AI dan Perubahan Cara Manusia Berpikir dan Tantangan bagi Keamanan Internasional

Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Muhammad Zakyul Fadhla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika AI Perlahan Mengubah Kebiasaan Manusia
Kemunculan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia dalam berinteraksi dengan informasi. Jika sebelumnya seseorang perlu membaca, mencari, membandingkan, dan menyusun sendiri informasi untuk mendapatkan sebuah jawaban, kini berbagai proses tersebut dapat dilakukan dengan cepat atas bantuan dari AI. AI telah berkembang dan masuk ke berbagai aspek mulai dari pendidikan, pekerjaan, media, pemerintahan, hingga kehidupan sehari-hari. Perubahan ini tentu membawa banyakb sekali manfaat. Namun, ada pertanyaan yang menurut penulis jauh lebih penting: apakah kemudahan AI hanya mengubah teknologi yang kita gunakan, atau juga mulai mengubah cara kita berpikir?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena pada dasarnya manusia tidak hanya menggunakan AI untuk mencari informasi, tetapi juga mulai menggunakannya untuk menyusun gagasan, menilai pilihan, bahkan membantu mengambil keputusan. UNDP melalui Human Development Report 2025 menekankan bahwa AI seharusnya memperkuat kemampuan dan agensi manusia, bukan menggantikan penilaian manusia. Artinya, persoalan AI tidak hanya terletak pada seberapa pintar teknologi tersebut, tetapi dalam hal bagaimana manusia memilih untuk menggunakannya.
Dalam konteks hubungan internasional, perubahan tersebut tidak bisa dianggap sebagai persoalan teknologi semata. Cara manusia menerima informasi dan mengambil keputusan dapat memengaruhi politik, diplomasi, dan keamanan internasional. Ketika keputusan yang berkaitan dengan krisis dan konflik semakin banyak dibantu oleh sistem AI, ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi dapat menciptakan persoalan baru.
Akar Permasalahan Bukan AI, tetapi Ketergantungan Manusia
Menurut penulis, tantangan terbesar AI terhadap keamanan internasional bukanlah kemungkinan bahwa sistem dan teknologi akan sepenuhnya menggantikan manusia. Tantangan yang lebih realistis adalah ketika manusia secara perlahan menyerahkan kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan mengambil keputusan kepada sistem yang mereka ciptakan sendiri. AI seharusnya menjadi alat yang membantu manusia berpikir lebih baik, bukan alasan bagi manusia untuk berhenti berpikir secara kritis.
Dalam keamanan internasional, persoalan tersebut menjadi lebih serius karena keputusan yang dibuat dalam situasi krisis sering kali memiliki konsekuensi yang besar. Kesalahan membaca informasi atau terlalu percaya terhadap suatu rekomendasi dapat memperburuk keadaan. Karena itu, kemampuan manusia untuk mempertahankan penilaian kritis dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan harus tetap menjadi bagian utama dari keamanan internasional.
AI dan Pergeseran Cara Manusia Berpikir
Perubahan cara berpikir akibat AI dapat dilihat dari semakin kuatnya kebiasaan manusia untuk mencari jawaban secara instan. Kemudahan ini memang membuat pekerjaan lebih cepat, tetapi juga dapat membuat proses memahami suatu persoalan menjadi lebih singkat. Manusia juga dapat menerima sebuah jawaban sebelum benar-benar memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh. Dalam jangka panjang, persoalannya bukan apakah AI mampu memberikan jawaban yang benar, melainkan apakah manusia masih terbiasa memeriksa dan mempertanyakan jawaban tersebut.
UNDP dalam Human Development Report 2025 menempatkan manusia sebagai pusat pembahasan AI. Laporan tersebut menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan penilaian manusia dan seharusnya digunakan untuk memperkuat kemampuan, kreativitas, serta agensi manusia. Pandangan ini penting karena menunjukkan bahwa perkembangan AI seharusnya tidak diukur hanya berdasarkan kemampuan mesin, tetapi juga berdasarkan kemampuan manusia untuk tetap menentukan arah penggunaannya.
Jika pola tersebut dibawa ke hubungan internasional, maka perubahan cara berpikir manusia dapat menjadi persoalan keamanan. Pembuat kebijakan, diplomat, maupun lembaga negara dapat menggunakan AI untuk membantu membaca data dan membuat prediksi. Namun, hasil AI tetap merupakan produk dari data, desain sistem, dan batasan tertentu. Karena itu, hasil yang terlihat objektif belum tentu bebas dari kesalahan atau bias.
Ketika AI Masuk ke Pengambilan Keputusan Keamanan
Perkembangan AI dalam bidang keamanan internasional menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan lagi sekadar kemungkinan di masa depan. SIPRI mencatat bahwa penggunaan AI dalam bidang militer telah berkembang dari pembahasan mengenai autonomous weapon systems menuju penggunaan AI untuk penargetan, perencanaan, dan analisis intelijen. Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI semakin dekat dengan proses pengambilan keputusan dalam situasi keamanan.
Risikonya terletak pada semakin pendeknya waktu yang tersedia bagi manusia untuk mempertimbangkan sebuah keputusan. Penelitian SIPRI mengenai AI dan risiko eskalasi nuklir menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam sistem militer dapat memperpendek waktu pengambilan keputusan dan meningkatkan kemungkinan salah perhitungan dalam sebuah krisis. Rekomendasi sistem AI yang tidak transparan juga dapat memengaruhi kecenderungan manusia untuk mengambil suatu tindakan.
Di luar bidang militer, AI juga dapat memengaruhi keamanan melalui ruang informasi. AI generatif memungkinkan pembuatan dan penyebaran informasi dalam skala besar. PBB memperingatkan bahwa manipulasi audio dan video berbasis AI dapat mengancam integritas informasi, memperkuat polarisasi, dan bahkan memicu krisis diplomatik. Dengan demikian, keamanan internasional tidak hanya menghadapi persoalan teknologi yang digunakan dalam sistem pertahanan, tetapi juga perubahan dalam lingkungan informasi tempat manusia membuat keputusan.
Masalah Terbesarnya: Ketika Manusia Terlalu Percaya pada AI
Dari berbagai perkembangan tersebut, penulis melihat bahwa persoalan paling penting bukan terletak pada apakah AI memiliki kemampuan untuk membuat keputusan, tetapi apakah manusia masih mau mempertanyakan keputusan yang dibantu oleh AI. Teknologi dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi manusia tetap harus memahami konteks, memeriksa informasi, dan mempertimbangkan konsekuensinya.
Dalam hubungan internasional, hal ini sangat penting karena keputusan tidak pernah berdiri sendiri. Sebuah tindakan negara dapat dibaca sebagai sinyal oleh negara lain. Kesalahan interpretasi dapat meningkatkan ketegangan, sementara keputusan yang dibuat terlalu cepat dapat mempersempit ruang diplomasi. Karena itu, semakin cepat teknologi membantu manusia mengambil keputusan, semakin penting pula kemampuan manusia untuk memperlambat proses ketika situasi membutuhkan pertimbangan yang lebih mendalam.
Di sinilah konsep human agency menjadi penting. Manusia harus tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. AI dapat memberikan pilihan, prediksi, atau analisis, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia. PBB juga menekankan pentingnya mempertahankan kendali dan penilaian manusia, terutama ketika AI digunakan dalam konteks penggunaan kekuatan.
Apa yang Harus Dilakukan?
Menurut penulis, respons terhadap perkembangan AI bukanlah dengan menolak teknologi tersebut. Yang dibutuhkan adalah membangun hubungan yang lebih sehat antara manusia dan AI. Pendidikan harus memperkuat kemampuan berpikir kritis dan literasi AI agar manusia tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga mampu memahami keterbatasannya. Di tingkat negara, penggunaan AI dalam bidang strategis perlu disertai mekanisme pengawasan, transparansi, dan pertanggungjawaban yang jelas.
Dalam konteks internasional, negara juga perlu membangun norma dan aturan bersama mengenai penggunaan AI. Hal ini penting karena perkembangan AI tidak berhenti pada batas wilayah suatu negara. Risiko yang muncul dari disinformasi, serangan siber, maupun penggunaan AI dalam sistem keamanan dapat memiliki dampak lintas batas. PBB dan SIPRI sama-sama menunjukkan pentingnya tata kelola dan kerja sama internasional untuk mengurangi risiko tersebut.
Pada akhirnya, manusia perlu mempertahankan satu hal yang tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada teknologi: kemampuan untuk mengambil tanggung jawab atas keputusan sendiri. AI dapat membantu manusia melihat lebih banyak kemungkinan, tetapi manusia tetap harus menentukan pilihan.
Penutup
Kemunculan AI telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, bukan hanya dalam cara kita bekerja, tetapi juga dalam cara kita memperoleh informasi, membentuk pendapat, dan mengambil keputusan. Perubahan tersebut pada akhirnya memiliki kaitan dengan keamanan internasional karena keputusan yang dibuat manusia dapat menentukan apakah suatu krisis mereda atau justru semakin membesar.
Karena itu, keamanan internasional di era perkembangan AI tidak cukup dibicarakan sebagai persoalan kemampuan teknologi. Kita juga perlu membicarakan manusia yang menggunakan teknologi tersebut. AI seharusnya memperkuat kemampuan manusia untuk berpikir, bukan menggantikannya. Tantangan terbesar di masa depan mungkin bukan menciptakan AI yang semakin cerdas, tetapi memastikan manusia tetap cukup kritis untuk mempertanyakan apa yang diberikan oleh AI.
Pada akhirnya, pertanyaan penting di era AI bukan lagi “seberapa pintar mesin dapat berpikir?,” tetapi “seberapa baik manusia masih mampu berpikir ketika mesin sudah dapat membantu hampir semua hal?” Jawaban atas pertanyaan tersebut akan ikut menentukan seperti apa keamanan internasional di masa depan.
