Peran Generasi Muda dalam Mewujudkan Net Zero Emission di Indonesia

Conten Writer- Sharia Economic Enthusiasm
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Ahmad Zaki Haqiqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki kerentanan yang tinggi terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari banjir, kenaikan muka air laut, hingga kebakaran hutan dan krisis pangan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa lebih dari sembilan puluh persen emisi gas rumah kaca di Indonesia berasal dari sektor energi serta perubahan penggunaan lahan dan kehutanan. Kondisi ini semakin kompleks karena sistem ketenagalistrikan Indonesia masih sangat bergantung pada batu bara. Hingga tahun 2022, batu bara tercatat menyumbang lebih dari enam puluh tujuh persen bauran energi primer, sedangkan energi baru dan terbarukan baru mencapai sekitar empat belas persen.
Meskipun demikian, terdapat perkembangan positif. Pada tahun 2023, sektor energi berhasil menurunkan emisi sekitar seratus dua puluh tiga juta ton CO₂, melampaui target yang ditetapkan pemerintah sebesar seratus enam belas juta ton. Target yang lebih besar telah ditetapkan dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC), yakni pengurangan emisi sebesar tiga puluh satu koma delapan sembilan persen dengan upaya sendiri, atau empat puluh tiga koma dua persen jika mendapatkan dukungan internasional, pada tahun 2030. Di sisi lain, sektor kehutanan dan penggunaan lahan juga menunjukkan dinamika penting. Antara 2017 hingga 2021, tutupan hutan Indonesia berkurang hampir satu juta hektare, meskipun luas kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2023 tercatat menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan pencapaian emisi nol bersih atau Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Target ini sejalan dengan komitmen global untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat Celsius dan diupayakan melalui transisi menuju energi terbarukan, rehabilitasi hutan, serta pengembangan teknologi hijau. Namun, jalan menuju target tersebut penuh tantangan, mulai dari kebutuhan investasi yang sangat besar hingga keterbatasan kapasitas teknologi di dalam negeri.
Di tengah situasi tersebut, generasi muda memiliki peran penting. Sebagai kelompok demografis terbesar di Indonesia, pemuda, khususnya mahasiswa, memiliki potensi untuk menjadi motor perubahan melalui pendidikan, penelitian, kewirausahaan, dan advokasi kebijakan. Dengan energi, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap teknologi baru, generasi muda berpeluang besar menjadi aktor utama dalam mendorong transformasi Indonesia menuju Net Zero Emission pada tahun
Seberapa realistis NZE 2060 untuk Indonesia?
Target NZE 2060 mungkin tercapai dalam skenario optimis yaitu bila ada percepatan kebijakan, pendanaan memadai, transformasi SDM yang cepat, serta koordinasi kuat antara pusat-daerah-sektor swasta-masyarakat. Tanpa percepatan tersebut, target akan sangat menantang dan cenderung meleset. Analisis berikut memecah faktor-faktor yang menentukan realistis/tidaknya target tersebut.
1) Pilar Energi (generasi listrik, pembangkit, jaringan)
Kondisi saat ini: batu bara masih mendominasi struktur energi Indonesia (handbook ESDM 2024 menunjukkan dominasi batu bara dalam bauran primer), sementara pemanfaatan EBT masih jauh dari potensi penuh. Rencana kelistrikan (RUPTL) terbaru menunjukkan dinamika antara penambahan kapasitas fosil dan target terbarukan.
Apa yang harus disiapkan
Kebijakan fase-down batu bara yang terukur: jadwal penonaktifan PLTU, kontrak coal-to-gas/renewables transition.
Penambahan kapasitas EBT besar-besaran (solar, panas bumi, hidro, angin) dan grid modernization (penyambungan pulau, interkoneksi, smart grid).
Sistem penyimpanan energi (baterai) dan solusi fleksibilitas (demand response, hidrogen/backup gas bersih).
Mekanisme pasar & insentif (tarif feed-in, PPA yang bankable, pengurangan subsidi fosil).
Analisis realisme
Secara teknis mungkin: potensi EBT sangat besar; teknologi tersedia. Namun secara finansial & politik transisi terganjal dua hal: (1) kebutuhan investasi besar dan (2) kepentingan ekonomi daerah/industri batu bara. Inisiatif internasional seperti JETP menyediakan modal awal (~US$20 miliar) namun tidak menutup seluruh gap pembiayaan. Jika dana JETP dan investasi swasta direalisasikan serta RUPTL diarahkan ke tambahannya EBT, target sektor listrik menuju nol-bersih (elektrifikasi + dekarbonisasi) bisa realistis.
Risiko & mitigasi
Risiko stranded assets (PLTU yang harus ditutup lebih cepat) → mitigasi: mekanisme kompensasi / buy-out, repurposing lokasi PLTU (mis. energy hub, penyimpanan).
Risiko keuangan (investor ragu) → mitigasi: jaminan kredit, pengaturan local content yang fleksibel untuk akses pembiayaan asing.
2) Pilar Lahan, Kehutanan, dan Pertanian (FOLU)
Kondisi saat ini: perubahan penggunaan lahan & deforestasi masih berkontribusi besar pada emisi nasional; tren penurunan deforestasi tercatat tetapi masih rentan. Restorasi lahan gambut dan mangrove memiliki potensi besar untuk serapan karbon.
Apa yang harus disiapkan
Penegakan hukum terhadap deforestasi ilegal + pemantauan satelit & data spasial real-time.
Program restorasi (pekatkan rehabilitasi gambut, restorasi mangrove) dan insentif bagi tata guna lahan berkelanjutan.
Skema agroforestry dan pertanian rendah emisi (reduksi emisi enterik, pengelolaan pupuk).
Analisis realisme
Pemulihan/serapan dari sektor ini adalah salah satu jalur paling cost-effective untuk menurunkan emisi jangka pendek/menengah. Jika implementasi LTS-LCCR dan program pemulihan lahan (rehab juta-an hektare) dijalankan dengan sumber daya & pengawasan, sektor FOLU dapat menjadi net sink atau setidaknya mengurangi beban emisi. Hambatan utama: konflik lahan, insentif ekonomi untuk perluasan sawit, dan kapasitas pengawasan di daerah.
Risiko & mitigasi
Risiko kebijakan yang inkonsisten (izin baru membuka lahan) → mitigasi: harmonisasi peraturan pusat-daerah, transparansi izin.
Risiko pembiayaan restorasi → mitigasi: blended finance, payment for ecosystem services, karbon-finance terverifikasi.
3) Pilar Industri berat, transportasi, dan bangunan
Kondisi saat ini: industri primer (semen, baja, kimia) dan transportasi adalah kontributor besar emisi dan memerlukan teknologi rendah karbon yang mahal (CCUS untuk industri, elektrifikasi transportasi, infrastruktur pengisian EV).
Apa yang harus disiapkan
Roadmap dekarbonisasi industri: efisiensi proses, retrofitting, alternatif bahan bakar rendah karbon, dan CCUS untuk sektor yang sulit di-elektrifikasi.
Elektrifikasi transportasi ditopang oleh kebijakan fiskal (insentif mobil listrik, pajak karbon pada bahan bakar) serta ketersediaan infrastruktur charging dan jaringan listrik rendah-emisi.
Standar bangunan hijau (efisiensi energi, thermal performance) dipaksakan lewat aturan pembangunan & insentif.
Analisis realisme
Jangka menengah (2030–2040): peralihan sebagian sektor transport dan bangunan bisa tercapai (kendaraan listrik, efisiensi bangunan) — ini realistis bila ada insentif fiskal dan tambahan kapasitas listrik bersih.
Jangka panjang (2040–2060): industri berat akan menjadi faktor pembatas karena CCUS dan proses substitusi bahan baku memerlukan investasi besar dan teknologi yang masih mahal. Keterbatasan teknologi domestik dan biaya akan menunda dekarbonisasi penuh kecuali ada transfer teknologi dan subsidi energi hijau.
4) Pilar Pembiayaan & Ekonomi (APBN, swasta, internasional)
Kondisi saat ini: kebutuhan investasi transisi sangat besar; JETP menyumbang paket awal ~US$20 miliar sebagai katalis, tetapi kebutuhan total jauh melebihi itu. Selain itu, subsidi bahan bakar fosil masih besar dan perlu direalokasi.
Apa yang harus disiapkan
Strategi blended finance: kombinasi APBN, dana BUMN, dana pensiun, private equity, dan pembiayaan internasional (concessional loans, guarantees).
Instrumen pasar modal hijau: obligasi hijau, sukuk hijau, carbon pricing mekanisme.
Kebijakan fiskal (pengurangan subsidi fosil bertahap, insentif pajak untuk EBT).
Analisis realisme
Dengan JETP dan pembukaan kebijakan/relaksasi local content rules untuk proyek berpendanaan asing, akses modal dapat meningkat (sinyal positif 2023–2024). Namun realisasi modal tergantung kepastian investor (stability, aturan PPA yang bankable) dan politik domestik. Tanpa reformasi subsidi & insentif, akan sulit memobilisasi jumlah modal yang dibutuhkan.
5) Pilar Sumber Daya Manusia (SDM) & Institusi
Kondisi saat ini: Indonesia punya bonus demografi—banyak tenaga kerja muda—tetapi terdapat kesenjangan keterampilan (vokasi/teknis untuk EBT, MRV, manajemen energi). Sektor batu bara mempekerjakan puluhan hingga ratusan ribu orang secara langsung/indirect; transisi butuh reskilling besar. (estimasi pekerja di sektor batu bara ~200–300 ribu; studi menunjukkan konsentrasi regional tinggi).
Apa yang harus disiapkan
Program reskilling & upskilling terstruktur (kerja sama perguruan tinggi — industri) untuk installer PV, teknisi grid, operator baterai, spesialis hidrogen, auditor energi.
Integrasi kurikulum ekonomi hijau di universitas & vokasi; beasiswa riset teknologi EBT.
Jaringan inkubasi & akses modal mikro untuk startup hijau.
Analisis realisme
SDM bisa ditingkatkan cepat dengan program vokasi dan insentif; potensi penciptaan green jobs cukup tinggi (bisa menutupi pekerjaan yang hilang) jika ada program just transition yang memadai. Dalam hal ini, perguruan tinggi & Lembaga Pelatihan Kerja harus diberdayakan sekarang.
6) Pilar Data, MRV, dan Tata Kelola (governance)
Kondisi saat ini: Indonesia sudah memiliki dokumen NDC & LTS-LCCR, serta upaya peningkatan MRV, namun kualitas data dan transparansi antar-instansi masih perlu ditingkatkan. NDC Enhanced memuat target 31.89% (unconditional) dan 43.2% (conditional) by 2030.
Apa yang harus disiapkan
Sistem MRV nasional terpadu (terbuka, auditable), standard accounting untuk emis i & serapan.
Dashboard publik dan pelaporan reguler (kota, provinsi, sektor).
Penguatan kapasitas Bappenas/KLHK/ESDM dan kolaborasi riset universitas.
Analisis realisme
MRV realistis diperbaiki dalam 5–10 tahun dengan komitmen pendanaan dan kolaborasi internasional; ini krusial karena tanpa data akurat, kebijakan tidak akan tepat sasaran.
7) Pilar Sosial & Just Transition
Kondisi saat ini: daerah penghasil batu bara mendapat penerimaan penting dari tambang; tanpa rencana transisi adil akan muncul resistensi lokal. LTS-LCCR dan JETP menempatkan aspek keadilan sebagai perhatian, tetapi implementasi detail masih harus dibuktikan.
Apa yang harus disiapkan
Paket sosial: kompensasi, program penciptaan emprego setara (green jobs), pendanaan diversifikasi ekonomi daerah.
Keterlibatan aktif serikat pekerja, pemerintah daerah, dan perusahaan untuk menyusun rencana transisi wilayah.
Analisis realisme
Tanpa paket just transition yang finansial dan politis realistis, dalam praktik target pengurangan karbon akan menghadapi hambatan politik signifikan.
Generasi Muda dan Kontribusinya dalam Mewujudkan NZE 2060
1. Agen Perubahan Gaya Hidup (Lifestyle Change)
Peran: Generasi muda dapat menjadi role model dalam menerapkan gaya hidup rendah karbon, misalnya dengan menghemat listrik, beralih ke transportasi publik, mengurangi sampah plastik, dan memilih produk ramah lingkungan.
Persiapan: Dibutuhkan literasi iklim yang kuat agar mereka memahami dampak dari tindakan sehari-hari. Pendidikan lingkungan di kampus dan komunitas harus memperkuat pemahaman ini sehingga aksi sederhana terasa penting.
2. Inovator Teknologi dan Start-up Hijau
Peran: Mahasiswa dan pemuda bisa melahirkan inovasi, mulai dari aplikasi monitoring emisi, panel surya rumah tangga, hingga model pertanian urban yang hemat energi. Mereka juga bisa menginisiasi green startup yang berfokus pada solusi iklim.
Persiapan: Untuk bisa mencipta, pemuda perlu green skills dan pemahaman teknologi terkini, seperti energi terbarukan, data analitik emisi, hingga smart grid. Dukungan inkubator kampus, riset kolaboratif, dan akses pendanaan akan menjadi faktor penentu.
3. Advokat dan Influencer Kebijakan
Peran: Generasi muda dapat menjadi suara kritis yang mendorong kebijakan energi bersih, baik melalui organisasi mahasiswa, komunitas, maupun media sosial. Mereka bisa mengedukasi masyarakat sekaligus mengawal konsistensi pemerintah.
Persiapan: Keterampilan sosial harus diperkuat: komunikasi publik, advokasi, dan kepemimpinan. Selain itu, jejaring dengan NGO, akademisi, dan pembuat kebijakan penting agar suara pemuda lebih diperhitungkan.
4. SDM Hijau (Green Jobs & Reskilling)
Peran: Pemuda adalah tenaga kerja masa depan. Mereka bisa mengisi kebutuhan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, atau teknologi rendah karbon.
Persiapan: Reskilling dan upskilling perlu dipacu sejak dini. Pendidikan vokasi, pelatihan teknisi panel surya, operator baterai, hingga auditor energi harus diperluas. Integrasi kurikulum ekonomi hijau di perguruan tinggi akan mencetak SDM siap pakai.
5. Kolaborator dalam Komunitas Lokal
Peran: Generasi muda mampu menggerakkan aksi nyata di akar rumput, misalnya program reforestasi, bank sampah digital, hingga desa mandiri energi. Mereka dapat menjembatani masyarakat dengan program pemerintah atau LSM.
Persiapan: Dibutuhkan kesadaran sosial dan aksi kolektif. Pemuda harus siap bekerja lintas sektor, membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas lokal, dan mitra internasional agar program tidak berhenti di ide saja.
6. Kolaborasi dan Jejaring Internasional
Peran: Pemuda dapat menjadi jembatan Indonesia dengan dunia dalam hal inovasi, pengetahuan, dan gerakan lingkungan. Keterlibatan mereka dalam forum global memberi kesempatan membawa gagasan baru ke tanah air.
Persiapan: Harus dibangun jejaring lintas negara melalui program pertukaran, forum internasional, atau organisasi pemuda global. Universitas, NGO, dan pemerintah perlu memberi ruang agar pemuda terlibat di level global.
Skenario Realistis
Skenario Optimis (kemungkinan terkondisi): kebijakan pro-renewables dipercepat, JETP & investasi swasta direalisasikan, subsidi fosil direalokasi, program reskilling berjalan — NZE 2060 achievable. Syarat: konsistensi politik 2025–2040, akses modal besar.
Skenario Baseline (kemungkinan tertinggi tanpa intervensi ekstra): beberapa kemajuan pada EBT, penurunan emisi moderat, tetapi batu bara tetap berperan signifikan hingga 2040–2050 — kemungkinan NZE 2060 rendah/tergeser ke belakang.
Skenario Pessimistik (kemungkinan jika ada gangguan): pendanaan internasional terhambat, ekonomi tekan, kebijakan berubah atau inkonsisten — NZE 2060 tidak tercapai.
Target Net Zero Emission (NZE) 2060 di Indonesia merupakan komitmen yang penting, tetapi jalannya tidak akan mudah. Fakta saat ini menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil, pendanaan hijau masih terbatas, dan kesiapan SDM serta teknologi masih perlu banyak ditingkatkan. Artinya, perjalanan menuju NZE bukan hanya soal tekad politik, tetapi juga soal keberanian mengambil keputusan yang sulit, konsistensi kebijakan lintas pemerintahan, serta kesiapan masyarakat menghadapi perubahan gaya hidup dan ekonomi.
Apabila kebijakan yang kontradiktif, seperti tingginya subsidi energi fosil, masih terus berlangsung, maka target NZE berpotensi meleset. Sebaliknya, bila Indonesia berani mempercepat transisi energi, memperkuat pendanaan hijau, meningkatkan kapasitas SDM, dan memberikan ruang lebih besar bagi generasi muda untuk berinovasi, maka peluang pencapaian NZE akan semakin nyata.
Generasi muda harus sadar bahwa tantangan ini adalah “maraton panjang” yang dimulai sejak sekarang. Mereka tidak bisa menunggu sampai 2050 untuk bertindak. Setiap langkah kecil—mulai dari inovasi teknologi hijau, gaya hidup berkelanjutan, hingga partisipasi dalam kebijakan publik—akan menentukan seberapa dekat Indonesia dengan mimpi NZE 2060. Dengan kata lain, target ini realistis hanya jika seluruh pihak bergerak bersama sejak hari ini.
