan, Agu berseru: “Tuhan, apakah engkau melihat apa yang kami lakukan?” Ini menunjukkan bagaimana perasaan bersalah membebani mereka atas tindakan yang mereka lakukan. Ini juga mengungkap kebenaran pahit: dalam perang tidak ada pemenang, yang ada hanyalah korban yang semakin banyak.
Kepentingan individu memicu efek domino yang menghancurkan jutaan nyawa. Seperti yang dikatakan Two-IC, “ini semua sia-sia”. Perang sia-sia bukan karena tidak ada pemenang, melainkan karena semua pihak kehilangan segalanya: keluarga, kemanusiaan, dan masa depan. Jika kemenangan hanya diukur semata-mata dengan mengalahkan musuh, lalu bagaimana dengan keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai? Bagaimana dengan nasib anak-anak yang tidak pernah tumbuh dewasa?
Di era saat ini, perang bukan lagi sebuah kewajiban; perang hanya membawa kerusakan yang menyeluruh. Film ini mengungkap realitas yang memilukan: Dalam perang, tidak ada persahabatan sejati, hanya kepentingan pribadi yang mengalahkan semua belas kasih. Agu mengungkapkan keputusasaannya dalam satu kalimat: “Satu-satunya cara untuk tidak berperang adalah dengan tewas”. Ia tidak lagi bermimpi pulang atau bermain dengan teman-temannya. Ia hanya berharap kegelapan terus menyelimuti medan perang agar tidak seorang pun melihat kehampaan. Bahkan di antara rekan-rekannya, seruan untuk meminta pertolongan dari saudara-saudara mereka yang gugur hanyalah ratapan kosong, karena tidak seorang pun mampu menyelamatkan mereka.
Momen menyentuh lainnya saat Agu berdoa kepada ibunya, bukan kepada Tuhan: “Mama, aku hanya bisa berbicara denganmu sekarang, karena Tuhan tidak mendengar”. Ungkapan ini mencerminkan keputusasaan seorang anak yang terpisah dari pelindungnya. Bayangkan beban berat yang dipikulnya: dibesarkan tanpa sosok ibu, terjebak di antara kehidupan dan kematian, kelaparan dan tidak bisa tidur. Ketika Agu akhirnya pulang, ia bukan lagi anak yang dicintai seperti dulu, melainkan seorang anak yang tersiksa oleh dendam, trauma, dan rasa bersalah. Para pekerja sosial berusaha menyembuhkan luka batinnya, tetapi Agu terjebak dalam dilema: “Aku mengingat hal-hal buruk, jika aku bercerita, itu akan membuatku sedih” ujarnya. “Aku merasa seperti binatang buas, atau iblis”, aku semua itu. Trauma tersebut telah mengubahnya, dan penyembuhan tidak semudah kata-kata penghiburan.
Segala upaya rehabilitasi tetap terbatas selama sistem yang melanggengkan perang masih ada. Pertanyaan pentingnya adalah: Siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan yang terus berlanjut dan menghancurkan ini? Negara? Para komandan perang? Penguasa yang tidak bermoral? Ataukah sistem global yang memelihara berlangsungnya perang? Agu dan jutaan anak-anak sepertinya merupakan simbol dari kegagalan kolektif, bukan hanya bagi mereka yang terlibat dalam perang, tetapi juga bagi mereka yang hanya diam dan tidak berbuat apa-apa.
