Konten dari Pengguna

Minat Baca di Ujung jari: Mengapa Kita Lebih Suka Menggulir daripada Baca?

Zaki Taufiqul Hakim

Zaki Taufiqul Hakim

Mahasiswa Akuntansi Sektor Publik Universitas Negeri Jakarta

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaki Taufiqul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto sedang membaca buku (Sumber: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Foto sedang membaca buku (Sumber: Pixabay)

Kita mengamati dengan kegelisahan yang cukup mendalam bagaimana semangat membaca di kalangan kita seolah terkikis, tersapu oleh gelombang informasi kilat. Fenomena ini bukan sekadar firasat, melainkan sebuah kenyataan yang diperkuat oleh angka. Beberapa tahun lalu, kita sempat kaget mendengar hasil survei UNESCO yang menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya menyentuh angka 0,001%, itu berarti hanya satu dari seribu orang yang benar-benar gemar membaca. Bukankah kondisi literasi mendasar seperti ini perlu kita telaah secara menyeluruh, sebab ini menyangkut kecerdasan bangsa kita?

Walaupun Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) mencatatkan kenaikan skor nasional dari 64,40 pada tahun 2022 menjadi 73,52 di tahun 2024, dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) ditargetkan menyentuh 71,3 poin, tantangan di lapangan sungguh masih terasa berat. Kita ternyata masih menduduki posisi yang kurang membanggakan dalam peta literasi dunia, bahkan menempati urutan kedua dari bawah. Jelas sekali, minat baca kita masih tergolong lesu di mata internasional. Bukankah sudah saatnya kita merumuskan kebijakan yang sungguh-sungguh untuk mendongkrak minat ini secara signifikan?

Realitas Minat Baca di Tengah Serangan Layar Digital

Rendahnya minat baca ini berakar kuat pada perubahan pola hidup kita sehari-hari. Sebuah survei yang diadakan GoodStats pada awal 2025 mengungkap bahwa hanya sekitar 20,7% penduduk Indonesia yang mengaku rutin membaca setiap hari. Kita mungkin sudah sangat terampil dalam memproses huruf dan kata, tetapi persoalannya terletak pada daya serap dan pemahaman terhadap materi yang dibaca. Kita bisa saja membaca, namun sering kali esensinya luput. Ini adalah dilema besar dalam upaya literasi kita.

Coba kita perhatikan, ketika berada di tempat umum, alih-alih membuka lembaran buku saat menunggu, mayoritas orang lebih memilih berinteraksi dengan gawai mereka. Kontras ini sangat nyala jika dibandingkan dengan kebiasaan di beberapa negara maju, misalnya Jepang, di mana penumpang transportasi publik sering terlihat fokus membaca buku yang mereka bawa. Padahal, memaksimalkan literasi harus dimulai sejak dini, dengan memahami minat baca anak-anak agar mereka diarahkan kepada buku yang tepat dan menumbuhkan antusiasme alami.

Perangkap Algoritma dan Daya Pikat Media Sosial

Penyebab utama masyarakat kita berpindah dari buku ke layar adalah faktor kemudahan dan kecepatan. Media sosial menyajikan imbalan instan yang dapat memperoleh berita, hiburan, bahkan koneksi sosial hanya dengan beberapa kali usapan jari. Data terbaru dari Comparedoo periode 2024-2025 bahkan menempatkan Indonesia di posisi rendah dalam skor literasi global, sebuah fakta yang sejalan dengan tingginya ketergantungan kita pada platform media sosial.

Ilustrasi orang memilih bermain dengan ponselnya daripada membaca buku (Sumber: Pixabay)

Media sosial telah menjadi semacam magnet yang begitu kuat, sehingga membuat kita enggan melakukan aktivitas yang menuntut fokus berkelanjutan, seperti membaca buku secara mendalam. Untuk Generasi Z, tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengarahkan mereka agar kelak menjadi insan yang bisa berpikir kritis dan kreatif di tengah derasnya arus informasi digital. Lomba menulis dan diskusi buku adalah beberapa cara yang berpotensi membangkitkan kembali gairah membaca di masyarakat.

Upaya Membangun Kembali Daya Kritis di Era Digital

Minat baca sesungguhnya adalah fondasi bagi kemampuan berpikir kritis. Jika kita terus-menerus terlena oleh konten yang pendek dan cenderung sensasional di linimasa, maka kemampuan kita untuk menganalisis serta mencerna isu-isu yang rumit akan melemah. Bukankah ini menjadi cerminan yang patut kita renungkan mengenai kondisi literasi kita saat ini? Kita perlu menyadari, membaca bukan sekadar cara menghabiskan waktu, melainkan proses mempelajari hal baru dan meningkatkan kualitas diri.

Meskipun tantangan minat baca generasi muda Indonesia tergolong signifikan, optimisme harus tetap kita pelihara. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, menjadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan yang menyenangkan, bukan sebagai kewajiban yang memberatkan. Hanya dengan kembali pada akar literasi ini, kita dapat memastikan bahwa kemudahan akses digital tidak justru menghasilkan generasi yang mahir teknologi namun kering dalam wawasan. Mengokohkan budaya membaca adalah langkah awal yang penting untuk membentuk jiwa bangsa yang tangguh.