Prabowo 'Macak' Sultan di ruang Menteri Kebudayaan

Praktisi bisnis, SDGs Enthusiast, dan lulusan MBA UGM dengan konsentrasi Sustainability Management.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Zaki Permana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya cukup terkejut ketika memasuki ruang tamu Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dan melihat sebuah lukisan berukuran besar terpajang di sana.
Bukan karena objek lukisannya adalah Presiden Prabowo Subianto. Memajang lukisan presiden di kantor kementerian tentu bukan sesuatu yang aneh. Yang membuat saya berhenti cukup lama justru adalah bagaimana Prabowo digambarkan.

Dalam lukisan tersebut, Prabowo tidak tampil sebagai Presiden Republik Indonesia, mantan prajurit, atau pemimpin yang berada di tengah masyarakat. Ia justru digambarkan mengenakan busana menyerupai seorang raja atau sultan Jawa: beskap putih, kain batik, sabuk besar, aksesori kebesaran, dan pose yang sangat aristokratik. Bahasa sederhananya, Prabowo sedang “macak” sultan.
Di bagian kiri bawah lukisan terdapat tulisan yang, sejauh dapat saya baca, berbunyi “Senopati ing Alogo Prabowo Subianto Hanyokrokusumo”
Di bawahnya terdapat nama Hardi dan penanda waktu Maret 2018. Berdasarkan keterangan di sisi lukisan, karya tersebut merupakan koleksi Fadli Zon Library.
Saya tidak mengetahui secara pasti apa maksud Hardi ketika membuat lukisan tersebut. Sebagai karya seni, tentu seniman bebas bermain dengan imajinasi, satire, hiperbola, simbol maupun bentuk penghormatan tertentu.
Namun ketika melihat karya ini terpajang di ruang Menteri Kebudayaan, saya menjadi bertanya-tanya mengenai simbol yang sedang ditampilkan.
Kalau hanya melihat tokoh utamanya, mungkin orang akan berhenti pada kesimpulan sederhana, Prabowo dilukis mengenakan busana aristokrat Jawa. Tetapi kalau lukisan itu diperhatikan lebih lama, ternyata konstruksi simboliknya jauh lebih ramai.
Di belakang figur Prabowo terdapat beberapa bangunan yang mudah dikenali sebagai representasi pusat-pusat kekuasaan negara, dalam latarbelakang ada Monas, Gedung DPR/MPR, dan Istana Negara atau Istana Kepresidenan.
Detail ini menurut saya penting. Sebab lukisan tersebut kemudian tidak lagi hanya terlihat sebagai potret seseorang yang sedang mengenakan pakaian kerajaan Jawa. Prabowo ditempatkan secara visual di hadapan simbol-simbol utama negara modern Indonesia.
Monas dapat dibaca sebagai simbol bangsa dan negara. Gedung DPR/MPR merepresentasikan institusi politik dan kekuasaan legislatif. Istana merepresentasikan pusat kekuasaan eksekutif. Sementara figur utama di depannya justru dibangun dengan bahasa visual seorang sultan.
Tentu saya tidak bisa memastikan bahwa itulah maksud Hardi. Interpretasi sebuah karya tidak boleh begitu saja dianggap sebagai niat sang pelukis. Tetapi sebagai orang yang melihatnya, komposisi ini sulit untuk saya abaikan.
Ada pertemuan yang sangat menarik namun ganjil, karena simbol republik dan simbol monarki ditempelkan dalam satu kanvas yang sama. Di belakang ada lembaga-lembaga negara republik. Di depan ada seorang tokoh politik yang dipacaki sebagai raja yang semuanya dibungkus dengan nama serta gelar yang membawa kita kepada tradisi Mataram.
Bagi orang Yogyakarta, istilah “Senopati Ing Ngalogo” mempunyai konteks yang sangat spesifik, karena “Senopati Ing Ngalogo” adalah bagian dari gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sedangkan nama Hanyokrokusumo adalah nama yang sangat kuat diasosiasikan dengan Sultan Agung dari Mataram.
Artinya, kata-kata yang dicantumkan dalam lukisan tersebut bukan sekadar ornamen bahasa Jawa. Mereka membawa memori kekuasaan. Mereka membawa sejarah. Dan mereka membawa simbol kebesaran kerajaan yang sampai sekarang masih mempunyai makna budaya yang sangat kuat.
Maka ketika nama Prabowo Subianto ditempatkan di antara “Senopati ing Alogo” dan “Hanyokrokusumo,” sementara tubuhnya digambarkan dalam pose dan pakaian seorang raja, kemudian di belakangnya berdiri simbol-simbol kekuasaan republik, saya menjadi semakin penasaran dengan gagasan yang hendak disampaikan.
Apakah Prabowo sedang dibayangkan sebagai figur pemimpin Jawa? Apakah ia sedang ditempatkan dalam imajinasi kebesaran Mataram? Atau semua itu hanya permainan simbol sang pelukis? Saya tidak tahu. Tetapi karena simbol-simbol itu begitu kaya dengan makna. Penggunaannya terasa tidak bisa disepelekan.
Saya harus mengakui, kesan pertama saya ketika melihat lukisan ini bukanlah perasaan kagum pada keagungan. Yang muncul justru pertanyaan-pertanyaan dan rasa mengganjal karena ada sesuatu yang terasa kekanak-kanakan.
Bayangkan seorang anak kecil mengenakan baju pilot lengkap, kemudian berpose sambil membayangkan dirinya sedang menerbangkan pesawat. Atau seorang anak mengenakan seragam polisi, lengkap dengan topi dan atributnya, kemudian dengan bangga merasa dirinya sekarang adalah polisi. Tidak ada yang salah dengan itu.
Pada anak kecil, hal semacam itu malah lucu dan menyenangkan. Anak-anak memang sering memahami sebuah peran melalui atribut yang paling mudah terlihat. Pilot berarti seragam pilot. Polisi berarti seragam polisi. Raja berarti busana kebesaran, kain, sabuk, aksesori, pose resmi, gelar-gelar yang panjang dan nama yang terdengar agung.
Bagi anak kecil tentu tidak menjadi persoalan, namun terasa aneh jika gambar tersebut ada pada orang dewasa yang juga adalah seorang pemimpin besar, pemimpin sebuah negara besar.
Padahal untuk menunjukkan bahwa seorang tokoh adalah pemimpin besar ia tidak harus “didandani” menjadi "orang besar." Pemimpin besar tidak membutuhkan banyak atribut untuk menunjukkan bahwa dirinya besar.
Jika seseorang benar-benar berwibawa, ia tetap terlihat berwibawa meski tanpa embel-embel "Senopati ing ngalogo dan Hanyokrokusumo." Kebesaran yang harus terus dijelaskan melalui atribut-atribut tambahan justru kadang menjadi penyebab hilangnya kebesaran itu sendiri.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan Prabowo yang mengenakan busana Jawa. Presiden tentu dapat dilukis dengan pakaian adat apa pun, asalkan tetap empan papan dan tidak terasa nranyak atau kebablasan.
Ingat, Presiden memperoleh kekuasaan bukan karena garis keturunan kerajaan, melainkan melalui sistem ketatanegaraan republik, pemilihan umum.
Namun di dalam lukisan ini, simbol-simbol republik itu justru menjadi latar bagi sosok yang divisualisasikan menggunakan bahasa kebesaran seorang sultan.
Sekali lagi, saya tidak menyatakan bahwa inilah maksud sang pelukis. Tetapi sebagai pembaca visual, kontradiksi itu cukup kuat. Seakan-akan ada dua dunia yang bertemu.
Di belakang, Republik dan lembaga negara modern. Di depan, Aristokrasi dan simbol kebesaran Jawa. Sementara di tengah semua itu Prabowo Subianto. Menurut saya, di titik inilah lukisan tersebut seharusnya mendapatkan penjelasan kuratorial yang jauh lebih serius.
Jika lukisan tersebut berada di perpustakaan atau koleksi pribadi, mungkin saya akan melihatnya sebagai ekspresi seorang seniman dan pilihan seorang kolektor. Selesai.
Namun konteksnya berubah ketika sebuah karya ditempatkan di ruang tamu Menteri Kebudayaan. Ruang tersebut bukan sepenuhnya ruang privat.
Pejabat, diplomat, seniman, akademisi, budayawan, tamu daerah maupun tamu internasional dapat datang ke sana dan apa yang ditampilkan sedikit banyak ikut berbicara mengenai institusi.
Karena itu saya menjadi bertanya tentang pertimbangan kuratorialnya. Mengapa karya ini ditempatkan di sana? Apakah karena nilai artistiknya? Nilai historisnya? Karena merupakan bagian dari koleksi pribadi? Atau karena dianggap mewakili gagasan tertentu mengenai kepemimpinan? Pertanyaan wajar bukan?
Kementerian Kebudayaan semestinya menjadi salah satu institusi yang paling memahami bahwa simbol budaya tidak pernah hadir dalam ruang kosong. Ada konteks. Ada sejarah. Ada tata-simbol. Ada empan papan, yaitu mengetahui bagaimana sesuatu ditempatkan sesuai ruang dan konteksnya.
Bukankah sebenarnya ada begitu banyak sisi Prabowo yang jauh lebih menarik untuk ditampilkan oleh Kementerian Kebudayaan?
Prabowo bersama petani. Prabowo berbincang dengan masyarakat. Prabowo bersama seniman dan budayawan. Prabowo berada di tengah keragaman budaya Nusantara. Atau Prabowo dalam pakaian sederhana sebagai seorang Presiden Republik yang sedang berbicara dengan rakyatnya.
Indonesia adalah republik dan Prabowo adalah Presiden Republik Indonesia. Menampilkannya sebagai Presiden Republik menurut saya dirinya jauh lebih menarik dan penting untuk ditampilkan oleh Kementrian Kebudayaan.
Saya tidak mengetahui apakah Presiden Prabowo pernah meminta dirinya digambarkan seperti ini. Saya juga tidak mengetahui apakah beliau mengetahui bahwa lukisan tersebut terpajang di ruang Menteri Kebudayaan. Karena itu tulisan ini bukan kritik terhadap Prabowo secara pribadi.
Saya hanya mempertanyakan cara sebuah institusi kebudayaan menampilkan dan memberi konteks terhadap simbol. Sebab ada perbedaan besar antara sebuah lukisan sebagai karya seni dengan sebuah lukisan sebagai bagian dari representasi sebuah institusi negara.
Seniman bebas berfantasi. Ia boleh menggambar presiden sebagai sultan, petani, astronaut, pawang hujan, panglima perang atau apa pun.
Tetapi ketika karya itu dipajang di ruang resmi negara, institusi yang memajangnya juga ikut menjadi bagian dari pembacaan karya tersebut. Terlebih kalau karya tersebut menggunakan simbol-simbol yang begitu sarat sejarah.
Saya sebenarnya tidak berpikir lukisan ini harus diturunkan. Kalau memang dianggap sebagai karya penting, akan jauh lebih menarik apabila di sampingnya tersedia penjelasan kuratorial yang cukup.
Siapa Hardi? Apa konteks karya tersebut dibuat pada Maret 2018? Mengapa Prabowo digambarkan seperti sultan? Apa maksud “Senopati ing Alogo”? Mengapa menggunakan “Hanyokrokusumo”?
Mengapa terdapat Monas, Gedung DPR/MPR dan Istana di belakang figur utama? Apakah kehadiran ketiga bangunan tersebut memang dimaksudkan sebagai simbol kekuasaan negara?
Apakah karya ini sebuah penghormatan? Satire? Fantasi politik? Atau interpretasi mengenai konsep kepemimpinan Jawa?
Kalau pertanyaan-pertanyaan seperti itu dijelaskan, lukisan tersebut justru bisa menjadi objek diskusi kebudayaan yang sangat menarik. Sebab sebuah karya yang baik memang dapat membuat orang berhenti dan berpikir. Dan lukisan ini berhasil membuat saya melakukan itu.
Hanya saja, pikiran pertama yang muncul ketika saya melihatnya bukanlah “betapa agungnya sosok dalam lukisan tersebut” melainkan hanya keterkejutan, dan serangkaian pertanyaan-pertanyaan.
Sebenarnya, kebudayaan seperti apa yang sedang ingin kita tampilkan?
