Lulusan Bodoh, Sekolah Untung: Realita Kelam Sistem Pendidikan Kita

Saya adalah seorang mahasiswa di Universitas Pamulang yang masih berstatus aktif. Saya menyukai menulis artikel yang bertujuan untuk menyebarkan informasi yang saya ketahui kepada masyarakat indonesia. Harapan saya sangat sederhana.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Zaki Farros R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi

Sejak dulu hingga sekarang, saya terus memikirkan persoalan menurunnya kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan. Saat saya menelusuri media sosial, saya menemukan lebih dari tiga berita yang berkaitan dengan kondisi pendidikan nasional. Salah satunya berjudul, "Tragis, Anak SMA Tidak Bisa Menghitung Perkalian Dasar". Dari judulnya saja, siapa pun pasti akan merasa kecewa dan resah. Apalagi setelah membaca isi beritanya yang sesuai dengan judul tersebut, kekhawatiran akan masa depan bangsa ini semakin terasa nyata.
Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap penurunan kualitas pendidikan dan SDM. Saya pribadi termasuk salah satu dari mereka yang merasa gelisah terhadap situasi ini.
Faktor-faktor Penyebab Menurunnya Kualitas Pendidikan Indonesia
Ada tiga faktor utama yang memengaruhi menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia. Ketiga faktor ini saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Jika salah satunya diabaikan, dampaknya akan memperburuk situasi yang ada.
1. Faktor Kebijakan Pemerintah dan Sistem Pendidikan
Siapa pun pasti masih mengingat kebijakan-kebijakan yang diluncurkan dengan harapan memperbaiki kualitas pendidikan dan SDM, namun pada praktiknya justru menyulitkan, bahkan menghambat produktivitas belajar dan mengajar.
Salah satu kebijakan yang paling berpengaruh adalah kebijakan kurikulum. Kurikulum merupakan inti dari sistem pendidikan yang menentukan bagaimana proses pembelajaran berjalan, hingga standar kelulusan siswa. Sayangnya, kebijakan kurikulum di Indonesia sering berubah-ubah tergantung pada siapa yang menjabat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Setiap kali terjadi pergantian menteri, hampir pasti kurikulum akan diubah, seolah-olah setiap menteri merasa bahwa kurikulumnya adalah yang terbaik dibanding pendahulunya. Namun, pergantian kurikulum yang terlalu sering justru membingungkan siswa, guru, dan orang tua.
Contohnya adalah Kurikulum Merdeka yang digagas oleh Menteri Nadiem Makarim. Kurikulum ini bertujuan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih jalur peminatan sesuai dengan minat dan bakat mereka. Namun, dalam pelaksanaannya, Kurikulum Merdeka dianggap tidak efektif dan menimbulkan banyak masalah. Bahkan, tahun ini beredar kabar bahwa kurikulum tersebut akan diubah kembali ke Kurikulum 2013 (K-13) oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru.
Banyak siswa merasa kebingungan dan tidak cocok dengan Kurikulum Merdeka, tetapi mereka juga merasa frustrasi dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba, seolah-olah mereka dijadikan bahan percobaan. Netizen Indonesia bahkan menyebut Kurikulum Merdeka sebagai proyek uji coba belaka yang tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan SDM.
2. Faktor Sekolah dan Siswa
Saya juga merasa perlu mengungkapkan kekecewaan terhadap sebagian pihak sekolah yang lebih mementingkan citra dan nama baik daripada kualitas lulusan mereka. Tak jarang, sekolah-sekolah ini tetap meluluskan siswa-siswi yang belum siap atau belum layak, hanya demi menjaga reputasi dan menarik lebih banyak peserta didik di masa depan.
Tindakan seperti ini jelas memberikan dampak buruk terhadap kualitas SDM Indonesia. Sekolah menjadi tutup mata terhadap kualitas peserta didik, selama jumlah kelulusan tinggi, mereka merasa telah berhasil. Padahal, yang terjadi adalah penurunan kualitas lulusan secara nasional.
Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita sering kali tidak menyadari realita ini. Mereka menganggap bahwa tanggung jawab pendidikan sepenuhnya berada di tangan sekolah. Jika anak mereka tidak berhasil, mereka menyalahkan anak tersebut dengan label malas atau bodoh, tanpa melihat sistem dan proses yang ada di dalam institusi pendidikan.
Padahal, peran orang tua sangatlah penting dalam memilih dan mengevaluasi lingkungan sekolah anak. Bukan soal sekolah itu terkenal, mahal, atau bergengsi, tetapi dipermasalahkan bagaimana sekolah tersebut mendidik, membentuk karakter, dan memberikan nilai-nilai kehidupan kepada peserta didik.
Selain dari sisi sekolah, masalah juga muncul dari sikap sebagian siswa itu sendiri. Banyak siswa yang sudah menyadari bahwa kemampuan akademis mereka belum memadai bahkan dapat dikatakan kurang, namun mereka cenderung acuh tak acuh terhadap proses pembelajaran. Mereka mengetahui bahwa selama ini sistem pendidikan dan sekolah yang mereka tempuh cenderung meluluskan hampir semua siswa tanpa benar-benar memperhatikan kesiapan dan kualitas.
Sikap seperti ini muncul karena adanya rasa nyaman yang keliru. Siswa merasa tidak perlu berusaha secara maksimal atau memperbaiki diri karena hasil akhirnya sudah dapat diprediksi yaitu mereka akan tetap diluluskan. Akibatnya, motivasi belajar menurun dan siswa cenderung mengabaikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Fenomena tersebut tentu berbahaya bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ketika siswa mengetahui bahwa kelulusan bukan berdasarkan pencapaian kompetensi yang sebenarnya, mereka kehilangan rasa tanggung jawab atas proses belajar. Akibatnya kualitas lulusan menurun dan mereka tidak siap bersaing di dunia kerja maupun kehidupan nyata.
3. Faktor Masyarakat
Faktor masyarakat memegang peranan penting dalam menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap pentingnya pendidikan. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa pendidikan tidak memiliki pengaruh signifikan dalam kehidupan selanjutnya, baik di dunia kerja maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Pandangan seperti ini menyebabkan pendidikan sering dianggap sebagai hal yang tidak prioritas, sehingga dukungan dari lingkungan sekitar terhadap proses belajar menjadi minim. Ketika masyarakat tidak memberikan perhatian yang cukup, motivasi dan semangat belajar siswa pun dapat menurun karena kurangnya dorongan dan apresiasi.
Selain itu, masyarakat sering kali memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak realistis terhadap anak-anak. Mereka beranggapan bahwa orang pintar harus mampu menguasai semua bidang pelajaran tanpa kecuali. Sikap ini memberikan tekanan berlebih pada siswa yang sebenarnya membutuhkan waktu dan proses untuk memahami setiap materi secara bertahap.
Tekanan dari masyarakat yang demikian kerap membuat siswa merasa takut gagal dan kehilangan rasa percaya diri. Mereka pun bisa mengalami stres dan kebingungan, yang akhirnya mengurangi motivasi belajar serta rasa ingin tahu yang seharusnya tumbuh selama masa pendidikan.
Dampak dari ketidakpedulian dan ekspektasi yang tidak realistis tersebut akhirnya memperburuk kualitas sumber daya manusia Indonesia. Untuk itu, diperlukan kesadaran bersama dari masyarakat agar dapat mendukung pendidikan secara lebih positif dan konstruktif demi masa depan bangsa.
Dampak Penurunan Kualitas Pendidikan terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM ) di Indonesia
Dari ketiga faktor tersebut, berdampak besar terhadap kualitas SDM di Indonesia, yaitu:
1. Penurunan Keterampilan dan Kompetensi Tenaga Kerja
Penurunan kualitas pendidikan menyebabkan rendahnya keterampilan dan kompetensi tenaga kerja. Studi Bank Dunia pada 2020 menunjukkan bahwa sekitar 40% siswa kelas 4 di Indonesia tidak mampu memahami teks yang ditujukan untuk siswa kelas 2, dan sekitar 90% siswa kelas 4 tidak mampu menyelesaikan soal matematika yang ditujukan untuk siswa kelas 2. Hal ini mengindikasikan adanya learning loss yang signifikan, yang berpotensi menghambat jenjang pendidikan siswa dan menurunkan motivasi belajar mereka. Akibatnya, lulusan pendidikan tidak memiliki kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja, sehingga angka pengangguran menjadi tinggi.
2. Meningkatnya Angka Kemiskinan dan Ketimpangan Sosial
Kegagalan dalam pembangunan pendidikan berdampak pada peningkatan angka kemiskinan. Individu dengan tingkat pendidikan rendah kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Selain itu, ketimpangan sosial dan ekonomi semakin melebar karena akses terhadap pendidikan berkualitas tidak merata, terutama di daerah terpencil dan miskin .
3. Menurunnya Daya Saing Global Bangsa
Rendahnya kualitas pendidikan berkontribusi pada turunnya daya saing Indonesia di kancah global. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa indikator kualitas SDM menjadi penyebab penurunan peringkat Indonesia untuk daya saing ekonomi global, dari posisi 45 menjadi 50 berdasarkan laporan World Economic Forum 2019. Masalah fundamental struktural di Indonesia, seperti mayoritas lulusan SD dan SMP serta kualitas pendidikan yang rendah.
Mengatasi Permasalahan Penurunan Kualitas Pendidikan
Bagi saya, ada tiga langkah penting yang harus dilakukan untuk memperbaiki penurunan kualitas pendidikan di Indonesia. Ketiganya menyasar pada level kebijakan, institusi pendidikan, dan pola pikir masyarakat yang saling berkaitan dalam membentuk sistem pendidikan yang lebih baik dan berkelanjutan.
1. Kebijakan Pendidikan yang Konsisten dan Berkelanjutan
Salah satu permasalahan mendasar dalam sistem pendidikan Indonesia adalah kebijakan yang tidak konsisten. Setiap kali terjadi pergantian menteri pendidikan, hampir selalu ada perubahan besar dalam kurikulum atau sistem pembelajaran. Hal ini menciptakan ketidakstabilan dan membingungkan banyak pihak, termasuk guru, siswa, serta orang tua. Pendidikan seharusnya menjadi proses jangka panjang yang membutuhkan kesinambungan dan tidak bisa disesuaikan hanya berdasarkan visi jangka pendek pemimpin tertentu.
Kebijakan pendidikan yang bersifat eksperimen atau uji coba sering kali tidak mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur yang ada. Akibatnya, kebijakan yang seharusnya meningkatkan mutu pendidikan justru menimbulkan masalah baru, seperti beban administrasi berlebihan, perubahan metode mengajar secara mendadak, dan kurangnya pelatihan bagi guru. Hal ini dapat berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran di sekolah.
Untuk membangun sistem pendidikan yang lebih baik, pemerintah perlu menyusun kebijakan yang didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif, uji coba terbatas yang terkendali, serta melibatkan semua pemangku kepentingan, mulai dari praktisi pendidikan hingga masyarakat luas. Setelah kebijakan diterapkan, perlu ada evaluasi berkala yang transparan dan terbuka terhadap masukan demi penyempurnaan.
Dengan adanya kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan, para pendidik dan pelajar akan memiliki waktu dan ruang untuk benar-benar memahami dan menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Pendidikan bukanlah proyek instan, melainkan proses yang membutuhkan waktu, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan demi menciptakan generasi yang siap menghadapi masa depan dengan kompetensi yang kuat.
2. Perbaikan Sistem Sekolah yang Berorientasi pada Kualitas
Salah satu kelemahan utama sistem pendidikan di Indonesia adalah kecenderungan sekolah untuk mengejar angka kelulusan tinggi demi citra dan reputasi. Banyak sekolah yang meluluskan siswa hanya berdasarkan pertimbangan administratif, bukan berdasarkan pencapaian akademik yang sesungguhnya. Akibatnya, kualitas lulusan menjadi tidak merata dan tidak siap untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi atau memasuki dunia kerja.
Perbaikan sistem sekolah harus dimulai dari perubahan orientasi. Sekolah perlu mengedepankan pencapaian kualitas pembelajaran daripada sekadar mengejar kuantitas kelulusan. Penilaian siswa seharusnya dilakukan secara objektif dan menyeluruh, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sekolah juga harus mendorong pengembangan karakter, kreativitas, serta keterampilan berpikir kritis, bukan hanya kemampuan menghafal materi pelajaran.
Selain itu, penting bagi sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai ujung tombak pembelajaran. Guru harus diberi pelatihan berkelanjutan agar mampu menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan zaman. Peningkatan kualitas tenaga pendidik ini juga harus dibarengi dengan penyediaan fasilitas yang memadai, lingkungan belajar yang aman, serta sistem evaluasi yang adil dan transparan.
Jika sekolah berfokus pada kualitas, maka lulusan yang dihasilkan akan lebih siap menghadapi tantangan dunia nyata. Mereka tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga karakter dan keterampilan yang kuat. Sekolah pun akan menjadi institusi yang benar-benar mencetak generasi penerus bangsa yang unggul, bukan sekadar tempat untuk memenuhi syarat administratif.
3. Membangun Pola Pikir Masyarakat yang Lebih Positif dan Realistis
Pola pikir masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pendidikan. Masih banyak orang tua atau lingkungan sekitar yang memiliki pandangan sempit tentang kecerdasan dan keberhasilan akademik. Mereka cenderung menilai anak pintar hanya berdasarkan nilai matematika atau sains, tanpa mengakui keberagaman potensi anak dalam bidang lain seperti seni, olahraga, atau keterampilan vokasional.
Pandangan semacam ini menciptakan tekanan berlebihan pada anak. Siswa yang tidak unggul dalam bidang akademik sering kali dianggap malas atau bodoh, padahal mereka mungkin memiliki bakat luar biasa di bidang lain. Akibatnya, banyak anak kehilangan rasa percaya diri, kehilangan motivasi belajar, dan tumbuh dengan perasaan tidak dihargai. Hal ini berkontribusi pada lahirnya generasi yang tidak berkembang secara optimal.
Masyarakat perlu mulai membangun pola pikir yang lebih terbuka dan realistis bahwa setiap individu memiliki keahlian unik. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Mereka harus menjadi pendukung utama anak untuk mengenali dan mengembangkan potensinya sendiri, bukan sekadar memaksakan standar tertentu yang tidak sesuai dengan karakter anak. Hal ini juga perlu diperkuat oleh media dan institusi sosial lainnya yang membentuk persepsi publik tentang arti sukses.
Dengan pola pikir yang lebih positif dan realistis, masyarakat akan menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sehat. Anak-anak akan merasa dihargai dan termotivasi untuk berkembang sesuai potensinya. Pada akhirnya, kualitas sumber daya manusia akan meningkat karena masing-masing individu tumbuh dan berkembang secara maksimal, bukan terpaksa mengikuti pola yang tidak cocok bagi dirinya.
Saran
Barangkali sudah saatnya kita berhenti bersikap manusiawi terhadap sistem pendidikan yang jelas-jelas gagal. Siswa malas tetap diluluskan, guru tidak kompeten tetap digaji, dan sekolah lebih sibuk menjaga citra daripada meningkatkan kualitas. Jika kita terus memaklumi kebodohan dan ketidakdisiplinan atas nama kasihan atau demi tidak menyakiti perasaan, maka kita sebenarnya sedang menciptakan generasi yang rapuh, malas berpikir, dan siap menjadi beban negara. Pendidikan seharusnya bukan ruang empati yang berlebihan, melainkan arena seleksi yang keras agar hanya mereka yang benar-benar siap dan layak yang bisa membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
