Konten dari Pengguna

Merti Dusun: Tradisi yang Menyatukan dan Menghidupkan Budaya Lokal

Zainun Fijar Restu

Zainun Fijar Restu

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zainun Fijar Restu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prajurit Bregada Merti Dusun Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong. Foto: Zainun Fijar Restu/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Prajurit Bregada Merti Dusun Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong. Foto: Zainun Fijar Restu/kumparan

Merti Dusun merupakan salah satu tradisi yang sampai saat ini masih banyak dilestarikan oleh warga dusun di tanah Jawa, salah satunya adalah warga Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Secara etimologis, istilah merti berasal dari bahasa Jawa yang berarti memetri atau memelihara serta membersihkan. Oleh karena itu, Merti Dusun dimaknai sebagai bentuk upaya masyarakat dalam merawat, menjaga, membersihkan, dan melestarikan dusun sebaik mungkin selama satu tahun. Melalui tradisi ini, warga berharap agar hasil panen pada tahun berikutnya senantiasa melimpah (Heni dalam Tumarjio & Birsyada, 2022).

Merti Dusun di Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong itu sendiri dilaksanakan bukan sekedar sebagai agenda tahunan. Akan tetapi, sebagai simbol tradisi yang harus dilestarikan. Selain itu juga untuk mempererat ikatan sosial dan kerukunan dalam masyarakat. Dengan mengusung tema "Tirta Wening Nunggal Prawara" yang diambil dari bahasa Sansekerta dan memiliki arti "air suci yang menyatukan kemuliaan", warga Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong percaya bahwa sumber mata air yang ada di Padukuhan tersebut perlu dijaga kemuliaan dan kesuciannya. Karena sumber air tersebut merupakan sumber kehidupan sehari-hari warga Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong.

1) Persiapan

Dalam proses persiapan sebelum dilakukannya Merti Dusun itu sendiri warga membentuk kepanitiaan yang diketuai oleh Ketua RW 10 yaitu, Bapak Supranto. Melalui rapat Merti Dusun (18/10), warga Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong sepakat untuk melakukan iuran berupa uang dan beras pada tiap KK di masing-masing dusun yang kemudian hasil dari iuran tersebut akan digunakan untuk keperluan Merti Dusun. Selain rapat panitia, hal lain yang dilakukan adalah gotong royong pembuatan panggung dan dekorasi panggung yang terletak di lapangan dusun Jambu Bangkong. Dalam hal tersebut, warga bersama KKN-M Universitas Negeri Yogyakarta unit 23310 turut serta dalam persiapan Merti Dusun di Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong seperti dengan memasang panggung, memasang dekorasi, dan membuat dekorasi menggunakan janur.

Proses pembuatan dekorasi Merti Dusun Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong. Foto: Zainun Fijar Restu/kumparan.

2) Pelaksanaan

Dalam pelaksanaannya (09/11), Merti Dusun dilaksanakan di lapangann voli Jambu Bangkong. Dalam prosesinya, rangkaian acara diawali dengan kirab jodhang, yaitu arak-arakan bregada diikuti dengan pemegang kendi serta gunungan yang berisi hasil bumi dan makanan ringan, serta diikuti masyarakat Padukuhan Sintokan-Jambu Bangkong yang berpakaian adat Jawa. Selanjutnya, prosesi kirab dilakukan dari dusun Sintokan kemudian menuju lapangan bola voli di dusun Jambu Bangkong dengan melewati dan mengambil air dari Sumber Lumpang. Pada saat prosesi pengambilan air, diikuti oleh bapak Lurah Wukirsari yaitu, bapak Handung Tri Rahmawan.

Proses pengambilan air di Sumber Lumpang sebagai bagian dari acara Merti Dusun. Foto: Zainun Fijar Restu/kumparan.

Selama proses kirab tersebut panggung utama di lapangan bola voli Jambu Bangkong juga mengadakan acara mulai dari Hadroh Majelis Taklim Nur Rahman, Tari Ronggeng Nyentrik SMK Negeri 1 Cangkringan, Pencak Silat SMK Negeri 1 Cangkringan, Tari Tandhang Gawe dari Sintokan, serta Hadroh Al-Khodir. Pada pelaksanaannya, KKN-M UNY unit 23310 juga ikut serta menjadi pemain instrumen inti dalam bregada, pemikul gunungan, ikut serta dalam hadroh, serta menjadi pembawa acara. Setelah kirab atau iring-iringan bregada sampai di depan lapangan voli, acara di lapangan harus sudah selesai karena akan memasuki acara utama yaitu, pertunjukan bregada, prosesi penyerahan air Sumber Lumpang kepada bapak Lurah Wukirsari, serta dilanjut dengan sesi perebutan gunungan.

Prosesi perebutan gunungan makanan ringan dan hasil bumi. Foto: Zainun Fijar Restu/kumparan.

Setelah prosesi perebutan gunungan usai, rangkaian acara dilanjutkan dengan pengajian dan doa bersama sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini dipimpin oleh ustadz setempat dan diikuti dengan khidmat oleh seluruh warga. Melalui doa yang dipanjatkan, masyarakat memohon agar senantiasa diberikan keberkahan dalam kehidupan serta hasil panen yang melimpah. Tradisi ini juga menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan spiritual warga Padukuhan Sintokan–Jambu Bangkong dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.