Dari Nama Anier ke Anyer: Menjelajah Anyer dari Jejak Tamil dan Pelaut Portugis

Aktivis Sosial, Konten kreator, Founder Bank Sampah Jaga Bumi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Zaenal Mustofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anyer Dalam memori kolektif masyarakat Indonesia, nama Anyer kerap terperangkap dalam penyederhanaan sejarah. Publik mengenal kawasan di pesisir barat Banten ini sebatas destinasi liburan akhir pekan atau sekadar titik mula pembangunan Jalan Raya Pos (Grote Postweg) oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1808.
Narasi tunggal tersebut seolah mengunci Anyer sebagai ruang geografis yang baru "hidup" ketika kolonialisme Eropa menyentuh tanah Jawa. Padahal, penelusuran kartografi kuno, dokumen arsip kolonial, dan kajian toponimi menunjukkan konstruksi peradaban yang jauh lebih tua dan kompleks.
Jauh sebelum Daendels menancapkan patok titik nol kilometernya, Mega proyek ambisius jalan yang membelah pulau Jawa, Anyer—Panarukan, nama Anyer yang tercatat dalam arsip-arsip tua sebagai Anier atau Anjer—adalah simpul peradaban maritim kuno sejak era Hindu-Buddha.
Dari sudut pandang geografis masa lalu, Anyer beroperasi layaknya "bagian dari Sumatra di tanah Jawa" (Harahap, 2021). Wilayah ini bertindak sebagai gerbang (gateway) utama perlintasan antarpulau sekaligus pangkalan penting dalam jaringan perdagangan global Asia.
Bukti bahwa Anyer merupakan kawasan permukiman kuno terpeta secara jelas dalam dokumen pelayaran Portugis abad ke-16. Sejarawan Akhir Matua Harahap (2021) dalam kajiannya terhadap koleksi arsip Tropenmuseum dan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Leiden, menemukan bahwa pesisir barat Jawa dan perairan Selat Sunda telah ditandai secara presisi oleh para navigator Eropa.
"Pada peta-peta Portugis dan peta VOC awal, wilayah pantai barat Jawa dan Selat Sunda digambarkan dengan toponimi yang merujuk pada artikulasi bahasa kuno, seperti Anier, Charita, Carcata (Krakatau), Lampoan (Lampung), dan Banta (Banten)," catat Akhir Matua Harahap dalam Studi Kartografi Kuno Selat Sunda (2021).
Dari sudut pandang etimologi, nama Anier atau Anir diduga kuat berakar dari bahasa Tamil—salah satu rumpun bahasa klasik dan peradaban tertua di India Selatan—yang merujuk pada bunga anyelir (Dianthus caryophyllus). Penamaan ini menjadi jejak linguistik otentik atas intensitas kehadiran pedagang serta pelaut Tamil yang telah lama menjelajahi koridor maritim Nusantara.
Secara historis, pengaruh peradaban India berkembang pesat di Sumatra sebelum merambah Jawa melalui jaringan perdagangan komoditas berharga seperti emas, gading, kamper, dan kemenyan. Bangsa Portugis—yang telah mendirikan pangkalan dagang di Goa dan Surat (India) sejak akhir abad ke-15—merekam nama-nama tempat di pesisir Nusantara berdasarkan fonetik asli yang berakulturasi dengan bahasa Tamil. Dampaknya, ortografi pada peta Portugis justru lebih mendekati ejaan lokal kuno dibandingkan dengan peta-peta buatan bangsa Eropa lainnya.
Pergeseran Fonetik VOC dan Legalitas Administrasi dalam Staatsblad
Masuknya kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada awal abad ke-17 merestrukturisasi dokumentasi spasial kawasan ini. Peta Belanda bertahun 1660 mencatat penyesuaian fonetik: Anier diubah menjadi Anjer, sedangkan Banta disesuaikan menjadi Bantam atau Bantan.
Penetapan Anjer tidak berhenti sebagai sebutan geografi di atas peta semata, melainkan dibakukan secara hukum dalam lembaran negara resmi (Staatsblad Nederlandsch-Indië) pada abad ke-19. Pemerintah Hindia Belanda mengukuhkan fungsi Anjer sebagai unit administratif strategis serta simpul logistik pertahanan di Banten Barat.
Secara kronologis, transformasi nama dan legitimasi hukum kawasan pesisir ini dapat ditelusuri sebagai berikut:
Abad XVI (Era Portugis): Dicatat sebagai Anier atau Anir. Rujukan leksikalnya berakar dari bahasa Tamil yang merujuk pada bunga anyelir, sebagaimana terekam otentik dalam Peta Navigasi Portugis Abad 16.
Abad XVII (Era VOC): Ejaan disesuaikan menjadi Anjer mengikuti fonetik dan ejaan Belanda anjelier (anyelir). Perubahan ortografi ini terdokumentasi dalam Cartography VOC 1660 koleksi KITLV Leiden.
Tahun 1819 (Staatsblad No. 16/1819): Pasca-era penyerahan kembali dari Inggris ke Belanda, pembentukan Keresidenan Bantam melalui Staatsblad No. 16 Tahun 1819 secara resmi memasukkan Anjer sebagai wilayah pembagian administratif resmi di bawah Kabupaten Utara (Serang).
Tahun 1828 (Staatsblad No. 266/1828): Melalui reorganisasi wilayah Keresidenan Banten pasca-Perang Jawa, kedudukan Anjer dipertegas dalam struktur distrik (kewedanan) dan onderdistrik (kecamatan), sekaligus difungsikan sebagai pos pelabuhan logistik laut dan stasiun karantina.
Tahun 1863 (Staatsblad Pengangkatan Pejabat): Anjer dinaikkan statusnya dalam tata kepemerintahan sebagai wilayah Afdeeling yang dipimpin oleh seorang pejabat Assistent Resident Anjer, sebagaimana terekam dalam lembaran persetujuan penunjukan birokrasi kolonial.
Pasca-1883 hingga Era Modern: Pasca-letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883, permukiman baru yang dibangun para penyintas dinamai Anyar (bermakna "Baru" dalam bahasa Sunda dan Jawa Banten). Dalam perkembangannya serta seiring standardisasi ejaan bahasa Indonesia modern pasca-kemerdekaan, nama ini bertransisi menjadi Anyer, sebagaimana terdokumentasi dalam arsip Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten.
Perubahan ortografi ini bukan sekadar kekeliruan lafal, melainkan mencerminkan perbedaan rute navigasi dan sumber pengetahuan. Armada Belanda berlayar langsung menyeberangi Samudra Hindia dari Afrika Selatan tanpa melintasi pangkalan di India. Akibatnya, mereka menyerap dan menyesuaikan nama-nama tempat di pantai barat Jawa ke dalam struktur fonetik bahasa Belanda, yang kemudian dilegalkannya melalui instrumen hukum Staatsblad.
Transisi Islamisasi dan Pos Sudi Mampir Kesultanan Banten
Dinamika kawasan barat Jawa mengalami pergeseran fundamental pada abad ke-16. Pasca-penguasaan Pelabuhan Banten oleh Pasukan Demak pada 1526, Sunan Gunung Jati bersama putranya, Maulana Hasanuddin, memelopori penyebaran Islam secara meluas. Seiring meluasnya pengaruh Islam dan redupnya kekuasaan Pakuan Pajajaran pada 1579, sisa-sisa era Hindu perlahan terlebur dalam struktur administrasi Kesultanan Banten.
Secara kewilayhan Selat Sunda merupakan koridor lalu lintas maritim yang sangat dinamis. Kota pelabuhan Anier berdiri tepat di titik penyeberangan tersempit yang menghubungkan barat Pulau Jawa dengan selatan Pulau Sumatra (yang diidentifikasi sebagai Dampin dan Lampoan pada peta Portugis).
Sejarawan maritim A.B. Lapian dalam Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17 (2008) menjelaskan bahwa ketika jalur utama di Selat Malaka mendapat tekanan geopolitik dari kekuatan kolonial Eropa, Selat Sunda naik peran menjadi jalur perlintasan internasional utama.
Dalam struktur kekuasaan Kesultanan Banten, kawasan ini memegang peran khusus sejak 1667 dengan sebutan Sudi Mampir—secara harfiah bermakna "Sudi/Rela untuk Mampir". Wilayah ini berfungsi sebagai pos pengawas (outpost) dan tempat perhentian (transit anchorage) bagi kapal-kapal dagang sebelum memasuki Pelabuhan Karangantu, pusat akses menuju Keraton Surosowan.
Letusan Gunung Krakatau 1883 dan Lahirnya 'Anyar'
Titik balik yang merobohkan bentuk fisik dan demografi kawasan ini terjadi pada 27 Agustus 1883. Erupsi dahsyat Gunung Krakatau memicu gelombang tsunami raksasa yang meratakan kawasan pesisir. Fasilitas infrastruktur kolonial, termasuk mercusuar awal era Daendels, hancur total. Katastrofe global ini memusnahkan hampir seluruh kehidupan di Sudi Mampir dan meninggalkan kehampaan ekologis serta sosial.
Pascabencana inilah yang kemudian mendorong gelombang migrasi baru. Para pendatang dari daerah sekitar Banten (Pandeglang, Serang, Ciomas, Mancak) serta kawasan luar Jawa (Padang, Lampung, Batak, dan Riau) mulai mendirikan permukiman kembali di wilayah yang kini oleh masyarakat lokal menyebut kawasan permukiman baru ini sebagai Anyar, yang dalam bahasa Sunda maupun Jawa Banten berarti "Baru".
Pemerintah Kolonial Belanda tetap menggunakan ejaan Anjer dalam administrasi tertulis dan Staatsblad pasca-bencana, yang kemudian disesuaikan menjadi Anyer pada masa pasca-kemerdekaan mengikuti Ejaan Bahasa Indonesia.
Pada 1885, di bawah pemerintahan Raja Willem III, Hindia Belanda mendirikan kembali Mercusuar Cikoneng setinggi 75 meter di lokasi yang sama—bangunan yang hingga kini berdiri sebagai situs cagar budaya dan menjadi salah satu ikon pariwisata di pantai Anyer.
Rekam jejak ini membuktikan bahwa Anyer bukan sekadar peninggalan kolonial abad ke-19, apalagi sekadar komoditas pariwisata pesisir. Dari kota kuno Anier yang tercatat di peta navigasi Portugis abad ke-16, dibakukan dalam lembaran negara Staatsblad Hindia Belanda, menjadi pos pengawas Sudi Mampir milik Kesultanan Banten, hingga bangkit kembali pasca-bencana Krakatau 1883, Anyer menunjukkan kontinuitas fungsi geostrategis yang melintasi berbagai era peradaban Nusantara.
