Konten dari Pengguna

Mini Zoo Jasmine Park, Oase Edukasi dan Interaksi di Tengah Hiruk Pikuk Kota

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zalimah Adilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana Jasmine Park yang tertata rapi dan asri, Senin, 16 Juni 2025. Area ini menjadi tempat istirahat favorit pengunjung sebelum menjelajahi Mini Zoo
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Jasmine Park yang tertata rapi dan asri, Senin, 16 Juni 2025. Area ini menjadi tempat istirahat favorit pengunjung sebelum menjelajahi Mini Zoo

Senin siang itu, udara terasa sejuk meski matahari sangat terik. Di sebuah sudut kota yang ramai, ada ruang kecil yang penuh kehidupan dan tawa anak-anak—Mini Zoo Jasmine Park. Tak ada suara bising kendaraan, hanya derik pintu kandang, tawa pengunjung, dan sesekali suara hewan yang bersahut-sahutan. Di antara hiruk pikuk kota, tempat ini seperti oase yang menenangkan. Tak hanya sekadar tempat wisata, Mini Zoo Jasmine Park hadir sebagai ruang belajar, ruang interaksi, dan ruang penuh kasih antara manusia dan hewan.

Mini Zoo ini bukan sekadar tempat pamer binatang. Di dalamnya ada dedikasi para pekerja muda seperti Galang Putra Nusantara, seorang zookeeper berusia 18 tahun yang telah mengabdikan dirinya untuk merawat dan mengenalkan hewan kepada pengunjung. Ada juga cerita hangat dari para pengunjung seperti Dewi Yuli, seorang ibu dua anak, yang menemukan pengalaman berbeda dalam mengenalkan cinta kasih terhadap hewan kepada buah hatinya.

Mengenakan seragam cokelat muda dan topi lusuh, Galang Putra Nusantara menyambut pengunjung dengan senyuman tulus. Usianya masih sangat muda—18 tahun. Namun semangat dan tanggung jawabnya terlihat matang.

"Saya jadi zookeeper di sini. Jadi yang ngurusin hewan, bersihin kandang, kasih makan, dan nemenin pengunjung juga," ujarnya sambil mengawasi anak-anak kecil yang sedang memberi makan kelinci.

Setiap pagi, Galang dan tim zookeeper memulai hari mereka pukul 07.30. Mereka membersihkan kandang, mengecek kondisi hewan, lalu bersiap menyambut tamu. Dari jam 10.00 sampai 12.00, pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan hewan—waktu favorit anak-anak.

"Jam-jam itu kita ajak hewan-hewan bermain. Yang jinak seperti kelinci, domba, atau kapibara kita bawa keluar kandang, pengunjung bisa pegang, kasih makan. Setelah itu istirahat siang, lalu lanjut interaksi lagi sampai sore. Terakhir kasih makan jam 4 sampai jam 6 sore," jelas Galang.

Tapi di balik interaksi menyenangkan itu, ada tanggung jawab besar. Galang harus memastikan semua hewan sehat dan tidak stres. “Kalau ada yang sakit atau stres, kita lihat dulu. Kalau masih bisa kita tangani sendiri, kita obati. Tapi kalau butuh bantuan profesional, kita langsung hubungi dokter hewan.”

Bagi Galang, ikatan antara zookeeper dan hewan bukan hanya soal tugas kerja. Tapi juga bentuk empati dan tanggung jawab moral. “Kita itu bukan cuma kerja buat nyenengin pengunjung. Tapi juga buat edukasi. Banyak anak-anak TK yang field trip ke sini. Kalau hewannya jinak dan kita bisa tunjukkan langsung, mereka jadi berani dan senang belajar.”

Di tengah banyaknya tempat hiburan keluarga, Mini Zoo Jasmine Park hadir dengan konsep yang menggabungkan edukasi dan rekreasi. Di sinilah pengunjung bukan hanya melihat hewan dari kejauhan, tapi juga bisa menyentuh, memberi makan, bahkan berinteraksi langsung.

Menurut Galang, ada dua hewan yang jadi binatang utama: kapibara dan rusa. “Pengunjung paling suka kapibara. Mereka itu lucu, tenang, dan bisa diajak interaksi. Selain itu, banyak yang suka rusa juga. Apalagi anak-anak, mereka senang banget kasih makan rusa pakai wortel.”

Jasmine Park memang tidak seperti kebun binatang konvensional. Skala tempatnya lebih kecil, namun lebih ramah interaksi. Kandang dibuat terbuka, tapi tetap aman. Setiap area interaksi diawasi oleh petugas, termasuk Galang yang sigap membimbing anak-anak bagaimana cara menyentuh hewan dengan lembut.

“Yang penting hewan juga nyaman. Kita latih mereka buat terbiasa dengan sentuhan manusia. Tapi tetap dijaga supaya nggak stres. Makanya ikatan antara kita dan hewan itu penting,” ujar Galang sambil menunjuk seekor kapibara yang sedang tiduran santai di pojok kandang.

Mini Zoo Jasmine Park tak hanya menarik bagi anak-anak, tapi juga orang tua yang ingin mengenalkan nilai cinta lingkungan dan empati sejak dini. Salah satunya adalah Dewi Yuli, 42 tahun, seorang ibu rumah tangga yang datang bersama suami dan dua anaknya.

“Saya tahu tempat ini dari media sosial, sekitar dua minggu lalu. Banyak yang posting foto lucu-lucu di sini. Akhirnya kami putuskan ke sini,” cerita Dewi.

Keputusan itu tak salah. Sejak masuk gerbang, ia langsung terkesan. “Tempatnya bersih, rapi, dan sejuk. Anak-anak langsung antusias. Yang kecil malah nggak mau pulang karena keasyikan main sama kelinci.”

Bagi Dewi, pengalaman ini lebih dari sekadar rekreasi. Ia melihatnya sebagai bentuk pembelajaran langsung yang menyenangkan. “Di sekolah anak-anak cuma belajar dari buku. Tapi di sini mereka bisa pegang, kasih makan, dan lihat langsung perilaku hewan. Itu pelajaran yang gak bisa digantikan.”

Suasana hangat yang dirasakan Dewi bukan hanya berasal dari hewan, tapi juga dari para petugas. “Zookeeper-nya ramah dan sabar. Mereka jelasin cara interaksi yang aman. Jadi kita nyaman banget. Saya pribadi juga jadi rileks, lihat anak-anak tertawa puas.”

Mini Zoo Jasmine Park terletak di kawasan wisata keluarga yang mudah diakses dari pusat kota. Meski ukurannya tidak besar, tata letaknya efisien dan penuh estetika. Di setiap sudutnya terdapat ruang hijau, papan edukasi tentang hewan, dan spot foto yang instagramable.

Kebersihan tempat ini pun jadi sorotan positif dari para pengunjung. “Jarang banget lho tempat wisata edukatif yang bisa jaga kebersihan kayak gini. Bau kandangnya juga nggak menyengat, padahal ada hewan-hewan yang sensitif,” ujar Dewi.

Tempat ini pun dirancang ramah anak, lengkap dengan jalur stroller dan tempat duduk teduh bagi orang tua yang ingin mengawasi anak-anak dari kejauhan. Ada pula kantin kecil yang menjual makanan ringan dan es krim—favorit para pengunjung cilik.

Namun, yang membuat tempat ini benar-benar hidup bukan hanya lokasi atau desain, tapi suasana hangat yang diciptakan para petugas, hewan, dan pengunjung yang hadir.

Interaksi hangat antara manusia dan hewan tidak terjadi begitu saja. Dibutuhkan kerja keras, dedikasi, dan empati yang dalam dari para zookeeper. Galang, misalnya, tidak sekadar memberi makan atau membersihkan kandang. Ia mengenali karakter tiap hewan, tahu kapan mereka butuh istirahat, dan kapan mereka siap diajak bermain.

"Kapibara itu sensitif. Kalau dia stres, kita biarin dia dulu. Kita nggak maksa buat diajak interaksi. Tapi kalau dia udah rileks, dia sendiri yang deketin pengunjung," jelas Galang.

Begitu juga dengan rusa. Galang mengajarkan pengunjung agar tidak tiba-tiba berteriak atau memegang dari belakang. “Kita kasih tahu cara pendekatan yang bikin rusa merasa aman. Kalau mereka nyaman, mereka bakal datang sendiri.”

Pendekatan ini membentuk atmosfer penuh kepercayaan di Mini Zoo Jasmine Park. Anak-anak tidak hanya tertawa, tapi juga belajar bahwa hewan bukan mainan, melainkan makhluk hidup yang perlu dihormati.

Mini Zoo Jasmine Park adalah bukti bahwa tempat rekreasi bisa jadi ruang pembelajaran yang hangat dan bermakna. Di balik senyum anak-anak yang bermain bersama kelinci dan rusa, ada kerja keras orang-orang seperti Galang, yang menghidupkan ruang ini bukan dengan mesin, tapi dengan kasih sayang dan empati.

Di sisi lain, pengunjung seperti Dewi Yuli dan keluarganya juga membawa pulang lebih dari sekadar foto liburan. Mereka pulang dengan pengalaman, dengan pelajaran hidup yang hanya bisa didapat dari interaksi langsung dengan alam.

Dalam dunia yang makin serba digital, tempat seperti Mini Zoo Jasmine Park adalah pengingat bahwa interaksi nyata masih memiliki tempat yang istimewa. Bahwa menyentuh bulu kapibara yang hangat, memberi makan rusa yang malu-malu, dan melihat anak tertawa karena kelinci mendekat—semuanya adalah pengalaman yang tak tergantikan oleh layar ponsel.

Di Mini Zoo Jasmine Park, manusia dan hewan bukan sekadar dipertemukan. Mereka disatukan dalam pengalaman yang menyembuhkan, menghangatkan, dan menumbuhkan kasih sayang.