Konten dari Pengguna

Hidup Ini Absurd, Tapi Bukan Alasan untuk Mati seperti Nihilis!

Zaki Farros R

Zaki Farros R

Saya adalah seorang mahasiswa di Universitas Pamulang yang masih berstatus aktif. Saya menyukai menulis artikel yang bertujuan untuk menyebarkan informasi yang saya ketahui kepada masyarakat indonesia. Harapan saya sangat sederhana.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaki Farros R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Filosofi nihilisme dan absurdisme sama-sama berpijak pada gagasan bahwa kehidupan tidak memiliki makna objektif, namun respons mereka berbeda: nihilisme cenderung menyangkal atau mengabaikan makna hidup secara total dan bisa mengarah pada sikap apatis atau skeptis, sementara absurdisme justru mendorong manusia untuk menerima ketidakhadiran makna itu dan tetap hidup secara sadar dan berani.

Dalam praktiknya, nihilisme dapat tercermin dalam sikap yang membebaskan dari norma dan harapan sosial, sedangkan absurdisme muncul dalam keberanian menjalani rutinitas dan menciptakan makna personal walau sadar semuanya bersifat fana. Kedua filosofi ini, meski sering dianggap gelap, justru menawarkan cara untuk hidup lebih otentik dan jujur di tengah realitas yang tak selalu masuk akal.

sumber ilustrasi : pexel.com/ahmedadly
zoom-in-whitePerbesar
sumber ilustrasi : pexel.com/ahmedadly

Absurdisme dan Nihilisme

  • Absurdisme: Keyakinan bahwa manusia secara alami mencari makna, tetapi alam semesta tidak memberi jawaban, maka lahirlah absurditas (kondisi yang tidak masuk akal, atau tidak memiliki makna yang jelas). Absurdisme bukan tentang menyerah suatu keadaan atau situasi pada ketidakbermaknaan, melainkan menerima absurditas dan tetap hidup dengan kesadaran dan semangat "pemberontakan”.

  • Nihilisme: Keyakinan bahwa kehidupan tidak memiliki makna objektif, nilai, atau tujuan yang jelas. Secara nihilisme yang ekstrem sering menganggap bahwa semua sistem nilai tidak ada makna dan bisa berujung pada keputusasaan, tetapi dalam eksistensinya, nihilisme justru bisa memberi kebebasan untuk menciptakan makan sendiri.

Perbedaan Utama dalam Penerapan Sehari-hari

1. Pemaknaan Hidup

  • Nihilisme: Memandang tidak ada maknanya sebagai kondisi mutlak yang tidak bisa ditolak maupun diubah. Versi ekstrem bisa menimbulkan perasaan yang tidak nyaman yang dapat menimbulkan keputusasaan, apatis, dan sikap sinis terhadap segala hal. Namun dalam versi eksistensinya, nihilisme justru menjadi dasar menciptakan pemaknaan kebebasan tersendiri, karena tidak ada otoritas mutlak yang mengharuskan kita hidup dengan cara tertentu.

  • Absurdisme: Mengakui tidak ada maknanya, tetapi tidak menyerah padanya, seperti tokoh Sisyphus. Ia dihukum oleh dewa Zeus untuk mendorong “batu kehidupan” ke atas puncak bukit, namun batu itu akan jatuh kembali ke kaki bukit. Ia tetap melakukan hukumannya itu secara berulang-ulang tanpa mempertanyakannya. Absurdisme ini mengajarkan kita menghadapi kenyataan yang tidak bermakna dengan kesadaran serta pemberontakan itulah letak kebebasan sejati.

2. Pendekatan terhadap Nilai dan Moral

  • Nihilisme: Menyatakan bahwa semua nilai dan moral adalah relatif, buatan manusia, dan karenanya tidak memiliki otoritas mutlak. Ini dapat menghasilkan dua arah: pembebasan dari nilai usang dan kekosongan moral. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang nihilisme menolak dan menentang norma-norma sosial yang dianggapnya tidak berdasar. Hal ini mempengaruhi bagaimana seorang nihilisme menjalani kehidupannya yang tidak berarah antara kebaikan dan kejahatan sosial.

  • Absurdisme: Tidak menolak pada nilai secara total, melainkan menyadari absurditas pencarian makna mutlak dalam nilai itu sendiri. Seorang absurdisme dapat memilih hidup bermoral, tapi dengan kesadaran bahwa itu adalah pilihan pribadi, bukan mandat (perintah atau arahan yang diberikan oleh orang banyak kepada seseorang untuk dilaksanakan sesuai dengan kehendak orang banyak) universal.

3. Rutinitas dan Kehidupan

  • Nihilisme: Bisa menimbulkan tidak adanya ketertarikan pada rutinitas karena dianggap tidak bernilai makna. Pekerjaan, pendidikan, hubungan, dan lain-lain bisa dirasakan sebagai aktivitas mekanis yang kosong atau hampa. Namun seorang nihilisme justru menjalani semua itu dengan kebebasan tanpa adanya tekanan dari ekspektasi sosial.

  • Absurdisme: Absurditas rutinitas yang justru menemukan makna itu sendiri. Bangun pagi, berangkat kerja, kembali ke rumah, dan mengulanginya terus-menerus adalah “mendorong batu Sisyphus”. Absurdisme mengajak kita untuk tetap tersenyum dan sadar saat melakukannya, bukan karena itu berarti, tetapi karena kita memilih untuk hidup.

4. Penderitaan dan Kesulitan

Nihilisme: Bisa bersikap tidak peduli terhadap penderitaan, baik dirinya sendiri maupun orang lain, karena dianggap tidak berarti. Hal ini mendorong pada tidak kepekaan, atau sikap menolak tanggung jawab moral.

  • Absurdisme: Sadar bahwa penderitaan adalah bagian dari absurditas hidup, namun tetap menghadapinya dengan sikap percaya diri. Penderitaan tidak dibenarkan atau disalahkan, tapi dapat dijalani secara sadar sebagai bagian dari pengalaman manusia.

5. Pandangan terhadap Kematian

  • Nihilisme: Memandang kematian sebagai akhir dari segalanya, dan oleh karena itu hidup pun tidak memiliki arah. Ini bisa menimbulkan sikap pesimistis atau motivasi untuk “menikmati hidup selagi bisa” secara bebas.

  • Absurdisme: Menerima kematian sebagai batas alami dari hidup yang absurd. Tidak melihat kematian sebagai solusi, tetapi menganggap sebagai “penyerahan”. Maka absurdisme mengajak kita untuk hidup sepenuhnya meski tahu bahwa akhir itu akan datang, dan tetap memberontak melawan kefanaan itu dengan menjalani hidup penuh kesadaran.

Pesan inti

Nihilisme cenderung berangkat dari “tidak ada makna menuju ke tidak perlu peduli”, sementara absurdisme bergerak dari “tidak ada makna menuju aku akan tetap hidup dan sadar”. Dalam kehidupan sehari-hari, nihilisme bisa mengarah ke kebebasan mutlak atau kehampaan, sedangkan absurdisme menawarkan sikap pemberontakan yang tenang, sadar, dan bahkan penuh rasa humor terhadap ironi hidup.