Konten dari Pengguna

Semua Ingin Viral: Ketika Popularitas Lebih Penting daripada Kualitas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Zaidan Nashir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Penulis

Di era media sosial, satu video bisa mengubah hidup seseorang dalam semalam. Namun, ketika jumlah penonton menjadi ukuran keberhasilan, apakah kita masih peduli pada kualitas, etika, dan dampak dari konten yang dibagikan?

Pagi itu, seorang pemuda membuka ponselnya sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur. Ia memeriksa notifikasi, melihat jumlah penayangan video yang diunggah malam sebelumnya, lalu berpindah ke kolom komentar. Ada beberapa pujian, sejumlah kritik, dan satu komentar yang membuatnya tersenyum karena videonya mulai dibagikan banyak orang.

Angka penayangan terus bertambah. Ia merasa senang, seolah-olah sesuatu yang besar sedang terjadi dalam hidupnya.

Hari berikutnya, ia mencoba membuat video serupa. Kali ini, ia menambahkan judul yang lebih provokatif, ekspresi yang lebih berlebihan, dan potongan adegan yang sengaja dibuat mengejutkan. Video itu ternyata tidak mendapatkan perhatian sebesar sebelumnya.

Ia pun mencoba lagi. Sedikit lebih kontroversial, sedikit lebih berani, dan kalau perlu, sedikit lebih jauh dari kebiasaan yang selama ini ia pegang.

Cerita seperti ini bukan gambaran semua pengguna media sosial. Banyak orang membuat konten untuk berbagi pengetahuan, berkarya, menghibur, atau membangun usaha. Namun, ada satu kecenderungan yang patut kita perhatikan: ketika perhatian publik menjadi sesuatu yang diperebutkan, sebagian orang mulai menyesuaikan perilakunya bukan demi kualitas, melainkan demi peluang untuk viral.

Di TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform lainnya, popularitas dapat datang dari hal-hal yang tidak pernah direncanakan. Video sederhana bisa menyebar luas, sementara karya yang dibuat dengan serius justru luput dari perhatian. Dalam situasi seperti ini, batas antara kreativitas, pencarian pengakuan, dan eksploitasi perhatian menjadi semakin tipis.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar mengapa orang ingin viral. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang rela mereka lakukan demi mendapatkan perhatian tersebut.

Media Sosial Bukan Lagi Sekadar Tempat Berbagi

Bagi banyak orang Indonesia, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk berkomunikasi dengan keluarga, mencari hiburan, mengikuti berita, mempromosikan usaha, hingga membangun identitas profesional.

Laporan Digital 2025: Indonesia dari DataReportal mencatat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2025. Angka itu setara dengan 50,2 persen dari jumlah penduduk saat itu. DataReportal juga memberikan catatan penting bahwa identitas pengguna tidak selalu mewakili individu unik karena kemungkinan akun ganda dan keterbatasan metodologi penghitungan.

Data tersebut memperlihatkan betapa luasnya ruang digital dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika begitu banyak orang berkumpul di platform yang sama, perhatian publik menjadi sesuatu yang bernilai.

Bagi pelaku usaha, perhatian dapat berubah menjadi pelanggan. Bagi kreator, perhatian bisa membuka peluang kerja sama komersial. Bagi masyarakat biasa, perhatian dapat menghadirkan pengakuan yang sebelumnya sulit diperoleh.

Tidak mengherankan jika jumlah pengikut, tanda suka, komentar, dan penayangan sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Angka-angka itu mudah dilihat, mudah dibandingkan, dan terasa konkret.

Masalahnya, sesuatu yang mudah dihitung belum tentu menggambarkan nilai yang sesungguhnya.

Video yang ditonton jutaan kali belum tentu memberikan manfaat besar. Sebaliknya, konten edukasi yang hanya menjangkau ratusan orang tetap dapat membantu seseorang memahami persoalan penting. Namun, ketika perhatian publik menjadi tujuan utama, perbedaan antara popularitas dan kualitas sering kali terlupakan.

Mengapa Konten Sensasional Lebih Mudah Menarik Perhatian?

Coba perhatikan kebiasaan kita ketika menggulir layar. Judul yang memancing kemarahan, potongan video yang mengejutkan, atau pertengkaran di ruang publik sering kali membuat kita berhenti lebih lama daripada informasi yang disampaikan secara tenang.

Ada alasan mengapa konten semacam itu menarik perhatian. Manusia cenderung memberikan respons terhadap sesuatu yang dianggap mengejutkan, mengancam, menghibur, atau berkaitan dengan kepentingannya. Di media sosial, respons tersebut dapat muncul dalam bentuk komentar, pembagian ulang, atau perdebatan panjang.

Namun, tidak tepat jika kita menyimpulkan bahwa seluruh konten viral selalu buruk atau bahwa algoritma semua platform bekerja dengan cara yang persis sama. Sistem rekomendasi memiliki mekanisme berbeda dan terus berubah. Konten yang populer juga bisa berupa karya seni, informasi bermanfaat, kisah inspiratif, atau edukasi yang disampaikan secara kreatif.

Persoalan muncul ketika sensasi menjadi jalan pintas untuk mendapatkan perhatian.

Seseorang mungkin sengaja memotong pernyataan orang lain agar terdengar kontroversial. Kreator lain bisa merekam konflik pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang yang terlibat. Ada pula konten yang menggunakan judul berlebihan, sementara isi videonya tidak memberikan informasi sesuai janji.

Dalam kondisi seperti ini, perhatian bukan lagi hasil dari kualitas karya, melainkan hasil dari kemampuan memancing reaksi.

Akibatnya, publik berisiko menghabiskan waktu memperdebatkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting, sementara persoalan yang membutuhkan perhatian serius justru tenggelam. Ruang digital menjadi ramai, tetapi keramaian tidak selalu menghasilkan pemahaman.

Ketika Kehidupan Pribadi Menjadi Bahan Konten

Budaya viral juga mengubah cara sebagian orang memandang kehidupan sehari-hari. Momen yang dahulu cukup dinikmati bersama keluarga atau teman kini berpotensi berubah menjadi bahan unggahan.

Makan bersama direkam. Pertengkaran dibagikan. Kesedihan dijadikan cerita bersambung. Bahkan, peristiwa yang melibatkan orang lain terkadang dipublikasikan sebelum mereka sempat memberikan persetujuan.

Tentu saja, mendokumentasikan kehidupan bukan sesuatu yang salah. Berbagi pengalaman dapat membangun kedekatan, membuka percakapan tentang masalah sosial, dan membantu orang lain merasa tidak sendirian. Konten yang menceritakan perjuangan hidup, misalnya, bisa memberikan inspirasi bagi mereka yang menghadapi kesulitan serupa.

Namun, persoalan etika muncul ketika keinginan memperoleh penonton mengalahkan hak orang lain atas privasi dan martabatnya.

Bayangkan seseorang yang sedang mengalami musibah. Alih-alih segera memberikan pertolongan, orang di sekitarnya justru sibuk mengeluarkan ponsel untuk merekam. Video tersebut kemudian menyebar luas, lengkap dengan komentar dari orang-orang yang tidak mengetahui konteks kejadian.

Dalam situasi seperti itu, kita perlu bertanya: apakah merekam dan menyebarkan peristiwa tersebut benar-benar membantu, atau justru mengubah penderitaan seseorang menjadi tontonan?

Pertanyaan yang sama berlaku ketika orang tua mengunggah momen anak menangis, ketika seseorang menyebarkan percakapan pribadi, atau ketika konflik rumah tangga diumbar demi mendapatkan simpati publik.

Tidak semua pengalaman harus dipublikasikan. Tidak semua peristiwa perlu dijadikan konten. Ada batas antara berbagi cerita dan mengambil keuntungan dari kehidupan orang lain.

Harga Diri yang Diukur dengan Jumlah Penonton

Budaya viral tidak hanya memengaruhi cara seseorang membuat konten, tetapi juga dapat memengaruhi cara ia menilai dirinya sendiri.

Ketika unggahan mendapatkan banyak tanda suka, seseorang mungkin merasa dihargai. Ketika penayangannya menurun, ia bisa merasa bahwa dirinya tidak lagi menarik. Perbandingan dengan kreator lain pun mudah terjadi, terutama ketika lini masa dipenuhi pencapaian, penampilan, dan kehidupan yang tampak sempurna.

Namun, angka di layar bukan ukuran lengkap tentang nilai seseorang. Jumlah pengikut tidak otomatis menunjukkan kecerdasan, kebaikan, kompetensi, atau kualitas hubungan yang dimiliki seseorang.

Ada orang yang bekerja dengan sangat baik tanpa dikenal publik. Ada pula orang yang memiliki pengaruh besar melalui kegiatan sosial di lingkungan kecilnya. Kontribusi mereka tetap bermakna meskipun tidak pernah menjadi tren.

Karena itu, kita perlu berhati-hati agar popularitas digital tidak berubah menjadi standar tunggal untuk menilai keberhasilan.

Bagi kreator, penurunan penayangan tidak selalu berarti kualitas karya memburuk. Banyak faktor dapat memengaruhi jangkauan konten, mulai dari karakteristik audiens hingga perubahan sistem rekomendasi. Bagi pengguna biasa, sedikitnya tanda suka bukan bukti bahwa pengalaman atau pendapat mereka tidak berharga.

Media sosial seharusnya menjadi sarana untuk berekspresi, bukan ruang yang menentukan seluruh harga diri seseorang.

Viral Bukan Berarti Benar

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: kecepatan penyebaran informasi sering kali mendahului proses pemeriksaan kebenaran.

Sebuah video dapat dipotong dari konteks aslinya, foto lama dapat dibagikan seolah-olah merupakan peristiwa terbaru, dan klaim yang belum terbukti dapat menyebar luas karena sesuai dengan emosi atau keyakinan sebagian pengguna.

Kementerian Komunikasi dan Digital dalam berbagai pernyataannya menyoroti penyebaran hoaks dan disinformasi sebagai tantangan serius di ruang digital. Pemerintah juga menekankan perlunya kerja sama antara pemerintah, media, lembaga pendidikan, industri, dan masyarakat untuk memperkuat penanganan informasi palsu.

Tantangan ini semakin besar ketika orang membagikan informasi hanya karena judulnya mengejutkan atau karena unggahan tersebut sudah dibagikan banyak orang.

Jumlah penayangan tidak membuktikan kebenaran. Banyaknya komentar juga tidak menjamin informasi telah diperiksa. Bahkan, konten yang terlihat meyakinkan tetap bisa mengandung kekeliruan atau manipulasi.

Sebelum membagikan unggahan, pengguna perlu memeriksa sumber aslinya, tanggal publikasi, konteks peristiwa, dan apakah ada sumber tepercaya lain yang mengonfirmasi informasi tersebut. Jika suatu klaim belum dapat diverifikasi, menahan diri untuk tidak menyebarkannya merupakan pilihan yang bertanggung jawab.

Kebiasaan sederhana ini penting karena setiap pengguna bukan hanya konsumen informasi. Ketika menekan tombol bagikan, kita juga ikut menentukan informasi apa yang beredar di masyarakat.

Bukan Berarti Kita Harus Berhenti Membuat Konten

Mengkritik budaya viral bukan berarti kita harus menolak popularitas atau menganggap semua kreator mengejar perhatian dengan cara yang salah.

Banyak orang membangun usaha melalui media sosial, memperkenalkan karya lokal, mengangkat persoalan yang diabaikan, dan membantu masyarakat memahami isu yang rumit. Kreator yang mampu menyampaikan pesan penting dengan cara menarik justru dapat memberikan manfaat besar.

Popularitas dan kualitas tidak harus saling bertentangan. Konten yang informatif tetap bisa menghibur. Kritik sosial dapat dikemas secara kreatif. Promosi produk dapat dilakukan tanpa menipu konsumen. Kisah pribadi dapat dibagikan tanpa melanggar privasi orang lain.

Yang dibutuhkan adalah kesadaran tentang tujuan dan konsekuensi.

Kreator perlu mempertimbangkan apakah kontennya memberikan informasi yang benar, menghormati pihak yang terlibat, dan tidak sengaja menyesatkan penonton. Pengiklan perlu memperhatikan kejujuran promosi. Platform digital juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan transparansi dan menangani konten yang melanggar aturan.

Sementara itu, pengguna perlu belajar membedakan konten yang menarik dari konten yang benar-benar bermanfaat.

Kita tidak harus berhenti menikmati hiburan. Kita hanya perlu lebih sadar ketika hiburan berubah menjadi eksploitasi, ketika kritik berubah menjadi perundungan, atau ketika kreativitas berubah menjadi manipulasi.

Mengembalikan Makna di Balik Angka

Pada akhirnya, budaya viral mencerminkan pilihan yang kita buat bersama sebagai masyarakat digital.

Platform menyediakan ruang, kreator membuat konten, dan pengguna memberikan perhatian. Ketiganya saling memengaruhi. Karena itu, tanggung jawab membangun ruang digital yang lebih sehat tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja.

Kita dapat memulainya dengan kebiasaan sederhana: tidak langsung membagikan informasi yang belum jelas, tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai hiburan, tidak ikut menyerang seseorang hanya karena sedang menjadi sasaran kemarahan publik, dan tidak mengukur harga diri semata-mata melalui statistik media sosial.

Kita juga perlu memberi ruang bagi konten yang membawa manfaat. Menghargai karya yang berkualitas, mendukung usaha kecil, membaca informasi sampai selesai, dan berdiskusi dengan kepala dingin merupakan cara untuk memperkuat budaya digital yang lebih sehat.

Sebab, perhatian publik adalah sumber daya yang berharga. Apa yang kita tonton, komentari, dan sebarkan ikut menentukan hal-hal apa yang terus muncul di ruang digital.

Mungkin kita tidak dapat mengendalikan semua tren yang datang setiap hari. Kita juga tidak bisa memastikan bahwa konten yang baik akan selalu lebih populer daripada konten sensasional. Namun, kita tetap memiliki pilihan untuk tidak menjadikan viralitas sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Pada akhirnya, yang perlu kita kejar bukan sekadar berapa banyak orang melihat sesuatu yang kita buat, melainkan apakah sesuatu itu layak dilihat, dipahami, dan dibagikan.

Sebab, menjadi viral mungkin membuat seseorang dikenal banyak orang. Namun, kualitaslah yang menentukan apakah sesuatu pantas untuk terus diingat.

Opini | Penulis : Muhammad Zaidan Nashir