Belajar ala Milenial

Seorang Mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi di Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Zakiyya Qothrunnada Hanifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perbedaan tahun lahir membentuk suatu kelompok generasi manusia memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelompok generasi yang lahir pada periode tahun yang berbeda. Perbedaan karakteristik ini dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan yang menyertai tumbuh dan perkembangan mereka, sehingga mempengaruhi kecenderungan mereka dalam menyikapi suatu masalah dan tindakan yang mereka ambil. Saat ini, generasi milenial menjadi generasi yang sedang banyak mengambil peran. Generasi milenial merupakan generasi yang hidup pada era perubahan dari sistem analog menuju digital, mereka dinilai memiliki rasa solidaritas, toleransi, dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Generasi ini juga lebih jeli dan aktif dalam melihat peluang, kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki, serta cenderung mudah melakukan kolaborasi untuk mencapai tujuan yang mereka impikan. Mereka lebih bersikap terbuka, kritis, dan berani menyuarakan pendapat meskipun dari sudut pandang yang berbeda-beda terhadap suatu fenomena. Karakter yang dimiliki generasi milenial dalam mengikuti perkembangan zaman yang sangat cepat ini, juga serta merta mempengaruhi model belajar mereka.
Generasi milenial lebih tertarik dengan pembelajaran yang langsung dipraktikkan atau bersifat eksperimental, terjun langsung ke masyarakat dan lingkungan. Dengan cara ini mereka merasa langsung memahami materi yang dipelajari dan langsung mengetahui penerapan ilmunya sehingga pembelajaran dirasa akan lebih efektif untuk menunjang keterampilan dan memperkaya pengalaman, sehingga dapat menjadi bekal untuk meneruskan jenjang pendidikan maupun mencari pekerjaan. Untuk jenjang perkuliahan, akan lebih baik lagi jika kurikulum yang digunakan dapat memenuhi tuntutan dunia kerja, sehingga tidak ada gap antara institusi pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri.
Sifat kolaboratif dan terbuka yang dimiliki oleh generasi milenial menandakan jika mereka senang bekerja sama dalam tim untuk menyelesaikan kasus atau projek, dengan bekerja dalam tim mereka menjadi lebih memperkaya ilmu dari berbagai perspektif hingga diperoleh ide yang out of the box, serta melatih keterampilan komunikasi mereka secara masif antar anggota tim, selain itu juga melatih public speaking dalam menyampaikan hasil kerja tim yang merupakan keahlian paling penting yang harus dimiliki.
Penggunaan media pembelajaran visual seperti penayangan sebuah video yang menstimulus pemikiran kritis mereka sehingga meningkatkan kemampuan critical thinking. Generasi milenial mudah sekali merasa bosan (Vikra, 2020). Model pembelajaran ceramah, mendengarkan, dan komunikasi satu arah menjadi tidak efektif apabila diterapkan kepada generasi ini. Mereka lebih senang pembelajaran yang seru, aktif, dengan visualisasi yang indah dan menarik sehingga pengetahuan yang disampaikan akan membekas. Generasi ini lebih menyukai pembelajaran dalam bentuk visual karena bagian otak yang mengatur bagian ini dikembangkan lebih baik daripada bagian yang lainnya (Daud, 2020).
Perkembangan teknologi tidak terlepas dari generasi ini, perkembangan yang paling terasa ialah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Menurut Endang Fatmawati dalam buku E-Journal dan Gaya Hidup Ilmiah Milenial (antologi opini kepustakawanan), milenial senang menggunakan teknologi komunikasi instan (email, media sosial) dalam mengelola hasil penelusuran e-jurnal. Jumlah pengguna media sosial di kalangan milenial mencapai 93% (Ahmad, 2020). Fakta tersebut mendorong penyampaian ilmu pengetahuan tidak hanya melalui kelas formal, tetapi bisa juga melalui teknologi informasi khususnya media sosial, karena generasi ini lebih suka dengan penyampaian materi yang ringan namun tetap berbobot.
Pembelajaran yang multidisiplin, generasi milenial dinilai kreatif dan produktif dalam menggunakan waktu. Di sela-sela kesibukan mereka dalam menggeluti bidang yang mereka dalami, generasi ini juga suka mempelajari hal-hal baru yang diluar bidang utama mereka. Seperti mempelajari mengenai editing video, foto, marketing, public speaking, dan bahkan pemrograman. Dengan mempelajari hal-hal baru, mereka akan lebih kaya pengetahuan dan pengalaman sehingga bisa menunjang bidang utama mereka dan menyajikan hasil yang sangat luar biasa. Dengan memiliki beberapa keahlian juga dapat memperluas kesempatan mereka untuk memperoleh pekerjaan.
Pembelajaran yang aktif menggunakan komputer dan perangkat lunak pendukung di setiap disiplin ilmu. Perkembangan ilmu pengetahuan telah saling terintegrasi dalam sistem yang dapat diakses oleh seluruh orang di dunia, sehingga dapat terstandardisasi di seluruh dunia. Selain itu hampir seluruh bidang profesi membutuhkan keahlian dalam mengoperasikan komputer, sehingga generasi ini harus dituntut untuk bisa melakukan komputasi secara mumpuni.
Pembelajaran yang berbasis kewirausahaan dan technopreneurship akan sangat sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin canggih. Technopreneur adalah pengembangan dari konsep kewirausahaan dengan menggunakan teknologi sebagai sarana untuk berwirausaha (Nirbita, 2020). Technopreneurship bukan hanya sekadar penemuan, tetapi juga yang inovasi yang berkelanjutan. Beberapa tahun ke depan diperkirakan banyak bidang-bidang pekerjaan yang hilang karena digantikan dengan robot atau sistem autonomous. Dengan penguasaan di bidang technopreneur, generasi-generasi milenial akan tetap bertahan di tengah persaingan modernisasi dengan keterampilan berwirausaha khususnya pada bidang teknologi sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan sendiri atau job creator. Hal ini dibuktikan dengan mulai banyak bermunculan start up yang didirikan oleh generasi milenial.
Karakter positif yang dimiliki oleh generasi milenial diharapkan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik khususnya di Indonesia dan bisa diadopsi oleh generasi di bawahnya. Namun, tidak mungkin suatu generasi itu terlahir sempurna pasti juga terdapat kekurangan. Keberanian yang dimiliki oleh generasi milenial dalam menyampaikan pendapat dalam perspektif yang berbeda-beda terkadang cenderung berlebihan dan bebas sehingga memicu kegaduhan. Keakraban mereka dalam menggunakan media sosial juga menjadi ancaman apabila dilakukan tanpa penyaringan karena tidak semua tontonan yang tersaji di media bisa mendidik dan mengajarkan hal positif. Maka dari itu, pendidikan karakter sangat dibutuhkan untuk menciptakan generasi cerdas yang bermoral. Model belajar yang telah dipaparkan di atas semoga dapat mencetak generasi emas Indonesia.
Referensi:
Adhi, B. S., Fatmawati, E., Anggraeny, E., Fahimah, Haryani, Permatasari, I., Nugrahani, R., Yuanah, S., Pertiwi, S. E., Priyanto, S., Suwondo, Sulistiani, T., Hidayah, W., & Yuventia, Y. B. Y. P. M. (2020). E-Journal Dan Gaya Hidup Ilmiah Milenial (antologi opini kepustakawanan) (Ambariyanto (ed.)). Sagung Seto.
Ahmad, A. dan N. (2020). Media Sosial dan Tantangan Masa Depan Generasi Milenial. Avant Garde, 8(2), 134. https://doi.org/10.36080/ag.v8i2.1158
Daud, A. (2020). Strategi Guru Mengajar Di Era Milenial. Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian Dan Kajian Sosial Keagamaan, 17(1), 29–42. https://doi.org/10.46781/al-mutharahah.v17i1.72
Nirbita, B. N. (2020). Universitas Siliwangi. Jurnal Prospek, 1(1), 1–8. file:///C:/Users/User/Downloads/fvm939e.pdf
Vikra, S. N. (2020). Karakter Generasi Milenial Dalam Perfektif Hamka. Repository Ar-Raniry.
