Konten dari Pengguna

Komersialisasi Sekolah: Kritik Marxis atas Kapitalisme Pendidikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaka Nuradani Al Ghifari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: wal_172619 dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: wal_172619 dari Pixabay

Pernahkah Anda merasa bahwa tujuan utama bersekolah atau kuliah saat ini bukan lagi untuk "menjadi manusia yang cerdas dan kritis", melainkan sekadar mendapatkan "ijazah agar gampang dapat kerja"? Di era digital dan ekonomi berbasis aplikasi hari ini, fenomena ini terasa makin nyata. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai tempat mengasah pemikiran, melainkan sebagai pabrik pencetak tenaga kerja dan industri penyedia jasa.

Melalui kacamata sosiologi pendidikan kritis khususnya perspektif Karl Marx fenomena kekinian ini dikenal sebagai komersialisasi dan komodifikasi pendidikan.

Pendidikan sebagai Komoditas

Dalam teori Marx, kapitalisme bekerja dengan mengubah segala hal menjadi barang dagangan (komoditas) yang memiliki nilai tukar. Dahulu, pendidikan dianggap sebagai public goods (barang publik) yang wajib disediakan negara untuk mencerdaskan warga.

Namun kini, ruang kelas ber-AC, fasilitas kampus yang instagramable, hingga klaim "penyaluran kerja cepat" dibanderol dengan harga fantastis. Pendidikan dikemas layaknya produk freemium: akses dasar terasa minim, sedangkan akses berkualitas menuntut biaya modal yang sangat tinggi.

Ruang Kelas" yang Memproduksi Ketimpangan Sosial

Banyak orang percaya pada mitos meritokrasi—gagasan bahwa siapa pun yang bekerja keras di sekolah pasti akan sukses. Namun, sosiolog pendidikan Marxis seperti Samuel Bowles dan Herbert Gintis menunjukkan bahwa sekolah justru memproduksi ulang (reproduce) ketimpangan kelas yang ada di masyarakat:

Sekolah Elite / Internasional: Melatih anak-anak dari kelas atas untuk menjadi pemimpin, manajer, dan inovator dengan kurikulum berbasis pemikiran kritis, kepemimpinan, dan jejaring sosial (social capital).

Sekolah Pinggiran / Murah: Sering kali lebih berfokus pada kedisiplinan, kepatuhan pada aturan, dan keterampilan teknis dasar untuk mempersiapkan siswa menjadi pekerja tingkat bawah (laborers) yang mudah diatur.

Fenomena Alienasi: Burnout dan Kejar Sertifikasi

Marx mengenalkan konsep alienasi (keterasingan), di mana pekerja kehilangan keterikatan emosional dan makna atas apa yang mereka kerjakan. Di era kekinian, alienasi ini berpindah ke ruang kelas:

Siswa/Mahasiswa Terasing: Belajar bukan lagi karena rasa ingin tahu (curiosity), melainkan demi mengejar IPK, sertifikat portofolio, dan skill instan agar tidak tersingkir oleh algoritma pasar kerja.

Pengajar/Dosen Terasing: Guru dan dosen kerap terbebani oleh target administratif, komersialisasi riset, serta metrik kinerja kuantitatif yang menguras waktu mengajar dan mendidik secara mendalam.

Mengapa Isu Ini Sangat Relevan Saat Ini?

Di tengah melesatnya teknologi AI, gig economy, dan persaingan kerja yang makin ketat, komersialisasi sekolah membuat jurang pemisah antara yang kaya dan miskin semakin melebar. Pendidikan yang seharusnya menjadi alat pembebasan justru berisiko menjadi rantai yang mengekalkan posisi kelas sosial seseorang.