Konten dari Pengguna

Panaskan Persaingan Antaprodi, Gunung Kidul FC Juara Spectrum FISIP UNS 2025

Zaidan Akhsan

Zaidan Akhsan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaidan Akhsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumen Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumen Pribadi Penulis

Bagi saya, pertandingan futsal tidak selalu tentang siapa yang paling banyak mencetak gol atau siapa yang akhirnya membawa pulang trofi. Di balik pertandingan, ada proses bertemu dengan orang baru, membangun kerja sama, membawa nama program studi, dan merasakan persaingan dengan mahasiswa yang sebelumnya mungkin jarang berinteraksi. Hal tersebut saya lihat dalam Spectrum FISIP UNS, kegiatan futsal yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai program studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS).

Spectrum diselenggarakan oleh BEM FISIP UNS pada 3–4 Oktober 2025 di Lapangan Fakultas Pertanian UNS. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari seluruh program studi di FISIP UNS, yaitu Administrasi Negara, Administrasi Negara PSDKU, Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, dan Sosiologi. Pertemuan berbagai program studi dalam satu lapangan membuat kompetisi terasa berbeda karena setiap tim tidak hanya bermain untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa nama program studi masing-masing.

Menurut saya, hal inilah yang membuat Spectrum menarik. Dalam kehidupan perkuliahan sehari-hari, mahasiswa biasanya lebih sering berinteraksi dengan teman satu program studi. Namun, melalui kegiatan seperti Spectrum, batas tersebut menjadi lebih cair. Mahasiswa dari berbagai program studi dapat bertemu dalam situasi yang lebih santai, meskipun tetap memiliki semangat untuk memenangkan pertandingan.

Futsal sendiri bukan pilihan yang muncul secara kebetulan. Menurut Ketua Pelaksana Spectrum, Danendra Farras Asmoro, futsal sudah menjadi salah satu agenda yang berlangsung secara turun-temurun di lingkungan FISIP UNS. Selain itu, futsal juga menjadi salah satu olahraga yang memiliki banyak peminat di kalangan mahasiswa FISIP.

“Futsal merupakan agenda turun-temurun yang sudah lama berlangsung. Dan minat bakat mahasiswa FISIP yang paling besar ialah futsal,” kata Danendra.

Pernyataan tersebut menurut saya menunjukkan bahwa keberadaan Spectrum memiliki alasan yang cukup kuat. Kegiatan ini bukan sekadar mengadakan pertandingan untuk mencari pemenang, tetapi juga menyediakan ruang bagi mahasiswa yang memiliki minat dan kemampuan di bidang futsal. Danendra menjelaskan bahwa tujuan utama Spectrum adalah mewadahi minat dan bakat mahasiswa FISIP agar kemampuan tersebut dapat terus berkembang.

“Tujuan utama diselenggarakannya Futsal Spectrum adalah mewadahi minat dan bakat mahasiswa dari prodi FISIP di ranah futsal yang nantinya diharap bisa berkembang ke level berikutnya,” ujar Danendra.

Selama pertandingan berlangsung, suasana kompetisi terasa cukup kuat. Setiap tim berusaha memberikan permainan terbaiknya untuk melangkah ke babak berikutnya. Sistem pertandingan dimulai dari babak grup, kemudian dilanjutkan ke semifinal hingga final. Dengan sistem tersebut, setiap tim memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sebelum akhirnya tersaring menjadi tim-tim yang melaju ke babak akhir.

Menurut saya, persaingan seperti ini justru menjadi bagian yang menarik dari Spectrum. Ketika pertandingan dimulai, setiap pemain memiliki tujuan yang sama, yaitu memenangkan pertandingan. Namun, di luar lapangan, mereka tetap merupakan bagian dari lingkungan FISIP UNS yang sama. Persaingan akhirnya tidak hanya menghasilkan pertandingan yang kompetitif, tetapi juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk belajar bekerja sama dan menghargai tim lain.

Antusiasme mahasiswa dari masing-masing program studi juga menjadi salah satu hal yang membuat kegiatan ini terasa hidup. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pemain, tetapi juga memberikan dukungan kepada tim yang membawa nama program studinya. Danendra menilai antusiasme tersebut sangat positif karena mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan sekaligus membawa kebanggaan bagi program studi masing-masing.

“Antusias sangat positif karena mahasiswa FISIP bisa mengembangkan skill-nya sekaligus membanggakan nama prodi,” ujar Danendra.

Bagi saya, membawa nama program studi dalam sebuah pertandingan memberikan pengalaman yang berbeda. Ada rasa bangga ketika tim sendiri berhasil mencetak gol atau memenangkan pertandingan. Di sisi lain, ada juga rasa kecewa ketika tim harus tersingkir. Namun, dari situ justru terlihat bahwa kegiatan olahraga dapat memberikan pengalaman emosional yang tidak selalu didapatkan dalam kegiatan perkuliahan.

Pada akhirnya, pertandingan menghasilkan tiga tim terbaik. Gunung Kidul FC dari Sosiologi berhasil menjadi juara pertama. Posisi kedua diraih Madura United dari Administrasi Negara PSDKU, sedangkan Timnas Indonesia dari Ilmu Komunikasi menempati posisi ketiga.

Kemenangan Gunung Kidul FC tentu menjadi pencapaian tersendiri bagi mahasiswa Sosiologi. Setelah melewati rangkaian pertandingan, mereka berhasil menjadi tim terbaik dalam Spectrum. Sementara itu, Madura United dan Timnas Indonesia juga menunjukkan bahwa persaingan antaprodi berlangsung cukup kompetitif hingga babak akhir.

Namun, menurut saya, hasil akhir bukan satu-satunya hal yang penting dari kegiatan ini. Jika Spectrum hanya dilihat dari siapa yang menjadi juara, maka makna kegiatan akan menjadi jauh lebih sempit. Ada proses yang berlangsung sebelum pertandingan, selama pertandingan, hingga setelah pertandingan selesai.

Penyelenggaraan kegiatan juga membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Danendra mengatakan bahwa persiapan Spectrum telah dilakukan sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan. Panitia harus memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi selama pertandingan berlangsung. Bagi saya, hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan yang terlihat sederhana dari luar ternyata membutuhkan persiapan yang cukup matang.

Pemilihan Lapangan Fakultas Pertanian UNS sebagai lokasi pertandingan juga dilakukan melalui pertimbangan. Dari beberapa pilihan lapangan yang ada, lokasi tersebut dinilai lebih sesuai dari sisi anggaran dan kualitas. Keputusan seperti ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan kegiatan mahasiswa tidak hanya berbicara tentang konsep acara, tetapi juga mengenai bagaimana panitia menyesuaikan kegiatan dengan kondisi dan sumber daya yang tersedia.

Hal lain yang menurut saya menarik adalah keterlibatan mahasiswa FISIP secara keseluruhan. Danendra menjelaskan bahwa pihak yang terlibat dalam Spectrum berasal dari keluarga mahasiswa FISIP, baik sebagai panitia maupun peserta. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi ruang bersama bagi mahasiswa FISIP untuk berinteraksi di luar kegiatan akademik.

Spectrum pada akhirnya membuat saya melihat bahwa kegiatan mahasiswa tidak harus selalu berlangsung dalam bentuk seminar, diskusi, atau kegiatan akademik. Olahraga juga dapat menjadi media untuk membangun hubungan antarmahasiswa. Melalui pertandingan futsal, mahasiswa dapat belajar mengenai kerja sama, komunikasi, sportivitas, dan bagaimana menghadapi kemenangan maupun kekalahan.

Menurut saya, kegiatan seperti Spectrum perlu terus dipertahankan karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat dan bakat sekaligus memperluas pergaulan di lingkungan fakultas. Apalagi jika kegiatan tersebut dapat dikembangkan sehingga mahasiswa yang memiliki kemampuan lebih di bidang futsal mempunyai kesempatan untuk membawa kemampuannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, Spectrum bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Gunung Kidul FC memang menjadi juara, tetapi seluruh tim yang mengikuti pertandingan juga membawa pulang pengalaman masing-masing. Ada pengalaman bertanding, bertemu mahasiswa dari program studi lain, membangun kerja sama, hingga merasakan bagaimana rasanya membawa nama program studi di lapangan.

Bagi saya, justru hal tersebut yang membuat Spectrum memiliki makna lebih dari sekadar kompetisi futsal. Lapangan menjadi tempat mahasiswa saling berhadapan sebagai lawan selama pertandingan, tetapi pada saat yang sama juga menjadi tempat mereka bertemu sebagai bagian dari satu lingkungan FISIP UNS. Dari sebuah pertandingan futsal, kebersamaan antarmahasiswa dapat tumbuh dengan cara yang sederhana, tetapi tetap bermakna.