Salah Kaprah Memahami Geger Cilegon: Propaganda Belanda Mengecilkan Perang Sabil

Aktivis Sosial, Konten kreator, Founder Bank Sampah Jaga Bumi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Zaenal Mustofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berdiri gagah di pusat kota, Tugu Geger Cilegon kerap jadi pengingat keberanian para pendahulu kita. Monumen ini jelas jadi kebanggaan warga lokal dan bukti nyata betapa gigihnya rakyat menumbangkan kesewenang-wenangan penjajah. Cilegon memang memegang peran penting sebagai titik awal pergerakan. Namun, jika kita mau melangkah sedikit ke belakang dan membuka arsip tua kolonial, ada narasi besar yang selama ini terdistorsi. Belanda dengan cerdik melabeli perlawanan rakyat Banten tahun 1888 hanya sebagai het rumoer van Tjelegon—sekadar kegaduhan lokal yang kerdil. Salah kaprah ini terbawa sampai sekarang, membuat kita lupa bahwa letupan di Cilegon itu sebenarnya cuma pemantik awal dari gerakan raksasa yang sempat membuat Batavia gemetar dan memaksa intelijen kolonial bekerja ekstra keras.

Jika kita membedah lagi lembaran arsip tua dan catatan sejarah, peristiwa tahun 1888 sebenarnya adalah gerakan serentak yang dipandegani (dipimpin dan digerakkan) oleh para ulama serta tokoh perlawanan dari berbagai penjuru tanah Banten. Gerakan ini diserukan oleh para pejuang sebagai "Perang Sabil Banten 1305 H / 1888 M". Istilah Perang Sabil (perang membela agama Islam melawan musuh atau penjajah) menjadi landasan utama perjuangan mereka. Letupan perlawanan ini tidak muncul begitu saja. Ada penderitaan bertumpuk yang dirasakan rakyat setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda. Bayangkan saja, rakyat diimpit pajak berat—seperti roetdienst (kerja paksa tanpa dibayar) dan hoofdbeitrag (pajak kepala atau per orang yang wajib dibayar oleh setiap orang yang hidup dan hanya karena tinggal di wilayah kolonial, tanpa peduli punya harta atau tidak)—ditambah kemiskinan, wabah penyakit ternak, trauma dan gagal panen pasca-letusan Gunung Krakatau 1883. Suasana makin panas saat pejabat kolonial Belanda bersama pamong praja (pegawai negeri pengurus daerah yang kala itu berpihak ke Belanda) mulai mengusik ranah paling sensitif: kebebasan beragama. Menara masjid di Cilegon dirobohkan, zikir bersuara keras (dzikir jahr) dilarang, dan ruang gerak para pengikut tarekat (jalan menuju kebenaran dalam tasawuf atau kelompok pengajian) dipersempit.
Di balik gerakan raksasa ini (Perang Sabil 1888), ada pemetaan tokoh yang memiliki peran, tugas, dan tanggung jawabnya masing-masing. Di pihak pejuang, ada Ki Wasid dari Beji, Cilegon. Beliau adalah kiai karismatik pimpinan pesantren yang bertindak sebagai panglima taktis di lapangan. Tugas utamanya mengomandoi massa, merebut kantor kepatihan, membebaskan tahanan politik, dan memimpin pertempuran sampai gugur di daerah Sumur (ujung kulon), Pandeglang. Ki Wasid tidak bergerak sendiri; beliau berjuang bersama Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, Serang, seorang tokoh spiritual berdarah bangsawan Kesultanan Banten. Tugas Tubagus Ismail adalah menggalang dukungan jaringan kebangsawaan, memimpin bai'at (pengucapan janji setia kepada pemimpin), serta menyatukan elemen rakyat dan ulama.
Gerakan mereka mendapat legitimasi moral dari Makkah melalui restu dua ulama besar asal Banten yang mengajar di tanah suci, yaitu Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Syeikh Abdul Karim Al-Bantani. Lewat wadah Tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah (TQN), para ulama ini membakar semangat rakyat untuk menumbangkan penjajahan demi mengembalikan kebebasan beragama.
Sebaliknya, di pihak kolonial ada H.H. Gubbels selaku Asisten Residen Cilegon (pejabat tinggi pemerintah Belanda), Wedana Cilegon Francois Henri Dumas, dan Patih Ardi Sasmita (pejabat pamong praja lokal yang memihak Belanda). Tugas dan kepentingan mereka murni untuk melanggengkan kekuasaan Hindia Belanda, mengeksekusi penarikan pajak, serta mengawasi gerak-gerik keagamaan rakyat. Ketika Subuh meletus pada Senin, 9 Juli 1888 (29 Syawal 1305 H), pasukan pejuang di bawah pimpinan Ki Wasid merebut kantor kepatihan Cilegon dan menumbangkan pejabat-pejabat yang pro-Belanda tersebut. Francois Henri Dumas sempat melarikan diri dan bersembunyi di rumah tetangganya yang seorang Jaksa, sementara Gubbels dan Ardi Sasmita tewas dalam penyerangan. Namun, Cilegon sebenarnya cuma pemicu awal. Rencana besarnya adalah bergerak bersama menuju ibu kota Serang untuk meruntuhkan pusat pemerintahan Belanda. Sayang, kabar jatuhnya Cilegon cepat sampai ke Batavia (Jakarta) lewat telegraf, hingga Batalyon Infanteri ke-11 dikirim untuk memotong pergerakan pejuang. Pertempuran pun berubah menjadi perang gerilya (perang yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah) di Banten Selatan, sampai para pimpinan gugur pada 30 Juli 1888.
Uniknya, kalau kita baca laporan resmi pemerintah Hindia Belanda—seperti Koloniaal Verslag 1889 (laporan resmi tahunan pemerintah kolonial) atau dokumen di Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional di Den Haag, Belanda)—pihak Belanda secara konsisten menggunakan istilah het rumoer van Tjelegon (kegaduhan di Cilegon) atau onlusten (kerusuhan atau kekacauan). Sejarawan Prof. Sartono Kartodirdjo dalam bukunya, The Peasants' Revolt of Banten in 1888, membongkar habis berkas pemeriksaan polisi kolonial yang disebut proces-verbal (berita acara pemeriksaan). Sartono menegaskan bahwa penyebutan "keributan lokal" ini adalah trik framing (pembentukan sudut pandang media atau propaganda) oleh Belanda. Pihak kolonial sengaja mengecilkan skala perlawanan ini di mata dunia internasional. Soalnya, kalau Belanda sampai mengaku ini adalah Perang Sabil se-Banten, sama saja mereka terang-terangan mengakui bahwa kekuasaan mereka sudah runtuh total di tanah Banten. Dahsyatnya guncangan perlawanan ini dibuktikan dengan keputusan Gubernur Jenderal (Besluit van den Gouverneur-Generaal) yang mengasingkan 94 pejuang Banten seumur hidup ke tempat-tempat terpencil di Nusantara, seperti Ambon, Banda, Ternate, Manado, Makassar, Kupang, hingga Padang. Jadi keputusan pengasingan para pejuang ini seolah mengkonfirmasi bahwa peristiwa perang Sabil 1888 bukan hanya sekedar peristiwa kerusuhan lokal di tingkat kota saja.
Jejak pertempuran narasi ini bahkan diabadikan secara fisik oleh Belanda melalui tugu obelisk tua di pusat Kota Cilegon (Monument ter herinnering aan de slachtoffers van het rumoer van Tjelegon). Pada tugu tersebut, Belanda mengukir nama-nama pejabat mereka yang tewas, termasuk nama Wedana Cilegon Francois Henri Dumas. Tugu obelisk tersebut didirikan Belanda sebagai simbol penghormatan bagi korban dari pihak mereka sekaligus penanda berdirinya kembali kekuasaan kolonial. Namun, memasuki era Pendudukan Jepang (1942–1943), monumen peninggalan Belanda itu dihancurkan total seiring gelombang pembongkaran simbol-simbol kolonialisme Barat di berbagai daerah. Kini, posisi fisik tugu kolonial itu telah digantikan oleh Monumen Geger Cilegon 1888 di Jalan Jenderal Sudirman (Masih di pusat Kota Cilegon namun berada di titik yang berbeda) —sebuah monumen modern yang didirikan Pemkot Cilegon dengan narasi yang berbalik 180 derajat: murni untuk menghormati dan mengenang perjuangan Ki Wasid, Tubagus Ismail, para santri, serta seluruh rakyat Banten. Yang telah diresmikan pada 10 November 2025.
Pasca-peristiwa 1888, pemerintah kolonial mengutus Dr. Christian Snouck Hurgronje, seorang orientalis (ahli tentang kebudayaan, bahasa, dan sejarah Timur atau Asia) yang bekerja sebagai Adviseur voor Inlandsche Zaken (Penasihat Urusan Pribumi) sekaligus agen intelijen Belanda. Snouck—yang sempat menyusup dan menyamar dengan nama "Abdul Ghaffar" saat tinggal di Makkah—bertugas membedah peta kekuatan umat Islam di Banten. Dari riset intelijen ini, Snouck merumuskan doktrin (ajaran atau prinsip dasar) terkenal bernama Islam Politiek (Splitsingstheorie atau teori pemisahan). Tujuannya jelas: menyarankan pemerintah Belanda memberi kebebasan pada rakyat dalam urusan ibadah murni untuk menenangkan massa, tetapi wajib menindak tegas tanpa ampun setiap pergerakan Islam yang mulai mengarah ke politik dan perlawanan.
Melihat kembali peristiwa 1888 memberi kita sudut pandang yang lebih utuh. Tugu Geger Cilegon yang berdiri saat ini menjadi simbol kebanggaan atas keberanian para pendahulu, sementara narasi Perang Sabil Banten 1888 mengingatkan kita bahwa sejarah ini adalah milik seluruh masyarakat Banten dari Anyer sampai Lebak. Dari perjalanan sejarah monumen dan peristiwanya, kita belajar betapa berbahayanya manipulasi informasi. Cara Belanda mengecilkan perang besar menjadi sekadar "keributan lokal" adalah bukti nyata bahwa framing media dan simbol kekuasaan sudah dimainkan sejak lama. Pada akhirnya, warisan terpenting dari 1888 adalah nilai kebersamaannya. Persatuan antara perjuangan ulama, santri, tokoh masyarakat, buruh, petani, nelayan dan rakyat demi membela keadilan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pegangan moral dan identitas bersama yang masih sangat relevan untuk menjaga Banten hari ini.
