Mengapa "Generasi Stroberi" Lahir Dari Keluarga Modern

Mahasiswa Hukum Keluarga, Fakultas Syariah Dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zaki Rashiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah Strawberry Generation atau generasi stroberi kini marak diperbincangkan di panggung akademik maupun media sosial. Istilah yang awalnya populer di Taiwan ini merujuk pada generasi muda yang penuh gagasan kreatif, inovatif, dan mahir teknologi, namun memiliki mentalitas yang rapuh. Layaknya buah stroberi, mereka tampak indah di luar tetapi mudah hancur saat terkena sedikit tekanan. Di dunia nyata, mereka sering kali dicap sebagai kelompok yang mudah mengalami kecemasan, sensitif terhadap teguran, dan gampang menyerah ketika menghadapi dinamika kehidupan yang keras.
Namun, mengambinghitamkan anak muda atas fenomena ini tentu tidak bijak. Karakter seseorang tidak tumbuh begitu saja, melainkan dibentuk oleh lingkungan utamanya, yaitu keluarga. Seiring perkembangan zaman, potret keluarga konvensional kini banyak bertransisi menjadi bentuk keluarga modern, seperti single parent family (orang tua tunggal) dan blended family (keluarga tiri atau kombinasi). Jurnal-jurnal psikologi sosial menunjukkan bahwa dinamika emosional di dalam dua struktur keluarga modern inilah yang kerap menjadi ruang subur bagi pembentukan mentalitas stroberi pada anak.
Jika ditinjau dari perspektif single parent family, tantangan terbesar terletak pada peran ganda yang harus dijalankan oleh orang tua tunggal. Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Strawberry Generation (2017) menjelaskan bahwa salah satu pemicu mental rapuh adalah pola asuh yang terlalu memanjakan (over-indulgence). Karena sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi, orang tua tunggal sering kali didera rasa bersalah karena kurang memberikan waktu. Untuk menebusnya, mereka cenderung memanjakan anak dengan materi atau memberikan proteksi yang berlebihan (overprotective).
Anak-anak dibesarkan dalam lingkungan yang serba nyaman, di mana setiap keinginan diwujudkan dan setiap kesulitan langsung diambil alih oleh orang tua. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk belajar mengelola kekecewaan dan memecahkan masalahnya secara mandiri. Ketika tumbuh dewasa dan harus keluar dari zona nyaman, mereka menjadi gagap karena tidak pernah melatih otot ketangguhan mereka di rumah.
Di sisi lain, kompleksitas yang berbeda terjadi pada blended family. Berdasarkan studi tentang resiliensi keluarga oleh Froma Walsh (2016), penyatuan dua keluarga dengan latar belakang dan pola asuh yang berbeda membutuhkan proses adaptasi yang sangat berat. Anak-anak dalam blended family sering kali dipaksa beradaptasi kilat dengan kehadiran orang tua atau saudara tiri. Jika proses transisi ini tidak dijembatani dengan komunikasi yang sehat, anak rentan mengalami konflik internal, merasa tersisih, atau kehilangan identitas diri.
Tekanan interpersonal yang tinggi di dalam rumah ini membuat ego anak mudah terluka. Apabila orang tua gagal memvalidasi emosi anak, mereka akan tumbuh dengan tingkat kecemasan yang tinggi. Mereka mungkin menjadi sangat vokal dan kreatif di dunia digital, namun menjadi sangat rapuh dan defensif saat menghadapi kritik atau tekanan sosial di dunia nyata.
Kendati demikian, kita tidak boleh jatuh pada generalisasi yang keliru. Menjadi bagian dari keluarga modern bukanlah sebuah jaminan otomatis bahwa seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lemah. Banyak anak dari orang tua tunggal atau keluarga tiri yang justru berkembang menjadi sosok yang mandiri karena terbiasa menghadapi realitas hidup yang kompleks sejak dini.
Kunci utamanya bukan terletak pada bentuk atau struktur keluarganya, melainkan pada kualitas pengasuhan (parenting style) di dalamnya. Keluarga modern harus mampu menanamkan daya lenting atau resiliensi. Menyayangi anak bukan berarti menyingkirkan setiap kerikil tajam dari jalan mereka, melainkan membekali mereka dengan mental yang kuat agar mampu melewati jalan yang terjal sekalipun.
Fenomena generasi stroberi adalah refleksi skaligus alarm bagi sistem pengasuhan modern. Baik orang tua tunggal maupun pasangan dalam keluarga baru perlu membangun ruang komunikasi yang inklusif dan suportif. Anak-anak harus diizinkan untuk merasakan kegagalan, merasakan penolakan, dan belajar bangkit kembali. Dengan begitu, potensi indah yang mereka miliki tidak lagi rapuh seperti stroberi, melainkan kokoh menantang badai kehidupan.
