Harga Sebuah Pendidikan: Perjuangan di Balik Sebuah Mimpi

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Zakiyah Muhibbah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan sering kali dipandang sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Namun, di balik kesempatan seorang anak untuk tetap bersekolah, terdapat perjuangan dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat. Bagi sebagian keluarga, memenuhi kebutuhan pendidikan bukanlah perkara mudah. Keterbatasan ekonomi membuat orang tua harus bekerja lebih keras, bahkan mengorbankan kebutuhan mereka sendiri demi agar masa depan anak-anak tetap dapat meraih masa depan yang baik.
Gambaran tersebut tergambar dalam cerpen Menggambar Seseorang karya Beatrix Polen Aran. Melalui kisah Anton, pembaca tidak hanya melihat semangat seorang anak dalam menempuh pendidikan, tetapi juga menyaksikan perjuangan kedua orang tuanya yang terus berusaha memenuhi kebutuhan sekolah di tengah keterbatasan. Dari kisah inilah terlihat bahwa di balik setiap mimpi seorang anak, ada perjuangan dan pengorbanan keluarga yang menjadi kekuatan utama.
Pengorbanan yang Tersembunyi di Balik Pendidikan
Dalam cerpen Menggambar Seseorang, keterbatasan ekonomi tidak hanya dialami oleh Anton, tetapi juga oleh kedua orang tuanya. Mereka harus memikirkan berbagai cara agar kebutuhan sekolah anaknya tetap terpenuhi. Pendidikan dalam cerita ini menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan bersama.
“Nak, walau harga kemiri bulat menurun drastis, Ayah akan usahakan pinjam uang kepada tetangga.”ayah meyakinkan Anton
Kutipan tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab seorang ayah dalam mendukung pendidikan anaknya. Meskipun keadaan ekonomi sedang sulit, ia tetap berusaha mencari jalan agar Anton dapat terus belajar. Sikap tersebut mencerminkan kasih sayang, tanggung jawab, dan pengorbanan orang tua demi masa depan anak.
Memahami Tema melalui Konsep Burhan Nurgiyantoro
Menurut Burhan Nurgiyantoro (2018), tema merupakan gagasan (makna) dasar umum yang menopang sebuah karya sastra sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif yang biasanya dilakukan secara implisit. Tema tidak disampaikan secara langsung, melainkan hadir melalui rangkaian peristiwa dan konflik yang dialami para tokoh. Dalam cerpen Menggambar Seseorang, tema yang menonjol adalah perjuangan di balik mimpi seorang anak untuk memperoleh pendidikan dan cita-cita. Melalui berbagai konflik yang dialami oleh Anton dan keluarganya, pengarang menunjukkan bahwa setiap mimpi membutuhkan perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan dari orang-orang terdekat.
Hal tersebut terlihat dari berbagai tindakan ayah dan ibu Anton yang terus berusaha memenuhi kebutuhan sekolah anaknya meskipun hidup dalam keterbatasan. Pengarang menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya menjadi harapan seorang anak, melainkan juga harapan seluruh keluarga.
"Hmm, Ayah dan Ibu harus berjanji membelikan Anton perlengkapan sekolah, ya. Eh, maksud Anton, cukup buku dan pena saja. Anton masih memiliki tas yang layak dipakai. Begitu pula dengan seragam sekolah walau titipan dari Martinus, kaka kelas yang telah tamat belajar." ucapan Anton berembus pelan ke dalam gendang telinga ayahnya.
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa Anton memahami kondisi keluarganya. Ia tidak meminta barang-barang yang berlebihan, melainkan hanya perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan untuk belajar. Sikap ini semakin memperkuat tema pengorbanan dan saling memahami dalam keluarga.
Tokoh dan Penokohan Menurut Burhan Nurgiyantoro
Burhan Nurgiyantoro (2018) menjelaskan bahwa penokohan dan tema mempunyai hubungan yang erat, tokoh merupakan pelaku yang menjalankan peristiwa-peristiwa dalam cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan karakter tokoh kepada pembaca. Dalam cerpen ini, Anton digambarkan sebagai anak yang hidup dalam keterbatasan, rajin, dan tidak banyak menuntut.
Gambaran tersebut tamapak dari cara Anton menyikapi setiap keterbatasan yang dihadapinnya. Ia tetap berusaha belajar tanpa membebani orang tuanya dengan permintaan yang berlebihan. Sementara itu, ayah dan ibu Anton digambarkan sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan tidak tidak pernah berhenti berjuang demi pendidikan anaknya.
"Tapi, aku tak memiliki pena,” Anton berterus terang.
Kutipan tersebut tidak hanya menunjukkan keterbatasan yang dialami Anton, tetapi juga memperlihatkan sikap jujur dan sederhana yang dimilikinya. Melalui penokohan inilah pengarang berhasil membangun hubungan emosional antara pembaca dan tokoh-tokoh dalam cerita.
Potret Kehidupan yang Masih Terjadi Hingga Saat ini
Kisah dalam cerpen ini masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Hingga saat ini, masih banyak orang tua yang harus bekerja keras agar anak-anak mereka tetap dapat mengenyam pendidikan. Sebagian orang tua bahkan rela harus meminjam uang, bekerja lebih lama, bahkan mengorbankan kebutuhan pribadi demi biaya sekolah anaknya.
Melalui cerita tersebut, Beatrix Polen Aran mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya hasil dari kerja keras seorang anak, tetapi juga buah dari kasih sayang dan pengorbanan keluarga. Oleh karena itu, setiap kesempatan untuk belajar seharusnya menjadi sesuatu yang dihargai.
Sastra yang Mengajarkan Arti Pengorbanan
Karya sastra bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media yang menyampaikan nilai dan pesan kepada pembaca. Sejalan dengan pendapat Burhan Nurgiyantoro, makna dalam sebuah karya sastra dapat dipahami melalui unsur-unsur pembangunnya, seperti tema dan penokohan. Dalam cerpen Menggambar Seseorang, kedua unsur tersebut menghadirkan pesan tentang pentingnya pendidikan, semangat belajar, dan pengorbanan keluarga.
Melalui perjalanan Anton dan perjuangan kedua orang tuanya, pembaca diajak memahami bahwa keberhasilan seorang anak tidak pernah lahir dari usaha dirinya sendiri. Ada dukungan, kasih sayang, dan pengorbanan yang menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik.
Kesimpulan
Cerpen Menggambar Seseorang karya Beatrix Polen Aran menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari peran dan pengorbanan keluarga. Berdasarkan analisis tema serta tokoh dan penokohan menurut Burhan Nurgiyantoro, cerita ini memperlihatkan bahwa kasih sayang, kerja keras, dan dukungan orang tua menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan mimpi seorang anak. Melalui kisah Anton, pembaca diajak untuk menyadari bahwa di balik setiap keberhasilan, selalu ada perjuangan yang mungkin tak terlihat, tetapi memiliki makna yang sangat besar dalam mewujudkan masa depan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Aran, Beatrix Polen. (2026). Menggambar Seseorang. Kompas.id.
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
