Konten dari Pengguna

Ketika Nilai Rupiah Turun, Rakyat yang Menanggung

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaka Nuradani Al Ghifari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gulungan uang rupiah pecahan Rp100.000. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Gulungan uang rupiah pecahan Rp100.000. Foto: Pixabay

Rupiah 2026 dan Rekor Pelemahan Sepanjang Sejarah

Tahun 2026 menjadi salah satu periode yang cukup mengkhawatirkan bagi kondisi ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami pelemahan hingga sempat menembus angka Rp17.904 per dolar AS. Angka tersebut menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah dan memunculkan kekhawatiran besar di tengah masyarakat.

Melemahnya rupiah bukan hanya persoalan angka dalam pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketika nilai rupiah turun, harga barang impor ikut meningkat, biaya produksi naik, dan kebutuhan pokok menjadi semakin mahal. Dalam kondisi seperti ini, rakyat menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.

Harga Naik dan Kehidupan yang Semakin Sulit

Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap barang impor, mulai dari bahan baku industri, teknologi, hingga kebutuhan pangan tertentu. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat dan akhirnya memengaruhi harga barang di pasaran.

Akibatnya, masyarakat harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, pendidikan, hingga barang elektronik. Kondisi ini paling terasa bagi kelompok kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah yang daya belinya semakin tertekan.

Bagi generasi muda, situasi ini juga menimbulkan kecemasan ekonomi. Harga tempat tinggal semakin mahal, biaya hidup naik, sementara lapangan pekerjaan semakin kompetitif. Banyak anak muda mulai merasa sulit mencapai kehidupan yang stabil di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Perspektif Karl Marx: Krisis Selalu Dibayar Rakyat

Dalam perspektif Karl Marx, kondisi ini menunjukkan bagaimana sistem ekonomi sering kali membuat masyarakat kelas bawah menjadi pihak yang paling terdampak ketika terjadi krisis. Ketika nilai rupiah melemah, kelompok yang memiliki modal besar cenderung lebih mampu bertahan karena memiliki aset, investasi, atau kekuatan ekonomi yang lebih stabil.

Sebaliknya, masyarakat kecil harus menghadapi kenaikan harga dan tekanan ekonomi sehari-hari. Mereka dipaksa mengurangi pengeluaran, mencari pekerjaan tambahan, bahkan menekan kebutuhan dasar agar tetap bisa bertahan hidup.

Marx menjelaskan bahwa dalam sistem kapitalisme, ketimpangan sosial akan semakin terlihat ketika terjadi krisis ekonomi. Kelompok atas memiliki perlindungan ekonomi yang lebih kuat, sedangkan rakyat kecil menjadi pihak yang paling banyak menanggung dampak.

Rupiah dan Krisis Kepercayaan Sosial

Melemahnya rupiah juga memengaruhi kondisi sosial masyarakat. Ketika harga kebutuhan terus naik dan kehidupan semakin sulit, masyarakat mulai mempertanyakan kemampuan negara dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Dalam perspektif Max Weber, negara memiliki tanggung jawab menjaga rasa aman masyarakat, termasuk dalam bidang ekonomi. Ketika kondisi ekonomi tidak stabil, kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah dapat ikut melemah.

Bagi masyarakat biasa, stabilitas ekonomi bukan hanya soal angka pertumbuhan nasional atau kebijakan moneter, tetapi tentang kemampuan mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ketika Rakyat Menjadi Penanggung Utama

Pada akhirnya, melemahnya rupiah bukan sekadar persoalan ekonomi makro atau pasar internasional. Pelemahan rupiah memiliki dampak sosial yang nyata terhadap kehidupan masyarakat.

Ketika nilai rupiah turun hingga menembus Rp17.904 per dolar AS, rakyat menjadi pihak yang paling banyak menanggung akibatnya. Harga naik, biaya hidup bertambah, dan rasa aman ekonomi perlahan menghilang. Sebab bagi masyarakat biasa, krisis ekonomi bukan tentang angka di layar berita, tetapi tentang bagaimana mereka bisa tetap hidup di tengah keadaan yang semakin sulit.