George Orwell: Kritik Tajam terhadap Kekuasaan Absolut

Saya adalah seorang mahasiswa di Universitas Pamulang yang masih berstatus aktif. Saya menyukai menulis artikel yang bertujuan untuk menyebarkan informasi yang saya ketahui kepada masyarakat indonesia. Harapan saya sangat sederhana.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zaki Farros R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
George Orwell adalah salah satu penulis paling berpengaruh abad ke-20. Ia dikenal sebagai pembela democratic socialism sekaligus pengkritik paling tajam terhadap segala bentuk totalitarianisme—baik fasisme maupun komunisme otoriter. Pengalaman hidupnya, mulai dari menjadi polisi kolonial di Burma, menyaksikan kemiskinan di Inggris utara, hingga berjuang di Perang Saudara Spanyol, membentuk pandangannya bahwa kekuasaan cenderung merusak dan kekuasaan absolut merusak secara mutlak.
Orwell percaya bahwa setiap garis tulisan seriusnya sejak 1936 ditulis “secara langsung atau tidak langsung, melawan totalitarianisme dan demi sosialisme demokratis”. Kritiknya terhadap kekuasaan bukan sekadar penolakan terhadap tirani, melainkan analisis mendalam tentang bagaimana kekuasaan merusak jiwa manusia, bahasa, kebenaran, dan masyarakat.

1. Kekuasaan Bukan Sarana, Melainkan Tujuan Akhir
Inti filosofi Orwell tentang kekuasaan terdapat dalam novel distopia masterpiece-nya, 1984 (1949). Melalui tokoh O’Brien, ia menyatakan:
“Power is not a means; it is an end. One does not establish a dictatorship in order to safeguard a revolution, one makes the revolution in order to establish the dictatorship. The object of persecution is persecution. The object of torture is torture. The object of power is power."
Kekuasaan, bagi Orwell, bukan alat untuk mencapai keadilan atau kemakmuran. Ia menjadi tujuan itu sendiri. Penguasa totalitarian tidak lagi peduli pada ideologi awal—mereka hanya ingin mempertahankan dan memperluas dominasi tanpa batas.
2. Korupsi Kekuasaan: Dari Revolusi Menuju Tirani
Dalam Animal Farm (1945), alegori satir tentang Revolusi Rusia, Orwell menggambarkan bagaimana revolusi yang dimulai dengan slogan “Semua hewan setara” berubah menjadi “Semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain”. Babi-babi yang memimpin revolusi lambat laun menjadi sama seperti manusia yang mereka gulingkan—korup, eksploitatif, dan tiran.
Ini adalah kritik tajam terhadap bagaimana revolusi (termasuk yang berbasis sosialisme) mudah dikorupsi oleh ambisi pribadi. Orwell melihat Stalinisme sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita sosialisme sejati, di mana kekuasaan absolut menghancurkan kebebasan dan kesetaraan yang seharusnya menjadi tujuan.
3. Pengendalian Pikiran, Bahasa, dan Kebenaran
Orwell sangat menekankan bahwa totalitarianisme tidak hanya mengendalikan tubuh, tapi juga pikiran. Ia menciptakan konsep-konsep ikonik seperti:
Doublethink: Kemampuan mempercayai dua hal yang bertentangan secara bersamaan.
Newspeak: Bahasa buatan yang mempersempit kosakata sehingga pemikiran pemberontak menjadi mustahil.
Thoughtcrime: Kejahatan berpikir, di mana bahkan keraguan diam-diam terhadap Partai dianggap pengkhianatan.
Kutipan terkenal lainnya:
“Power is in tearing human minds to pieces and putting them together again in new shapes of your own choosing.”
Dan visi paling mengerikan:
“If you want a picture of the future, imagine a boot stamping on a human face—forever.”
Orwell memperingatkan bahwa kekuasaan absolut menghancurkan realitas objektif. Penguasa mengubah sejarah, fakta, dan bahasa untuk memastikan tidak ada lagi kebenaran di luar narasi resmi.
4. Mengapa Kritik Orwell Tetap Relevan Hingga Kini?
Orwell bukan anti-sosialisme; ia justru pembela sosialisme demokratis yang menolak otoritarianisme. Ia menentang imperialisme Inggris, fasisme Hitler, dan Stalinisme Soviet karena semuanya—menurutnya—berujung pada penyalahgunaan kekuasaan yang menghancurkan kebebasan individu.
Di era modern, istilah “Orwellian” digunakan untuk menggambarkan pengawasan massal, manipulasi informasi, propaganda, dan erosi kebenaran—fenomena yang semakin terasa di banyak negara. Orwell mengajarkan bahwa kebebasan sejati dimulai dari kemampuan mengatakan “dua tambah dua sama dengan empat”, tanpa takut dihukum.
Penutup
Filosofi George Orwell tentang kekuasaan adalah peringatan abadi: kekuasaan yang tidak dibatasi akan selalu cenderung korup dan destruktif. Ia bukan pesimis total; ia percaya bahwa dengan kewaspadaan, kejujuran bahasa, dan perjuangan untuk kebebasan demokratis, manusia bisa mencegah dystopia yang ia gambarkan.
Seperti yang ia tulis:
“Freedom is the freedom to say that two plus two make four. If that is granted, all else follows.”
Dalam dunia yang terus bergulat dengan otoritarianisme digital, propaganda, dan konsentrasi kekuasaan, suara Orwell tetap bergema: waspadalah terhadap siapa pun yang mengklaim kekuasaan demi “kebaikan bersama”, karena sering kali, kekuasaan itu hanya demi kekuasaan itu sendiri.
