Konten dari Pengguna

Potensi Wisata di Anyer: Menyusuri Eksotisme Gunung Pabeasan Anyer, Banten

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaenal Mustofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Pabeasan, Anyer, Banten. Foto: Dok.Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Pabeasan, Anyer, Banten. Foto: Dok.Pribadi

Kalau mendengar nama Anyer, bayangan kita hampir pasti langsung tertuju pada garis pantai, suara ombak, atau sekadar deretan penginapan di pinggir laut. Tapi kalau kita bersedia menoleh sedikit ke arah daratan—di perbatasan antara Kabupaten Serang dan Cilegon—ada satu lanskap yang menyimpan cerita jauh lebih dalam: Gunung Pabeasan.

​Gunung ini bukan sekadar hamparan hijau biasa. Di balik rimbun vegetasinya, masyarakat sekitar masih merawat sebuah cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Cerita tentang naga penunggu puncak yang bertugas menjaga pedaringan, gentong tanah liat tempat menyimpan beras. Konon, pada malam-malam bulan purnama, sang naga dipercaya terbang melintasi langit desa menuju Kawah Naga atau Kawah Cikaraha di Kampung Kareo. Mitos ini bukan cuma dongeng pengantar tidur, melainkan simbol harapan warga akan tanah yang subur dan panen melimpah.

Gunung Pabeasan Anyer, tampak dari jalan baru bendungan kali Anyer @2026, Dok. Pribadi

​Menariknya, mitos tersebut beririsan dengan keajaiban geologis yang nyata. Di bawah kaki gunung, di tengah hamparan sawah Desa Sindangkarya, muncul manifestasi panas bumi berupa kawah air panas alami. Kolam hidrothermal ini seolah jadi tempat istirahat sempurna setelah menelusuri keasrian alam Pabeasan.

​Bicara soal jalur pendakian, perjalanan menuju puncak Pabeasan menyuguhkan petualangan visual yang menyegarkan. Kita bisa memulai trek dari dua pintu masuk, yaitu Desa Banjarsari atau Desa Sindangmandi. Begitu kaki melangkah, pemandangan awal langsung disambut hijau petak sawah terasering dengan latar perbukitan yang kokoh. Jalan setapak kemudian perlahan memasuki rerimbunan pohon, di mana udara dingin pegunungan dan suara riuh khas hutan tropis mulai mengambil alih suasana.

Aliran sungai dari jalur Gunung Pabeasan Anyer di Kp.Garung yang berada di kaki gunung terdekat @2026 Dok.Pribadi

​Setelah berjalan sekitar dua hingga tiga jam menanjak, rasa lelah akan terbayar lunas di puncak. Gunung Pabesan ini memiliki ketinggian Sekitar 572 meter di atas permukaan laut. Nama lain dari gunung ini dikenal juga sebagai Pasir Pabeasan, Anyer Peak, atau Piek van Anjer sejak masa kolonial.

Dari titik tertinggi puncak Pabeasan, mata kita akan disuguhi pemandangan spektakuler yang langka: kombinasi hamparan perbukitan hijau, pemukiman warga, hingga birunya garis pantai Selat Sunda yang membentang di kejauhan. Sebuah lanskap yang menyatukan nuansa gunung dan laut dalam satu jangkauan pandang.

Gunung Pabeasan Anyer, @2026 Dok.Pribadi

​Akses menuju kawasan ini kian bersahabat dengan jalan utama yang telah dibeton dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Potensi besar ini menegaskan bahwa Anyer menyimpan alternatif wisata yang memikat di luar pesisir pantai. Kendati demikian, penting diketahui bahwa baik Gunung Pabeasan maupun Kawah Naga saat ini belum dikelola secara resmi sebagai objek wisata. Bagi para pelancong yang hendak berkunjung dan mengeksplorasi keindahan alam ini, disarankan untuk terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak pemerintah desa atau menghubungi warga setempat guna memperoleh informasi yang sesuai, petunjuk arah, serta panduan keselamatan selama berwisata.