Konten dari Pengguna

Efek Samping Skincare Berbahan Alami: Kajian Ilmiah terhadap Kosmetik Herbal

zakiyyah nuraziizah

zakiyyah nuraziizah

Mahasiswi farmasi 2024

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari zakiyyah nuraziizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar skin care herbal Photo: Polina (Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar skin care herbal Photo: Polina (Pexels)

Skincare berbahan dasar alami saat ini tengah populer di kalangan masyarakat, karena terkesan “alami” maka seing dikaitkan dengan keamanan dalam perawatan kulit. Banyak orang percaya bahwa bahan alami cenderung lebih sesuai dan bersahabat dengan tubuh dibandingkan bahan sintetis. Penggunaan bahan sintetis dalam kosmetik berpotensi menimbulakn efek negatif, terutama jika digunakan dalam jangka panjang, seperti karsinogenesis, atrofi. Kosmetik atau skincare yang berbahan dasar alami dipandang lebih aman, ramah lingkungan, baik secara keseluruhan (Wathoni,2018). Meskipun berasal dari alam, tidak semua kandungan herbal cocok untuk semua jenis kulit. Reaksi kulit bisa terjadi karena perbedaan sensitivitas individu, interaksi senyawa aktif, hingga kondisi penyimpanan produk yang kurang higienis. Selain aspek kesehatan, isu ini juga penting dilihat dari perspektif keislaman. Islam mengajarkan prinsip, halalan thayyiban, yaitu apa pun yang dikonsumsi atau digunakan, selain harus halal juga harus baik dan tidak membahayakan. Maka, dalam konteks kosmetik herbal, umat Islam dituntut untuk lebih selektif, tidak semata-mata mengikuti tren pasar, tetapi juga mempertimbangkan landasan imliah serta etika penggunaan produk sesuai dengan ajaran Islam (Dewi, T. R., 2025).

Bahan Alami: Potensi dan Risiko dalam Skincare

Banyak bahan herbal digunakan dalam skincare karena memiliki aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antiinflamasi, atau antimikroba. Contohnya, senyawa lignin yang terkandung dalam Aloe vera memiliki kemampuan menyerap ke dalam kulit sehingga baik untuk melembapkan dan menenangkan kulit , sementara tea tree oil dimanfaatkan untuk mengatasi jerawat. Namun, senyawa seperti aloin yang terkandung dalam Aloe vera atau senyawa terpinen-4-ol yang telah teroksidasi pada kandungan tea tree oil dapat menimbukan efek toksik seperti reaksi alergi atau iritasi pada kulit tertentu (Damhaz, U. K., & WIDAYATI, R. I., 2015).

Jenis Efek Samping Berdasarkan Mekanisme

Meskipun skincare berbahan alami dianggap lebih aman, kenyataannya produk-produk tersebut tetap memiliki potensi efek samping yang dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme biologis tubuh. Salah satu efek yang paling umum adalah iritasi kontak, yaitu kondisi di mana kulit mengalami reaksi non-alergi akibat terpapar zat iritan. Gejalanya meliputi kulit kemerahan, perih, kering, atau bersisik. Bahan herbal yang diketahui dapat menyebabkan iritasi jika digunakan dalam konsentrasi tinggi antara lain Minyak atsiri yang bersumber dari bunga cengeh (Syzygium aromaticum), yaitu iritasi umumnya akan terjadi apabila pH sediaan berada diluar rentang yang telah ditentukan (Kurniawan, M.F., et al 2018). Adapun daun binahong (Anredera cordifolia) dengan berbagai macam pengobatannya, setelah melakukan pengujian iritasi dengan metode draize dengan parameter eritema dan edema yang muncul pada area perlakuan. Hasil percobaan mengatakan bahwa formula bersifat sedikit mengiritasi (Zulfa, E., et al, 2018).

Efek berikutnya adalah reaksi alergi atau yang dikenal sebagai reaksi hipersensitivitas, merupakan respon dari sisten kekebalan tubuh yang muncul ketika jaringan tubuh yang sehat mengalami kerusakan atau cedera. Mekanisme ini merupakan bagian dari sistem imun yang bertugas melindungi tubuh, namun dalam kasus hipersensitivitas, mekanisme tersebut justru dapat menyebabkan kerusakan. Reaksi hipersensitivitas ini diklasifikasikan ke dalam empat tipe ,tipe I hingga tipe IV (Hikmah & Dewanti, 2010). Sejumlah bahan alami dari ekstrak tumbuh-tumbuhan yang sering menyebabkan alergi adalah tea tree oil dan bahan turunan dari family Composutae serta Asteraceas (Pérez A., et al., 2008). Oleh karena itu, tidak semua bahan alami tertera pada komposisi produk kosmetik maka edukasi kepada pasien untuk menghindari semua bahan kosmetik termasuk bahan alami harus dilakukan terutama pada individu dengan kulit sensitif atau yang telah mengalami sensitisasi sebelumnya.

Pandangan Islam terhadap Keamanan Kosmetik

Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik, tetapi juga menekankan pentingnya memastikan bahwa produk seperti kosmetik yang digunakan pada tubuh berasal dari bahan yang halal dan diproses dengan cara yang sesuai syariat (Sholikhah, B., et al, 2021). Dengan demikian, kosmetik yang menyebabkan bahaya atau efek samping serius bertentangan dengan prinsip Islam. Oleh karena itu, umat Muslim perlu mengedepankan kehati-hatian dalam memilih skincare, baik yang berbahan alami maupun sintetis. Produk yang telah teruji klinis, tersertifikasi halal, dan memiliki izin edar, lebih aman untuk dipilih.

Solusi dan Edukasi Konsumen

Untuk mengatasi risiko efek samping, dibuktikan oleh hasil penelitian Fany Rosdiana, et al (2019), dalam studi berjudul “Pengaruh Label halal dan Religiusitas terhadap Kaputusan Pembelian Produk Skincare Garnier pada Borma Toserba di Banudng” Dalam penelitiannya menyebutkan hasil bahwa penilaian terhadap adanya label halal tergolong berpengaruh cukup baik. Sementara itu, berdasarkan penelitian Rachma Rizqina, et al (2022),yang berjudul “Pengaruh Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian Produk Skincare”, menunjukkan bahwa dengan adanya logo halal justru memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk skincare. Selain itu, pendekatan ilmiah dalam formulasi kosmetik herbal tidak kalah penting menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Teknologi seperti nanoenkapsulasi, ekstraksi standar, dan pengujian dermatologis perlu diterapkan pada setiap produk. Konsumen juga perlu lebih cermat dalam membaca label, memperhatikan nomor registrasi BPOM, dan memahami bahwa “alami” tidak berarti aman untuk semua jenis kulit. Kampanye edukasi melalui media sosial, lembaga pendidikan, dan komunitas perlu digencarkan.

Darftar Pustaka

Damhaz, U. K., & WIDAYATI, R. I. (2015). EFEKTIVITAS CAMPURAN EKSTRAK ALOE VERADAN TEA TREE OILDALAM FORMULASI PELEMBAB PADA KEKERINGAN KULIT (Doctoral dissertation, Faculty of Medicine).

Dewi, T. R. (2025). Pengaruh persepsi label halal dan kandungan bahan herbal terhadap keputusan pembelian kosmetik perawatan kulit pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Malang (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).

Hikmah, N., Dewanti, I.D.A.R. 2010. Seputar Reaksi Hipersensitivitas Alergi Stomatognatic. Jurnal Kedokteran Gigi Unej Vol. 7(2). Pp. 108-112.

Kurniawan, M.F., Sugihartini, N., & Yuwono, T. (2018). Uji iritasi serta evaluasi sifat fisik emulgel minyak atsiri bunga cengkeh dengan metode simplex lattice design. Farmasains, 5(1), 1-8.

Mardhotillah, Rachma Rizqina., Putri, E. B. P., Rasyid, R. A., & Sahrin, L. A, 2022, Pengaruh Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian Produk Skincare, Accounting and Management Journal, 6(1):13-16.

Pérez A, Basketter DA, White IR MJ. Positive rates to propyl gallate on patch testing: A change in trend. Contact Dermat 2008; 58: 47–8.

Rosdiana, F, 2019, Pengaruh Label Halal dan Religiusitas Terhadap Keputusan Pembelian Produk Skincare Garnier Pada Borma Toserba Dago di Bandung, Universitas Komputer Indonesia, Bandung, (Disertasi).

Sholikhah, B., Fitri, R., & Maharani, Y, 2021, Analisis Pengambilan Keputusan 98 Pembelian Kosmetik Berlabel Halal MUI pada Generasi Millenial, Al Maal: Jurnal of Islamic Economics and Banking, 2(2):193-211.

Wathoni, N. A. S. R. U. L., Haerani, A., Yuniarsih, N., & Haryanti, R. E. T. N. O. (2018). A review on herbal cosmetics in Indonesia. International Journal of Applied Pharmaceutics, 10(5), 13-16.

Zulfa, E., Liya, L.. & Mimik, M. (2018). Formulasi sediaan krim daun binahong (Anredera cardiofolia (Ten.) Steenis): kajian karakteristik fisika kimia dan uji iritasi kulit. Inovasi Teknik Kimia, 3(1), 46-52.