Benarkah Vanessa Sembuh dari Lumpuh Setelah Disuntik Vaksin Nusantara?

Ahli bedah saraf, Guru Besar Fakultas Kedokteran Undip.
Konten dari Pengguna
9 Mei 2022 14:44
·
waktu baca 8 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Zainal-Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Foto: Puspa Perwitasari/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Foto: Puspa Perwitasari/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Yuk kita coba pahami dengan ilmu kedokteran, bukan ilmu perdukunan. Dalam beberapa hari terakhir ini, di pelbagai media muncul berita tentang remaja 13 thtahun, Remasa Vanessa, yang dikatakan langsung sembuh dari kelumpuhan dan bisa jalan kembali segera setelah disuntik Vaksin Nusantara.
ADVERTISEMENT
Tubuh manusia tersusun atas pelbagai organ (mata, hati, jantung, paru, dll.) dan sistem (sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem sirkulasi darah, dsb.) yang semuanya bekerja baik dengan dikoordinasikan oleh sistem saraf dan sistem hormone/ endokrin. Sistem alat gerak (sistem lokomosi) khususnya lengan dan tungkai terdiri atas tulang (alat gerak pasif) yang terbungkus oleh banyak serabut otot (alat gerak aktif).

Lumpuh: Definisi dan Jenisnya

KSP Moeldoko menerima suntikan vaksin Nusantara. Foto: Instagram/@ dr_moeldoko
zoom-in-whitePerbesar
KSP Moeldoko menerima suntikan vaksin Nusantara. Foto: Instagram/@ dr_moeldoko
Istilah lumpuh dipahami sebagai keadaan di mana terjadi kelemahan gerak atau ketidakmampuan untuk menggerakkan lengan dan tungkai (secara bersamaan maupun sendiri-sendiri). Untuk dapat bergerak, diperlukan peran dari banyak organ dan sistem yang terkoordinasi dengan baik dan bukan sekadar otak atau sistem saraf yang baik.
Dengan pemahaman yang komprehensif diharapkan tidak terjadi gagal paham dan disinformasi yang menjerumuskan, terutama bagi masyarakat awam. Hal inilah yang menjadi dasar dan tujuan tulisan ini kami buat. Gerak bisa terjadi bila otot-otot tertentu berkontraksi/ memendek (di saat bersamaan ada otot-otot lain yang mengendor/ relaksasi) atas perintah dan koordinasi oleh otak melalui serabut saraf yang ujung-ujungnya menempel/ menyatu dengan serabut otot (neuro-muscular junction).
ADVERTISEMENT
Selain itu, gerak bisa terjadi bila tersedia kecukupan energi atau bahan bakar dan oksigen yang secara terus menerus dipasok melalui sistem pembuluh darah. Energi untuk otot agar bisa berkontraksi-relaksasi terdiri atas zat gula glukosa dalam darah atau enersi cadangan berupa glikogen yang tersimpan dalam serabut otot.
Dengan pemahaman yang komprehensif mari kita telaah gangguan atau penyakit apa saja yang bisa menyebabkan seseorang mengalami kelemahan sampai kelumpuhan dalam menggerakkan lengan atau tungkainya.

1. Stroke

Stroke Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Stroke Foto: Thinkstock
Pada stroke dan gangguan otak lain seperti tumor otak, kelumpuhan atau kelemahan gerak terjadi akibat kerusakan/ kematian sel-sel otak sehingga tidak ada perintah untuk bergerak, atau ada perintah tapi tidak bisa tersampaikan ke serabut otot. Bila gangguan ini terjadi di otak kecil kita, orang jadi sulit berdiri/ berjalan bukan karena kelemahan/ kelumpuhan, tapi terjadi gangguan keseimbangan (bagi awam ketidakmampuan untuk berdiri/ berjalan ini bisa saja dianggap sebagai kelumpuhan). Proses penyembuhan kelumpuhan pada kasus stroke lazimnya tidak mungkin terjadi secara instan/ tiba-tiba, dengan pengobatan apa pun, karena memerlukan latihan fisik yang terus-menerus sampai 6-9 bulan.
ADVERTISEMENT

2. Penyakit Parkinson

Pada Parkinson, kemampuan untuk berdiri atau berjalan terganggu akibat tidak adanya koordinasi yang sinergis dari beberapa kelompok otot yang berbeda. Gangguan koordinasi dan sinergitas ini terkait dengan berkurangnya produksi dopamine atau berkurangnya kepekaan sel-sel saraf tertentu terhadap dopamine.
Saat kita berkehendak untuk melangkah ke depan, maka sistem saraf akan memerintahkan otot paha depan kita untuk kontraksi (memendek atau lebih tegang), dan secara bersamaan otot-otot paha belakang harus relaksasi (menjadi kendor atau memanjang).
Sinergitas seperti ini terganggu sehingga pasien Parkinson sulit untuk melangkah, dan bagi awam hal ini sering dianggap sebagai kelemahan atau kelumpuhan. Gejala dan gangguan pada Parkinson bisa diatasi dengan mudah dan cepat dengan control suplementasi obat-obatan yang diminumkan setiap hari seumur hidup.
ADVERTISEMENT

3. Penyakit Diabetes Mellitus (DM) atau Kencing Manis

com-Ilustrasi diabetes. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi diabetes. Foto: Shutterstock
Pada DM yang menahun dan tidak terkontrol akan menyebabkan kerusakan pada ujung serabut saraf yang menempel pada serabut otot (Neuropati). Selain itu, DM yang menahun juga menimbulkan kerusakan yang luas pada pembuluh darah halus (angiopati) yang berperan memasok energi dan oksigen ke otot sehingga bisa berujung pada terjadinya kelemahan/ kelumpuhan.
Kondisi serupa juga terjadi pada orang dengan penyumbatan pembuluh darah besar di tungkai (peripheral arterial disease ). Kelemahan otot pada DM yang menahun ini tidak bisa diperbaiki, tetapi bisa dicegah supaya tidak semakin berat dengan cara kontrol gula darah yang baik.

4. Saraf Terjepit di Tulang Belakang

Layanan penanganan saraf kejepit dengan PELD dan PECD di Eka Hospital.  Foto: Dok. Eka Hospital
zoom-in-whitePerbesar
Layanan penanganan saraf kejepit dengan PELD dan PECD di Eka Hospital. Foto: Dok. Eka Hospital
Pasien dengan penyempitan saluran saraf tulang belakang bawah (Low Back Pain), sering disertai nyeri yang menjalar sampai ke ujung jari kaki saat berdiri lama atau berjalan jauh. Rasa sakit yang amat sangat ini membuat orang enggan berdiri atau berjalan dan disalah artikan sebagai kelemahan atau kelumpuhan.
ADVERTISEMENT
Tetapi bila penjepitan saraf terjadi di punggung atas bisa menyebabkan kelumpuhan dalam arti sebenarnya (kedua tungkai lemah dan sulit/ tidak bisa digerakkan). Sedangkan penjepitan saraf di daerah leher bahkan bisa melumpuhkan kedua tungkai dan kedua lengan, dengan derajat yang berbeda.
Dalam kasus inipun bila memang ada kelumpuhan tidak mungkin tiba-tiba sembuh dan bisa bergerak lagi (misalnya penjepitan saraf-nya bisa lenyap dengan suntikan vaksin untuk virus tertentu). Tapi bila sebenarnya tidak lumpuh, tapi tidak mau berdiri atau berjalan karena rasa nyeri, maka dengan pemberian obat anti nyeri bisa dipastikan langsung akan bisa berjalan lagi.

5. Penyakit Terkait Autoimun pada Sumsum Tulang Belakang

Gejalanya dimulai dengan rasa nyeri di lengan atau dada/ perut tergantung segmen/ ruas sumsum tulang belakang yang terlibat. Penyebabnya belum diketahui, diduga terkait dengan riwayat infeksi virus tertentu (herpes zoster/ cacar air, enterovirus, dan flavivirus), atau bagian dari penyakit gangguan sistem kekebalan tubuh (lupus) dan yang mengenai sistem saraf pusat/ otak (multiple sclerosis).
ADVERTISEMENT
Belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan myelitis transversa ini. Biasanya dokter akan berusaha memperbaiki sistem kekebalan tubuh pasien dan mengurangi gejala-gejala penyakit dengan obat-obatan pereda nyeri, vitamin B-12, dan memberikan terapi fisik/ fisioterapi.

6. Gangguan Metabolik

Ada beberapa zat dalam darah kita yang diperlukan agar kehendak untuk bergerak ini bisa tersampaikan melalui serabut saraf ke otot yang dituju, antara lain garam dapur (NaCl) dan zat gula (glukosa). Kadar zat-zat tersebut yang kurang bisa menyebabkan terjadinya kelemahan pada seluruh otot-otot tubuh. Dan kelemahan anggota gerak dalam kasus ini akan segera pulih dengan pemberian suntikan zat gula maupun garam.

7. Kelemahan akibat berbaring lama

Seseorang yang harus berbaring lama/ imobilitas sampai 1 (satu) minggu atau lebih (apa pun alasan penyebabnya), akan mengalami penyusutan massa otot dan ini akan berakibat terjadinya kelemahan (berkurangnya kekuatan) otot-otot tubuh, terutama tungkainya.
ADVERTISEMENT
Untuk memulihkan massa otot dan kekuatan otot kembali seperti sebelumnya diperlukan latihan atau fisioterapi dalam waktu kurang lebih sekitar 2 (dua) bulan sampai kondisi sebelum sakit.

Riwayat pasien pada kasus Vanessa tidak jelas.

Kembali ke kasus Vanessa. Dikatakan bahwa Vanessa sempat terkena DBD, lalu sempat didiagnosa sakit inflamasi pasca COVID-19 dan Autoimun. Tidak ada penjelasan Diagnosa yang sebenar-benarnya dari RSPAD sebelum ybs mendapatkan suntikan Vaknus, informasi yang beredar di berita adalah katanya dan katanya.
Tentang kelumpuhannya, juga tidak jelas apakah itu kelemahan atau kelumpuhan, apakah keempat anggota badannya (lengan dan tungkai/ tetraparese) atau hanya kedua tungkainya saja (paraparese), ataukah separoh sisi tubuhnya (hemiparese). Yang ada hanya kata pihak keluarga “selama sakit, Vanessa harus menggunakan kursi roda karena kondisi fisik yang lemah dan tidak bisa berjalan”.
ADVERTISEMENT
Tidak ada informasi tentang tidak bisa berjalan karena lemah tungkainya, karena terganggu keseimbangannya, atau karena betul-betul lumpuh/tidak bisa menggerakkan kedua tungkainya. Tidak ada informasi tentang berapa lama Vanessa sudah menggunakan kursi roda itu, apakah 3 hari, 7 hari, atau 15 hari, atau lebih lama lagi.

Prosedur pengobatan Vanessa

Kepala RSPAD dr Terawan Agus Putranto tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.  Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
zoom-in-whitePerbesar
Kepala RSPAD dr Terawan Agus Putranto tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Dalam berita yang beredar dikatakan bahwa Vanessa diambil darahnya pada tanggal 1 April, dan setelah melalui proses inkubasi satu minggu, darah itu (Vaknus) disuntikkan kepada Vanessa langsung oleh Dokter Terawan pada tg 8 April, 2022. Kalau betul itu Vaknus (dalam pengertian awam) maka itu adalah sel dendritik dari darah Vanessa yang sudah dipaparkan Virus COVID-19, dan telah membentuk antibodi terhadap virus.
ADVERTISEMENT
Mestinya suatu pengobatan/ terapi diberikan atas indikasi yang jelas, untuk mengobati penyakit (misal antibiotika untuk infeksi paru) atau menghilangkan gejala penyakit tertentu (misal parasetamol/turun panas untuk mengatasi demam). Kalau betul Vanessa mengalami kelumpuhan, harus dipastikan lebih dulu penyebab kelumpuhannya sebagaimana telah diuraikan di atas.
Selanjutnya dipilih bentuk pengobatan untuk menghilangkan penyebab sakitnya (misal operasi pengangkatan tumor otak), atau sekadar menghilangkan gejala yang mengganggu (misal pemberian suntikan anti radang atau steroid untuk mengurangi nyeri kepala dan memperbaiki kelemahan separuh sisi tubuh pasien).
Dari uraian 7 macam kemungkinan penyakit terkait dengan gejala kelemahan sampai kelumpuhan tersebut di atas berdasarkan informasi yang terbatas mengenai dasar penyakit pada kasus Vanessa, kemungkinan terdekat adalah poin ke 6 (gangguan metabolic berupa kekurangan zat glukosa atau kekurangan zat garam) dan poin ke 7 (kelemahan umum atau bukan kelumpuhan, akibat berbaring lama).
ADVERTISEMENT
Dari semua kemungkinan yang ada, tidak satu pun yang pilihan terapi/ pengobatannya adalah pemberian suntikan sel dendritic (Vaknus). Andai benar sakitnya terkait riwayat infeksi virus seperti pada poin 5 (DBD, Herpes Zoster, enterovirus) maka perlu dipastikan jenis virusnya terlebih dahulu (karena kata Terawan sendiri, terapi Vaknusini bersifat Individual), sebelum dibuat vaksin dendritik-nya.
Tanpa penjelasan yang memadai terkait gejala penyakit, diagnosis, dan pengobatan yang diberikan, maka informasi tentang pasien lumpuh yang sembuh setelah pemberian vaksin oleh seorang dokter bisa jadi sebuah disinformasi yang menyesatkan masyarakat luas, sama menyesatkannya dengan berita “Pasien Koma yang Langsung Sadar Setelah Diberi Air Kelapa yang Difermentasi” atau “Pasien Usus Buntu Sembuh Tanpa Operasi Setelah Dioles dengan Campuran Abu Gosok dan Lidah Buaya”.
ADVERTISEMENT
Menurut saya, meskipun pengobatan itu dilakukan oleh seorang dokter bahkan seorang dengan titel profesor sekalipun, dan dilakukan di rumah sakit yang paling modern sekalipun, tindakan pengobatan (tanpa indikasi yang jelas) tersebut tidak bisa disebut sebagai praktik kedokteran (yang dilindungi oleh UU Praktik Kedokteran), melainkan lebih layak disebut sebagai praktik perdukunan.
Kalau tindakan seperti itu tetap memakai label ‘praktik kedokteran’ maka di sini ada masalah etik yang harus diluruskan/ dijelaskan di hadapan MKEK (majelis kehormatan etik kedokteran). Tapi apabila memakai label ‘praktik perdukunan’ atau ‘pengobatan alternatif’ ala Tabib XYZ (yang bisa menyembuhkan 1001 macam penyakit, sebagaimana diiklankan di banyak radio) tentu tidak ada urusannya dengan MKEK.
Atau mungkin, alangkah bijaknya jika pihak bapak Terawan membuat laporan resmi untuk mengklarifikasi atau meluruskan ketidakjelasan informasi yang beredar mengenai kasus Vanessa di media.
ADVERTISEMENT
(Oleh Zainal Muttaqin, Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro).
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020