Di Mana Letak Masalahnya: Lapangan Kerja yang Sempit atau Terlalu Selektif

Team Manager - GEEK FAM ID Excel Trainers Graduate Sharia Economic : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ahmad Zaki Haqiqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam lima tahun terakhir, kondisi ketenagakerjaan di Indonesia menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan. Pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif, terutama setelah pandemi COVID-19, berpengaruh besar terhadap dunia kerja. Walaupun angka pengangguran nasional perlahan menurun, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak anak muda, khususnya Gen Z, kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun keterampilan yang dimiliki.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka pada kelompok usia 15–24 tahun konsisten lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata nasional. Hal ini menggambarkan adanya kesenjangan antara jumlah lulusan baru yang terus bertambah setiap tahun dengan ketersediaan lapangan kerja berkualitas. Situasi ini membuat banyak pemuda akhirnya masuk ke sektor informal, dengan kondisi pekerjaan yang seringkali tidak stabil dan minim perlindungan.
Fenomena ini kemudian memunculkan perdebatan: apakah sebenarnya Indonesia memang kekurangan lapangan kerja yang layak, atau justru generasi mudanya yang terlalu selektif dalam memilih pekerjaan? Sebagian pihak menuding Gen Z “tidak mau bekerja” karena cenderung menolak pekerjaan bergaji rendah, sementara pihak lain menilai masalah utamanya ada pada lambatnya penciptaan lapangan kerja formal.
Untuk memahami lebih dalam di mana letak masalah sebenarnya, perlu dilihat dari berbagai sisi: apakah persoalan ini murni karena lapangan kerja formal berkualitas yang terbatas, atau karena keterampilan tenaga kerja yang tidak sesuai kebutuhan industri, ditambah dengan faktor lain seperti preferensi generasi muda, sistem rekrutmen, hingga fenomena “orang dalam”. Berikut adalah uraian penyebab utama yang membuat masalah ketenagakerjaan di Indonesia masih terus terjadi hingga saat ini.
Terbatasnya Lapangan Kerja Formal Berkualitas
Meski ada pertumbuhan ekonomi, penciptaan pekerjaan formal tidak sebanding dengan jumlah lulusan baru. Struktur ekonomi Indonesia bergeser dari sektor manufaktur ke sektor jasa dan ekstraktif, di mana peluang kerja formal padat karya justru lebih kecil. Akibatnya, banyak pekerjaan yang tersedia berada di sektor informal, seperti perdagangan kecil, pekerja lepas, hingga driver aplikasi.
Alasan kenapa ini sering terjadi:
Investasi asing dan domestik lebih banyak masuk ke sektor berbasis sumber daya alam (tambang, perkebunan), yang padat modal, bukan padat tenaga kerja.
Sektor UMKM memang menyerap banyak pekerja, tapi cenderung informal dan berupah rendah.
Regulasi dan birokrasi masih dianggap menghambat pertumbuhan industri padat karya.
Kesenjangan Keterampilan (Skills Mismatch)
Banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang tidak siap masuk dunia kerja. Perusahaan kerap mengeluhkan kurangnya keterampilan praktis, kemampuan komunikasi, hingga skill digital. Sementara itu, pendidikan vokasi yang seharusnya menjembatani dunia sekolah dan industri masih belum merata kualitasnya.
Alasan kenapa ini sering terjadi:
Kurikulum pendidikan cenderung teoritis dan kurang terhubung dengan kebutuhan pasar kerja.
Program magang atau praktik kerja industri masih terbatas dan sering tidak efektif.
Perkembangan teknologi berjalan lebih cepat daripada adaptasi kurikulum pendidikan.
Tingginya Pengangguran Pemuda dan Lulusan SMK/Universitas
Data BPS menunjukkan, justru lulusan SMK memiliki tingkat pengangguran tertinggi dibandingkan jenjang lain. Ironisnya, perguruan tinggi juga menyumbang jumlah pengangguran cukup besar. Ini menunjukkan adanya masalah transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja.
Alasan kenapa ini sering terjadi:
Jumlah lulusan meningkat tiap tahun, sementara pasar kerja tidak mampu menyerap secepat itu.
Banyak lulusan mengejar pekerjaan sesuai bidang studi, sehingga kurang fleksibel mencoba bidang lain.
Pekerjaan di sektor formal terbatas, sementara sektor informal kurang menarik bagi lulusan yang merasa pendidikannya “terlalu tinggi” untuk jenis pekerjaan tertentu.
Perubahan Preferensi dan Ekspektasi Gen Z
Generasi muda saat ini cenderung menolak pekerjaan dengan gaji sangat rendah, jam kerja panjang, dan minim jaminan. Mereka lebih memilih pekerjaan fleksibel, freelance, atau bahkan menunda bekerja sambil mencari peluang yang sesuai dengan minat.
Alasan kenapa ini sering terjadi:
Akses informasi luas membuat Gen Z lebih tahu standar upah dan kondisi kerja layak.
Budaya digital memberi banyak alternatif pekerjaan, seperti konten kreator atau freelance online.
Adanya pergeseran nilai: Gen Z lebih mementingkan work-life balance dan makna kerja, bukan sekadar “asal ada kerjaan”.
Kurangnya Akses dan Informasi Pasar Kerja
Meski lowongan kerja ada, banyak pencari kerja tidak tahu cara mengaksesnya atau kalah bersaing karena tidak tahu keterampilan yang dibutuhkan. Platform digital sudah banyak, tetapi tidak semua bisa menjangkau kalangan bawah.
Alasan kenapa ini sering terjadi:
Akses internet dan literasi digital masih timpang antara kota besar dan daerah.
Informasi lowongan formal lebih mudah diakses mereka yang punya koneksi dan jaringan sosial kuat.
Minimnya bimbingan karier di sekolah dan kampus membuat lulusan bingung arah karier.
Fenomena “Orang Dalam” dan Nepotisme
Di Indonesia, isu “orang dalam” sering muncul ketika membicarakan kesulitan mencari kerja. Banyak pencari kerja merasa bahwa meskipun mereka memenuhi kualifikasi, posisi tertentu lebih mudah didapat jika ada koneksi keluarga, relasi, atau rekomendasi orang dalam perusahaan. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa kualitas dan kompetensi kadang kalah oleh kedekatan personal.
Alasan kenapa ini masih sering terjadi:
Budaya patronase : dalam banyak organisasi, terutama BUMN, lembaga pemerintahan, atau perusahaan besar, hubungan personal masih dianggap penting sebagai jaminan kepercayaan.
Kurangnya transparansi rekrutmen: meski ada sistem seleksi resmi, praktik informal tetap berjalan di belakang layar.
Persaingan tinggi : karena jumlah pelamar jauh lebih banyak daripada lowongan, koneksi dianggap “jalan pintas” untuk menyingkat proses seleksi.
Kepercayaan sosial : di budaya kerja Indonesia, sering muncul anggapan bahwa mempekerjakan orang yang dikenal lebih “aman” dibanding kandidat asing yang tidak jelas latar belakangnya.
Dampaknya:
Pencari kerja tanpa koneksi merasa tersisih dan pesimis, meskipun punya keterampilan memadai.
Memperkuat stigma bahwa mencari kerja di Indonesia lebih ditentukan oleh “kenalan” daripada kompetensi.
Membuat sebagian Gen Z enggan melamar ke institusi tertentu karena merasa “percuma” bersaing tanpa orang dalam.
Dalam konteks lima tahun terakhir, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dalam fase transisi menghadapi bonus demografi sekaligus gempuran era digital. Laju pertumbuhan angkatan kerja tidak selalu seimbang dengan ketersediaan pekerjaan, sementara dinamika industri menuntut keterampilan baru yang belum sepenuhnya dimiliki oleh sebagian besar pencari kerja. Situasi ini diperparah oleh ketidakmerataan akses terhadap pendidikan dan pelatihan, serta praktik-praktik rekrutmen yang belum sepenuhnya transparan. Karena itu, penting untuk meninjau masalah ketenagakerjaan dari berbagai sisi agar solusi yang ditawarkan tidak parsial, melainkan menyeluruh.
Melihat berbagai persoalan yang telah diuraikan, jelas bahwa masalah ketenagakerjaan di Indonesia tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Terbatasnya lapangan kerja formal, kesenjangan keterampilan, tingginya pengangguran pemuda, hingga fenomena “orang dalam” menjadi faktor yang saling terkait dan memperburuk kondisi. Di sisi lain, preferensi Gen Z yang lebih selektif terhadap jenis pekerjaan menambah kompleksitas dalam proses penyerapan tenaga kerja. Dengan kata lain, bukan hanya lapangan kerja yang kurang, tetapi juga kualitas SDM serta mekanisme pasar kerja yang perlu diperbaiki. Maka, penyelesaian masalah ini menuntut peran bersama—dari pemerintah, dunia pendidikan, perusahaan, hingga generasi muda itu sendiri—agar tercipta ekosistem kerja yang lebih inklusif, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
