Radical Break: Ketika Kritik Masuk ke dalam Kekuasaan

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ushuluddin, Program Studi Studi Agama Agama
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Zalina Aulia Nuristifani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah "Radical Break" atau "putus total" sering kali terbayang sebagai momen di mana seseorang ingin benar-benar bersih dari masa lalu. Bukan sekadar setengah-setengah, apalagi hanya mengganti nama program atau menggeser posisi pejabat lama ke kursi baru. Intinya, ingin mencabut masalah sampai ke akar-akarnya.
Tapi, urusannya jadi jauh lebih panas ketika ucapan itu keluar dari mulut seorang pengkritik yang akhirnya justru masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.
Di satu sisi, ini bisa menjadi kesempatan emas untuk membawa kritik-kritik pedasnya ke meja kebijakan. Tapi di sisi lain, risikonya juga tidak kecil. Alih-alih mengubah sistem, ia justru terseret arus dan menjadi bagian dari masalah yang dulu ia kritisi.
Masih relevankah disebut kritik radikal, jika pengkritiknya sendiri kini sudah duduk manis di dalam kekuasaan?
Inti dari radical break itu sebenarnya bukan sekadar mengganti orang atau aturan, tapi:
Membongkar total cara pikir lama yang sudah ketinggalan zaman.
Mencabut akar struktur yang selama ini melanggengkan ketidakadilan.
Memutar setir arah kebijakan secara drastis, bukan setengah-setengah.
Melarang pengulangan pola buruk yang sama.
Membuka jalan untuk opsi-opsi politik yang jauh lebih segar.
Ingat, mengganti pejabat bukan hanya menggeser posisi. Mengganti kebijakan pun sebatas mengganti alat. Tapi jika yang dimaksud adalah radical break, yang dirombak adalah logika dasar yang membuat posisi dan kebijakan itu ada dari awal.
Lalu, apakah masuk ke dalam lingkaran kekuasaan otomatis membuat kritik menjadi loyo? tidak juga. Bagi sebagian orang, merangsek masuk ke dalam sistem justru menjadi siasat jitu agar ucapan dan kritik pedas mereka tidak hanya menumpuk menjadi wacana, tetapi benar-benar terjadi dan berdampak nyata.
Risiko Jika Pengkritik Masuk Istana
Dikooptasi (dijinakkan secara halus), kekuasaan sangat cerdik "merangkul" orang kritis dengan cara memberikan jabatan, fasilitas, atau status. Pada akhirnya, kritik yang tadinya garang menjadi tumpul karena sudah masuk sistem. Pengkritik sering kali tidak dibungkam dengan cara kasar, melainkan "diberi tempat" asalkan perilakunya masih dapat dikontrol.
Bahasa Kritik Jadi Melempem, istilah-istilah tajam yang biasa digunakan mendadak berubah menjadi bahasa birokrasi yang santun dan membosankan, "Ketidakadilan" berubah menjadi "tantangan kebijakan". "Penindasan" diganti dengan "ketidakseimbangan". "Kegagalan" diperhalus menjadi "proses evaluasi". "Penolakan" disulap menjadi "masukan konstruktif". Memang, bahasa halus memudahkan negosiasi. Tapi yang menjadi masalah, urgensi dan intensitas permasalahannya justru hilang tak bersisa.
Salah Arah (justru menjadi pembela sistem), niat awal masuk sistem jelas untuk mengubah keadaan. Tapi perlahan-lahan, posisinya justru berbalik menjadi pembela sistem karena sudah merasa memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas lembaga. Fenomena klasik ini sering kali dibahas dalam kajian gerakan sosial, dimana aktivis yang masuk birokrasi sudah kehilangan muka dan visi radikalnya karena terlalu banyak berkompromi.
Syarat Agar Kritik Tetap "Radikal"
Sasaran tembaknya harus jelas, kritik jangan hanya menjadi sanjungan kosong atau basa-basi. Harus di tunjukan secara spesifik, kebijakan mana yang keliru, kelompok mana yang paling dirugikan, struktur mana yang wajib dirombak, dan apa alternatif solusinya.
Berani mengkritik "orang sendiri", terlihat kritis jika hanya menyindir lawan politik. Tapi ujian sesungguhnya justru saat berani mengerem atau menegur kubu sendiri, terutama pihak yang sudah memberi jabatan atau akses kekuasaan.
Ada konsekuensinya, jika semua ucapan kritis dibiarkan bebas tanpa risiko apapun, kemungkinan kritik tersebut hanya menjadi "pajangan" agar terlihat demokratis, padahal sebenarnya diabaikan.
Bela kepentingan rakyat, kritik radikal bukan soal seberapa, kencang suaranya berteriak, tapi seberapa kuat ia berpihak pada masyarakat bawah dan kelompok-kelompok yang benar-benar terkena dampak kebijakan.
Ujian Akhir Radical Break
Pada akhirnya, radical break bukan soal posisi, apakah seseorang berdiri di luar pagar istana atau duduk di dalam kursi kekuasaan. Ukuran sesungguhnya terletak pada nyali seseorang untuk memutus pola lama, menolak kepentingan yang tidak adil, dan tetap berani mengatakan "tidak" ketika penguasa menuntut kepatuhan buta.
Mungkinkah tetap kritis meski sudah masuk sistem? Bisa aja. Namun itu tidak akan terjadi secara otomatis. Butuh usaha sadar untuk menjaga jarak etis agar tidak mudah tergoda oleh fasilitas, membuka lebar ruang akuntabilitas untuk publik, serta menyiapkan mental untuk menanggung risiko ketika kritik pedasnya membuat kuping penguasa panas.
Jika syarat-syarat itu gagal dipenuhi, maka radical break hanya akan menjadi eufemisme, alias ganti baju saja, yang dulunya pengkritik di jalanan, sekarang berubah menjadi bagian dari sistem yang nyamandan tenang di dalam.
Pada akhirnya, kritik memang masih dapat terbilang radikal meskipun pengkritik sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan. Hanya saja, ukurannya sudah mengecil. Radikalitas tidak lagi dilihat dari seberapa keras suaranya berteriak, melainkan dibuktikan lewat keberaniannya menegur kelompok sendiri, keteguhan menolak segala bentuk kooptasi halus, komitmen untuk tetap transparan kepada publik, serta kesiapan mental menanggung risiko dari setiap sikap politik yang diambil.
